Kata “humanisme” adalah salah satu istilah dalam sejarah intelektual ‎yang sering digunakan dalam berbagai bidang, khususnya filsafat, pendidikan, ‎dan literatur. Kenyataan ini menjelaskan berbagai macam makna yang dimiliki ‎oleh, atau diberikan kepada istilah ini. Meskipun berbagai pandangan ‎mengenai humanisme memang memiliki unsur-unsur kesamaan yang berkaitan ‎tentang konsern dan nilai-nilai kemanusiaan dan yang biasanya dimaksudkan ‎untuk mengangkat harkat dan martabat manusia, makna-makna yang ‎diberikan kepada istilah ini juga memiliki nuansa yang sangat berbeda, ‎tergantung pada kepentingan dan proyek-proyek yang direncanakan dan ‎diajukan.1‎ Menurut pandangan itu manusia bermartabat luhur, mampu menentukan ‎nasib sendiri, dan dengan kekuatan sendiri mampu mengembangkan diri dan ‎mencapai kepenuhan eksistensinya menjadi manusia paripurna. Pandangan ‎itu adalah pandangan humanistis, atau humanisme. Humanisme berasal dari ‎kata latin humanus dan mempunyai akar kata homo yang berarti ‘manusia’. ‎Humanus berarti ‘sifat manusiawi’, ‘sesuai dengan kodrat manusia’.2‎ Semula humanisme merupakan sebuah gerakan yang tujuan dan ‎kesibukannya adalah mempromosikan harkat, martabat, dan nlai-nilai ‎kemanusiaan. Sebagai aliran pemikiran etis yang berasal dari gerakan yang ‎menjunjung tinggi manusia, humanisme menekankan harkat, peranan, dan ‎tanggung jawab manusia. Menurut humanisme, manusia adalah makhluk yang ‎mempunyai kedudukan yang istimewa dan berkemampuan lebih dari makhluk-‎makhluk lain di dunia karena bersifat rohani.3‎ Sebagai makhluk yang memiliki kedudukan istimewa, manusia ‎merupakan makhluk yang lebih tinggi daripada ciptaan yang sekedar sensitif, ‎seperti binatang, yang vegetatif, seperti tumbuh-tumbuhan, atau yang sekedar ‎materiil, seperti benda-benda mati. Karena sifatnya yang rohani, manusia ‎mempunyai daya-daya rohani seperti cipta rasa karsa, dan rasa, yang tidak ‎ada pada makhluk-makhluk dibawahnya. Sifat dan kemampuan rohani itu ‎membawa konsekuensi. Manusia mampu berbuat dan harus bertanggung ‎jawab atas hidup dan tindakannya sendiri.‎ Dalam etika, hal itu berarti bahwa dengan pemikiran sendiri manusia ‎mampu menetapkan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik ‎dan mana yang jahat, mana yang berguna dan mana yang tidak berguna. ‎Dengan kemampuan sendiri, manusia mampu mempertanggungjawabkan ‎perilaku dan hidupnya. Dengan penglihatan sendiri, manusia mampu ‎menentukan arah dan tujuan hidupnya. Manusia tidak perlu wahyu atau ilham, ‎entah darimana asalnya, untuk menemukan baik dan jahat.4‎ Pendek kata, humanisme sebagai paham tentang manusia dan sebagai ‎pemikiran etis telah berjasa mengembalikan harkat dan martabat manusia, ‎menyadarkan potensinya, dan menandaskan tanggungjawabnya dalam ‎kehidupan. Namun pandangan humanistis berat sebelah, terlalu melihat segi ‎positif manusia saja. Menariknya, hampir segenap peradaban modern, ‎mungkin peradaban lainnya, selalu meletakkan ‘manusia’ sebagai subjek ‎otonom, pusat kesadaran dunia yang mempunyai ‘hak’ penuh secara bebas ‎mengembangkan kreativitasnya tanpa belenggu otoritas apapun, termasuk ‎otoritas agama. Pada konteks inilah, humanisme sebagai sebuah aliran ‎kefilsafatan yang menempatkan ‘kebebasan’ manusia; baik berpikir, bertindak ‎dan bekerja, sebagai segalagalanya, berpengaruh signifikan terhadap ‎munculnya bangunan peradaban modern (mungkin lainnya).‎ Persoalannya adalah bangunan peradaban yang meletakkan manusia ‎sebagai pusat dan ukuran semua ‘ada’ (beings) telah memunculkan sejumlah ‎problem serius justru terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang selama ini ‎diperjuangkan oleh humanisme itu sendiri. Epistemologi humanisme yang ‎bersandarkan diri pada kemampuan rasionalitas manusia dengan segala ‎otoritasnya-utamanya di abad modern ini- melahirkan problem akut ‎kemanusiaan; seperti penindasan, keterbelakangan, masalah lingkungan, ‎politik apartheid, tirani, peperangan yang berkepanjangan, bahkan kasus ‎genocide, sebagai pembunuhan total suatu bangsa oleh nazisme Hitler ‎terhadap orang-orang Yahudi, dan problem yang muncul kini justru sebaliknya, ‎bangsa Israel yang mayoritas penduduknya orang-orang Yahudi, melakukan ‎pembunuhan massal terhadap warga sipil Palestina di jalur Gaza.‎ Sisi lain modernitas5, juga mempunyai kontribusi yang besar terhadap ‎pengalienasian nilai-nilai kemanusiaan. Di tengah budaya modernitas, agama ‎‎(misalnya) terpojok antara ideologi-ideologi besar produk kemodernan yang ‎hanya menghasilkan kondisi-kondisi kemanusiaan yang terkooptasi oleh ‎aspek-aspek material yang berdampak pada nilai-nilai negatif yang dihasilkan ‎oleh sains dan teknologi yang bermuara pada destruksi, tanpa sanggup ‎memaknai kebaruan keberhasilan itu secara positif. Dampak yang paling nyata ‎lahirnya hedonisme, materialisme, individualisme, bahkan sosialisme juga ‎kapitalisme yang dibidani oleh kesanggupan manusia, termasuk tafsiran ‎manusia dalam memaknai kemanusiaannya.‎ Menariknya, di tengah ‘hiruk pikuk’ filsafat Barat Modern menancapkan ‎pengaruhnya secara hegemonil melalui penerapan tradisi kefilsafatan ‎humanisme ke dalam setiap kultur maupun struktur masyarakat (lain), ternyata ‎ia justru sedang dilanda sejumlah problem epistemologik yang mendasar. ‎Artinya, di tengah pengaruh yang cukup kuat dari tipikal epistemologi rasional ‎ke dalam ranah kognisi manusia, humanisme ternyata sedang dipertanyakan ‎kemampuannya untuk memanusiakan manusia. Alih-alih memberikan ‎penghargaan atas harkat dan martabat kemanusiaan, humanisme justru ‎menampilkan dirinya sebagai sebuah kebebasan (sains dan pengetahuan ‎serta logika) tanpa kendali yang mereduksi nilai-nilai kemanusiaan pada ‎tingkatan paling akut. Manusia yang dicoba diangkat dari keterasingannya ‎oleh Humanisme-Marxistis justru semakin terasing oleh produksi-produksi dan ‎kerja yang membelenggu, sementara humanisme liberal yang mencoba ‎membebaskan manusia dari pengaruh-pengaruh institusi birokrasi dan ‎dominasi gereja misalnya, justru menampilkan dirinya sebagai kekuatan tiranik ‎baru yang bersembunyi di balik terminologi ‘liberalisasi’.‎ Tidak berlebihan bila seorang pemikir Iran kontemporer Ali Syari’ati ‎melakukan dekonsturksi atas bangunan filsafat dua ’kerajaan besar’ ‎humanisme yaitu sosialisme (humanisme marxis) dan kapitalisme (humanisme ‎liberal) yang keduanya dianggap menyingkirkan filsafat kehidupan (batin) ‎manusia. Kritikan syari’ati yang demikian tajam atas ‘humanisme marxis’ ‎bermula sekali sejak syari’ati memergoki geneologi filsafat ini ternyata ‎diadopsi dari mitologi Yunani kuno.6 Sedangkan kritik Syari’ati atas humanisme ‎liberal (kapitalisme) sebagai berikut:‎ Ia adalah tukang sihir baru yang menyihir kemaanusiaan hingga masuk ‎ke dalam penjara baru roda-roda raksasa tak berbelas kasihan dari ‎mekanisme tekno-birokrasi. Dan manusia? Seekor binatang ekonomis yang ‎tugasnya hanyalah merumput dalam surga ini.’7‎ Kritik yang disampaikan Syari’ati tersebut pada dasarnya merupakan ‎implikasi logis dari segenap potensi negatif yang muncul dari penerapan ‎prinsip-prinsip humanisme modern. Prinsip-prinsip humanisme modern ‎tersebut bermula dari periode Renaissans yang merupakan awal ‎perkembangan sains dan teknologi, perluasan dan ekspansi perdagangan, ‎perkembangan wawasan modern tentang ‘humanisme’; sebagai bentuk ‎pendewaan rasionalitas dalam pemecahan masalah-masalah manusia.‎ Salah satu masalah yang kita hadapi dalam usaha pembangunan bangsa ‎kita dewasa ini adalah pembinaan mental. Yaitu, usaha peningkatan ‎kesanggupan rohaniah untuk menghayati segala segi kehidupan dan tata nilai ‎yang berlaku dalam masyarakat dengan tujuan mencapai kebahagiaan hidup ‎yang sebesar-besarnya. Humanisme sebagai sebuah aliran kefilsafatan; di ‎satu sisi sanggup memberikan kontribusi positif bagi kemajuan peradaban ‎manusia, yang mencoba memanusiakan manusia (humanisasi). Namun di sisi ‎lain, justru melahirkan pula situasi situasi dehumanisasi atas nilai-nilai ‎kemanusiaan. Paradoks ini yang tampak mengedepan dalam setiap ‎pembahasan perihal krisis (dalam) humanisme.‎ Kemajuan teknologi yang dicapai Barat saat ini, telah mengantarkan ‎mereka sebagai pemimpin dan sekaligus panutan ideal bagi bangsa-bangsa ‎dunia ketiga, termasuk Indonesia. Kebiasaan meniru bangsa yang lebih kuat ‎tidak terbatas dalam hal slogan, cara berpakaian, gaya hidup, dan adat ‎istiadatnya, tetapi juga mencakup cara mereka beragama. Bahkan, karena ‎silaunya terhadap barat, banyak sekali para plagiat kebudayaan meniru gaya ‎hidup orang-orang Eropa dalam hal apa saja, tanpa berpikir apakah itu baik ‎atau buruk, pahit atau manis. Sehingga tidak aneh, bila kemudian ada ‎sebagian kecil tokoh Islam yang berusaha mencocok-cocokkan ajaran dan ‎khasanah Islam, seperti tafsir, fikih dan teologi dengan nilai-nilai barat modern, ‎termasuk paham humanismenya. Padahal, Ibnu Khaldun (1332-1406M) secara ‎kritis telah menganalisis kebiasaan buruk ini di kalangan bangsa pecundang ‎dalam bukunya al-mukaddimah.‎ Tradisi fikih dalam perkembangan lebih lanjut, khasanah keilmuan Islam ‎yang memperjelas ruang lingkup fikih dari ilmu-ilmu lainnya, Imam Syafii ‎mendefinisikan fikih sebagai ilmu yang menjelaskan secara praktis hukum-‎hukum syari’at, yang disimpulkan dari dalil-dalilnya yang rinci. Fikih bersumber ‎dari teks-teks wahyu (Al Qur’an Dan Sunnah), baik petunjuk lafadznya yang ‎bersifat pasti maupun praduga yang kuat.8 Para ulama fikih yang bermartarbat, ‎sejak dulu mengabdikan umurnya untuk memecahkan persoalan-persoalan ‎implementatif yang pelik seputar hukum Islam yang terekait dengan petunjuk ‎lafadz dalam sebuah ayat dan hadits. Sehingga dalam hal ini, mereka pun ‎sepakat untuk menempuh metode apabila hadits itu sahih, maka itulah ‎madzhabku.‎ Dalam fikih, petunjuk lafadz menjadi kajian sentral. Sebagai contoh ‎lafadz perintah dalam Alqur’an, tidak selalu bersifat wajib atau sunnah tetapi ‎ada yang bersifat mubah. Terkadang petunjuk lafadz yang bersifat wajib pun, ‎menghasilkan pendapat yang berbeda di antara ulama fikih. Sebagai contoh ‎dalam mementukan orang yang berzina tapi belum menikah, apakah wajib ‎diasingkan selama setahun setelah dicambuk. Mayoritas ulama ‎mewajibkannya, sedangkan Abu Hanifah tidak. ‎ Namun tidak satupun ulama yang bermartabat sejak dulu hingga ‎sekarang, yang memandang bahwa hukuman pezina itu (baik yang telah ‎menikah atau belum) adalah kejam, tidak etis, dan diganti dengan pemberian ‎pekerjaan.9 Rasionalisasi ‘menghukum’ pelacur dengan ,memberikan ‎pekerjaan tidaklah realistis. Sebab, sejauh ini belum ada pemberitaan bahwa ‎seorang pelacur yang miskin menjadi kaya raya, lalu berhenti melacur. Tetapi ‎sebaliknya, yang jamak terjadi bahwa berhentinya melacur karena faktor usia ‎atau terkena AIDS. Maka maraknya pelacuran lebih disebabkan pilihan dan ‎hobi, bukan ekonomi.‎ Fikih pada dasarnya adalah ijtihad yang dilakukan oleh manusia-manusia ‎alim dan pilihan terhadap teks-teks wahyu untuk mempermudah konteks ‎pelaksanaannya di setiap ruang dan waktu. Ijtihad senantiasa terbuka bagi ‎mereka yang telah memenuhi kriteria dan syarat berijtihad. Namun demikian, ‎ijtihad selalu mengacu pada teks wahyu. Konteks dan kondisi manusia tidak ‎bisa serta-merta mengubah teks wahyu, kecuali ada penjelasan dari teks ‎tersebut yang membolehkannya.. contoh, larangan makan babi bisa tidak ‎berlaku bagi orang yang sangat darurat. Pembolehan makan babi bagi mereka ‎yang darurat ini juga dijelaskan dengan teks dan sifatnya hanya terbatas untuk ‎mempertahankan kelangsungan hidup.‎ Dengan demikian tidak dapat dibenarkan bahwa karena fikih produk ‎manusia, maka sifatnya kondisional dan bisa seenaknya diubah total karena ‎tidak sesuai nilai-nilai humanisme dan kultur Barat sekarang, misalnya. ‎Dengan alasan yang dangkal ini tentunya akan ditertawakan banyak orang, ‎jika kita menolak teori gravitasi bumi, karena teori ini diciptakan manusia. ‎Isaac Newton hanyalah menyimpulkan dari fenomena yang sering dilihatnya. ‎Demikian juga para ulama fikih melakukan pengamatan serupa terhadap teks ‎wahyu.‎ Inilah keunikan Islam sebagai agama wahyu yang final dan universal. ‎Semua ajarannya berangkat dari teks wahyu, karena memang teksnya tidak ‎bermasalah, baik dari sisi redaksi, susunan, dan keasliannya. Ini berbeda ‎dengan agama-agama lain yang masih memperdebatkan ketiga unsur ini dalam ‎kitab sucinya yang pada akhirnya memaknai wahyu sebatas inspirasi Tuhan ‎dalam redaksi bahasa manusia. Oleh sebab itu, mereka memerlukan metode ‎kritik sejarah dan kontekstualisasi liberal agar teksnya bisa diterima. Maka ‎wahyu bagi mereka bersifat lokal, kondisional, dan selalu berevolusi sesuai ‎ruang dan waktu.‎ Sayangnya ada segelintir tokoh Islam yang mengecilkan peran ulama ‎fikih. Bahkan ada yang mengatakan, “fikih yang disusun di dalam masyarakat ‎yang dominan laki-laki, seperti di kawasan Timur Tengah ketika itu, sudah ‎barang tentu akan melahirkan fikih bercorak patriarki.10Tidak hanya fikih ‎bahkan AlQur’an pun didudukkan sejajar dengan naskah-naskah lainnya, ‎sehingga layak dipertanyakan asal-usul dan keasliannya.11Serta mencurigai ‎Tuhan karena telah menggunakan bahasa Arab yang cenderung bias jender ‎sebagai media untuk menyampaikan ide-ideNya.‎ Ulama adalah penyangga moral suatu bangsa. Imam Ghazali dalam ‎Ihya’-nya mengibaratkan ulama seperti garam di Bumi. Maka apalagi yang ‎dapat membersihkan garam, bila garam telah tercemari?. Seterusnya beliau ‎juga mengibaratkan ulama seperti dokter. Tapi ketika dokter pun sakit berat, ‎siapa lagi yang dapat mengobati pasien?. Oleh sebab itu, telah tiba masanya ‎bagi umat Islam kembali membekali dirinya dengan tradisi tahafut yang telah ‎ditumbuhkan oleh Imam Al Ghazali melalui karyanya, Tahafut Al Falasifah. ‎Sehingga umat Islam dapat mengenal pasti apa yang menjadi masalah mereka ‎dan apa yang hanya ditampilkan seolah-olah ia adalah masalah mereka, ‎padahal sebenarnya adalah masalah umat agama-agama lain.‎ Dengan demikian umat Islam tidak akan pernah terputus dari akar ‎khazanah keilmuan Islam yang bersumber dari Alqur’an dan Sunnah. Inilah ‎sanad ber-Islam yang harus diwariskan dari generasi ke generasi. ‎Terputusnya rantai sanad, ibarat anak ayam yang ditetaskan dari lampu listrik, ‎tidak tahu siapa induknya. Sehingga pada akhirnya tumbuh sebagai generasi ‎yang tidak beradab, baik kepada Tuhan, nabi dan agamanya. Umat harus ‎sadar, bahwa pengliruan terhadap ajaran Islam dilakukan secara serius dan ‎sistematis. Maka sudah menjadi sebuah keharusan bagi umat untuk selalu ‎waspada terhadap wacana-wacana yang berkembang. Perlu ditekankan disini ‎bahwasannya ‘waspada’ bukan berarti menolak, akan tetapi bersikap selektif ‎terhadap upaya-upaya kalangan non-Islam, dalam upayanya melakukan ‎pengliruan terhadap ajaran Islam.‎

Endnotes:‎ ‎1 Thomas Hidya Tjaya, Humanisme dan Scholatisisme,(Yogyakarta: Kanisius, 2004), hlm. 17.‎ ‎2 A. Mangunhardjana, Isme-Isme dari A sampai Z, (Yogyakarta: Kanisius, 1997), hlm. 93.‎ ‎3 Ibid.‎ ‎4 ibid, hlm.94.‎ ‎5 Baca: sebagai salah satu keberhasilan ‘proyek’ humanisme ‎6 sebagaimana yang dia katakan: kekeliruan paling besar dan mengharukan yang dilakukan ‎humanisme modern sejak diderot dan Voltaire, sampai feurbach dan marx adalah karena mereka ‎menyamakan dunia mitos yunani kuno, yang tetap berada dalam batas-batas alam material, ‎dengan dunia suci spiritual agama-agama purba besar. Mereka membandingkan, bahkan ‎menggeabungkan menjadi satu, hubungan manusia terhadap Zeus dengan hubungannya ‎terhadapahuramazda, rama, tao, isa dan allah.‎ ‎7 http//karlmarx.edu.uk ‎8 http//www.insist.com ‎9 lihat artikel di opini Republika edisi 5 Juli 2007, Fikih Berwawasan Etika).‎ ‎10 Nazaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Jender, Paramadina, 2001:292).‎ ‎11 Ibid.hlm.265.‎