Beberapa waktu lalu di meja kerja dosen fakultas Ushuluddin terdapat selembar kertas buram foto kopian. Sebenarnya kertas tersebut tidak menarik untuk dibaca di antara tumpukan proposal, skripsi, undangan serta surat-surat berkop resmi lainnya. Menjadi menarik karena hanya kertas itu yang berwarna buram dan berada di semua meja dosen. Selintas, kertas berukuran folio dengan ketikan berspasi 1, font 12 Times New Roman, margin 3-2-3-2 itu sebenarnya terlalu padat dan membosankan, ditambah dengan hasil fotokopian yang mulai kehabisan tinta. Ada beberapa kalimat yang sengaja dicetak miring (italic) dan tebal (bold) yang dimaksud sebagai “main idea” atau “stressing point” dari penulis. Namun mulai dari awal hingga akhir tidak terdapat identitas penulis, baik nama asli, akronim ataupun anonim. Dengan cara scanning dapat ditangkap maksud dari “surat tanpa tuan” itu adalah mengajukan protes kepada pimpinan fakultas Ushuluddin (: universitas?). Protes atas kebijakan yang tidak kontekstual dan mekanis, demikian istilahnya.

Kebijakan dimaksud adalah penerapan presensi 75% alias kewajiban hadir di kelas minimal 75%. Meski bukan yang pertama, dan tidak hanya difakultas Ushuluddin fenomena surat kaleng ini terjadi, melainkan sudah menjadi fenomena di UIN Sunan Kalijaga, tapi tetap penasaran untuk mengetahui bagaimana argumen yang dibangun untuk memperkuat alasan ketidaksetujuannya. Nada-nada provokatif sudah mulai terasa sejak awal paragraf. Emosional yang kuat dari penulis nampak kurang bisa dikendalikan dengan baik saat ia tuangkan dalam tulisan. Tulisan itu akhirnya menjadi alat berkeluh kesah dan mengajak orang lain/pembaca bersimpati dan ikut-ikutan protes. Akibatnya, argumen yang dibangun terasa dipaksa laiknya petarung yang sudah kehabisan jurus, drunken fighter.

Dari gaya bahasa dan pemilihan kosa kata terlihat kalau penulis bukan mahasiswa baru yang rata-rata masih belum terlatih dengan baik dalam tulis menulis. Dugaan ini semakin kuat bila dilihat dari message yang dikandung dalam tulisan. Terlintas kira-kira bagaimana sosok penulis. Ia adalah sosok mahasiswa yang karena aktivitasnya di luar perkuliahan membuatnya sulit memenuhi target kehadiran 75% di kelas. Terlepas ia aktif di luar karena ia dianggap memiliki kemampuan oleh komunitasnya atau hanya menghindar (escape) dari ketidakmampuannya di kelas. Yang jelas, ia merasa tidak nyaman dengan aturan fakultas yang membuatnya tidak bisa lagi ”seenaknya” kuliah. Kepentingan untuk membela ”seenaknya” itulah yang kemudian ia kemas dengan sebutan tidak kontekstual dan mekanis. Baginya, fakultas tidak perlu menerapkan aturan yang rigid dan ketat karena itu hanya akan melahirkan ”robot”, bukan manusia. Output lembaga pendidikan yang kontekstual dalam bayangannya adalah sarjana yang lahir dari sebuah lembaga yang membiarkan para mahasiswanya berperilaku sesuai dengan ”konte(a)ktualisasi” dirinya. Sebuah lembaga yang menerapkan sebuah peraturan yang menegaskan bahwa pada lembaga itu sudah tidak perlu diadakan peraturan apapun. Itulah lembaga yang memanusiakan manusia bukan me-robot-kan manusia. Dengan kata lain, upaya membuat mahasiswa menjadi disiplin adalah merupakan upaya dehumanisasi atau robotisasi.

Terlepas dari bisa dinalar atau tidak logika dan argumen yang ia bangun dalam membela ”kebenaran” versi-nya itu, tulisan ini ingin menyoroti fenomena surat kaleng yang masih sering terjadi di lingkungan kampus UIN Sunan Kalijaga.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa surat yang tidak dibubuhi nama dan alamat pengirim yang biasanya dengan maksud mencela, mengkritik dan lain sebagainya disebut dengan surat kaleng atau surat anonim atau juga surat buta (1995:978). Surat kaleng menunjukkan bahwa pelaku tidak setuju dan protes keras atas suatu kebijakan atau sebuah perilaku yang dalam pandangannya tidak benar, menyimpang dan dzalim atau semena-mena. Kebijakan atau perilaku yang ”merugikan” dan ”mengancam” eksistensi dirinya itu harus segera diakhiri. Namun ia merasa tidak memiliki kemampuan (powerless) untuk melakukan perlawanan secara frontal (face to face). Sementara itu pula ia tidak terlalu yakin pada dirinya bahwa pasti ada orang lain yang mengalami hal yang sama, meski ia menduga walau tidak banyak pasti ada. Sehingga ia merasa lebih aman untuk menguji kebenaran hipotesanya melalui surat kaleng. Bila terbukti dugaannya tepat, ia beruntung karena banyak pendukung dan ia bisa menjadi pahlawan (whistler of bottleneck). Bila ternyata meleset, ia tetap aman karena jati dirinya tidak teridentifikasi, lempar batu sembunyi tangan. Itulah filosofi dari surat kaleng.

Dari nilai filosofi yang terkandung dalam surat kaleng tersebut, keberadaan surat kaleng dalam lingkungan kampus patut disesalkan. Kampus sejatinya menjadi kawah candra dimuka bagi lahirnya manusia yang cerdas, kreatif, bermoral dan bertanggungjawab (scientivic attitude). Bila masih dalam proses penggodokan saja telah lahir bibit insan yang cerdas dan kreatif tapi tidak bermoral dan tidak bertanggungjawab, perlu ada kesadaran bersama bagi civitas akademika. Sebuah kesadaran untuk koreksi ulang akan proses ”produksi”nya. Apakah yang menjadi perhatian selama ini hanya pada transformation of knowledge demi memenuhi target SAP-RKPS dan image building, sehingga tahun depan sertifikat ISO 9002 bisa diraih? Apakah para pimpinan khususnya dan para dosen asyik dengan tugasnya ”mengajar” dan ”mendoktrin” mahasiswa padahal dirinya sendiri ”asing” dengan apa yang ia ajarkan dan doktrinkan dalam kehidupan nyatanya? Ataukah para civitas akademika dalam menjalankan amanah jabatan, semata berorientasi untuk membesarkan dirinya? Akibatnya, ia begitu kokoh memegang jabatan dan begitu bernafsu mengejar berbagai keuntungan materi dan immateri dengan dalih membesarkan insitusi. Indikasinya, para pemegang jabatan itu kemudian menjadi ”raja kecil” di lingkungan kekuasaannya. Baginya hanya berlaku dua pasal, pertama, saya selaku pimpinan tidak mungkin berbuat salah, kedua, bila terbukti saya berlaku salah maka lihat pasal pertama.

Bila semua atau salah satu dari ”hal” di atas nyata adanya, maka perjuangan panjang dan melelahkan dengan anggaran yg tidak sedikit dari manhaj jaring laba-laba (spider web) sebagai brandmark paradigma keilmuan UIN Sunan Kalijaga baru berkutat pada sosialisasi dan desiminasi belum menemukan ”pintu” menuju internalisasi. Sebuah kenyataan pahit yang harus ditelan bersama. Semoga yang terpaksa ditelan meski pahit itu adalah jamu yang menyehatkan bukan racun yang mematikan, amin. Demikian, semoga bermanfaat.