Berikut adalah email tanggapan dari Bung Slamet Efendi Yusuf atas tulisan Ulil Abshar Abdalla soal Konflik Palestina vs Israel Yahudi:

Selamat ya untuk Ulil yang berhasil membawa teman-teman untuk ngomongin Yahudi.

Saya membayangkan, ketika begitu banyak perempuan, anak-anak, dan orang-orang manula terbunuh dan terluka di Gaza, Ulil –di tengah dinginnya udara Amerika– menyeruput kopi hangat di kafe Harvad University.Lalu setelah itu ketemu para profesornya termasuk para profesor Yahudi yang pernah didiskriminasi di abad-abad yang lalu.Kasihan betul mereka.Jadi profesor saja dipersulit. Padahal nyatanya ketika diberi kesempatan, dapat hadial Nobel kok.Saya pikir, Ulil masih kurang banyak memberi contoh tentang bagaimana orang-orang pinter Yahudi didiskriminasikan di seantero dunia. Tambahkan lagi, kalau perlu semua kejadian sejak zaman Fir’aun.Supaya lebih dramatik!

Dalam imaji saya, setelah itu Ulil tekun di perpustakaan: membaca dan menelaah berbagai teori-teori hebat di dalam ketenangan luarbiasa jagat Amerika.Di sana nggak ada dentuman bom, asap posphor, tangisan nestapa, serta kelaparan.Dalam perpustakaan itu Ulil bisa menjelajah kedalaman samudera ilmu yang nggak ditemukan di tumpukan buku/kitab di madrasah di Kajen.

Dalam teori-teori itu antara lain ketemu soal kejiwaan mereka yang berkonflik. Dengan teori itu ketemulah logika agresi Israel ke Gaza. Wajar, jika karena dorongan rasa keterancaman, suatu bangsa yang jumlahnya kecil, boleh membabi buta melakukan genosida. Boleh membunuh. Boleh membasmi.Jangan dipaido.Salahnya yang kuat, suka menakut-nakuti. Apalagi menakut-nakutinya berdasar ayat-ayat kitab suci.Jadi monggo berlakulah semau gue.

Karena itu salah sampeyan semua yang mau-maunya bersedih ketika melihat anak perempuan nan cantik kehilangan dua matanya, ibu hamil terbakar sekujur tubuhnya,  orang-orang kehilangan tempat bernaungnya, umat Islam kehilangan masjidnya, dan manusia kehilangan sumber nafkah dan kehidupannya.

Salah sampeyan semua, mengapa risau saat berbagai konvensi internasional diabaikan, prinsip-prinsip hidup antar bangsa disisihkan, bahkan hukum perang internasional dicibirkan.   Salah sampeyan semua yang masih pegang interpretasi ayat suci yang didasarkan pada kitab-kitab tafsir yang sudah bulukan.Yang masih mempercayai bahwa kitab suci itu laraiba fihi.Yang mengutip ayat  Al Qur’an dengan ikhlas terlepas dari pas atau tidak dengan pikiran sampeyan.Salah sampeyan yang tidak kritis dalam memahami kitab suci.

Betul Ulil. Sebagai orang yang dapat kesempatan belajar di universitas paling bergengsi di jagat ini harus berani tidak populer.Khususnya tidak populer di kalangan umat Islam. Untuk apa populer di kalangan umat yang lemah, nggak berdaya, mudah diadudomba, yang selalu butuh uluran tangan, yang enak dijadikan bahan bualan, yang asyik jika dijadikan obyek cemohan,yang nggak ngerti teori-teori yang canggih nan mempesonakan. Apalagi di saat ini; ketika Ulil sedang mencicipi, merasakan, menikmati, lalu melahap banyak ilmu dari banyak profesor yang pinter-pinter, banyak di antaranya menjadi think tank pemerintahan Amerika yang sangat demokratis, sangat menujungtinggi hak asasi manusia, menerapkan multikulturalisme, pluralisme, dan anti diskriminasi.

Ulil, anda betul. Dalam suasana tenteram dan damai hidup di negara penuh daya dan pesona  buat apa berfikir rumit mengenai nasib umat Islam di Gaza. Buat apa harus berempati dan  tersentuh dengan  kebinasaan, kehausan, kelaparan, dentaman bom yang menghancurkan, jilatan api yang mengerikan, rintihan tak berdaya yang memilukan, dan hak-hak kemanusiaan yang terabaikan.Buat apa harus merenungkan ironi bagaimana di tengah derita rakyat di wilayah Gaza, berduyun-berduyun orang sambil membawa teleskop, kamera, dan video menonton agresi. Mereka bersorak dan bahagia, ketika dari kejauhan pemukiman berhasil diledakkan. Ketika puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang terbunuh dan terluka. Buat apa itu difikirkan?Kalau pun harus berfikir dan bersikap, ya sederhanakan saja. Itu semua salahnya orang Islam sendiri ( apalagi orang Islam yang Hamas itu, yang militant, yang terorist).Kenapa pakai sentimen keagamaan untuk melihat masalah ini.Ini khan bukan masalah agama. Kenapa nggak memahami Islam dengan pikiran cemerlang orang Barat.Kenapa tidak mengikuti manhaj,millah, dan methodologi mereka itu? Kenapa pejuang Hamas dan Palestina kok nggak ngalah saja?

Penuh ketenangan.Sebuah tempat yang memang nyaman untuk membangun dan menikmati pesona. Roti dengan taburan keju, kepulan asap kopi dengan susu, sungguh  merupakan teman yang menyenangkan di tengah  dinginnya salju yang menggigit. Tapi nun di sana, sebuah seruan lirih terdengar: isyhaduu bianna muslimin! (Slamet Efendi Yusuf)

Catatan: Mas Mus maaf ya.