Sobat yg terhormat,

Kemarin sy mendapatkan sms yg isinya cukup menarik: “PILIHLAH CALEG YANG TUA JANGAN YANG MUDA, BERIKANLAH KESEMPATAN PADA YANG TUA UNTUK BAYAR HUTANG AGAR TIDAK BEBANI YANG DITINGGALKAN…!” sebarkan ini sebagai amal jariyah anda !!!

Meski sms ini terkesan guyonan tapi ini merupakan gambaran dari realitas yg betul2 terjadi di masyarakat kita. Lembaga Legislatif bagi kebanyakan rakyat Indonesia saat ini difahami sbg ladang untuk mencari “MA`ISYATAN DLANKA” (: penghidupan yang tidak berkah) yg menggiurkan. Daripada berdagang atau menekuni profesi lama yg selama ini dirasa tdk maksimal dlm meningkatkan status sosial dan perolehan materi, tdk ada salahnya mencoba mendaftar sbg caleg, SIAPA TAHU dapat limpahan dari pemilih yg “salah” contreng, no body knows?! Mentalitas JUDI ini sdh menggejala di masyarakat kita. Sebuah mental “SIAPA TAHU” yang memangkas kehendak alam (nature of law, sunnatullah) utk berproses secara evolutif, step by step, menjadi melompat secara revolutif dg “hanya” bermodal (hutang) sekian puluh atau ratus jeti, tapi sdh bisa mendapatkan kehormatan, status sosial, fasilitas dan nerworking utk merintis jalan menjadi Alamin Nasution, Agus Tjondro, Yusuf Emir Feisal, Abd Hadi Jamal atau malah terperangkap nikmat surga ala Yahya Zaini…

Mentalitas JUDI yang berwatak INSTANT inilah yang selama ini menggerogoti kemandirian dan kehebatan bangsa ini. Bangsa ini sudah tidak perduli apakah negara ini akan ambruk apa tidak, yang penting saya senang, keluarga saya happy…

Nasionalisme sudah diartikan sebagai NARSISME. Bagi sebagian besar (utk tidak lancang mengklaim 99,99%) peduli kepada selain dirinya dan keluarganya adalah mimpi yang tidak pernah diharapkan terjadinya (nightmare).

Bangsa ini sudah ada pada stadium akut. Distrust sosial seperti yang dikhawatirkan oleh Fukuyama sepertinya kita saksikan tengah berlangsung. Lihatlah bagaimana para anggota dewan yang terhormat mengkritik habis-habisan kebijakan pemerintah. Lihat juga bagaimana pemerintah yang menuduh DPR menghambat dan selalu merecoki kinerja pemerintah. Dan kita saksikan bersama bagaimana kejaksaan dan mahkamah agung kejang-kejang kepanasan seperti krupuk yang digoreng menanggapi tuduhan masyarakat atas kinerja kedua lembaga itu dalam memfasilitasi semakin maraknya KKN…! Allahu Akbar!

Inilah warisan dari penguasa kita terdahulu yang patut dan harus kita sesali krn untuk merubahnya tdk cukup 1-2 generasi, tapi butuh 4-8 generasi atau potong satu generasi agar tdk nyambung dg yg sebelumnya dan sesudahnya, tapi mungkinkah???!! wallahu a`lamu bis shawab…Salam.