Kemarin saya posting tulisan soal Pilihlah Caleg Tua. Hari ini saya baca Jawa Pos online ternyata memuat berita yg tak kalah hebohnya. Puluhan dokter jiwa disiapkan bagi para Caleg yg bangkrut (lahir batin) krn tak terpilih. Meski berita ini dari Medan, tapi bisa dipastikan merupakan representasi dari seluruh nusantara. Inilah pernak pernik dari geliat menuju demokrasi. Selamat membaca!

Guna Tangani Politisi Stres, Puluhan Dokter Jiwa untuk Caleg MEDAN – Persaingan keras dalam pemilu berpotensi membuat stres para calon legislatif. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan para pemburu kursi wakil rakyat yang gagal terkena gangguan jiwa. RSJ (rumah sakit jiwa) Pemprovsu di Medan telah mengantisipasi bakal banyaknya politisi stres itu. RSJ tersebut telah mempersiapkan 30 orang dokter dan 200 perawat yang khusus mengantisipasi korban pemilu. ”Puluhan dokter dan ratusan perawat ini kami siapkan selama 24 jam,” papar Kepala RSJ Pemprovsu Dr Donald F. Sitompul SPKJ kepada wartawan Minggu (22/3). Dokter yang berjumlah 30 itu hanya yang siaga. Sebab, RSJ juga menyiapkan langkah untuk menambah perawat dan dokter bila pasien korban pemilu itu meningkat. Selain itu, 15 ruangan dengan daya tampung ratusan orang telah disiapkan. Para dokter yang disiagakan setiap saat siap melayani para caleg yang ingin berkonsultasi. ”Kami telah siap untuk menangani para caleg yang stres ataupun yang mengalami gangguan kejiwaan. Terus terang saja, selain untuk menangani langsung, kami para dokter siap untuk berkonsultasi,” jelas Donald. Menurut dia, berdasar laporan ataupun informasi yang masuk kepadanya, telah ada beberapa caleg yang rutin berkonsultasi kepada beberapa psikiater terkait kesehatan jiwanya. Apa komentar politikus? Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso mengakui, tekanan dalam dunia politik memang berat. Mereka yang tidak terbiasa bertempur di politik berpotensi menderita gangguan kejiwaan apabila didera kekalahan. ”Mungkin, itu lebih rentan bagi mereka yang nggak tahan banting,” kata Priyo yang juga caleg DPR di dapil Jatim I. Hal itu, kata Priyo, biasanya terjadi pada orang-orang yang baru memasuki gelanggang politik. Mereka yang sebelumnya terbiasa dengan dunia selebriti atau dunia yang sama sekali lain dengan dunia politik cenderung mudah kaget. Akibatnya, mereka akan drop dan kekhawatiran gangguan kejiwaan tersebut bisa terjadi. Namun, kata Priyo, kecil kemungkinan itu terjadi pada politisi yang berpengalaman. Mereka biasanya sudah tahan banting dan menganggap menang dan kalah soal biasa. ”Memang sih ada deg-degannya dan kejutannya. Ya, dinikmati saja dinamikanya. Itu yang bikin dunia politik tambah seru,” katanya. Memang, kata Priyo, energi dan sumber daya yang dikerahkan untuk pemenangan pemilu cukup besar. Besarnya dana pun membuat ekspektasi kemenangan semakin tinggi. Mereka yang tidak siap mengantisipasi kekalahan akan langsung drop. ”Maka, mereka yang bertahan di dunia politik adalah mereka yang fight. Dunia politik adalah dunia yang riil. Ini bukan dunia senda gurau dan dunia tempat orang nampang,” tegasnya. (aga/jpnn/tof)