Mengenal lebih dekat PP. As-Shomadiyah

Multikulturalisme, sebagaimana diungkap oleh Goodenough (1976) adalah pengalaman normal manusia. Ia ada dan hadir dalam realitas empirik. Menurut Hilda Hernandes dalam Multiculturalisme Educations: A Teacher Guide To Linking Context, Process And Content bahwa multikulturalisme bertujuan untuk kerjasama, kesederajatan dan mengapresiasi dalam dunia yang kian kompleks dan tidak monokultur lagi. Pengertian dari Hilda ini mengajak untuk lebih arif melihat perbedaan dan usaha guna bekerjasama secara positif dengan yang berbeda, di samping untuk terus mewaspadai segala bentuk sikap yang bisa mereduksi multikulturalisme itu sendiri. Kesadaran akan adanya keberagaman budaya meniscayakan adanya kesadaran akan keberagaman dan peningkatan apresiasi yang dielaborasi secara positif sebagai wujud dari pemahaman multikulturalisme. Inti dari multikulturalisme sendiri adalah adanya kesediaan menerima kelompok lain secara sama “sebagai kesatuan” tanpa memperdulikan perbedaan budaya, etnik, jender, bahasa ataupun agama. Bila pluralitas sekedar merepresentasikan adanya kemajemukan, multikulturalisme memberikan penegasan bahwa dengan segala perbedaannya itu mereka adalah sama di dalam ruang publik.Sehubungan dengan hal di atas, tulisan yang berasal dari hasil riset di lapangan ini akan mengeksplorasi lebih jauh dan mendalam bagaimana sebenarnya peran strategis dari Pondok Pesantren (selanjutnya: Pesantren) dalam merespon realitas kekinian yang plural dan multikultur itu. Mengapa pesantren sebagai objek kajiannya? Hal ini berdasar atas asumsi yang berkembang (common sense) bahwa sebagai institusi pendidikan yang sangat concern dalam bidang pengajaran agama Islam dan pembinaan akhlak masyarakat, pesantren dikenal alergi dengan perubahan dan kemajuan. Pesantren dilekatkan dengan “status” sebagai lembaga pendidikan tradisional yang puritan, ekstrim dan radikal. Pesantren secara tidak fair disudutkan sebagai tempat pelestarian ajaran Islam yang intoleran dan non kooperatif. Pesantren kini sudah menjadi basecamp tempat memproduksi kader-kader teroris militan dengan musuh utamanya Amerika Serikat beserta para anteknya. Sementara pada sisi yang lain, pluralitas-multikultural dianggap sebagai ”produk wacana” yang sengaja ditularkan secara efektif, massive dan intensif melalui berbagai saluran teknologi informasi yang ada oleh negara Barat yang nota bene di bawah komando oleh Mr.George Bush Jr yang sukses membumihanguskan Irak dan mengintimidasi Iran serta memporakporanda Palestina.

Adapun pesantren yang menjadi sentra utama dalam riset ini adalah PP. As-Shomadiyah yang terletak 6 km arah timur Bangkalan, Madura. Pesantren yang kini diasuh oleh KH. Abd. Muhaimin Makky ini tetap menyandang nama Salafiyah. Sebuah istilah yang masih debatable dan menjadi sorotan besar pasca tragedi Black September dan beberapa peristiwa pengeboman di tanah air. Sebuah nama yang diasosiasikan dengan nama Ibnu Taymiyah dengan gerakan salafnya yang sangat puritan dan radikal. Bagaimana As-Shomadiyah menepis semua kecurigaan dan tuduhan tidak mendasar itu? Bagaimana As-Shomadiyah berbuat dan berkiprah di tengah kehidupan bangsa yang carut marut dengan agenda reformasi yang semakin tidak jelas visi dan misinya? Bagaiamana As-Shomadiyah ikut serta berperan aktif dalam mendidik dan mengajarkan anak bangsa menjadi generasi yang berkualitas dan bermoral?