A. Diskripsi Masalah
Khitan perempuan banyak dipraktekkan di wilayah Indonesia.. Sebagian besar masyarakat Indonesia yang melakukan khitan perempuan meyakini bahwa khitan perempuan adalah perintah agama dan sebagian menganggap sebagai tradisi. Dari hasil penelitian Population Council bekerja sama dengan Kemeterian Pemberdayaan perempuan di Enam Propinsi (Pulau Madura, Banten, Padang, Padang Pariaman, Serang, Kutai Kertanegara, Makassar, Bone, Gorontalo dan Bandung) pada tahun 2001-2003, 65 % mereka percaya khitan perempuan bermanfaat bagi kesehatan dan merupakan perintah agama. Di daerah tertentu, khitan perempuan dianggap sebagai suatu kewajiban sosial, karena dikategorikan sebagai tindakan pencegahan bagi perempuan untuk tidak berperilaku binal. Hal ini karena ada anggapan bahwa perempuan dinilai tabu jika mengekspresikan hasrat seksualnya walaupun pada suaminya. Sehingga kontrol terhadap libido perempuan harus dilakukan sejak dini.
Dari sisi agama, terdapat perbedaan pendapat ulama tentang hukum khitan perempuan. Tidak ditemukan ayat al-Qur’an yang secara tegas menyebut khitan baik untuk laki-laki maupun perempuan. Ayat yang sering dijadikan dasar hukum khitan adalah QS. an-Nahl[16] : 123, QS. An-Nisaa[4] : 125 dan QS. Ali Imran[3]: 95. Selain ayat-ayat tersebut juga terdapat beberapa hadits yang menyebut khitan perempuan.
Dari sisi sosial, anak perempuan yang belum dikhitan sering menjadi bahan ejekan dan dijauhi teman-temannya. Bahkan masyarakat dan orang tua sering mengindektikkan perilaku anak perempuan yang binal dengan praktek khitan.
Dari sisi kesehatan, praktek khitan perempuan banyak yang tidak memenuhi standar medis. Khitan perempuan yang dilakukan dukun di daerah tertentu di Indonesia merupakan tindakan yang membahayakan karena mengandung resiko terjadinya infeksi, pendarahan dan iritasi di sekitar vagina. Karena mereka melakukan praktek khitan perempuan harus sampai berdarah dan apabila belum berdarah maka dilakukan penambahan pemotongan.
Dari sisi praktek pelaksanaan, terjadi ketidaksamaan teknis khitan, organ tubuh yang dikhitan, alat yang dipergunakan dan orang yang mengkhitan.
Teknis Pelaksanaan Khitan
Tehknis khitan ada yang hanya simbolik, yaitu dengan memotong jengger ayam sebagai perumpamaan. Sebagian yang lain dengan meneteskan obat merah pada klitoris untuk menenangkan hati orang tua anak. Ada yang memang benar-benar dipotong dan harus sampai keluar darah. Kalau belum keluar darah maka ukuran potongannya ditambah. Sebagian lagi dengan cara mengerik daerah klitoris tanpa ukuran yang jelas.
Organ Yang Dikhitan
Kebanyakan praktek khitan dilakukan di daerah klitoris, baik dengan cara mengerik, melukai sedikit, menusuknya dengan jarum atau memotongnya. Sebagian melakukan di labio mayora dan bahkan ada yang melakukan di vulva.
Alat untuk Mengkhitan
Penyunat biasanya menggunakan pisau dan gunting sebagai alat penyunat. Pisau merupakan alat yang paling banyak digunakan (55%), selain itu gunting (24%), sembilu (bambu) atau silet (5%) dan jarum (1%). Sisanya sekitar 15% menyebutkan lainnya seperti koin, kunyit, atau jari tangan dan kuku jari penyunat.
Walaupun mereka menggunakan alat pemotong, namun mereka tidak selalu melakukan pemotongan jaringan. Dari yang menggunakan pisau, hanya 66% yang melakukan insisi (perlukaan tanpa ada jaringan yang lepas) dan eksisi (72%) pada sunat yang menggunakan alat gunting. Sembilu atau silet digunakan untuk mengerik dan menggores pada 46% kasus, dan untuk insisi 54%. Jarum biasanya digunakan untuk tipe sunat mencungkil dan menindik.
Orang yang Mengkhitan
Berdasarkan hasil penelitian, kebanyakan masyarakat menggunakan tenaga bidan untuk melngkhitan anak perempuannya. Alasan yang mereka kemukakan adalah: Praktis – prasyarat sedikit, tenaga klinis terlatih; Punya peralatan steril; Tarif tidak berbeda dengan dukun bayi; Mudah diakses dan khitan merupakan bagian dari paket persalinan. Sebagian masih ada yang menggunakan tenaga dukun bayi.
Karena kebanyakan masyarakat berkeyakinan bahwa khitan adalah perintah agama, dan tenaga yang mereka gunakan adalah bidan, maka terjadi keresahan yang cukup hebat di masyarakat ketika Departemen Kesehatan Republik Indonesia Cq. Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat mengeluarkan Surat Edaran tentang Larangan Medikalisasi Sunat Perempuan bagi Petugas Kesehatan.
Dari deskripsi masalah di atas dan untuk menghilangkan keresahan masyarakat serta menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar Khitan Perempuan, maka perlu dikeluarkannya fatwa ulama NU tentang hukum Khitan Peremuan.
B. Rumusan Masalah
“Apa hukum khitan perempuan?”
C. Jawaban
1. Apabila dilakukan dengan cara yang aman hukumnya mubah
2. Apabila dilakukan dengan cara yang tidak aman dan membahayakan maka hukumnya haram.
D. Nash Al-Qur’an dan Hadist tentang Khitan Perempuan
1. Tidak ada ayat al-Qur’an yang secara tegas menyebut khitan apalagi memerintahkan, baik kepada laki-laki maupun perempuan.
2. Firman Allah SWT yang sering dijadikan dasar hukum khitan laki-laki maupun perempuan :
1. ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفاً وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”. (QS. an-Nahl[16] : 123)
3. وَمَنْ أَحْسَنُ دِيناً مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لله وَهُوَ مُحْسِنٌ واتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفاً وَاتَّخَذَ اللّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلاً
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus ? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya”. (QS. an-Nisaa[4] : 125)
3. قُلْ صَدَقَ اللّهُ فَاتَّبِعُواْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفاً وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. Ali Imran[3]: 95)
4. قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran[3]: 31)
5. قُلْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَالرَّسُولَ فإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ الْكَافِرِينَ
“Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. (QS. Ali Imran[3]: 32)
3. Hadis-hadis Nabi SAW yang sering dijadikan dalil tentang Khitan:
a. Dalil umum
حَدَّثَنَا عَلِيٌّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ الزُّهْرِيُّ حَدَّثَنَا عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رِوَايَةً الْفِطْرَةُ خَمْسٌ أَوْ خَمْسٌ مِنْ الْفِطْرَةِ الْخِتَانُ وَالِاسْتِحْدَادُ وَنَتْفُ الْإِبْطِ وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ وَقَصُّ الشَّارِب
)البخاري: كتاب اللباس. باب قصّ الشارب. 5439)
Hadis riwayat Imam Bukhari di atas mauqûf, hanya sampai perawi Abû Hurairah. Akan tetapi ke-mauqûf-an riwayat imam Bukhârî tertutupi dengan riwayat imam Muslim di bawah ini yang menunjukkan bahwa hadis tersebut marfû’.
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَعَمْرٌو النَّاقِدُ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ جَمِيعًا عَنْ سُفْيَانَ قَالَ أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْفِطْرَةُ خَمْسٌ أَوْ خَمْسٌ مِنْ الْفِطْرَةِ الْخِتَانُ وَالِاسْتِحْدَادُ وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ وَنَتْفُ الْإِبِطِ وَقَصُّ الشَّارِبِ
(مسلم: كتاب الطهاره. باب خصال الفطرة. 377)
Riwayat dari Abû Huraurah: Ada lima hal yang temasuk fitrah, yaitu: Khitan, mencukur bulu yang ada di sekitar kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, menggunting kumis.
Dua hadis di atas tidak memerlukan pembahasan dari status hadis dan hukum pengamalannya, karena sudah dipastikan marfû’ ( disandarkan kepada Rasulullah saw.), muttasil (sanadnya bersambung sampai ke Rasulullah saw.) dan sahîh (kwalitas seluruh periwayat tidak bermasalah), berarti hadis tersebut maqbûl (dapat diterima). Permasalahan yang ditimbulkan apad dua hadis di atas adalah pemahaman tentang الْفِطْرَةُ.
Ibn Hajar al-‘Asqallânî dalam kitab Syarh al-Bukhârî, menjelaskan perbedaan para ulama dalam memahami tentang al-Fithrah (الْفِطْرَةُ). Menurut al-Khattâbî yang dimaksud dengan fitrah adalah al-Sunnah (السنة) . Ulama lainnnya mengatakan yang dimaksud fitrah dengan sunnah adalah sunan al-Anbiyâ’ (سنن الأنبياء) tradisi para Nabi. Abû Nu’aim, imam al-Nawâwî, al-Mawardî dan Abû Ishâq berpendapat yang dimaksud dengan fithrah adalah (الدين) agama.
Ibn Salah merasa sulit memahami pendapat al-Khattâbî yang menyatakan bahwa fithrah berarti sunnah, mungkin yang dimaksud adalah (سنة الفطرة) artinya tradisi/kebiasaan bersih/suci. Akan tetapi imam al-Nawâwî lebih cenderung kepada pendapat al-Khattâbî karena lebih relevan dengan hadis yang diriwayatkan oleh imam al-Bukhârî melalui sahabat ‘Abdullâh ibn ‘Umar:
من السنة قص الشارب ونتف الإبط وتقليم الأظفار
Redaksi riwayat ini dibantah oleh Ibn Hajar al-‘Asqallânî bahwa tidak ada redaksi seperti di atas dalam periwayatn imam al-Bukhârî, bahkan yang ada riwayat dengan menggunakan redaksi من الفطرة bukan dengan redaksi من السنة. Hadis dengan menggunakan kata من السنة adalah riwayat Abû ‘Awânah dari jalur ‘Âisyah., akan tetapi pada periwayatan imam Muslim, al-Nasâ’i dan lainnya dengan menggunakan redaksi من الفطرة.
Menurut Al-Râghib al-Asfahânî, arti asal dari الفطرة adalah الإيجاد من غير مثال ”membuat sesuatu yang belum pernah ada contoh. Menurut Abû Syâmah: الخلقة المبتدأة “yang pertama kali menciptakan”. Sedangkan sabda Rasulullah saw.
كل مولود يولدعلى الفطرة
Setiap manusia diciptakan sesuai dengan awal mula Allah ciptakan, artinya apabila seseorang ketika lahir dibiarkan, tidak diajarkan agama apapun, maka dia akan tetap mengikuti awal penciptaannya yaitu mengikuti agama yang haq, agama tauhid. Sedangkan maksud الفطرة pada hadis tersebut adalah apabila seseorang telah melakukan lima hal yang disebutkan pada hadis di atas (khitan, mencukur bulu yang tumbuh di sekitar kemaluan laki-laki ataupun perempuan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku dan menggunting kumis), maka dia telah melakukan ketentuan yang telah Allah tetapkan, sehingga seseorag ingin dan suka melakukan fitrah tersebut supaya mempunyai sifat-sifat yang sempurna dan bentuk yang ideal.
Al-Baidawî membantah pemaknaan الفطرة dengan kata الإختراع (menciptakan) الجبلّة (karakter) الدين (agama) السنة(tradisi). Menurutnya الفطرة adalah:
السنة القديمة التى إختارها الأنبياء واتفقت عليها الشرائع
“Fitrah adalah tradisi masa lalu yang dipilih para Nabi dan sesuai dengan Syari’at”.
Fitrah seakan-akan karakter yang sudah tertanam dalam diri manusia.
Hubungan kata fithrah dengan kasus khitan pada pembahasan ini adalah apakah ada indikasi hukum pada khitan laki-laki ataupun perempuan dengan menggunakan dalil hadis di atas.
Menurut Ibn Hajar al-‘Asqallânî dalam Fath al-Bârî Syarh Sahîh al-Bukhârî, ada beberapa riwayat hadis kata الفطرة digantikan dengan kata السنة, bukan berarti bahwa hadis ini menghukumkan sunnah, sejalan dengan hukum wajib, akan tetapi kata السنة berarti الطريقة (cara atau jalan), seperti dalam riwayat lain:
عليكم بسنتي وسنتة الخلفاءالراشدين
Pendapat ini dibantah oleh Al-Qâdî Abû Bakr ibn al-‘Arabî, bahwa hukum lima hal (khitan, membersihkan bulu di sekitar kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku dan mengunting kumis) yang disebutkan pada hadis di atas adalah wajib. Lima hal ini adalah gambaran karakter kemanusian yang harus dilakukan. Apabila lima hal ini tidak dilakukan, maka tidak ada lagi karakter sebagai manusia, apalagi sebagai seorang muslim.
Sedangkan menurut Abû Syâmah, hukum lima hal di atas tidak mengarah kepada wajib syar’i, tetapi hanya untuk membentuk karakter manusia yang mempunyai akhlak dan penampilan yang baik, yaitu menjaga kebersihan diri, maka lima hal (khitan, membersihkan bulu di sekitar kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku dan mengunting kumis) yang disebutkan pada hadis di atas cukup dikatakan sebagai anjuran saja (الندب).
Ibn Daqîq al-‘Îd, berargumentasi dengan pendapat para ulama bahwa arti الفطرة adalah الدين (agama) menunjukkan kepada hukum ajaran pokok (أركان ) bukan kepada hukum tambahan (زوائد), kecuali ada dalil yang menyalahi aturan pokok tersebut. Ada perintah untuk mengikuti ajaran Nabi Ibrâhîm dan lima hal yang disebutkan di atas adalah perintah Nabi Ibrâhîm, maka setiap yang diperintahkan Allah untuk mengikutinya hukumya wajib. Akan tetapi pendapat ini meninggalkan masalah baru, karena wajib mengikuti sesuatu tidak berarti wajib mengikuti seluruhnya. Melaksanakan satu contoh kewajiban sudah berarti mengikuti. Terlebih lagi hukum wajib ini berlaku bagi Nabi Ibrâhîm, berarti tidak berlaku untuk ummat Nabi Muhammad saw.
Hadis di atas tidak dapat dijadikan dalil yang kuat untuk menunjukkan hukum khitan secara syari’ baik untuk laki-laki, terlebih untuk perempuan.
b. Dalil Khusus
حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدِّمَشْقِيُّ وَعَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ عَبْدِ الرَّحِيمِ الْأَشْجَعِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا مَرْوَانُ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حَسَّانَ قَالَ عَبْدُ الْوَهَّابِ الْكُوفِيُّ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ الْأَنْصَارِيَّةِ أَنَّ امْرَأَةً كَانَتْ تَخْتِنُ بِالْمَدِينَةِ فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُنْهِكِي فَإِنَّ ذَلِكَ أَحْظَى لِلْمَرْأَةِ وَأَحَبُّ إِلَى الْبَعْلِ
…Umm ‘Atiyyah berkata: Sesungguhnya kaum perempuan di kota Madinah dikhitan. Rasulullah saw. bersabda kepadanya: “Jangan engkau habiskan ketika mengkhitan perempuan, karena itu akan lebih baik bagi kaum perempuan dan lebih disenangi suaminya.
Analisa Sanad Hadis
Tinjauan sanad hadis riwayat Abû Dâwûd, ada dua jalur periwayatan dan seluruhnya melalui jalur periwayatan seorang tabi’in yang bernama Muhammad bin Hassân, menurut Abû Dâwûd orang ini majhûl (tidak diketahui, baik identitas maupun karakternya) dan hadis yang diriwayatkannya da’îf (lemah). Menurut al-Dzahabî, Muhammad bin Hassân La Yu’raf (tidak dikenal). Oleh karena itu hadis riwayat Abû Dâwûd ini dari sisi sanad tidak dapat dipertanggungjwabkan dan periwayatnnya tidak dapat diterima (ghair maqbûl). Hadis ini hanya diriwayatkan oleh imam Abû Dâwûd, jadi tidak ada riwayat lain yang mendukungnya.
Skema periwayatan Imam Abû Dâwûd:
Komentar Imam Abû Dâwûd tentang hadis di atas:
قَالَ أَبُو دَاوُد رُوِيَ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بِمَعْنَاهُ وَإِسْنَادِهِ قَالَ أَبُو دَاوُد لَيْسَ هُوَ بِالْقَوِيِّ وَقَدْ رُوِيَ مُرْسَلًا قَالَ أَبُو دَاوُد وَمُحَمَّدُ بْنُ حَسَّانَ مَجْهُولٌ وَهَذَا الْحَدِيثُ ضَعِيفٌ
Apabila dari sisi matan sudah tidak dimungkinkan untuk diterima, sebenarnya tidak ada gunanya lagi untuk membahas dari sisi matan, akan tetapi Muhammad Syams al-Haq al-‘Azîm memberikan penjelasan hadis ini dalam kitab ‘Aun al-Ma’bûd Syarh Sunan Abî Dâwûd , menurutnya sekalipun riwayat Abû Dâwûd ini dinilai tidak kuat, akan tetapi riwayat ini mempunayi pendukung periwayatan dari jalur Anas ibn Mâlik dan Umm Aimân. Tetapi dalam syarh kitab Abû Dâwûd tidak dicantumkan jalur periwayatan Anas ibn Mâlik dan Umm Aimân, apakah melalui jalur Muhammad ibn Hassân atau tidak, jadi sulit untuk menilai periwaytan tersebut.
Muhammad Syams al-Haq al-‘Azîm dalam kitab ‘Aun al-Ma’bûd Syarh Sunan Abî Dâwûd menjelaskan beberapa pendapat ulama khitan bagi perempuan dengan berdasarkan hadis ini:
- Ada perbedaan antara kaum permpuan al-Masyrîq (wilayah Timur) dan kaum perempuan al-Maghrîb(wilayah Barat). Perempuan wilayah Barat tidak perlu dikhitan karena pada kemaluannya tidak terdapat kelebihan yang dapat dipotong sebagaimana yang disyari’atkan. Sedangkan perempuan wilayah Timur dapat dikhitan sebagaimana yang disyari’atkan . Dalam hal ini tidak ada penjelsan tentang hukum khitan perempuan
- Ada pendapat dari sebagian mazhab al-Syâfi’iyah dan mayoritas ulama tidak mewajibakan khitan untuk kaum perempuan .
Kesimpulan dari hadis di atas tidak ada indikasi hukum tentang khitan bagi kaum perempuan, karena hadis tersebut bersifat informative. Rasulullah saw. memerintahkan kepada Umm ‘Atiyah untuk hati-hati dalam melakukan khitan kepada kaum perempuan karena ada resiko yang akan ditanggung oleh kaum perempuan apabila terjadi kesalahan pada khitan.
Penjelasan Umm ‘Atiyah menunjukkan bahwa khitan perempuan merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat Madinah, bukan perintah dari Rasulullah saw. tidak ada penjelasan bagaimana dengan mayarakat Mekkah, ketika Rasulullah saw. masih berada di Mekkah?.
Badr al-Dîn al-‘Ainî dalam ‘Umdah al-Qârî Syarh Sahîh al-Bukhârî, ketika menjelaskan tentang hadis (إذا التقى الختانان), bahwa penyebutan khitan untuk perempuan dan laki-laki adalah karena adat kebiasaan orang-orang Arab yang mengkhitan anak perempuan . Redaksi komentar Badr al-Dîn al-‘Ainî dalam ‘Umdah al-Qârî Syarh Sahîh al-Bukhârî sebagai berikut:
أي هذا باب في بيان حكم ما إذا التقى الختانان يعني ختان الرجل وختان المرأة وقال بعضهم المراد بهذه التثنية ختان الرجل وخفاض المرأة وإنما ثنيا بلفظ واحد تغليبا له قلت ذكروا هذا ولكن ذكر هذا بناء على عادة العرب فإنهم يختنون النساء وقال الختان للرجال سنة وللنساء مكرمة رواه الجصاص في كتاب ( أدب القضاء ) عن شداد بن أوس رضي الله تعالى عنه ثم الختان قطع جليدة الكمرة وكذلك الختن والخفاض قطع جلدة من أعلى فرجها تشبه عرف الديك بينها وبين مدخل الذكر جلدة رقيقة وكذلك الخفض
Hadis khusus lain yang biasa dijadikan dalil untuk khitan perempuan antara lain:
الْخِتَانُ سُنَّةٌ لِلرِّجَالِ ، مَكْرُمَةٌ لِلنِّسَاءِ
Beberapa jalur periwayatan yang menjelaskan matan hadis di atas antara lain:
1. Imâm Al-Baihaqî dalam Al-Sunan al-Kubrâ, Kitâb al-Asyribah, Bâb Al-Sultân Yukrihu ‘alâ al-Ikhtitân, jilid VIII, h. 324, nomor hadis 18020. Redaksi hadis:
18020- أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ الْحَارِثِ الْفَقِيهُ أَخْبَرَنَا أَبُو مُحَمَّدِ بْنُ حَيَّانَ حَدَّثَنَا عَبْدَانُ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ الْوَزَّانُ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ الْوَلِيدِ حَدَّثَنَا ابْنُ ثَوْبَانَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَجْلاَنَ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ :« الْخِتَانُ سُنَّةٌ لِلرِّجَالِ مَكْرُمَةٌ لِلنِّسَاءِ ». هَذَا إِسْنَادٌ ضَعِيفٌ.
2. Al-Tabrânî, dalam al-Mu’jam al-Kabîr, (Al-Mûsil: Maktabah ‘Ulûm wa al-Hikam, 1983) , Jilid VII, h. 273
7112 – حدثنا الحسين بن إسحاق التستري ثنا واصل بن عبد الأعلى ثنا محمد بن فضيل عن حجاج عن أبي مليح عن أبيه عن شداد بن أوس قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : الختان سنة للرجال و مكرمة للنساء
3. Al-Tabrânî, dalam al-Mu’jam al-Kabîr, (Al-Mûsil: Maktabah ‘Ulûm wa al-Hikam, 1983) , Jilid XI, h. 233
11590 – حدثنا عبدان بن أحمد ثنا أيوب بن محمد الوزان ثنا الوليد بن الوليد ثنا ابن ثوبان عن محمد بن عجلان عن عكرمة عن ابن عباس : عن النبي صلى الله عليه و سلم قال : الختان سنة للرجال مكرمة للنساء
4. Al-Tabrânî, dalam al-Mu’jam al-Kabîr, (Al-Mûsil: Maktabah ‘Ulûm wa al-Hikam, 1983), Jilid XII, h. 182
12828 – حدثنا أحمد بن زهير التستري ثنا عمرو بن عبد الله الأودي ثنا وكيع عن سعيد بن بشير عن قتادة عن جابر بن زيد عن ابن عباس : قال : ( الختان سنة للرجال مكرمة للنساء )
5. Al-Haitsamî, dalam Ghâyah al-Muqassad fî Zawâ’id al-Musnad, Bâb al-Khitânâni, Jilid II, h. 2213
حَدَّثَنَا سُرَيْجٌ، حَدَّثَنَا عَبَّادٌ، يَعْنِى ابْنَ الْعَوَّامِ، عَنِ الْحَجَّاجِ، عَنْ أَبِى الْمَلِيحِ ابْنِ أُسَامَةَ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: الْخِتَانُ سُنَّةٌ لِلرِّجَالِ، مَكْرُمَةٌ لِلنِّسَاءِ.
6. Ahmad ibn Hanbal, Musnad Ahmad ibn Hanbal, Hadis Usâmah al-Hazalî, nomor hadis 19794
19794 – حَدَّثَنَا سُرَيْجٌ حَدَّثَنَا عَبَّادٌ يَعْنِي ابْنَ الْعَوَّامِ عَنِ الْحَجَّاجِ عَنْ أَبِي الْمَلِيحِ بْنِ أُسَامَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْخِتَانُ سُنَّةٌ لِلرِّجَالِ مَكْرُمَةٌ لِلنِّسَاءِ
7. Al- Tabrânî, Musnad al-Syâmiyîn, Jilid I, h. 98
146 – حدثنا عبدان بن أحمد ثنا أيوب بن محمد الوزان ثنا الوليد بن الوليد ثنا بن ثوبان عن محمد بن عجلان عن عكرمة عن بن عباس أن النبي صلى الله عليه و سلم قال : الختان للرجال سنة وللنساء مكرمة
8. Al- Tabrânî, Musnad al-Syâmiyîn, Jilid I, h. 98
2697 – حدثنا محمد بن عبد الله الحضرمي ثنا عمرو بن عبد الله الأودي ثنا وكيع ثنا سعيد بن بشير عن قتادة عن جابر بن زيد عن ابن عباس قال ( الختان سنة للرجال مكرمة للنساء )
9. Ibn Syaibah, Musannaf Ibn Syaibah, jilid IX, h. 58
26998- حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ الْعَوَّامِ ، عَن حَجَّاجٍ ، عَن رَجُلٍ ، عَنْ أَبِي الْمَلِيحِ ، عَن شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : الْخِتَانُ سُنَّةٌ لِلرِّجَالِ مَكْرُمَةٌ لِلنِّسَاءِ.
Analisa sanad
Jalur redaksi hadis di atas hampir seluruhnya tidak dapt dipertanggung jawabkan dan tidak dapat dijadikan hujjah. Seluruh jalur yang ada pada periwayatan, ada perawi yang dinilai negative (jarh) oleh ulama jarh wa tadîl. Perawi yang dinilai negative (jarh) dan ada pada seluruh jalur sanad yang disebutkan dia atas adalah :
حجاج بن أرطاة بن ثور بن هبيرة بن شراحيل بن كعب بن سلامان ( بخ د ت س ق )
و قال المزى :
و قال أبو بكر بن أبى خيثمة ، عن يحيى بن معين : صدوق ، ليس بالقوى ، يدلس عن محمد بن عبيد الله العرزمى، عن عمرو بن شعيب .
و قال على ابن المدينى ، عن يحيى بن سعيد : الحجاج بن أرطاة و محمد بن إسحاق عندى سواء ، و تركت الحجاج عمدا و لم أكتب عنه حديثا قط .
و قال أبو زرعة : صدوق ، مدلس .
و قال أبو حاتم : صدوق ، يدلس عن الضعفاء يكتب حديثه ، فإذا قال : حدثنا ، فهو صالح لا يرتاب فى صدقه وحفظه إذا بين السماع ، لا يحتج بحديثه ، لم يسمع من الزهرى ، و لا من هشام بن عروة ، و لا من عكرمة .
و قال عبد الله بن المبارك : كان الحجاج يدلس ، و كان يحدثنا الحديث عن عمرو بن شعيب مما يحدثه العرزمى ، و العرزمى متروك لا نقر به .
و قال النسائى : ليس بالقوى .
و قال عبد الرحمن بن يوسف بن خراش : كان مدلسا ، و كان حافظا للحديث .
و قال أبو أحمد بن عدى : إنما عاب الناس عليه تدليسه عن الزهرى و غيره ، و ربما أخطأ فى بعض الروايات ،فأما أن يتعمد الكذب فلا ، و هو ممن يكتب حديثه .
و قال يعقوب بن شيبة : واهى الحديث ، فى حديثه اضطراب كثير ، و هو صدوق ، و كان أحد الفقهاء .
و قال أبو بكر الخطيب : الحجاج أحد العلماء بالحديث و الحفاظ له .
قال الهيثم بن عدى : مات بخرسان مع المهدى .
و ذكر خليفة بن خياط أنه مات بالرى .
روى له البخارى فى ” الأدب ” ، و مسلم مقرونا بغيره ، و الباقون . اهـ .
قال الحافظ في تهذيب التهذيب 2 / 198 :
و قال الساجى : كان مدلسا صدوقا سىء الحفظ ، ليس بحجة فى الفروع و الأحكام .
و قال ابن خزيمة : لا أحتج به إلا فيما قال : أخبرنا و سمعت .
و قال ابن سعد : كان شريفا ، و كان ضعيفا فى الحديث .
و قال أبو أحمد الحاكم : ليس بالقوى عندهم .
و قال البزار : كان حافظا مدلسا ، و كان معجبا بنفسه ، و كان شعبة يثنى عليه
و قال مسعود السجزى ، عن الحاكم : لا يحتج به . و كذا قال الدارقطنى .
و قال ابن عيينة : كنا عند منصور بن المعتمر ، فذكروا حديثا ، فقال : من حدثكم ؟ قالوا : الحجاج بن أرطاة . قال : و الحجاج يكتب عنه ! قال : نعم . قال : لو سكتم لكان خيرا لكم .
و قال ابن حبان : تركه ابن المبارك ، و ابن مهدى ، و يحيى القطان ، و يحيى بن معين ، و أحمد بن حنبل .
قرأت بخط الذهبى : هذا القول فيه مجازفة ، و أكثر ما نقم عليه التدليس ، و كان فيه تيه لا يليق بأهل العلم . و قال إسماعيل القاضى : مضطرب الحديث لكثرة تدليسه .
و قال محمد بن نصر : الغالب على حديثه الإرسال ، و التدليس ، و تغيير الألفاظ . اهـ .
ابن ثوبان و قيل على بن سالم بن شوال
الطبقة : 7 : من كبار أتباع التابعين
روى له : ق ( ابن ماجه )
رتبته عند ابن حجر : ضعيف
رتبته عند الذهبي : قال البخارى : لا يتابع على حديثه
محمد بن عجلان القرشى ، أبو عبد الله المدنى ، مولى فاطمة بنت الوليد بن عتبة بن ربيعة
الطبقة : 5 : من صغار التابعين
الوفاة : 148 هـ بـ المدينة
روى له : خت م د ت س ق ( البخاري تعليقا – مسلم – أبو داود – الترمذي – النسائي – ابن ماجه )
رتبته عند ابن حجر : صدوق إلا أنه اختلطت عليه أحاديث أبى هريرة
رتبته عند الذهبي : وثقه أحمد و ابن معين ، و قال غيرهما : سيىء الحفظ ، قال الحاكم : خرج له مسلم ثلاثة عشر حديثا كلها فى الشواهد
سعيد بن بشير الأزدى و يقال النصرى
الطبقة : 8 : من الوسطى من أتباع التابعين
الوفاة : 168 أو 169 هـ
روى له : د ت س ق ( أبو داود – الترمذي – النسائي – ابن ماجه )
رتبته عند ابن حجر : ضعيف
رتبته عند الذهبي : الحافظ ، قال البخارى : يتكلمون فى حفظه و هو محتمل . و قال دحيم : ثقة ، كان مشيختنا يوثقونه
قال أبو زرعة : و رأيته موضعا عند أبى مسهر للحديث
و قال يعقوب بن سفيان : سألت أبا مسهر عن سعيد بن بشير فقال : لم يكن فى جندنا أحفظ منه ، و هو ضعيف ، منكر الحديث .
و قال عمرو بن على : كان عبد الرحمن بن مهدى يحدثنا عن سعيد بن بشير ، ثم تركه .
و قال محمد بن المثنى : ما سمعت عبد الرحمن بن مهدى حدث عن سعيد بن بشير الدمشقى ، و قد كان حدث عنه ثم تركه بأخرة فيما بلغنى .
و قال أبو داود : سألت أحمد بن حنبل ، عن سعيد بن بشير ، فقال : كان عبد الرحمن يحدث عنه ثم تركه .
و قال أبو الحسن الميمونى : رأيت أبا عبد الله يضعف أمره .
و قال عباس الدورى ، و أبو بكر بن أبى خيثمة ، عن يحيى بن معين : ليس بشىء .
و قال أبو داود ، و عثمان بن سعيد الدارمى ، و محمد بن عثمان بن أبى شيبة ، و المفضل بن غسان الغلابى ، عن يحيى بن معين : ضعيف .
و قال على ابن المدينى : كان ضعيفا .
و قال محمد بن عبد الله بن نمير : منكر الحديث ، ليس بشىء ، ليس بقوى الحديث ، يروى عن قتادة المنكرات
ذكره أبو زرعة فى كتاب ” الضعفاء ، و من تكلم فيهم من المحدثين ” .
و قال البخارى : يتكلمون فى حفظه ، و هو يحتمل .
و قال النسائى : ضعيف .
و قال الحاكم أبو أحمد : ليس بالقوى عندهم .
Analisa matan
Sedangkan dari analisa matan hadis tidak ada indikasi hukum, baik untuk khitan perempuan ataupun laki-laki, para periwayatan hadis di atas. Kata “al-sunnah” untuk khitan laki-laki juga bukan berarti sunnah berinplikasi hukum seperi wâjib, makrûh dan lainnya, kata tersebut lebih mengarah kepada arti tradisi atau adat kebiasaan. Sedangkam kata “Makrumah” untuk khitan perempuan tidak mempunyai implikasi hukum apapun, perintah ataupun larangan.
Kesimpulan
Khitan hanyalah tradisi yang dilegalkan, apabila mempunyai manfaat dapat dilanjutkan apabila tidak ada manfaatnya dapat dihentikan tanpa adanya ancaman syar’i bagi yang meninggalkannya ataupun pujian syar’i bagi yang melakukannya. Akan tetapi apabila hal tersebut berkaitan dengan hukum yang lain maka berlaku kaedah: “Sesuatu yang tidak dapat sempurna kecuali dengan sesuatu yang lain, maka sesuatu yang lain tersebut menjadi wajib” atau kaedah “Perintah pada sesuatu, juga perintah pada pasilitas yang menyampaikan kepada perintah”. Seandainya laki-laki tidak dikhitan menyebabkan tidak sah shalatnya dikarenakan ada indikasi tersimpannya najis yang berada di kemaluannya yang belum dipotong, maka khitan menjadi wajib bagi laki-laki. Walaupun najis yang berada di kemaluan laki-laki masih diperdebatkan, apakah termasuk bagian dalam, seperti kotoran yang masih berada di dalam perut atau bagian luar?. Sedangkan bagi perempuan tidak ada pengaruh apapun, bahkan Rasulullah saw. sangat mengkhawatirkan rusaknya organ kemaluan perempuan apabila khitan dilakukan tidak hati-hati, maka beliau menasehati Umm ‘Atiyyah untuk tidak ceroboh dalam mengkhitan perempuan.Atau mungkin saja Rasulullah lebih menghendaki tidak dikhitan untuk perempuan, karena akan lebih aman dari kerusakan yang dikhawatirkan, tapi Rasulullah menasehati Umm ‘Atiyyah untuk hati-hati dalam mengkhitan perempuan, karena khitan perempuan merupakan tradisi yang sudah membudaya dan sulit untuk dihilangkan, bukan perintah agama.
[Draft Bahtsul Masail Diniyah Waqi'iyah PBNU 2010]