Akhir-akhir ini berbagai media yg mengulas persoalan politik tanah air bisa dipastikan memberitakan persoalan kekisruhan internal yg terjadi di partai yg konon sbg representasi dari wadah aspirasi politik para kiai, PKB. PKB tergolong partai baru karena baru dua kali mengikuti pemilu. Namun demikian, dinamika (baca: pergolakan) internal yg terjadi melampaui partai-partai besar yg jauh mendahuluinya semisal Golkar dan PDIP. PKB yg diarsiteki dan sekaligus dikomandani oleh KH. Abdurrahman “Gus Dur” Wahid pelan namun pasti tumbuh berkembang menjadi lima partai terbesar nasional pada pemilu 2004. Semua pengamat dan pakar politik sepakat bhw perkembangan PKB tdk bisa lepas dari nama besar Gus Dur, mantan Presiden RI ke-4. Hal ini juga terjadi pada ormas NU semasa beliau menjadi Ketua Umumnya. NU dikenal oleh masyarakat internasional berkat Gus Dur. Kaum Nahdliyin (sebutan bagi warga NU) sebelumnya dikenal sbg warga kelas dua. Warga pedesaan, tradisional dan terbelakang. Penilaian ini diperkuat dg performance keseharian mereka yg identik dg sarung dan kopyah. Tidak ada yg tertarik dan menarik dari kaum sarungan ini. Akibatnya, bbp kader muda NU yg saat itu sdh tercerahkan lewat pendidikan dan ekonomipun tdk ada yg secara lantang mengakui kalau dirinya adalah warga NU. Mereka tdk bangga dan malu mengaku sbg orang NU. Tapi semenjak Gus Dur tampil memegang komando tertinggi di NU, banyak perubahan yg dilakukan. Dan perubahan yg paling fundamental adalah public image. Kini NU tdk lagi identik dg kampungan, ndeso, melarat dan berpendidikan rendah. Brand image itu berubah seiring dg semakin banyaknya para kader muda NU yg berpendidikan Barat (karena modern adalah Barat!?). Banyak santri alumni pesantren salaf yg meneruskan pendidikan post-graduatenya di McGill, Harvard, UCLA, Oxford, ANU, Sorbornne, Monash, Leiden, Bonn dan lainnya. Kini mereka banyak yg kembali ke tanah air dan mengisi pos-pos strategis diberbagai departemen dan perusahaan. Sebuah perubahan yg luar biasa. Bahkan alm. Cak Nur (Nurcholis Madjid) icon intelektual Muhammadiyah (MD) mengakui bhw semenjak era 90-an sebenarnya telah terjadi perubahan pada NU dan MD. Kalau dulu MD dikenal sbg lokomatif modernisme dg peran para kadernya dibidang intelektual dan NU dikenal sbg kaum tradisionalis karena “kerjaannya” hanya menyepi di pesantren yg lokasinya jauh dari peradaban, kini telah terbalik, NU sbg lokomotif modernis krn pemikirannya yg cemerlang dan maju sementara MD sdh menjadi tradisionalis krn hanya menghabiskan energi utk memikirkan bgm “dagangan” lembaga pendidikan dan lembaga profit lainnya meraih untung sebanyak-banyaknya. Meski statement cak Nur ini membuat banyak kuping merah dan meradang tapi realitas sejarah membenarkan statement tersebut. Kini sdh biasa dan tdk aneh melihat orang-orang pake sarung dan berkopyah berseliweran di bandara, hotel-hotel berbintang dan tempat-tempat “hang out” high-class lainnya. Gaya hidup kaum sarunganpun juga jungkir balik. Dulu mereka dikenal sederhana, low profile, tawadlu dan menghindari tempat-tempat “maksiat”. Kini, mereka terbiasa rapat-rapat dihotel, makan di resto internasional, bahkan kongkow dicafe. Tdk cukup itu, atribut-atribut orang modern (ke Barat-baratan) yg dulunya dikecam sbg “haram” dg dalih man tasyabbaha biqaumin fahuwa minhum sbg prasyarat performance orang modern juga mereka miliki. Handphone berteknologi 3,5 – 4G juga communicator terkini Nokia E-90 plus handfreenya meski tdk sepenuhnya berfungsi (baca: gaptek), arloji berlapis 22 karat (padahal ada hadis yg menyatakan laki-laki haram pake emas!), cincin dg taburan diamond disekililing batu blue saphirnya dg bantalan terbuat dari “emas putih” (platina) dan tunggangan sekelas anggota kabinet bersatu dan anggota dewan terhormat, New Camry, BMW, Mercedez Benz E-S class, Alphard, Lexus dan sejenis yg sangat amat jauh dari sederhana. Sungguh-sungguh sebuah fenomena yg sangat mencengangkan. Seorang kiai pesantren yg dulunya dikenal berpenampilan sederhana jauh ishraf (berlebih-lebihan) kini sdh jungkir balik. Life style demikian menuntut biaya tinggi, akibatnya guna memenuhi tuntutan itu, para kiai itu berlomba-lomba menyebarkan proposal pembangunan pesantrennya keberbagai pihak. Dan yg kini terlihat bgm tercorengnya dunia kiai adalah ketika mereka memasuki dunia politik praktis. Politik praktis bagaikan dunia mimpi yg mampu meninabobokkan siapapun untuk masuk berkecimpung di dalamnya, termasuk para kiai. Dunia politik menawarkan semua bentuk kesenangan dan impian hidup di dunia, yaitu 3K (Kekayaan, Kekuasaan, Kekasih). Para kiai juga semakin bangga kalau sering bertandang ke rumah pejabat (bupati, gubernur, presiden). Status ke-kiai-annya akan meningkat kalau ia sering datang ke pendopo, gubernuran, dan istana. Sungguh sebuah ironi kehidupan yg unbelieveble. Meski tdk semua kiai seperti itu, tapi akibat dari ketidakjelasan definisi siapa yg dimaksud dg kiai, akhirnya asal punya kopyah putih-surban-sarung-baju taqwa plus sedikit fasih berbahasa arab, semua orang sudah bisa dipanggil kiai. Tapi ada juga (tdk sedikit) seorang kiai yg memang betul-betul memimpin sebuah pesantren, fasih berdalil yg juga terjerumus kedunia politik. Karena ia sdh masuk politik praktis, ia menjadi terkotak. Baginya hanya kotaknya yg benar, sedang kotak lainnya adalah salah dan menyesatkan. Meski suatu saat akibat kotaknya sdh sumpek dan jelek ia keluar dari kotak itu ke kotak yg lebih harum dan nyaman. Itulah yg terjadi di PKB. Sebuah Partai Keluarga Besar. Karena sdh besar, kotaknya jadi sempit dan pengap. Bersemburatlah para penghuninya keluar. Ada yg kentut kemudian dg lantangnya dia berteriak “siapa yg kentut?”. Wassalam.