Forum Kajian Islam dan Politik

(FKIP) UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

 

Press Release Seminar Nasional:

“MEMBACA PETA POLITIK NASIONAL JELANG PEMILU 2009”

Forum Kajian Islam dan Politik (FKIP) UIN Sunan Kalijaga adalah sebuah forum yang beranggotakan beberapa dosen dan peneliti dilingkungan UIN Sunan Kalijaga yang memiliki ketertarikan dan kepedulian terhadap persoalan Islam dan Politik. FKIP ini semula berawal dari sebuah forum kajian bulanan yang melakukan kajian rutin tiap bulan dengan tema persoalan keislaman dan politik yang bertempat disebuah garasi, tepatnya garasi rumah di Jl. Manggis 62A Gaten. Oleh karenanya diberinama Forum Kajian Garasi 62A (FKG62A). Selain melakukan kajian rutin, forum ini juga melakukan riset, publikasi dan advokasi. Sebagai wujud dari keseriusan dan kepedulian yang besar dari stake holders, forum kajian ini kemudian bersimbiosis menjadi FKIP. FKIP tidak lagi bertempat di garasi tapi di fakultas Ushuluddin lt. 1 Jl. Marsda Adisucipto Tlp. 0274-512156, 4333257 Fax. 512156 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Email: fkip@uin-suka.ac.id dan fkip@ymail.com

Pada hari kamis, 5 Juni 2008, bekerjasama dengan The Akbar Tandjung Institute (ATI), Jakarta, FKIP menyelenggarakan seminar nasional dengan tema “MEMBACA PETA POLITIK JELANG PEMILU NASIONAL 2009” bertempat di theatrical room UPT Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga. Seminar yang mendatangkan Dr. Ir. Akbar Tandjung dan KH. Shalahuddin Wahid (Pengasuh PP. Tebuireng, Jombang) dengan Dr. Munawar Ahmad (Koord. Kajian FKIP) sebagai moderatornya. Tema ini dipilih melihat realitas politik yang terjadi saat ini. Suhu persaingan dari para kandidat RI-1 terasa demikian panas dan membakar. KPU sebagai wasit belum meniupkan peluit tanda dimulainya pertandingan, tapi para pemain sudah nekat nendang dan menggiring bola. Konfigurasi peta perpolitikan nasional menjadi demikian dinamis dan akseleratif, sehingga diperlukan orang yang ahli dan berpengalaman untuk membacanya. Sebagai mantan Ketum Golkar dan beberapa periode duduk di Kabinet juga terakhir sebagai Ketua DPR, Akbar Tandjung termasuk segelintir orang yang otoritatif itu. Demikian pula dengan KH. Sholahuddin Wahid yang akrab dengan Gus Sholah. Beliau adalah mantan Calon Wapres berpasangan dengan Wiranto yang diusung oleh Golkar pimpinan Akbar Tandjung. Selain itu, alumni ITB dan mantan konsultan yang kini menjadi Pengasuh PP. Tebuireng Jombang itu juga kolumnis dibeberapa media massa. “Sebuah konfigurasi pembicara yang tepat dengan tema yang pas!” demikian komentar Dede Ramdani dari RBFM yang diamini oleh Diah Apsari dari JogjaTV.

Seminar berlangsung dengan meriah dan dipenuhi oleh peserta yang antusias mengikutinya. Mereka berasal dari pimpinan PT, ormas, parpol, pesantren juga BEM PT se DIY. Ruangan berkapasitas 200 orang itu tidak mampu menampung peserta yang begitu bersemangat mengikuti acara hingga akhir. “Ini betul-betul luar biasa, belum pernah ada seminar di UIN yang diikuti oleh peserta sampai berdiri dan meluber ke pintu. Hebatnya lagi, para peserta bisa betah bertahan sampai acara selesai. Ini betul-betul prestasi luar biasa dari FKIP!” demikian komentar Drs. Indal Abror, MA dosen fakultas Ushuludin UIN Sunan Kalijaga. Banyak pula peserta yang menyayangkan tempat yang dirasa terlalu sempit, sehingga banyak peserta yang datang terlambat tidak bisa masuk ruangan. Menanggapi hal ini, H. Shofiyullah Mz selaku Direktur FKIP, menyampaikan permohonan maaf karena penentuan tempat ini sepenuhnya atas permintaan Bang Akbar sendiri, yaitu di dalam kampus. Ruang UPT itu dianggap yang paling representatif dan “ekonomis” dibanding yang lainnya. Demikian alasan yang dikemukakan oleh pak Shofi, biasa ia dipanggil oleh mahasiswanya. Lebih lanjut pak Shofi juga “buka kartu”, sebenarnya panitia hanya mengirimkan 150 undangan karena disesuaikan dengan kapasitas efektif ruangan. Jadi ini diluar perkiraan panitia.

Lebih lanjut pak Shofi menginformasikan bahwa insyaallah besok hari kamis, 17 Juli 2008, FKIP kembali akan menyelenggarakan sarasehan budaya nasional dengan tema “MEMBANGUN VISI KEPEMIMPINAN NASIONAL”, bertempat di hotel Grand Quality, Kalasan. Sarasehan ini diadakan sebagai wujud keprihatinan FKIP akan ketidakjelasan visi dari kepemimpinan nasional saat ini. Yang terjadi, roda pemerintahan berjalan tanpa arah yang jelas. Ia hanya menggelinding tanpa kemudi. Akibatnya, seringkali melewati jalan terjal penuh batu kerikil, terkadang menabrak bongkahan batu karang dan tidak jarang terjerembab ke dalam jurang untuk yang kesekian kalinya. Bangsa yang sudah mendeklarasikan “reformasi total” 10 tahun yang lalu kini menjadi bangsa yang semakin tidak jelas bentuk dan juntrungnya. Disebut presidensiil, nyatanya para cowboy di Senayan terlalu serakah merampas hak-hak eksekutif yang sewaktu kekuasaan rezim Soeharto begitu dominan. Disebut parlementer, nyata-nyata dalam konstitusinya berbunyi presidensiil.

Yang akan menjadi pembicara pada sarasehan tersebut adalah Jend. (Purn.) Wiranto, Gusti Joyokusumo, Emha Ainun Nadjib, Prof. Damardjati Supajar, Dr. Sukardi Rinakit dan Prof. Yudian W.Asmin. Untuk Gusti Joyokusumo panitia masih menunggu perkembangan terakhir karena saat ini beliau sedang berobat di Singapura.

Harapan panitia, acara ini juga akan menuai sukses sebagaimana acara sebelumnya. Sukses dalam artian penyelenggaraan dan terdesiminasi dan tersosialisasikannya nilai-nilai pendidikan politik yang mencerahkan dan mencerdaskan bagi segenap anak bangsa, amin.(MA).