Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli membaca Al Qur’an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan, tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit. Dia, jika bersumpah demi Allah pasti terkabul. Pada hari kiamat nanti ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk surga, dia justru dipanggil agar berhenti dahulu dan disuruh memberi syafa’at, ternyata Allah memberi izin dia untuk memberi syafa’at sejumlah qobilah Robi’ah dan qobilah Mudhor, semua dimasukkan surga tak ada yang ketinggalan karenanya. Dia adalah “Uwais al-Qarni”. Ia tak dikenal banyak orang dan juga miskin, banyak orang suka menertawakan, mengolok-olok, dan menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri serta berbagai macam umpatan dan penghinaan lainnya.
Seorang fuqoha’ negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya, memberinya hadiah dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik, karena hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya seraya berkata : “Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, dari mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari mencuri”.
Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak famili kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya. Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.
Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad SAW. yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya. Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur. Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, karena selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya kebenaran. Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad SAW secara langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah tangga mereka dengan cara kehidupan Islam.
Alangkah sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka itu telah “bertamu dan bertemu” dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang ia sendiri belum. Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu yang jika ia pergi, tak ada yang merawatnya.
Di ceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada beliau SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya. Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat ? Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa. Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memaklumi perasaan Uwais, dan berkata : “Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”. Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi.
Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman. Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari, semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya. Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina ‘Aisyah r.a., sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi SAW dari medan perang. Tapi, kapankah beliau pulang ? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas pulang”. Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada sayyidatina ‘Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan perasaan haru.
Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda Rosulullah SAW, sayyidatina ‘Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun. Menurut informasi sayyidatina ‘Aisyah r.a., memang benar ada yang mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Rosulullah SAW bersabda : “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.” Sesudah itu beliau SAW, memandang kepada sayyidina Ali k.w. dan sayyidina Umar r.a. dan bersabda : “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi”.
Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah di estafetkan Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kepada sayyidina Ali k.w. untuk mencarinya bersama. Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka. Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka.
Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni. Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan sholat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar ! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah nama saudara ? “Abdullah”, jawab Uwais. Mendengar jawaban itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan : “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?” Uwais kemudian berkata: “Nama saya Uwais al-Qorni”. Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan mendo’akan untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah: “Sayalah yang harus meminta do’a kepada kalian”. Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata: “Kami datang ke sini untuk mohon do’a dan istighfar dari anda”. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata : “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi”.
Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar beritanya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh Uwais , waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan sholat di atas air. Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu. “Wahai waliyullah,” Tolonglah kami !” tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi,” Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!”Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata: “Apa yang terjadi ?” “Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihantam ombak ?”tanya kami. “Dekatkanlah diri kalian pada Allah ! ”katanya. “Kami telah melakukannya.” “Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrohmaanirrohiim!” Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut. Lalu orang itu berkata pada kami ,”Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat”. “Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan ? ”Tanya kami. “Uwais al-Qorni”. Jawabnya dengan singkat. Kemudian kami berkata lagi kepadanya, ”Sesungguhnya harta yang ada di kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir.” “Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?” tanyanya.“Ya,”jawab kami. Orang itu pun melaksanakan sholat dua rakaat di atas air, lalu berdo’a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.
Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya. Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, “ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa pemerintahan sayyidina Umar r.a.)
Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya : “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni ? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta ? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa “Uwais al-Qorni” ternyata ia tak terkenal di bumi tapi terkenal di langit.
Sumber:http://ngajiquranonline.com/http://membangun-ukhuwah.blogspot.com/2011/09/uwais-al-qarni-terkenal-di-langit-tak.html
Category: Serial Tokoh
Selasa, 09/08/2011 01:25 WIB
Mahfud MD Ibaratkan HMI & GMNI Seperti Sepasang Sepatu
Laurencius Simanjuntak – detikNews
Jakarta – Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD mengibaratkan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) seperti sepasang sepatu. Tanpa salah satu organisasi kemahasiswaan itu, bangsa ini tidak bisa berjalan. “HMI dan GMNI itu seperti sepasang sepatu. Kiri dan kanan. Indonesia tidak berjalan tanpa ada salah satunya,” kata Mahfud disambut tawa para anggota Persatuan Alumni GMNI dan Korps Alumni HMI. Persitiwa itu terjadi saat sesi jumpa pers usai buka puasa bersama PA GMNI dan KAHMI di rumah dinas Ketua MPR, Jl Widya Chandra IV, Jakarta Selatan, Senin (8/8/2011). Hadir antara lain tokoh dari dua organisasi kemahasiswaan terbesar itu, Taufiq Kiemas, Akbar Tandjung, Siswono Yudo Husodo, Soekarwo, Viva Yoga Mauladi dan Jafar Hafsah.
Mahfud menilai, peran dua organisasi yang banyak melahirkan pemimpin nasional, itu sangat penting bagi perjalanan bangsa ke depan. Sampai-sampai, alumnus HMI dari Universitas Islam Indonesia, itu menganggap organisasi kemahasiswaan yang lain perannya kecil. “Yang lainnya itu seperti tali sepatu, organisasi yang yang kecil-kecil itu,” celetuk Mahfud dengan tawa hadirin yang makin menjadi-jadi. Karenanya, Mahfud berharap HMI dan GMNI ke depan semakin dikelola dengan baik dan sungguh-sungguh. “Demi masa depan Indonesia,” kata Mahfud yang sebelumnya enggan memberi pernyataan. Dia menambahkan, karena masyarakat Indonesia majemuk, maka setiap organisasi mahasiswa itu harus punya peran di Indonesia seperti pakaian manusia. Setiap organisasi mahasiswa harus menjadi satu jenis pakaian demokrasi di Indonesia.
“Ada yang harus berperan sederhana tapi penting misalnya jadi kaus kaki dan tali sepatu. PMII dan IMM bisa menjadi jas dan celana, PMKRI dan yang lain bisa berperan sebagai dasi atau kemeja. Semuanya berperan penting untuk eksistensi Indonesia yang demokratis, tak boleh ada yang dianggap tak penting posisinya saja yang beda,” paparnya. “Di atas semuanya, kaca mata yang dipakai harus berdimensi kanan dan kiri juga yaitu nasionalis dan religius. Indonesia adalah negara kebangsaan yang religius,” imbuhnya. (Irn/Mad).
Berawal dari berita di atas kemudian pengurus PB PMII banyak menerima sms sbb:
Ass.. pak ktum…ini qt dpt sms dr shbt2…ini mksd’y pa pak ktum…”Selain HMI-GMNI, yg lain cuma diibaratkan seperti tali sepatu atau yg kecil-kecil alias pelengkap..
http://m.detik.com/read/2011/08/09/012535/1699442/10/mahfud-md-ibaratkan-hmi-gmni-seperti-sepasang-sepatu?nh
Pengurus PB PMII mencoba klarifikasi pd Prof. Mahfud MD, namun tidak ada jawaban. Akhirnya mereka berkesimpulan bhw Prof. Mahfud MD harus meminta maaf secara terbuka di media massa atas statemennya yang dianggap tidak etis dan tidak bijak itu. PB PMII memutuskan untuk mengirimkan press rilis ke 10 media yang isinya sbb:
“PB PMII meminta Mahfud MD untuk mencabut ucapannya”
Safari politik, atau silaturrahmi politik, sah-sah saja, baik itu hanya untuk silaturrahmi biasa maupun dalam kontek menjelang pilpres 2014. Bagi tokoh-tokoh tertentu, safari ke berbagai kalangan tokoh, media, dan masyarakat sudah dimulai dari sekarang. Tetapi itu menjadi bagian yang sah, dan dibolehkan sepanjang memperhatikan rambu-rambu, kerangka etis, dan bersikap bijak. Saat ini kita membutuhkan sosok negarawan yang dengan keberanian dan ketegasannya mampu menjawab krisis nasional dan keprihatinan masyarakat.
kita memprotes keras, apa yang disampikan oleh pak Mahfud MD, dalam acara buka puasa bersama antara alumni GMNI dan alumni HMI, mengenai peran organisasi, bahwa “HMI-GMNI diibaratkan seperti sepasang sepatu, sementara yang lainnya itu seperti tali sepatu, organisasi yang kecil-kecil itu”. Dimuat detikNews, Selasa, 09/08/2011 01:25 WIB. Persitiwa itu terjadi saat sesi jumpa pers usai buka puasa bersama PA GMNI dan KAHMI di rumah dinas Ketua MPR, Jl Widya Chandra IV, Jakarta Selatan, Senin (8/8/2011).
Meskipun tidak secara spesifik menyebutkan nama organisasi langsung, tetapi pernyataan tersebut kurang etis dan bijak apalagi keluar dari mulut seorang ketua MK, mengingat masing-masing organisasi yang sudah lama berdiri punya peranan dan berkontribusi dalam mencetak pemimpin nasional dan mengawal republik ini. Sebagai mana kita ketahui bahwa organisasi kelompok cipayung sudah lama berdiri, dan banyak melahirkan pemimpin di republik ini.
Pak Mahfud MD selama ini cukup diterima banyak publik, tetapi jangan sampai mengkerdilkan institusi lain, dengan statemen ini pada akhirnya dapat dibaca ambisi pak Mahfud untuk kepentingan politik kedepan. Maka kita meminta pak Mahfud untuk mencabut ucapannya sekaligus meminta maaf, karena itu akan menimbulkan ketersinggungan banyak kelompok.
A.Jabidi Ritonga
Sekretaris Jenderal PB PMI
Atas hal tsb kemudian saya mencoba mnghubungi Prof Mahfud utk mengklarifikasi persoalan ini. Prof. Mahfud MD kemudian membalas klarifikasi saya sbb:
“Wah, yang sy katakan krn indonesia plural maka setiap organisasi mhs itu hrs punya peran di Indonesia yang plural. HMI dan GMNI bisa seperti sepatu kiri dan kanan, tak bisa dipakai hanya satu. Ada yang berperan sederhana tapi penting misalnya kaus kaki dan tali sepatu. PMII dan IMM bisa menjadi jas dan celana. PMKRI dan yg lain bisa berperan sbg dasi atau kemeja. Kaca mata yang dipakai harus berdimensi kanan kiri yaitu nasionalis dan religius. Semua harus memberi peran dan punya posisi sebab Indonesia ini majemuk. Semua penting. Tak mungkinlah sy mengecilkan organisasi lain. Sy sdh beritahu medianya, nanti akan penjelasan.
Sorry, Mas. Tadi HP trouble, baru bisa aktif dan membalas. Itu pernyataan hanya dikutip yg lucu2an saja, tak semua.
Ya, sy juga dpt beberapa SMS dari teman2 PMII. Sy jawab, enak mana jadi jas dan jadi sepatu? hahaha. Nanti media akan menulis lengkap (MMD)
Sy minta mereka agar segera membuka blog-nya Mas Shofiyullah saja dulu.”
Saya kemudian minta ijin pada beliau untuk memforward sms tsb ke tmn pengurus PB PMII (Addien, Waketum) disertai dg harapan sy untuk mensudahi persoalan ini. Berikut sms saya:
“Dg pnjelasan dr Prof Mahfud td sy harap miskomunikasi ini bs diakhiri krn bs jd media krg lngkap dn utuh mndengar dn memahaminya ato mmg sngaja dplintir. Kita jgn mudah terprovokasi olh informasi yg blm jls dn berakibat merugikan perjuangan kita sndr kdpn dlm mbenahi bngsa ini. Salam hormat. Shofiyullah Mz.
Alhamdulillah, rupanya Allah memberikan hidayah rahman dan rahimNya, persoalan ini menjadi pelajaran berharga dlm menapaki kehidupan ini ke dpn. Alquran berpesan pada ummatnya: “Yaa ayyuhal ladzina amanuu in jaa akum fasiqun binaba in fatabayyanuu antushibuu qauman bijahalatin fatushbihu ala ma fa’altum nadimiin [QS alHujurat (49) ayat 6] artinya: “wahai orang2 yang beriman jika datang kpdmu seorang fasik (integritas moralnya diragukan) membawa suatu berita maka hendaklah kaliyan tabayyun (klarifikasi, meneliti kejelasan dan kebenaran berita tsb jangan langsung mempercayainya) agar kalian tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa pengetahuan yg menyebabkan kamu atas perbuatan kamu menjadi orang-orang yang menyesal!”
Klarifikasi (tabayyun) itu sangat penting untuk menghindari hal-hal merugikan org lain juga diri kita sendri yg kita lakukan atas dasar ketidak tahuan (tdk mau tabayyun). Proses tabayyun itu seyogyanya diikuti dg niat mencari kebaikan bersama shg selalu positive thinking. Spt kasus di atas, Prof. Mahfud tdk menjawab bukan krn tdk mau klarifikasi dan meremehkan tapi krn handphone nya yg sdh “udzur” shg tdk bisa langsung membalasnya. Disamping mgk juga kesibukan beliau yg luarbiasa sbg Ketua MK yg membawa beliau pd situasi2 yg menyita banyak energi dan konsentrasi krn harus fokus pd persoalan2 bangsa yg sdh mulai keropos moralitasnya ini.
Demikian, mohon maaf dan semoga bermanfaat, amin.
Pers Rilis Lomba Karya Tulis Ilmiah
Dalam Rangka PERINGATAN 1 ABAD KH ABDUL WAHID HASYIM
Di tengah berbagai problematika yang masih menghinggapi kita dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara bangsa, muncul banyak pemikiran yang mengingatkan kita untuk menengok, mencermati, dan menelaah ulang pemikiran dan visi para founding fathers republik ini. Salah satu tokoh yang tercatat dengan tinta emas dalam perjalanan bangsa dan sangat kontributif dalam mengedepankan pemikiran kebangsaan adalah Kiai Haji Abdul Wahid Hasjim (AWH) (lahir di Jombang, Jawa Timur, Jum’at legi, 5 Rabi’ul Awal 1333 H./1 Juni 1914 M). Beliau adalah sosok ulama cendekia sekaligus patriot pejuang. Sebagai ilmuwan, pemikiran dan visi beliau terserak mulai dari ranah pendidikan dan pesantren hingga pemikiran politik tentang kebangsaan dan keindonesiaan. Beliau merupakan reformis dunia pendidikan pesantren dan pendidikan Islam Indonesia selain juga dikenal sebagai pendiri IAIN (Institus Agama Islam Negeri/ sekarang UIN). Beliau juga pejuang politik di era penjajahan Belanda, Jepang, menjadi salah seorang anggota BPUPKI dan perumus Pancasila, hingga menjadi Menteri Agama tiga kabinet (Kabinet Hatta, Kabinet Natsir dan Kabinet Sukiman).
Menurut Pengasuh PP. Tebuireng Jombang yg juga selaku Ketua Dewan Penasehat Panitia Peringatan 1 Abad KH Abdul Wahid Hasyim, KH Sholahuddin Wahid (Gus Sholah), dalam rangka menggali pemikiran (untuk mengambil pelajaran, meneladani, dan melanjutkan pemikiran dan visi AWH) akan diadakan Peringatan 1 Abad KH Abdul Wahid Hasyim yang dipusatkan di tiga kota besar yaitu Jakarta, Semarang, dan Jombang melalui Keagamaan, Kajian Pemikiran dan Aktivitas Sosial. Salah satu bentuk kegiatan yang diadakan di bidang kajian pemikiran adalah LOMBA KARYA TULIS ILMIAH. Gus Sholah mengharap muncul perspektif- perspektif baru dari berbagai kalangan untuk menggali pemikiran KH AWH. Ini dimaksudkan agar pemikiran dan visi beliau terus menjadi mercusuar yang menuntun kita dalam meniti kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.
Salah seorang panitia pusat Dr. H. Noor Achmad, MA yang juga Rektor Universitas Wahid Hasyim Semarang (Unwahas), Lomba Karya Tulis Ilmiah ini diperuntukkan semua kalangan dengan dua kategori yaitu Pelajar dan Santri serta Mahasiswa dan Umum yang akan dinilai oleh para pakar di bidangnya masing- masing.
KETENTUAN LOMBA KARYA TULIS ILMIAH
Kategori Peserta: (1) Pelajar/ Santri dan (2) Umum
Ada lima bidang tema yang ditawarkan panitia, yaitu:
1. Pemikiran AWH di bidang Agama;
2. Pemikiran AWH di bidang Ekonomi;
3. Pemikiran AWH di bidang Politik dan Hukum;
4. Pemikiran AWH di bidang Sosial Budaya
5. Pemikiran AWH di bidang Pendidikan
Kejuaraan:
Pada masing-masing kategori dan bidang diambil 3 (tiga) orang pemenang dengan reward dalam bentuk Piagam Penghargaan dan Uang Tunai:
Juara I Rp. 5.000.000,-
Juara II Rp. 3.000.000,- dan
Juara III Rp. 2.000.000,-
Total hadiah Rp 100.000.000,- semua karya terpilih diterbitkan dalam bentuk buku Antologi
Waktu
a. Pengiriman Naskah 10 Januari- 26 Maret 2011
b. Pengumuman Pemenang 11 April 2011
c. Seminar Nasional dan Bedah Buku Hasil Lomba Karya Ilmiah Selasa 19 April 2011
Kriteria Naskah: maksimal 30.000 karakter dengan spasi 1,5 Font Times New Roman 12
Semua Naskah dalam bentuk hard copy dan soft copy (CD) sudah diterima panitia paling lambat Sabtu, 26 Maret 2011
Alamat Pengiriman Naskah :
Panitia Lomba Karya Tulis Ilmiah Peringatan 1 Abad KH Abdul Wahid Hasyim
di Universitas Wahid Hasyim (Unwahas)
Jl. Menoreh Tengah X/22 Sampangan Semarang 50236
Email : andhi_unwahas@yahoo.co.id
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA–Ketika berbagai cobaan dan ujian silih berganti dialami umat Islam, Rasulullah SAW memerintahkan kaum Muslimin untuk segera berhijrah ke Yatsrib. Perihal tempat untuk hijrah ini, Allah SWT telah memberitahukan Rasulullah.
Dalam buku berjudul Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, Martin Lings mengungkapkan, Nabi SAW sudah mengetahui bahwa Yastrib adalah lahan subur di antara dua jalur batu-batu hitam yang beliau lihat dalam mimpinya. Beliau juga tahu bahwa tibalah waktunya untuk hijrah.
Sementara itu, Dr Ahzami Samiun Jazuli dalam bukunya mengenai Hijrah dalam Pandangan Al-Quran menuliskan, Imam Muslim mengatakan bahwa Nabi SAW bersabda, “Aku melihat dalam tidur bahwa aku berhijrah dari Makkah menuju suatu tempat yang banyak terdapat pohon kurma. Aku mencoba menebak apakah itu Yamamah atau Hajar? Namun, ternyata, itulah Kota Yatsrib.” (Shahih Muslim: 2272).
Rasul pun memerintahkan para sahabatnya untuk segera berhijrah, baik secara sendiri-sendiri maupun berkelompok. Adapun Rasul SAW, rencananya akan menyusul setelah semua umat Islam berhijrah ke Madinah. Sebab, Rasul mengetahui, yang dimusuhi oleh kaum kafir Quraisy adalah diri beliau, dan bukan kaum Muslimin.
Kaum Quraisy pun menyiapkan strategi untuk melakukan penangkapan terhadap Rasul SAW. Namun, rencana kaum Quraisy ini diketahui oleh Nabi SAW. Saat itu, Rasulullah sendiri memang masih tinggal di Makkah dan kaum Muslim sudah tidak ada lagi yang tinggal, kecuali sebagian kecil. Sambil menunggu perintah Allah SWT untuk berhijrah, Nabi SAW menemui Abu Bakar dan memberitahukannya untuk bersiap hijrah ke Madinah.
“Dan, katakanlah, Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.”(Al-Isra [17]: 80).
Di sinilah, sebagaimana dipaparkan Muhammad Husain Haekal dalam bukunya Hayatu Muhammad (Sejarah Hidup Muhammad), dimulainya kisah yang paling cemerlang dan indah yang pernah dikenal manusia dalam sejarah pengejaran yang penuh bahaya demi kebenaran, keyakinan, dan keimanan.
Untuk mengelabui kaum Quraisy, Rasulullah memutuskan akan menempuh jalan lain (rute yang berbeda) dari jalur yang biasa digunakan penduduk Makkah untuk menuju Madinah. Rasulullah SAW memutuskan akan berangkat bukan pada waktu yang biasa.
Padahal, Abu Bakar sudah menyiapkan dua ekor unta sebagai kendaraan yang akan dipergunakan Nabi SAW pada saat berhijrah. Hijrah ini dilakukan semata-mata untuk menyelamatkan dakwah dan akidah Islam serta kaum Muslimin.
Rute yang ditempuh Rasul itu adalah setelah keluar dari rumah beliau, jalan yang ditempuh adalah Gua Tsur, berjarak sekitar 6-7 kilometer di selatan Makkah. Sedangkan Madinah berada di sebelah utara Makkah. Langkah ini diambil untuk mengelabui kafir Quraisy. Di Gua Tsur ini, Rasulullah dan Abu Bakar tinggal selama kurang lebih tiga hari.
Selanjutnya, beliau mengambil jalur ke arah barat menuju Hudaibiyah, arah sebelah timur desa Sarat. Kemudian, menuju arah Madinah dan berhenti di sebuah kawasan di al-Jumum dekat wilayah Usfan. Lalu, bergerak ke arah barat dan memutar ke perkampungan Ummul Ma’bad dan berhenti di wilayah Al-Juhfah.
Selanjutnya, beliau menuju Thanniyat al-Murrah, Mulijah Laqaf, Muwijaj Hujaj, Bath Dzi Katsir, hingga tiba di Dzu Salam. Di sini, beliau memutar ke arah barat sebelum meneruskan ke arah Madinah dan berhenti di daerah Quba. Di sinilah beliau mendirikan Masjid Quba, yaitu Masjid pertama yang didirikan Rasul SAW.
Setelah dari Quba, atau sekitar satu kilometer dari Quba, beliau bersama umat Islam lainnya, melaksanakan shalat Jumat. Untuk memperingati peristiwa itu, dibangunlah masjid di lokasi ini dengan nama Masjid Jumat. Setelah itu, barulah Rasul SAW menuju Madinah.
KH. Musta’in Romly, Rejoso, Jombang – Jawa Timur
Hidup kira-kira 1920-1984. Setelah ayah beliau wafat, KH. Musta’in memangku
Pondok Pesantren Darul Ulum, Rejoso (Jombang) dan sebagai Syaikh Tarekat
Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, yang memiliki puluhan ribu pengikut di Jawa
Timur. Kiai Musta’in menggantikan kedudukan sang ayah, Kiai Romly Tamim yang
wafat pada 1958, baik sebagai kiai maupun syaikh tarekat. KH. Romly maupun
KH. Musta’in adalah sama-sama aktivis NU, namun keduanya sama-sama tidak
mempunyai jabatan formal di kepengurusan NU, kecuali di tingkat lokal.
Sekitar 1973, KH. Musta’in bergabung ke Golkar, partai pemerintah dan
saingan serius PPP. Pada pemilu 1977 KH. Musta’in aktif berkampanye untuk
Golkar. Beliau “dihukum” oleh sesama kiai atas tindakannya dalam
meninggalkan PPP, melalui sebuah kampanye yang berhasil melalui kepemimpinan
tarekat yang berada di tangannya. Bahkan sempat terjadi ketegangan antara
sang Kiai dengan keluarga selatan. Keluarga yang memilih kendaraan politik
melalui PPP.
KH. Musta’in Romly lahir di Rejoso pada tanggal 31 Agustus 1931. Sejak kecil
ia mendapat didikan langsung dari kedua orang tuanya. Dan baru tahun tahun
1949 M melanjutkan studi di Semarang dan Solo di Akademi Dakwah Al
Mubalighoh, diperguruan ini bakat kepemimpinannya menonjol sehingga pada
waktu singkat mengajak sahabat-sahabatnya yang berasal dari daerah Jombang
mendirikan Persatuan Mahasiswa Jombang. Studi di Lembaga ini diakhiri pada
tahun 1954 M.
Pada tahun 1954 M beliau aktif di Nahdhatul Ulama Jombang tempat asalnya dan
kemudian menjadi pengurus IPNU Pusat tahun 1954 sampai 1956. Upaya menerpa
diri untuk lebih matang sebagai pimpinan Pondok Pesantren, KH Musta’in Romly
banyak beranjang sana ke berbagai pondok pesantren dan lembaga pendidikan
pada umumnya. Mulai tingkat nasional sampai internasional. Dalam kaitan
inilah pada tahun 1963 M beliau Muhibbah ke Negara-negara Eropa dan Timur
Tengah, yang juga berziarah ke makam Syeh Abdul Qodir Al Jailani tokoh
pemprakarsa Thoriqoh Qodiriyah, di Irak.
Hal ini penting mengingat beliau adalah Al Mursyid Thariqah Qodiriyah wa
Naqsabandiyah mewarisi keguruan KH. Romly Tamim dam KH. Cholil Rejoso.
Oleh-oleh dari kunjungan muhibbah ini antara lain yaitu mendorong berdirinya
Universitas Darul Ulum pada tanggal 18 September 1965. Universitas Darul
Ulum sendiri diprakasai oleh Dr. KH. Musta’in Romly, KH. Bhisry Cholil, K.
Ahmad Baidhowi Cholil, Mohammad Wiyono (mantan Gubernur Jatim), KH. Muh.
As’ad Umar dan Muhammad Syahrul, SH. Untuk melengkapi keabsahan KH. Musta’in
Romly sebagai Rektor, pada tahub 1977 beliau mendapat gelar Doktor Honoris
Causa dari Macau University. Pada tahun 1981 lawatan ke Timur Tengah
dilakukan kembali, dengan hasil kerjasama antara Universitas Darul Ulum dan
Iraq University dalam bentuk tukar-menukar tenaga edukatif, dan dengan
Kuwait University dalam bentuk beasiswa studi ke Kuwait.
Pada tahun 1984 KH. Musta’in berkunjung ke Casablanka, Maroko, tepatnya pada
bulan Januari 1984, yaitu mengikuti Kunjungan Kenegaraan bersama Wakil
Presiden RI, Umar Wirahadi Kusuma dan Menteri Luar Negeri RI Prof. Dr.
Muchtar Kusumaatmadja dalam acara Konverensi Tingkat Tinggi Organisasi
Konferensi Islam (OKI). Kunjungan ini dilanjutkan ke Perancis dan Jerman
Barat. Selanjutnya pada bulan Juli dengan tahun yang sama, KH Musta’in
mengikuti Konferensi antar Rektor se- dunia di Bangkok.
Semua kunjungan dijalani KH. Musta’in dengan tekun demi kelembagaan
Pendidikan yang dialamatkan beliau, yaitu Lembaga Pondok Pesantren Darul
Ulum, Lembaga Thariqah Qoddiriyyah wa Naqsabandiyah dan Universitas Darul
Ulum. Sampai wafat pada tanggal 21 Januari 1985, beliau meninggalkan
putra-putri M. Rokhmad (almarhun), H. Luqman Hakim dari Ibu Chafsoh Ma’som,
Hj Choirun Nisa’ dari Ibu Dzurriyatul Lum’ah, H. Abdul Mujib, Ahmada Faidah,
Chalimatussa’diyah dari Ibu Nyi Hj Djumiyatin Musta’in serta Siti Sarah dan
Dewi Sanawai dari Ibu Ny. Hj. Latifa.
Adapun jabatan yang pernah diamanahkan kepada Dr. KH. Musta’in Romly adalah:
- Aggota DPR – MPR RI tahun 1983 sampai wafat.
- Wakil ketua DPP MDI tahun 1984 sampai wafat.
- Rektor Universitas Darul Ulum tahun 1965 sampai wafat.
- Al Mursyid Toriqoh Qodiriyah Wa Naqwsabandiyah tahun 1958.
- Ketua Umum Majelis Pimpinan Pondok Pesantren Darul Ulum tahun 1958
sampai wafat.
- Anggota BKS Perguruan Tinggi Swasta tahun 1983 sampai wafat.
- Anggota IAUP ( International Association of University President )
1981 di Chicago.
- Ketua Umum Jam’iyah Thoriqot Mu’tabaroh Indonesia pada tahun 1975
sampai wafat.
Melihat perjalanan karir politik tersebut, langkah politik beliau memang
menuai kontroversi. Di samping loncat dari PPP menuju Golkar, hal ini juga
berimbas ke dalam internal PPDU, yang terdiri dari banyak kiai. Namun apapun
langkah yang beliau tempuh ternyata berdampak sangat positif bagi internal
Pondok Pesantren Darul Ulum, NU, NKRI, dan lebih jauh adalah mengandung
edukasi yang sangat tinggi dalam membangun pemahaman kaun santri pada
khususnya, dan masyarakat (ummat) pada umumnya.
Saat ini kepemimpinan Thariqah Naqsyabandiyah dipegang oleh KH. A. Dimyathi Romly, SH. yang akrab dipanggil Gus Dim. Kyai Dimyathi adalah adik Kyai Musta’in tapi dari ibu yang berbeda. Kyai Dimyathi juga memiliki kesamaan karier politik dengan Kyai Mustain. Hingga saat ini Kyai Dimyathi masih tercatat sebagai Penasehat DPD Golkar Jawa Timur. Sebelumnya Kyai Dimyathi adalah anggota DPR Jawa Timur dua periode dari Golkar. Namun semenjak 2003 Kyai Dimyathi sudah tidak aktif lagi di dunia politik tapi menghabiskan waktunya sebagai al-Mursyid. Kyai Dimyathi rutin memberikan pengajian dan membaiat anggota thoriqah baru di berbagai daerah. Tidak saja di wilayah Jawa Timur tapi juga Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera dan Kalimantan. Insyaallah biografi lengkap mengenai beliau akan juga ditampilkan di waktu mendatang.
Wallahu A’lam. []
Sumber: http://www.darululum.net/
Sunan Ampel, Surabaya – Jawa Timur
Prabu Sri Kertawijaya tak kuasa memendam gundah. Raja Majapahit itu risau
memikirkan pekerti warganya yang *bubrah* tanpa arah. Sepeninggal Prabu
Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, kejayaan Majapahit tinggal cerita
pahit. Perang saudara berkecamuk di mana-mana. Panggung judi, main
perempuan, dan mabuk-mabukan menjadi ”kesibukan” harian kaum bangsawan –pun
rakyat kebanyakan.
Melihat beban berat suaminya, Ratu Darawati merasa wajib urun rembuk. ”Saya
punya keponakan yang ahli mendidik kemerosotan budi pekerti,” kata
permaisuri yang juga putri Raja Campa itu. ”Namanya Sayyid Ali Rahmatullah,
putra Kakanda Dewi Candrawulan,” Darawati menambahkan. Tanpa berpikir
panjang, Kertawijaya mengirim utusan, menjemput Ali Rahmatullah ke Campa
–kini wilayah Kamboja.
Ali Rahmatullah inilah yang kelak lebih dikenal sebagai Sunan Ampel. Cucu
Raja Campa itu adalah putra kedua pasangan Syekh Ibrahim Asmarakandi dan
Dewi Candrawulan. Ayahnya, Syekh Ibrahim, adalah seorang ulama asal
Samarkand, Asia Tengah. Kawasan ini melahirkan beberapa ulama besar, antara
lain perawi hadis Imam Bukhari.
Ibrahim berhasil mengislamkan Raja Campa. Ia kemudian diangkat sebagai
menantu. Sejumlah sumber sejarah mencatat silsilah Ibrahim dan Rahmatullah,
yang sampai pada Nabi Muhammad lewat jalur Imam Husein bin Ali. *Tarikh
Auliya* karya KH Bisri Mustofa mencantumkan nama Rahmatullah sebagai
keturunan Nabi ke-23.
Ia diperkirakan lahir pada 1420, karena ketika berada di Palembang, pada
1440, sebuah sumber sejarah menyebutnya berusia 20 tahun. Soalnya, para
sejarawan lebih banyak mendiskusikan tahun kedatangan Rahmatullah di Pulau
Jawa. Petualang Portugis, Tome Pires, menduga kedatangan itu pada 1443.
*Hikayat Hasanuddin* memperkirakannya pada sebelum 1446 –tahun kejatuhan
Campa ke tangan Vietnam. De Hollander menulis, sebelum ke Jawa, Rahmatullah
memperkenalkan Islam kepada Raja Palembang, Arya Damar, pada 1440. Perkiraan
Tome Pires menjadi bertambah kuat. Dalam lawatan ke Jawa, Rahmatullah
didampingi ayahnya, kakaknya (Sayid Ali Murtadho), dan sahabatnya (Abu
Hurairah).
Rombongan mendarat di kota bandar Tuban, tempat mereka berdakwah beberapa
lama, sampai Syekh Asmarakandi wafat. Makamnya kini masih terpelihara di
Desa Gesikharjo, Palang, Tuban. Sisa rombongan melanjutkan perjalanan ke
Trowulan, ibu kota Majapahit, menghadap Kertawijaya. Di sana, Rahmatullah
menyanggupi permintaan raja untuk mendidik moral para bangsawan dan kawula
Majapahit.
Sebagai hadiah, ia diberi tanah di Ampeldenta, Surabaya. Sejumlah 300
keluarga diserahkan untuk dididik dan mendirikan permukiman di Ampel. Meski
raja menolak masuk Islam, Rahmatullah diberi kebebasan mengajarkan Islam
pada warga Majapahit, asal tanpa paksaan. Selama tinggal di Majapahit,
Rahmatullah dinikahkan dengan Nyai Ageng Manila, putri Tumenggung Arya Teja,
Bupati Tuban.
Sejak itu, gelar pangeran dan raden melekat di depan namanya. Raden Rahmat
diperlakukan sebagai keluarga keraton Majapahit. Ia pun makin disegani
masyarakat. Pada hari yang ditentukan, berangkatlah rombongan Raden Rahmat
ke Ampel. Dari Trowulan, melewati Desa Krian, Wonokromo, berlanjut ke Desa
Kembang Kuning. Di sepanjang perjalanan, Raden Rahmat terus melakukan
dakwah.
Ia membagi-bagikan kipas yang terbuat dari akar tumbuhan kepada penduduk.
Mereka cukup mengimbali kipas itu dengan mengucapkan syahadat. Pengikutnya
pun bertambah banyak. Sebelum tiba di Ampel, Raden Rahmat membangun langgar
(musala) sederhana di Kembang Kuning, delapan kilometer dari Ampel.
Langgar ini kemudian menjadi besar, megah, dan bertahan sampai sekarang –dan
diberi nama Masjid Rahmat. Setibanya di Ampel, langkah pertama Raden Rahmat
adalah membangun masjid sebagai pusat ibadah dan dakwah. Kemudian ia
membangun pesantren, mengikuti model Maulana Malik Ibrahim di Gresik. Format
pesantrennya mirip konsep biara yang sudah dikenal masyarakat Jawa.
Raden Rahmat memang dikenal memiliki kepekaan adaptasi. Caranya menanamkan
akidah dan syariat sangat memperhatikan kondisi masyarakat. Kata ”salat”
diganti dengan ”sembahyang” (asalnya: *sembah* dan *hyang*). Tempat ibadah
tidak dinamai musala, tapi ”langgar”, mirip kata sanggar. Penuntut ilmu
disebut santri, berasal dari *shastri* –orang yang tahu buku suci agama
Hindu.
Siapa pun, bangsawan atau rakyat jelata, bisa *nyantri* pada Raden Rahmat.
Meski menganut mazhab Hanafi, Raden Rahmat sangat toleran pada penganut
mazhab lain. Santrinya dibebaskan ikut mazhab apa saja. Dengan cara pandang
netral itu, pendidikan di Ampel mendapat simpati kalangan luas. Dari sinilah
sebutan ”Sunan Ampel” mulai populer.
Ajarannya yang terkenal adalah falsafah ”Moh Limo”. Artinya: tidak melakukan
lima hal tercela. Yakni *moh main* (tidak mau judi), *moh ngombe* (tidak mau
mabuk), *moh maling* (tidak mau mencuri), *moh madat* (tidak mau mengisap
candu), dan *moh madon* (tidak mau berzina). Falsafah ini sejalan dengan
problem kemerosotan moral warga yang dikeluhkan Sri Kertawijaya.
Sunan Ampel sangat memperhatikan kaderisasi. Buktinya, dari sekian putra dan
santrinya, ada yang kemudian menjadi tokoh Islam terkemuka. Dari
perkawinannya dengan Nyai Ageng Manila, menurut satu versi, Sunan Ampel
dikaruniai enam anak. Dua di antaranya juga menjadi wali, yaitu Sunan Bonang
(Makdum Ibrahim) dan Sunan Drajat (Raden Qosim).
Seorang putrinya, Asyikah, ia nikahkan dengan muridnya, Raden Patah, yang
kelak menjadi sultan pertama Demak. Dua putrinya dari istri yang lain, Nyai
Karimah, ia nikahkan dengan dua muridnya yang juga wali. Yakni Dewi
Murtasiah, diperistri Sunan Giri, dan Dewi Mursimah, yang dinikahkan dengan
Sunan Kalijaga.
Sunan Ampel biasa berbeda pendapat dengan putra dan murid-mantunya yang juga
para wali. Dalam hal menyikapi adat, Sunan Ampel lebih puritan ketimbang
Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga pernah menawarkan untuk mengislamkan adat
sesaji, selamatan, wayang, dan gamelan. Sunan Ampel menolak halus.
”Apakah tidak khawatir kelak adat itu akan dianggap berasal dari Islam?”
kata Sunan Ampel. ”Nanti bisa bidah, dan Islam tak murni lagi.” Pandangan
Sunan Ampel didukung Sunan Giri dan Sunan Drajat. Sementara Sunan Kudus dan
Sunan Bonang menyetujui Sunan Kalijaga. Sunan Kudus membuat dua kategori:
adat yang bisa dimasuki Islam, dan yang sama sekali tidak.
Ini mirip dengan perdebatan dalam *ushul fiqih*: apakah adat bisa dijadikan
sumber hukum Islam atau tidak. Meski demikian, perbedaan itu tidak
mengganggu silaturahmi antarpara wali. Sunan Ampel memang dikenal bijak
mengelola perbedaan pendapat. Karena itu, sepeninggal Maulana Malik Ibrahim,
ia diangkat menjadi sesepuh Wali Songo dan mufti (juru fatwa) se-tanah Jawa.
Menurut satu versi, Sunan Ampel-lah yang memprakarsai pembentukan Dewan Wali
Songo, sebagai strategi menyelamatkan dakwah Islam di tengah kemelut politik
Majapahit. Namun, mengenai tanggal wafatnya, tak ada bukti sejarah yang
pasti. Sumber-sumber tradisional memberi titimangsa yang berbeda.
*Babad Gresik* menyebutkan tahun 1481, dengan *candrasengkala* ”*Ngulama
Ampel Seda Masjid*”. Cerita tutur menyebutkan, beliau wafat saat sujud di
masjid. *Serat Kanda* edisi Brandes menyatakan tahun 1406. Sumber lain
menunjuk tahun 1478, setahun setelah berdirinya Masjid Demak. Ia dimakamkan
di sebelah barat Masjid Ampel, di areal seluas 1.000 meter persegi, bersama
ratusan santrinya.
Kompleks makam tersebut dikelilingi tembok besar setinggi 2,5 meter. Makam
Sunan Ampel bersama istri dan lima kerabatnya dipagari baja tahan karat
setinggi 1,5 meter, melingkar seluas 64 meter persegi. Khusus makam Sunan
Ampel dikelilingi pasir putih. Setiap hari, penziarah ke makam Sunan Ampel
rata-rata 1.000 orang, dari berbagai pelosok Tanah Air.
Jumlahnya bertambah pada acara ritual tertentu, seperti saat Haul Agung
Sunan Ampel ke-552, awal November lalu. Pengunjungnya membludak sampai
10.000 orang. Kalau makam Maulana Malik Ibrahim sepi penziarah di bulan
Ramadhan, makam Sunan Ampel justru makin ramai 24 jam pada bulan puasa.
Dari berbagai sumber
Sunan Ampel, Surabaya – Jawa Timur
Prabu Sri Kertawijaya tak kuasa memendam gundah. Raja Majapahit itu risau
memikirkan pekerti warganya yang *bubrah* tanpa arah. Sepeninggal Prabu
Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, kejayaan Majapahit tinggal cerita
pahit. Perang saudara berkecamuk di mana-mana. Panggung judi, main
perempuan, dan mabuk-mabukan menjadi ”kesibukan” harian kaum bangsawan –pun
rakyat kebanyakan.
Melihat beban berat suaminya, Ratu Darawati merasa wajib urun rembuk. ”Saya
punya keponakan yang ahli mendidik kemerosotan budi pekerti,” kata
permaisuri yang juga putri Raja Campa itu. ”Namanya Sayyid Ali Rahmatullah,
putra Kakanda Dewi Candrawulan,” Darawati menambahkan. Tanpa berpikir
panjang, Kertawijaya mengirim utusan, menjemput Ali Rahmatullah ke Campa
–kini wilayah Kamboja.
Ali Rahmatullah inilah yang kelak lebih dikenal sebagai Sunan Ampel. Cucu
Raja Campa itu adalah putra kedua pasangan Syekh Ibrahim Asmarakandi dan
Dewi Candrawulan. Ayahnya, Syekh Ibrahim, adalah seorang ulama asal
Samarkand, Asia Tengah. Kawasan ini melahirkan beberapa ulama besar, antara
lain perawi hadis Imam Bukhari.
Ibrahim berhasil mengislamkan Raja Campa. Ia kemudian diangkat sebagai
menantu. Sejumlah sumber sejarah mencatat silsilah Ibrahim dan Rahmatullah,
yang sampai pada Nabi Muhammad lewat jalur Imam Husein bin Ali. *Tarikh
Auliya* karya KH Bisri Mustofa mencantumkan nama Rahmatullah sebagai
keturunan Nabi ke-23.
Ia diperkirakan lahir pada 1420, karena ketika berada di Palembang, pada
1440, sebuah sumber sejarah menyebutnya berusia 20 tahun. Soalnya, para
sejarawan lebih banyak mendiskusikan tahun kedatangan Rahmatullah di Pulau
Jawa. Petualang Portugis, Tome Pires, menduga kedatangan itu pada 1443.
*Hikayat Hasanuddin* memperkirakannya pada sebelum 1446 –tahun kejatuhan
Campa ke tangan Vietnam. De Hollander menulis, sebelum ke Jawa, Rahmatullah
memperkenalkan Islam kepada Raja Palembang, Arya Damar, pada 1440. Perkiraan
Tome Pires menjadi bertambah kuat. Dalam lawatan ke Jawa, Rahmatullah
didampingi ayahnya, kakaknya (Sayid Ali Murtadho), dan sahabatnya (Abu
Hurairah).
Rombongan mendarat di kota bandar Tuban, tempat mereka berdakwah beberapa
lama, sampai Syekh Asmarakandi wafat. Makamnya kini masih terpelihara di
Desa Gesikharjo, Palang, Tuban. Sisa rombongan melanjutkan perjalanan ke
Trowulan, ibu kota Majapahit, menghadap Kertawijaya. Di sana, Rahmatullah
menyanggupi permintaan raja untuk mendidik moral para bangsawan dan kawula
Majapahit.
Sebagai hadiah, ia diberi tanah di Ampeldenta, Surabaya. Sejumlah 300
keluarga diserahkan untuk dididik dan mendirikan permukiman di Ampel. Meski
raja menolak masuk Islam, Rahmatullah diberi kebebasan mengajarkan Islam
pada warga Majapahit, asal tanpa paksaan. Selama tinggal di Majapahit,
Rahmatullah dinikahkan dengan Nyai Ageng Manila, putri Tumenggung Arya Teja,
Bupati Tuban.
Sejak itu, gelar pangeran dan raden melekat di depan namanya. Raden Rahmat
diperlakukan sebagai keluarga keraton Majapahit. Ia pun makin disegani
masyarakat. Pada hari yang ditentukan, berangkatlah rombongan Raden Rahmat
ke Ampel. Dari Trowulan, melewati Desa Krian, Wonokromo, berlanjut ke Desa
Kembang Kuning. Di sepanjang perjalanan, Raden Rahmat terus melakukan
dakwah.
Ia membagi-bagikan kipas yang terbuat dari akar tumbuhan kepada penduduk.
Mereka cukup mengimbali kipas itu dengan mengucapkan syahadat. Pengikutnya
pun bertambah banyak. Sebelum tiba di Ampel, Raden Rahmat membangun langgar
(musala) sederhana di Kembang Kuning, delapan kilometer dari Ampel.
Langgar ini kemudian menjadi besar, megah, dan bertahan sampai sekarang –dan
diberi nama Masjid Rahmat. Setibanya di Ampel, langkah pertama Raden Rahmat
adalah membangun masjid sebagai pusat ibadah dan dakwah. Kemudian ia
membangun pesantren, mengikuti model Maulana Malik Ibrahim di Gresik. Format
pesantrennya mirip konsep biara yang sudah dikenal masyarakat Jawa.
Raden Rahmat memang dikenal memiliki kepekaan adaptasi. Caranya menanamkan
akidah dan syariat sangat memperhatikan kondisi masyarakat. Kata ”salat”
diganti dengan ”sembahyang” (asalnya: *sembah* dan *hyang*). Tempat ibadah
tidak dinamai musala, tapi ”langgar”, mirip kata sanggar. Penuntut ilmu
disebut santri, berasal dari *shastri* –orang yang tahu buku suci agama
Hindu.
Siapa pun, bangsawan atau rakyat jelata, bisa *nyantri* pada Raden Rahmat.
Meski menganut mazhab Hanafi, Raden Rahmat sangat toleran pada penganut
mazhab lain. Santrinya dibebaskan ikut mazhab apa saja. Dengan cara pandang
netral itu, pendidikan di Ampel mendapat simpati kalangan luas. Dari sinilah
sebutan ”Sunan Ampel” mulai populer.
Ajarannya yang terkenal adalah falsafah ”Moh Limo”. Artinya: tidak melakukan
lima hal tercela. Yakni *moh main* (tidak mau judi), *moh ngombe* (tidak mau
mabuk), *moh maling* (tidak mau mencuri), *moh madat* (tidak mau mengisap
candu), dan *moh madon* (tidak mau berzina). Falsafah ini sejalan dengan
problem kemerosotan moral warga yang dikeluhkan Sri Kertawijaya.
Sunan Ampel sangat memperhatikan kaderisasi. Buktinya, dari sekian putra dan
santrinya, ada yang kemudian menjadi tokoh Islam terkemuka. Dari
perkawinannya dengan Nyai Ageng Manila, menurut satu versi, Sunan Ampel
dikaruniai enam anak. Dua di antaranya juga menjadi wali, yaitu Sunan Bonang
(Makdum Ibrahim) dan Sunan Drajat (Raden Qosim).
Seorang putrinya, Asyikah, ia nikahkan dengan muridnya, Raden Patah, yang
kelak menjadi sultan pertama Demak. Dua putrinya dari istri yang lain, Nyai
Karimah, ia nikahkan dengan dua muridnya yang juga wali. Yakni Dewi
Murtasiah, diperistri Sunan Giri, dan Dewi Mursimah, yang dinikahkan dengan
Sunan Kalijaga.
Sunan Ampel biasa berbeda pendapat dengan putra dan murid-mantunya yang juga
para wali. Dalam hal menyikapi adat, Sunan Ampel lebih puritan ketimbang
Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga pernah menawarkan untuk mengislamkan adat
sesaji, selamatan, wayang, dan gamelan. Sunan Ampel menolak halus.
”Apakah tidak khawatir kelak adat itu akan dianggap berasal dari Islam?”
kata Sunan Ampel. ”Nanti bisa bidah, dan Islam tak murni lagi.” Pandangan
Sunan Ampel didukung Sunan Giri dan Sunan Drajat. Sementara Sunan Kudus dan
Sunan Bonang menyetujui Sunan Kalijaga. Sunan Kudus membuat dua kategori:
adat yang bisa dimasuki Islam, dan yang sama sekali tidak.
Ini mirip dengan perdebatan dalam *ushul fiqih*: apakah adat bisa dijadikan
sumber hukum Islam atau tidak. Meski demikian, perbedaan itu tidak
mengganggu silaturahmi antarpara wali. Sunan Ampel memang dikenal bijak
mengelola perbedaan pendapat. Karena itu, sepeninggal Maulana Malik Ibrahim,
ia diangkat menjadi sesepuh Wali Songo dan mufti (juru fatwa) se-tanah Jawa.
Menurut satu versi, Sunan Ampel-lah yang memprakarsai pembentukan Dewan Wali
Songo, sebagai strategi menyelamatkan dakwah Islam di tengah kemelut politik
Majapahit. Namun, mengenai tanggal wafatnya, tak ada bukti sejarah yang
pasti. Sumber-sumber tradisional memberi titimangsa yang berbeda.
*Babad Gresik* menyebutkan tahun 1481, dengan *candrasengkala* ”*Ngulama
Ampel Seda Masjid*”. Cerita tutur menyebutkan, beliau wafat saat sujud di
masjid. *Serat Kanda* edisi Brandes menyatakan tahun 1406. Sumber lain
menunjuk tahun 1478, setahun setelah berdirinya Masjid Demak. Ia dimakamkan
di sebelah barat Masjid Ampel, di areal seluas 1.000 meter persegi, bersama
ratusan santrinya.
Kompleks makam tersebut dikelilingi tembok besar setinggi 2,5 meter. Makam
Sunan Ampel bersama istri dan lima kerabatnya dipagari baja tahan karat
setinggi 1,5 meter, melingkar seluas 64 meter persegi. Khusus makam Sunan
Ampel dikelilingi pasir putih. Setiap hari, penziarah ke makam Sunan Ampel
rata-rata 1.000 orang, dari berbagai pelosok Tanah Air.
Jumlahnya bertambah pada acara ritual tertentu, seperti saat Haul Agung
Sunan Ampel ke-552, awal November lalu. Pengunjungnya membludak sampai
10.000 orang. Kalau makam Maulana Malik Ibrahim sepi penziarah di bulan
Ramadhan, makam Sunan Ampel justru makin ramai 24 jam pada bulan puasa.
Dari berbagai sumber
Sunan Maulana Malik Ibrahim, Gresik – Jawa Timur
Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim (w. 1419 M/882 H) adalah nama salah
seorang Walisongo, yang dianggap yang pertama kali menyebarkan agama Islam
di tanah Jawa. Ia dimakamkan di desa Gapura, kota Gresik, Jawa Timur.
*Asal keturunan***
Tidak terdapat bukti sejarah yang meyakinkan mengenai asal keturunan Maulana
Malik Ibrahim, meskipun pada umumnya disepakati bahwa ia bukanlah orang Jawa
asli. Sebutan Syekh Maghribi yang diberikan masyarakat kepadanya,
kemungkinan menisbatkan asal keturunannya dari Maghrib, atau Maroko di
Afrika Utara.
Babad Tanah Jawi versi J.J. Meinsma menyebutnya dengan nama Makhdum Ibrahim
as-Samarqandy, yang mengikuti pengucapan lidah Jawa menjadi Syekh Ibrahim
Asmarakandi. Ia memperkirakan bahwa Maulana Malik Ibrahim lahir di
Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14.[1]
Dalam keterangannya pada buku The History of Java mengenai asal mula dan
perkembangan kota Gresik, Raffles menyatakan bahwa menurut penuturan para
penulis lokal, “Mulana Ibrahim, seorang Pandita terkenal berasal dari
Arabia, keturunan dari Jenal Abidin, dan sepupu Raja Chermen (sebuah negara
Sabrang), telah menetap bersama para Mahomedans[2] lainnya di Desa Leran di
Jang’gala”.[3]
Namun demikian, kemungkinan pendapat yang terkuat adalah berdasarkan
pembacaan J.P. Moquette atas baris kelima tulisan pada prasasti makamnya di
desa Gapura Wetan, Gresik; yang mengindikasikan bahwa ia berasal dari
Kashan, suatu tempat di Iran sekarang.[4]
Terdapat beberapa versi mengenai silsilah Maulana Malik Ibrahim. Ia pada
umumnya dianggap merupakan keturunan Rasulullah SAW; melalui jalur keturunan
Husain bin Ali, Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja’far ash-Shadiq, Ali
al-Uraidhi, Muhammad al-Naqib, Isa ar-Rumi, Ahmad al-Muhajir, Ubaidullah,
Alwi Awwal, Muhammad Sahibus Saumiah, Alwi ats-Tsani, Ali Khali’ Qasam,
Muhammad Shahib Mirbath, Alwi Ammi al-Faqih, Abdul Malik (Ahmad Khan),
Abdullah (al-Azhamat) Khan, Ahmad Syah Jalal, Jamaluddin Akbar al-Husain
(Maulana Akbar), dan Maulana Malik Ibrahim. [5] [6] [7] [8]
*Penyebaran agama***
Maulana Malik Ibrahim dianggap termasuk salah seorang yang pertama-tama
menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, dan merupakan wali senior diantara
para Walisongo lainnya.[9] Beberapa versi babad menyatakan bahwa
kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang ditujunya pertama kali
ialah desa Sembalo, sekarang adalah daerah Leran, Kecamatan Manyar, yaitu 9
kilometer ke arah utara kota Gresik. Ia lalu mulai menyiarkan agama Islam di
tanah Jawa bagian timur, dengan mendirikan mesjid pertama di desa Pasucinan,
Manyar.
Pertama-tama yang dilakukannya ialah mendekati masyarakat melalui pergaulan.
Budi bahasa yang ramah-tamah senantiasa diperlihatkannya di dalam pergaulan
sehari-hari. Ia tidak menentang secara tajam agama dan kepercayaan hidup
dari penduduk asli, melainkan hanya memperlihatkan keindahan dan kabaikan
yang dibawa oleh agama Islam. Berkat keramah-tamahannya, banyak masyarakat
yang tertarik masuk ke dalam agama Islam.[10]
Sebagaimana yang dilakukan para wali awal lainnya, aktivitas pertama yang
dilakukan Maulana Malik Ibrahim ialah berdagang. Ia berdagang di tempat
pelabuhan terbuka, yang sekarang dinamakan desa Roomo, Manyar.[11]
Perdagangan membuatnya dapat berinteraksi dengan masyarakat banyak, selain
itu raja dan para bangsawan dapat pula turut serta dalam kegiatan
perdagangan tersebut sebagai pelaku jual-beli, pemilik kapal atau
pemodal.[12]
Setelah cukup mapan di masyarakat, Maulana Malik Ibrahim kemudian melakukan
kunjungan ke ibukota Majapahit di Trowulan. Raja Majapahit meskipun tidak
masuk Islam tetapi menerimanya dengan baik, bahkan memberikannya sebidang
tanah di pinggiran kota Gresik. Wilayah itulah yang sekarang dikenal dengan
nama desa Gapura. Cerita rakyat tersebut diduga mengandung unsur-unsur
kebenaran; mengingat menurut Groeneveldt pada saat Maulana Malik Ibrahim
hidup, di ibukota Majapahit telah banyak orang asing termasuk dari Asia
Barat. [13]
Demikianlah, dalam rangka mempersiapkan kader untuk melanjutkan perjuangan
menegakkan ajaran-ajaran Islam, Maulana Malik Ibrahim membuka
pesantren-pesantren yang merupakan tempat mendidik pemuka agama Islam di
masa selanjutnya. Hingga saat ini makamnya masih diziarahi orang-orang yang
menghargai usahanya menyebarkan agama Islam berabad-abad yang silam. Setiap
malam Jumat Legi, masyarakat setempat ramai berkunjung untuk berziarah.
Ritual ziarah tahunan atau haul juga diadakan setiap tanggal 12 Rabi’ul
Awwal, sesuai tanggal wafat pada prasasi makamnya. Pada acara haul biasa
dilakukan khataman Al-Quran, mauludan (pembacaan riwayat Nabi Muhammad), dan
dihidangkan makanan khas bubur harisah.[14]
*Legenda rakyat***
Menurut legenda rakyat, dikatakan bahwa Maulana Malik Ibrahim berasal dari
Persia. Maulana Malik Ibrahim Ibrahim dan Maulana Ishaq disebutkan sebagai
anak dari Maulana Jumadil Kubro, atau Syekh Jumadil Qubro. Maulana Ishaq
disebutkan menjadi ulama terkenal di Samudera Pasai, sekaligus ayah dari
Raden Paku atau Sunan Giri. Syekh Jumadil Qubro dan kedua anaknya
bersama-sama datang ke pulau Jawa. Setelah itu mereka berpisah; Syekh
Jumadil Qubro tetap di pulau Jawa, Maulana Malik Ibrahim ke Champa, Vietnam
Selatan; dan adiknya Maulana Ishak mengislamkan Samudera Pasai.
Maulana Malik Ibrahim disebutkan bermukim di Champa (dalam legenda disebut
sebagai negeri Chermain atau Cermin) selama tiga belas tahun. Ia menikahi
putri raja yang memberinya dua putra; yaitu Raden Rahmat atau Sunan Ampel
dan Sayid Ali Murtadha atau Raden Santri. Setelah cukup menjalankan misi
dakwah di negeri itu, ia hijrah ke pulau Jawa dan meninggalkan keluarganya.
Setelah dewasa, kedua anaknya mengikuti jejaknya menyebarkan agama Islam di
pulau Jawa.
Maulana Malik Ibrahim dalam cerita rakyat terkadang juga disebut dengan nama
Kakek Bantal. Ia mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul
masyarakat bawah, dan berhasil dalam misinya mencari tempat di hati
masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang
saudara.
Selain itu, ia juga sering mengobati masyarakat sekitar tanpa biaya. Sebagai
tabib, diceritakan bahwa ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang
berasal dari Champa. Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat
istrinya.
*Wafat***
Setelah selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran,
tahun 1419 Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya kini terdapat di desa
Gapura Wetan, Gresik, Jawa Timur.
Inskripsi dalam bahasa Arab yang tertulis pada makamnya adalah sebagai
berikut:
*“…**Ini adalah makam almarhum seorang yang dapat diharapkan mendapat
pengampunan Allah dan yang mengharapkan kepada rahmat Tuhannya Yang Maha
Luhur, guru para pangeran dan sebagai tongkat sekalian para Sultan dan
Wazir, siraman bagi kaum fakir dan miskin. Yang berbahagia dan syahid
penguasa dan urusan agama: Malik Ibrahim yang terkenal dengan kebaikannya.
Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ridha-Nya dan semoga menempatkannya di
surga. Ia wafat pada hari Senin 12 Rabi’ul Awwal 822 Hijriah**…”*
Saat ini, jalan yang menuju ke makam tersebut diberi nama Jalan Malik
Ibrahim. [15]
*Referensi*
1. Meinsma, J.J., 1903. Serat Babad Tanah Jawi, Wiwit Saking Nabi Adam
Dumugi ing Tahun 1647. S’Gravenhage.
2. Mahomedans adalah istilah sebutan Raffles untuk penganut agama Islam.
Lihat artikel Muhammad untuk keterangan lebih lanjut.
3. Raffles, Sir Thomas Stamford, F.R.S., 1830. The History of Java, from
the earliest Traditions till the establisment of Mahomedanism. Published by
John Murray, Albemarle-Street. Vol II, 2nd Ed, Chap X, page 122.
4. Moquette, J.P., 1912. “De oudste Mohammedaansche inscriptie op Java end
Madura de graafsteen te Leran”.
5. Hasyim, Umar, 1981. Riwayat Maulana Malik Ibrahim. Menara Kudus.
6. Al-Murtadho, H. Sayid Husein, dan KH Abdullah Zaky Al-Kaaf, Drs. Maman
Abd. Djaliel, 1999. Keteladanan Dan Perjuangan Wali Songo Dalam Menyiarkan
Islam Di Tanah Jawa. CV Pustaka Setia, Bandung.
7. Nasab-Alwi (Ammu al-Faqih), [1] Situs Asyraaf Malaysia (Situs Persatuan
Alawiyyin Malaysia)
8. Van Bruinessen, Martin, 1994. Najmuddin al-Kubra, Jumadil Kubra and
Jamaluddin al-Akbar: Traces of Kubrawiyya influence in early Indonesian
Islam, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 150, 305-329.
9. Drewes, G. W. J. 1968. New Light on the Coming of Islam to Indonesia?,
Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde.
10.Salam, Solichin, 1960. Sekitar Walisanga, hlm 24-25, Penerbit “Menara
Kudus”, Kudus.
11. Munif, Drs. Moh. Hasyim, 1995. Pioner & Pendekar Syiar Islam Tanah
Jawa, hlm 5-6, Yayasan Abdi Putra Al-Munthasimi, Gresik.
12. Tjandrasasmita, Uka (Ed.), 1984. Sejarah Nasional Indonesia III, hlm
26-27, PN Balai Pustaka, Jakarta.
13. Groeneveldt, W.P., 1960. Historical Notes on Indonesia and Malaya
Compiled from Chinese Sources. Bhratara, Jakarta.
14. Jejak Para Wali dan Ziarah Spiritual, Penerbit Buku Kompas, Desember
2006.
15. Jejak Para Wali dan Ziarah Spiritual, Penerbit Buku Kompas, Desember
2006.
Dari berbagai sumber
KH Abdullah Faqih, Langitan – Tuban, Jawa Timur
Sosok Kiai Waskita
Pondok Pesantren Langitan itu berada di bawah jembatan jalan raya Babat
Lamongan jurusan Tuban, Jawa Timur. Tepatnya di Desa Widang. Sepintas, dari
jalan raya memang tidak tampak pesantren, karena tertutup perkampungan. Tapi
begitu masuk, terasalah denyut kehidupan pesantren yang berada di atas areal
sekitar 6 hektar itu.
Meskipun termasuk pesantren salaf [1], kebersihan lingkungannya tampak
sangat terjaga. Apalagi, beberapa pohon mangga dan jambu dibiarkan tumbuh
subur, hingga memberi rasa teduh. Agak masuk ke dalam, ada sebuah rumah
kecil terbuat dari kayu berwarna janur kuning, sederet dengan asrama santri
dan rumah pengasuh lain. Di situlah KH Abdullah Faqih (67), tokoh yang
sangat disegani di kalangan NU, tinggal.
Di belakang rumah itu memang ada bangunan berlantai dua. Tapi, menurut
keterangan salah seorang santrinya, gedung itu untuk tinggal putri-putrinya.
“Kiai sendiri tetap tinggal di di rumah kayu itu,” kata santri yang tak mau
disebut namanya.
Berukuran sekitar 7×3 meter, di dalamnya ada seperangkat meja kursi kuno dan
dua almari berisi kitab-kitab. Lantainya dilambari karpet. Ada juga
kaligrafi dan dua jam dinding. Itu saja. Dan di situ pula Kiai Faqih
—panggilan akrabnya— menerima tamu-tamunya. Baik dari kalangan bawah,
pengurus NU, maupun pejabat. Menteri Agama Tolchah Hasan, awal Desember
lalu, adalah salah satu di antara pejabat yang pernah sowan ke kiai yang
sangat berpengaruh di kalangan NU ini. Hasyim Muzadi, Ketua Umum PBNU yang
baru, juga termasuk tokoh yang rajin sowan ke Kiai Faqih.
Nama Kiai Faqih mencuat menjelang SU MPR lalu, terutama berkaitan dengan
pencalonan KH Abdurrahman Wahid sebagai presiden. Saat itu di tubuh kaum
Nahdliyin terjadi perbedaan, ada yang mendukung pencalonan Gus Dur —demikian
mantan ketua PBNU itu populer dipanggil— yang dipelopori kelompok Poros
Tengah, dan ada yang bersikap sebaliknya. Sementara dua kandidat utama yakni
BJ Habibie dan Megawati sama-sama mengandung risiko cukup tinggi, terutama
para pendukung fanatiknya. Menghadapi situasi seperti itu, beberapa kiai
sepuh NU mengadakan beberapa pertemuan di Pondok Pesantren Langitan. Dari
sinilah kemudian muncul istilah `Poros Langitan’, karena memang suara para
kiai itu sangat berpengaruh kepada pencalonan Gus Dur.
Toh beberapa hari menjelang pemilihan presiden, restu para kiai itu belum
turun juga. Hingga akhirnya dua hari menjelang pemilihan presiden, Hasyim
Muzadi (sekarang ketua PBNU) datang menemui Gus Dur, membawa pesan Kiai
Faqih. Pesannya adalah pertama, kalau memang Gus Dur maju, ulama akan
mendo’akan. Kedua, Gus Dur harus menjaga keutuhan di tubuh PKB yang saat itu
sudah mulai retak. Dan ketiga, menjaga hubungan baik warga NU dengan warga
PDI-Perjuangan.
Begitu gembira mendengar restu itu, Gus Dur berdiri memeluk Hasyim Muzadi
sembari meneteskan air mata. Dengan isak tangis cucu pendiri NU KH Hasyim
Asy’ari ini berkata, “Sampaikan salam hormat saya kepada Kiai (Faqih).
Katakan, Abdurrahman sampai kapanpun tetap seorang santri yang patuh kepada
ucapan kiai.”
Siapa sesungguhnya Kiai Faqih, kok Gus Dur yang begitu dipuja orang-orang di
NU itu begitu hormatnya? Publik selama ini tidak banyak tahu, karena Kiai
yang mengasuh sekitar 3000 santri ini memang tidak suka publikasi. Banyak
wartawan yang ingin wawancara dengan Kiai Faqih, semuanya pulang dengan
tangan hampa. “Kami memang mendapat pesan, Kiai tidak bersedia menerima
wartawan,” ujar salah seorang pengurus pesantren.
Di kalangan NU dikenal istilah kiai khos atau kiai utama. Ada syarat
tertentu sebelum seorang kiai masuk kategori khos. Antara lain, mereka harus
mempunyai wawasan dan kemampuan ilmu agama yang luas, memiliki laku atau
daya spiritual yang tinggi, mampu mengeluarkan kalimat hikmah atau anjuran
moral yang dipatuhi, dan jauh dari keinginan-keinginan duniawi. Dengan kata
lain, mereka sudah memiliki kemampuan waskita. Nah, Kiai Faqih termasuk
dalam kategori kiai waskita itu. Tentu saja organisasi sebesar NU punya
banyak kiai khos. Tapi, Kiai Faqihlah yang kerap jadi rujukan utama di
kalangan Nahdliyin , baik itu PBNU maupun PKB, terutama menyangkut
kepentingan publik. Hal itu dibenarkan Effendy Choirie, salah satu petinggi
DPP PKB. “Rasanya memang begitu,” ujarnya.
Di mata Gus Dur sendiri, Kiai Faqih adalah seorang wali. “Namun, kewalian
beliau bukan lewat thariqat atau tasawuf, justru karena kedalaman ilmu
fiqhnya,” kata Gus Dur yang kini jadi Presiden, sebagaimana ditirukan
Choirie. Kedekatan Gus Dur dengan Kiai Faqih, kabarnya mulai Muktamar NU di
Cipayung dulu. Contoh begitu hormatnya ketua Forum Demokrasi (Fordem) itu
kepada Kiai Faqih, adalah ketika ia meminta Gus Dur mencium tangan KH Yusuf
Hasyim, pamannya, pada acara tasyakuran atas membaiknya kesehatan mata Gus
Dur, satu bulan sebelum SU MPR. Tanpa banyak cakap, putra KH Wakhid Hasyim
ini manut saja. Maka rujuklah dua bangsawan Bani Hasyim yang sudah
bertahun-tahun `bermusuhan’.
Kiai Faqih lahir di Dusun Mandungan Desa Widang, Tuban. Saat kecil ia lebih
banyak belajar kepada ayahandanya sendiri, KH Rofi’i Zahid, di Pesantren
Langitan. Ketika besar ia nyantri pada Mbah Abdur Rochim di Lasem, Rembang,
Jawa Tengah. Tapi tidak lama.
Sebagaimana para kiai tempo dulu, Faqih juga pernah tinggal di Makkah, Arab
Saudi. Di sana ia belajar kepada Sayid Alwi bin Abbas Al-Maliki, ayahnya
Sayid Muhammad bin Alwi Al-Maliki. Rupanya selama di Arab Saudi Faqih punya
hubungan khusus dengan Sayid Muhammad bin Alwi Al-Maliki. Buktinya, setiap
kali tokoh yang amat dihormati kalangan kiai di NU itu berkunjung ke
Indonesia, selalu mampir ke Pesantren Langitan. “Sudah 5 kali Sayid Muhammad
ke sini,” tambah salah seorang pengurus Langitan.
Pesantren Langitan memang termasuk pesantren tua di Jawa Timur. Didirikan
l852 oleh KH Muhammad Nur, asal Desa Tuyuban, Rembang, Langitan dikenal
sebagai pesantren ilmu alat. Para generasi pertama NU pernah belajar di
pesantren yang terletak di tepi Bengawan Solo yang melintasi Desa Widang
(dekat Babat Lamongan) ini. Antara lain KH Muhammad Cholil (Bangkalan), KH
Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, KH Syamsul Arifin (ayahnya KH As’ad
Syamsul Arifin), dan KH Shiddiq (ayahnya KH Ahmad Shiddiq).
Kiai Faqih (generasi kelima) memimpin Pesantren Langitan sejak l971,
menggantikan KH Abdul Hadi Zahid yang meninggal dunia karena usia lanjut.
Kiai Faqih didampingi KH Ahmad Marzuki Zahid, yang juga pamannya.
Di mata para santrinya, Kiai Faqih adalah tokoh yang sederhana, istiqomah
dan alim. Ia tak hanya pandai mengajar, melainkan menjadi teladan seluruh
santri. Dalam shalat lima waktu misalnya, ia selalu memimpin berjamaah.
Demikian pula dalam hal kebersihan. “Tak jarang beliau mencincingkan
sarungnya, membersihkan sendiri daun jambu di halaman,” tutur Choirie yang
pernah menjadi santri Langitan selama 7 tahun.
Meski tetap mempertahankan ke-salaf-annya, pada era Kiai Faqih inilah
Pesantren Langitan lebih terbuka. Misalnya, ia mendirikan Pusat Pelatihan
Bahasa Arab, kursus komputer, mendirikan Taman Kanak-Kanak (TK) dan Taman
Pendidikan Al-Qur’an (TPA). Dalam hal penggalian dana, ia membentuk Badan
Usaha Milik Pondok berupa toko induk, kantin, dan wartel.
Lebih dari itu lagi, ayah 12 orang anak buah perkawinannya dengan Hj
Hunainah ini juga mengarahkan pesantrennya agar lebih dekat dengan
masyarakat. Di antaranya ia mengirim da’i ke daerah-daerah sulit di Jawa
Timur dan luar Jawa. Setiap Jum’at ia juga menginstruksikan para santrinya
shalat Jum’at di kampung-kampung. Lalu membuka pengajian umum di pesantren
yang diikuti masyarakat luas.
Dalam hubungan dengan pemerintah Orde Baru, Kiai Faqih sangat hati-hati.
Meski tetap menjaga hubungan baik, ia tidak mau terlalu dekat dengan
penguasa, apalagi menengadahkan tangan minta bantuan, sekalipun untuk
kepentingan pesantrennya. Bahkan, tak jarang, ia menolak bantuan pejabat
atau siapapun, bila ia melihat di balik bantuan itu ada `maunya’. Mungkin,
karena inilah perkembangan pembangunan fisik Langitan termasuk biasa-biasa
saja. Moeslimin Nasoetion, saat menjabat Menteri Kehutanan dan Perkebunan
dan berkunjung ke Langitan pernah berucap, “Saya heran melihat sosok Kiai
Abdullah Faqih. Kenapa tidak mau membangun rumah dan pondoknya? Padahal,
jika mau, tidak sedikit yang mau memberikan sumbangan.”
Tetapi bila terpaksa menerima, ini masih kata Effendy Choirie, bantuan itu
akan dimanfaatkan fasilitas umum di mana masyarakat juga turut menikmatinya.
Kiai Faqih, kata Choirie, juga tak pernah mengundang para pejabat bila
pesantrennya atau dirinya punya hajat. “Tetapi kalau didatangi, beliau akan
menerima dengan tangan terbuka,” tambah Choirie yang pernah menggeluti
profesi wartawan ini.
Di mata anggota DPR ini, Kiai Faqih adalah sosok yang berpikir jernih dan
sangat hati-hati dalam setiap hendak melangkah atau mengambil keputusan.
Pernah pada suatu kesempatan, Gus Dur ingin sowan (menghadap) ke Langitan.
Demi menghindari munculnya spekulasi yang macam-macam, apalagi saat itu
menjelang pemilihan presiden, Kiai Faqih menolak. Justru dialah yang menemui
Gus Dur di Jombang, saat Gus Dur berziarah ke makam kakeknya.
Catatan Kaki:
[1] Pesantren Salaf, yaitu pesantren yang menggunakan metode tradisional
sorogan, di mana sang kyai/ustadz membacakan materi pelajaran dari suatu
kitab, dan para santri duduk mengelilinginya sambil membubuhkan catatan di
sana-sini dengan bimbingan sang kyai.
yasir wa la tu’asir
Sent from Androiddd
KH. Mahfudz Anwar, Kwaron, Jombang – Jawa Timur
Mengembangkan Ilmu Falak di Lingkungan NU
* *
Setiap menjelang Hari Raya Idul Adha atau Idul Fitri, umat Muslim akan
melakukan rukyah guna menentukan waktu tepat pelaksanaan hari raya tersebut.
Para pakar astronomi Islam akan melihat posisi bulan apakah sudah masuk pada
hilal. Dibutuhkan seorang ahli di bidang ilmu falak (astronomi) untuk itu.
Salah satu di antara ahli falak yang dimiliki umat Muslim Tanah Air adalah
KH Mahfudz Anwar. Dia adalah pakar ilmu falak sekaligus tokoh ulama
kharismatik dari Nahdlatul Ulama (NU).
Pada bidang ilmu falak tersebut, KH Mahfudz diakui memiliki kualifikasi
keilmuan yang mumpuni. Tidak hanya ilmu falak, dia pun menguasai dengan
sangat mendalam ilmu fikih serta tafsir. KH Mahfudz Anwar juga dikenal
sebagai muhaddits (ahli hadis), sufi (ahli tasawuf), dan ahlul lughah (ahli
bahasa/etimolog).
Kemampuan yang dimiliki tidak lepas dari latar belakang keluarga yang
membimbingnya serta pendidikan yang ditekuninya. Kiai ini dilahirkan di
Paculgowang, Jombang, 12 April 1912. Ayahnya bernama KH Anwar Alwi —
pengasuh Ponpes Pacul Gowang — dan ibunya Nyai Khadijah. Dia anak keenam
dari 12 bersaudara.
Ditilik dari latar belakang keluarga yang berbasis pesantren itu sangat
wajar apabila KH Mahfudz Anwar tumbuh dalam suasana religius dan keilmuan
agama yang tinggi. Saat yang bersamaan, Pesantren Tebuireng mulai menanjak
popularitasnya karena kualitas keilmuannya; maka, Kiai Anwar Ali pun
memondokkan anaknya di sana. Di Pesantren Tebuireng, Mahfudz menjadi murid
yang cerdas. Bahkan, saat ia duduk di kelas IV, ia sudah ditugasi untuk
mengajar adik kelasnya. Setelah lulus kelas VI, ia diangkat menjadi guru
resmi di Pesantren Tebuireng.
Selain kepada Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari, Mahfudz juga belajar kepada
KH Mashum Ali, seorang ulama besar, ahli falak, dan pencetus nazam ilmu
sharaf dan pengasuh Ponpes Seblak. KH Mashum Ali adalah juga Direktur
Madrasah Tebuireng. Pada kiai muda itu Mahfudz khusus mempelajari ilmu
falak, dan ia menunjukkan bakat yang luar biasa dalam disiplin itu. Inilah
yang membuatnya disegani para santri di Tebuireng, kendati usianya saat itu
baru 20 tahun. Ketika Kiai Maksum meninggal pada usia sangat muda, 33 tahun,
kepemimpinan pesantren Seblak diserahkan kepada Ustadz Mahfudz.
Meski sudah menjadi pengasuh pondok pesantren dan menguasai sederet ilmu,
namun semangat belajarnya tidak padam. Di antara sekian ilmu yang giat
dipelajari adalah ilmu falak. Karena KH Mashum Ali keburu meninggal dunia,
dia belajar falak lagi kepada Mas Dain, seorang santri seniornya yang
menjadi kepala pondok Seblak. Setelah menguasai falak, maka diskusi dan
perdebatan dengan mitra belajarnya menjadi semakin seru. Mereka terus
mengasah ketajaman analisis masing-masing melalui forum musyawarah.
Maka tidak heran, KH Mahfudz dan Mas Dain dalam tempo yang singkat mampu
menjadi pakar falak yang betul-betul mumpuni. Momentum paling tepat untuk
menguji kepakaran mereka adalah saat rukyatul hilal (penentuan) awal
Ramadlan dan Syawal, sebuah momen yang akurasinya sangat ditunggu oleh
masyarakat.
Setiap menjelang Rhamadan dan Syawal, Kiai Mahfudz dan Mas Dain pergi ke
gunung Tunggorono, sebelah barat kota Jombang, untuk melakukan rukyah
(pemantauan), melihat bulan setelah diperhitungkan sesuai dengan hasil hisab
(perhitungan) masing-masing. Setelah rukyah selesai, mereka kembali ke
pondok mendiskusikan hasil rukyah masing-masing. Perdebatan, untuk adu
argumentasi dan ketajaman menganalisa serta kecermatan dalam mengamati hilal
(tanggal) menjadi kunci kemenangan. Siapa yang paling benar dan kuat
dalilnya yang keluar sebagai pemenang. Kiai Mahfudz sering menang dalam
perdebatan ini.
Dengan kecemelangan dalam ilmu falak semakin mengukuhkan kualitas keulamaan
dan kelebihannya di atas ulama lain. Kebanyakan ulama, khususnya ulama NU
hanya menguasai ilmu fikih. Jarang dari mereka yang memiliki kepakaran
langsung bidang fikih, tafsir dan sekaligus falak.
Di organisasi NU, dia menempuh jalur dari yang paling bawah sebagai pengurus
ranting (desa) Seblak dan akhirnya masuk ke jajaran PCNU (pengurus Cabang
Nahdlatul Ulama). Ia pernah menjadi rais syuriah dua periode berturut-turut.
Dari NU Cabang Jombang kemudian dipromosikan sebagai pengurus NU Wilayah
Jawa Timur. Namun, karena kepakarannya yang sulit tertandingi pada ilmu
falaq, maka dia diserahi tugas memegang posisi Ketua Lajnah Falakiyah PBNU
sampai tahun 1993.
Sebagai Ketua Lajnah Falakiyah PBNU, KH Mahfudz sering mendapat tantangan
berat khususnya dari pihak pemerintah orde baru. Pernah hasil rukyah untuk
menentukan hari raya berbeda dengan pemerintah selama tiga kali
berturut-turut. Seluruh kyai dan warga NU berada penuh di belakang Kiai
Mahfudz, benturan antara NU dan pemerintah tidak terelakkan.
Walaupun pikirannya tidak diterima pemerintah, sebaliknya masyarakat sangat
menghormatinya. Terbukti setiap menjelang 1 Syawal mulai bada Maghrib sampai
larut malam, halaman rumahnya penuh dengan masyarakat yang ingin mendapatkan
kepastian tanggal jatuhnya bulan Syawal. Kehandalannya dalam ilmu fikih dan
falak membuat pemerintah pada tahun 1951 mengangkatnya sebagai Hakim Agama
Kabupaten Jombang. Jabatan itu diduduki selama 4 tahun. Melihat prestasi
Kiai Mahfudz yang sangat baik di Pengadilan Agama Jombang, akhirnya tahun
1955, beliau dipromosikan menjadi Wakil Direktur Peradilan Agama Depag
Jakarta.
Ia hanya kuat bertahan 3 bulan di Jakarta. Beruntung, permintaan kembali ke
kampung halaman dikabulkan. Namun tidak di Jombang, tapi di Mojokerto. Di
kota ini ia menjabat sebagai Ketua Pengadilan Agama. Setelah beberapa tahun
di Mojokerto, pangkatnya naik menjadi Hakim Pengadilan Agama di Surabaya.
Dunia kampus pun ‘dicicipi’ KH Mahfudz. Ceritanya, pada saat menjabat
sebagai hakim di PA Surabaya, ia diminta menjadi dosen fikih dan tafsir di
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surabaya. Beberapa tahun kemudian, ia
dipilih menjadi dekan pertama di Fakultas Ushuluddin IAIN Surabaya. Selain
itu juga ngajar di Universitas NU Surabaya.
Seluruh waktunya untuk mengabdi di NU dan masyarakat terutama dalam
pengembangan dan pengajaran lmu falak yang semakin tidak diminati. Sampai
akhir hayatnya, ia masih berusaha melakukan hitungan falak sampai tahun
2003. Dalam sebuah pertemuan KH Mahfudz berkata, “Kita harus memperhatikan
pengetahuan umum dan ketrampilan agar anak-anak kita siap pakai nantinya,
seperti KH A Wahid Hasyim yang mampu menjadi menteri agama.”
Ketika usianya semakin senja, tokoh itu sangat prihatin, sebab semakin
sedikit santri yang berminat dalam bidang falak. Di pesantren sendiri ilmu
itu hanya diajarkan sambil lalu, sebagai pengenalan, tidak dikaji secara
mendalam. Dia pun lantas mengambil langkah dengan membuka pengajian khusus
ilmu falak di rumahnya. Pengajian khusus itu banyak diminati masyarakat,
tidak hanya santri, tetapi banyak warga NU. Forum pengajian selalu ramai
karena dihadiri oleh para ulama dari kabupaten Jombang, Kediri, dan
sekitarnya. Kiai Mahfudz wafat pada malam Jumat, 20 Mei 1999.
Piawai Menulis
Walaupun sehari-hari disibukkan dengan kegiatan mengajar dan mengurus
birokrasi dan juga di pengurusan NU, namun tidak menghalangi kiai ini untuk
berkarya secara kualitatif. Di antara karya tulisnya yang bisa
diidentifikasi adalah:
1. Fadlail al-Syuhur, sebuah kitab yang tidak ada namanya, namun berisi
keutamaan semua bulan, mulai Syawal sampai Ramadlan.
2. Risalah Asyura min Ahlis Sunnah Wal Jamaah, menerangkan tentang
keistimewaan bulan Asyura, Muharram. Kandungan buku ini beliau sebar ke
masyarakat sekitar dan mengajak mereka bersama-sama mengamalkannya.
3. Penulis pertama Nadhoman Tahsrif Lughowiyah dan Ishtilahiyah dalam
kitab Amtsilah Al-Tashrifiyah. Kitab itu kemudian diserahkan di ke penerbit
di Timur Tengah untuk dicetak. Para ulama Timur Tengah kagum pada kecerdasan
dan kreatifitas ulama ini, sehingga kitab tersebut menjadi kurikulum wajib
di sekolah-sekolah di Timur Tengah.
Dari berbagai sumber
