Islam dan Carok

ISLAM DAN CAROK(Membaca dengan Kearifan Lokal)*

Shofiyullah Mz**

  

  1. Iftitah

Ketika mendengar kata Madura, mungkin ada empat hal yang langsung terbayang di benak kepala orang Indonesia, yaitu carok— dengan clurit yang tajam dan meneteskan darah—soto, sate, dan ramuan Madura. Di antara keempat hal itu, caroklah yang sering menimbulkan pertanyaan dan belum terjawab secara tuntas. Di sisi lain, penilaian orang tentang carok sering terjebak dalam stereotip orang Madura yang keras perilakunya, kaku, menakutkan, dan ekspresif. Stereotip ini sering mendapatkan pembenaran ketika terjadi kasus-kasus kekerasan dengan aktor utama orang Madura. Padahal, peristiwa itu sebenarnya bukan semata-mata masalah etnis, melainkan juga menyangkut masalah ekonomi, sosial, dan politik yang ujung-ujungnya adalah kekuasaan.

Suku Madura memiliki karakter terbuka kepada perubahan. Maka tidak heran jika majalah Tempo berdasarkan sebuah riset pada tahun 1980-an pernah menempatkan Suku Madura dalam lima besar suku yang paling sukses di negara ini. Hampir di tiap daerah, bisa ditemukan ‘sate Madura’ yang seolah menjadi trade-mark orang Madura (Tempo Interaktif, 16-8-2006). Hal itu membuktikan bahwa semangat orang Madura sangat kuat untuk melakukan perantuan kemana pun. Di tanah rantau pun, orang Madura masih tetap dikenal sebagai sosok yang rajin dan berkinerja tinggi. Karakter yang juga lekat dengan orang Madura adalah perilaku yang selalu apa adanya dalam bertindak. Suara yang tegas dan ucapan yang jujur kiranya merupakan salah satu bentuk keseharian yang bisa dirasakan jika berkumpul dengan orang Madura. Pribadi yang keras dan tegas adalah bentuk lain dari kepribadian umum yang dimiliki suku Madura.

Budaya Madura adalah juga budaya yang lekat dengan tradisi religius. Mayoritas orang Madura memeluk agama Islam. Oleh karena itu, selain akar budaya lokal (asli Madura) syariat Islam juga begitu mengakar di sana. Bahkan ada idiom: “sejelek-jeleknya orang Madura, jika ada yang menghina agama Islam (: kiai), mereka akan marah!”.