Pemikiran Gus Dur Banyak Tonjolkan Semangat Kebangsaan

Jumat, 29 Februari 2008 | 14:23 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS – Pemikiran politik Gus Dur yang tercermin dalam berbagai tulisan- tulisan politiknya pada kurun waktu 1970-2000 mampu menawarkan pemikiran alternatif dalam pembangunan demokrasi di Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan pengajar Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Munawar Ahmad ketika membahas disertasinya yang berjudul Kajian Kritis terhadap Pemikiran KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) 1970-2000, di Yogyakarta, Rabu (27/2). Disertasi yang berhasil dipertahankan di depan tim penguji 2007 lalu itu, rencananya akan diterbitkan menjadi buku.

“Gus Dur memiliki sumbangan ide dengan segala konsekuensinya yang menonjolkan semangat kebangsaan dengan mengangkat nilai-nilai lokalitas,” ujar Munawar.

Dalam disertasinya, Munawar menemukan lima pokok pemikiran politik Gus Dur, yakni mengembangkan khazanah politik lokalitas Islam Indonesia, humanisme sebagai perlawanan kekerasan, ide perlawanan kultural, ide integralisme, dan analisis ilmiah atas realitas dunia Islam.

Menurut Munawar, Gus Dur mencita-citakan Indonesia dalam ruang demokrasi liberal yang ditujukan untuk pelayanan publik dan kesejahteraan rakyat. “Setiap orang diberi kebebasan berekspresi,” tutur Munawar.

Selain itu, lanjut dia, demokrasi yang ideal dalam pemikiran Gus Dur adalah yang dapat membuat rakyat dilindungi dan dilayani tanpa adanya diskriminasi. “Negara merupakan hasil perjuangan politik dari seluruh pihak sehingga tidak mesti mayoritas yang menjadi penguasa,” ucap Munawar.

Pengajar Jurusan Akidah dan Filsafat UIN Shofiyullah MZ yang juga menjadi pembicara menambahkan, dalam pemikiran politiknya, Gus Dur menghargai adanya perbedaan yang terdapat dalam suatu komunitas dengan tak memprioritaskan kaum mayoritas.

Sebagai contoh, lanjut Shofiyullah, Gus Dur tidak menyetujui adanya ICMI yang dibentuk BJ Habibie pada waktu itu. “Karena nanti akan memicu timbulnya ikatan cendekiawan berbasis agama lainnya, seperti Kristen atau Buddha,” katanya.

Dengan mengutip Gus Dur, Shofiyullah menuturkan, Indonesia hanya bisa besar ketika menjadi bangsa pluralis yang bisa menghargai minoritas. “Agama dilahirkan untuk kedamaian bukan untuk kekerasan,” ucapnya. (A06)