Berikut saya tampilkan posting saya disebuah milis yg mendapatkan respon bertubi-tubi. Posting ini “hanya” sebuah reportase rekaman perjalanan saya ke negeri jiran, Malysia-Singapura tgl 6-13 Februari yg lalu dlm rangka joint research dg UKM dan NUS. Reportase ini tdk menceritakan soal joint researchnya tapi rekaman pertemuan dg Ketua PBNU KH. Hasyim Muzadi di Kuala Lumpur, berikut reportasenya:

Salam,
Kemarin sabtu mlm minggu, 7 Februari 2009, ada pelantikan PC Istimewa NU Malaysia oleh Ketum PBNU, KH. Hasyim Muzadi. Kebetulan saya ada di KL dan (diajak) ikut hadir pada acara tsb. Pak Hasyim datang bersama rois syuriah PWNU Jatim (KH. Miftahul Ahyak) dan Lampung (KH. Aliman) serta pengacara tim Karsa, M. Ma`ruf plus bunyai Hasyim tentunya. Pada acara yg jg dihadiri Dubes RI utk Malaysia, Dai Bachtiar beserta staff KBRI agak lengkap itu berlangsung meriah di Kampung Bawean. Dlm sambutannya, pak Hasyim banyak bercerita bgm prestasi yg telah dicapai NU selama 2 periode kepemimpinannnya.Dari periode babat alas menuju menanam dan periode ketiga ini adalah tinggal menunggu proses berbuahnya. Prestasi yg tampak sangat dibanggakannya adlh pembentukan PCNU di LN  (Australia, Malaysia, Thailand, Hongkong, Korsel, Arab Saudi, Qatar, Mesir, London, Amerika, dan Scandinavia) dan terbentuknya ICIS dg misi utama menyebarkan Islam rahmatan lil alamin ala NU. Pada sabtu sorenya, dlm pertemuan di KBRI, hal yg sama juga beliau sampaikan. Pada pertemuan dg kalangan internal pengurus NU dan PKB di hotel City Villa Cokit, minggu siang sebelum bertolak ke Jakarta, pak Hasyim dg vulgar menyatakan masih berminat utk memimpin NU meski katanya “jadi ketua NU itu banyak tidak enaknya!”. Sewaktu ditanya kemungkinan Jusuf Kalla dan Mohammad Nuh berpeluang menggantikannya, dg diplomatis dijawab bhw kedua tokoh itu memang orang NU, tapi sampai saat ini tidak ada kontribusinya pada NU. Beliau malah khawatir kalau NU nanti hanya akan dijadikan kendaraan bg kepentingan politiknya. Ketika diminta pndptnya bgm dg Said Aqil Siraj dan Masdar F. Masudi, dijwab bhw kedua tokoh itu memiliki resistensi yg tinggi diklngan nahdliyin. So, utk muktamar di Makassar besok januari tdk ada pilihan yg tepat kecuali “terpaksa” harus bersedia kembali dipilih demi keselamatan perahu NU!”. Akhir pertemuan, beliau menyanggupi utk menyumbang bayar kontrak kantor PCINU yg hingga saat ini blm memiliki kntor sndri. Oya, sbnarnya hal ini mau sy diskuskn dg cak Moqsith yg rabu atau kamisnya itu ada di KL dlm rangka visiting imam, tp sy tdk ada wkt utk sowan pd beliau krn hrs ke Singapur dan balik ke Jogja esok harinya. Demikian smg ada manfaatnya, terutama utk kang Sahal de ka ka, pripun cak? [di kirim tgl 18 februari 2009 jam 11.00]

Wah ternyata respon sobat luar biasa “ganas”nya. Sbg pembawa berita, saya ingin menambahkan informasi yg agak utuh dan berimbang seputar dasar dan pertimbangan pak Hasyim “masih berminat”. Ada bbp informasi penting yg belum dimuat pada edisi I sehubgn dg minat pak Hasyim utk tampil berkiprah kembali menahkodai perahu NU yg konon berkapasitas 35 juta lebih. Sewaktu acara makan siang disebuah restoran “seperti padang” di tengah kota KL sebelum menghadiri acara pertemuan internal di hotel Villa City, saya oleh panitia diminta duduk satu meja dg pak dn bu Hasyim, kyai Miftahul Ahyak, kyai Aliman dan cak Ma`ruf sang lawyer plus pendiri sekaligus ketum pertama PCINU Malaysia yg kini mengajar di UNAIR Surabaya, Dr. H. Miftahur Rokhim dan sang ketum yg baru dilantik H. Amin, Lc., MA. Sambil menikmati hidangan, beliau meminta pendapat seputar sambutannya pada acara pelantikan PCINU semalam dan di KBRI kmr sore. Beliau juga banyak bercerita dinamika (: suka duka) memimpin nahdliyin juga hubgn beliau dg Gus Dur yg mulai cair. Kesimpulannya, pemimpin NU itu hrs orang yg tahan banting, ulet, gellem soro, wani tombok lan torok (: siap rugi materi), raiso turu enak. Soal wani tombok itu, beliau memberi contoh bhw keberangkatan beliau berlima ke Malaysia itu spenuhnya murni uang pribadi tanpa sepeserpen uang PBNU. Begitu juga sewaktu beliau berkeliling ke lima benua utk melantik PCINU, semua menggunakan uang dari kantong sendiri. Lebih dari itu beliau harus berfikir keras bgm mencari sumber dana bagi kelangsungan organisasi dimana orang-orangnya rata2 ikhlas mencari “barakah” dari NU. Jadi kalau dikalkulasi sbenarnya bnyak ruginya menjadi ketum NU dibanding untungnya. Soal knp ia bertekad utk kembali memimpin NU, krn ia tidak rela NU yg ia bangun susah payah dan tinggal memetik buahnya menjadi hancur hanya krn salah memilih nahkoda. Sementara calon-calon nahkoda yg ada hingga saat ini dlm pandangan beliau masih blm ada yg memenuhi syarat. Pendapat itu diamini sepenuhnya oleh kedua rois syuriah PWNU disebelahnya. Bahkan kyai Aliman menambahkan bhw hanya figur pak Hasyim yg terbukti bisa merekatkan kembali friksi-friksi yg terjadi di internal NU, baik yg di Jawa terlebih yg diluar Jawa. Kalau bukan pak Hasyim, dikhawatirkan keretakan dan perpecahan dlm tubuh NU, terutama dilevel PW dan PC akan menjadi tak terhindarkan. Terlebih “syahwat” berpolitik para kyai sekarang sdh menjadi fenomena jamak. Pak Hasyim kemdn menambahkan bgm sulitnya mengajak para kyai di Jawatimur utk memenangkan Khafifah sbg Gubernur bukannya mendukung gus Ipul sbg wakil gubernur. Menurut keyakinan beliau, sbnya para kyai tahu dan sadar sepnuhnya bhw memilih gubernur jauh lebih baik dari mendukung wakil gubernur bagi NU khususnya. Namun desakan “memperbaiki genteng pesantrennya yg bocor”, nyatanya, lebih utama dari bgm kemaslahatan umat ke depan. Banyak kyai yg dulunya membolehkan dan mendukung Megawati sbg presiden, tapi kini malah mengharamkan Khafifah jadi gubernur. Itulah NU. Demikian reportase yg bisa sy smpkan pada sobat-sobat milis. Smg dg ini sobat-sobat dpt memahami alasan yg menjadi dasar mengapa pak Hasyim “bersedia” menjadi ketum PBNU utk kali ketiganya, amin. Soal setuju atau tidak, monggo bapak moderator memoderatori letupan2 para anggotanya. Mungkin kita undang kyai Cholil Nafis utk menyeimbangi komentar yg ada krn beliau tahu betul siapa pak Hasyim, kadiponapah keh? Apakah Mubes Cirebon jilid 2 pra-Makassar masih relevan dipercikkan kembali atau tidak, mungkin kang Jadul, kang Suedi, cak Rumadi, kang Marjuki, cak Moqsith, kang Sahal, mas Luthfi en gus Tashim dan gus Nuruzzaman saget ngomentari, duspundi kang-cak-mas-gus? Ato kang doktor Miftah ‘Sorborne’, pripun kang? cak Inung, sang pakar waria kita yg dari kota reog Pornorogo, piye cak? Pak SEY? Terakhir, saya mohon maaf dan semoga bermanfaat…amin. [dikirim tgl 19 februari 2009]