Tersadap, Amin Minta ”Bonus” Perempuan

JAKARTA – Permintaan ”bonus” perempuan ternyata memang sering mengalir dari mulut anggota DPR Al Amin Nur Nasution. Tersangka kasus korupsi alih fungsi hutan lindung di Bintan, Kepulauan Riau, itu sering meminta disediakan perempuan kepada Sekretaris Daerah Bintan Azirwan.

Aib baru suami penyanyi dangdut Kristina itu terungkap dari pengakuan dua penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) serta rekaman pembicaraan antara Amin dengan Azirwan yang diputar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, kemarin (7/7). Pembicaraan itu merupakan hasil penyadapan yang dilakukan�KPK.

Dalam kesaksian kemarin, Amin Arif dan Budi Agung Nugroho, dua penyidik KPK yang melakukan pengawasan (surveillance) terhadap gerak-gerik Amin dan Azirwan, mengaku melihat Azirwan memasuki lobi Hotel Ritz-Carlton di kawasan Mega Kuningan dengan membawa dua perempuan.

Beberapa waktu kemudian, Amin Arif mengaku melihat Al Amin, seseorang bernama Arya, dan dua perempuan memasuki Mistere Pub, tempat hiburan di hotel tersebut. Bukan hanya dua rombongan itu, Amir yang berewok tersebut mengaku melihat dua anggota Komisi IV DPR Sudjud Siradjudin dan Syarfi Hutauruk di lokasi yang sama. Keduanya lantas diketahui keluar dari lokasi.

Saat itu, kata dia, ada empat kelompok tempat duduk. Azirwan duduk bersebelahan dengan seorang pria. Di depannya ada Al Amin yang diapit dua perempuan. Di meja kelompok kedua, ada staf Azirwan, Edi Pribadi dan Nano, beserta dua perempuan yang dibawa Azirwan. Kelompok ketiga adalah Sudjud dan Syarfi. ”Duduk terpisah, yaitu Arya. Dia duduk sendiri tanpa ditemani siapa pun,” ujar Amir soal pria yang pernah mengaku sebagai ”kawan dekat” perempuan yang kemudian diketahui sebagai mahasisiwi Universitas Pakuan Bogor bernama Efilian Yonata alias Efil tersebut.

Al Amin lantas menuju toilet bersama seorang perempuan. Setelah itu, si perempuan menghampiri Azirwan, sedangkan Al Amin tinggal di lorong toilet. Azirwan lantas datang ke lorong. ”Azirwan mengeluarkan uang dari kantong, lalu menyerahkan kepada Al Amin. Al Amin langsung menghitungnya, kemudian memasukkan ke kantong,” ungkap Amir.

Tak berapa lama, Al Amin keluar bersama seorang perempuan menuju mobilnya untuk mengambil kertas putih. ”Al Amin menghampiri Azirwan, melangkah ke toilet diikuti Azirwan. Keduanya masuk ke toilet. Sekeluarnya, Amin tidak pegang kertas putih,” ujar Amir, lantas mengungkapkan kertas putih itu berpindah tangan ke Azirwan.

Dua lembar kertas putih tersebut adalah hasil rapat Komisi IV DPR dengan menteri kehutanan yang mengegolkan alih fungsi hutan lindung. Barang bukti itu disita bersama sejumlah uang, yakni Rp 3,9 juta di kantong Al Amin, Rp 67 juta di bagasi mobil Al Amin, dan SGD 33 ribu dari tangan Azirwan. Dokumen tersebut dijanjikan Al Amin melalui telepon sebelum bertemu Azirwan.

Selain dokmen, Azirwan menjanjikan ”hiburan” lain bagi Amin. ”Bos mau dicariin satu gitu, tapi aku tak janji, aku upayakan. Nanti selera bos payah pula,” ujar Azirwan dalam rekaman pembicaraan dengan Al Amin (ein/jpnn/kim