Ketika mendengar istilah filsafat, maka biasanya yang terbayang adalah satu disiplin ilmu yang elit, yang susah dipahami, yang rumit, yang hanya orang-orang tertentu yang memiliki kapasitas intelektual tinggi yang mampu menjangkaunya. Dari asumsi yang ‘khusus’ tentang filsafat ini, maka dalam kehidupan sehari-hari berbagai mitos tentang filsafat banyak beredar; seperti: kita jangan terlalu serius belajar filsafat, bila orang tidak kuat, ia akan menjadi gila, akan menjadi atheis, akan menjadi sosok yang a-sosial, belajar filsafat hanya akan menjauhkan dari agama, menjadi filsuf berarti menjadi seorang pemikir yang ‘tidak membumi’, yang ngeyel, yang suka aneh-aneh, dan lain sebagainya. Apakah benar demikian?
Istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani : ”philo-sophia” yang secara harafiah berarti “cinta kebijaksanaan”. Seiring perkembangan jaman akhirnya dikenal juga dalam berbagai bahasa, seperti : ”philosophic” dalam kebudayaan bangsa Jerman, Belanda, dan Perancis; “philosophy” dalam bahasa Inggris; “philosophia” dalam bahasa Latin; dan “falsafah” dalam bahasa Arab.
Adapun Pengertian filsafat secara terminologi sangat beragam. Para filsuf merumuskan pengertian filsafat sesuai dengan kecenderungan pemikiran kefilsafatan yang dimilikinya. Seorang Plato mengatakan bahwa filsafat adalah pengetahuan yang bertujuan mencapai pengetahuan kebenaran yang asli; sedangkan muridnya Aristoteles berpendapat kalau filsafat adalah ilmu yang meliputi kebenaran yang terkandung didalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika. Lain halnya dengan Al Farabi yang berpendapat bahwa filsafat adalah ilmu (pengetahuan) tentang hakikat alam maujud yang sebenarnya. Sementara itu Imanuel Kant ( 1724 – 1804 ) menyatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang didalamnya tercakup empat persoalan: 1. Apakah yang dapat kita kerjakan? (jawabannya metafisika ), 2. Apakah yang seharusnya kita kerjakan? (jawabannya Etika ), 3. Sampai dimanakah harapan kita? (jawabannya Agama ), 4. Apakah yang dinamakan manusia ? (jawabannya Antropologi ). Dari semua pengertian filsafat secara terminologis tersebut, biasanya secara umum orang menyimpulkan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan sungguh-sungguh, serta radikal sehingga mencapai hakikat segala sesuatu tersebut.
Secara umum, tugas-tugas yang harus dilakukan seorang filsuf itu tidak terlepas dari tiga hal berikut:

1. Clarifying concepts (memperjelas konsep)
Filsafat menghendaki segala aspek kehidupan manusia berjalan dalam keterarahan, tidak asal-asalan dan bertujuan. Harus diakui bahwa dalam banyak hal manusia hidup serba mekanis dan rutin. Tentunya syarat pertama untuk bisa mencapai hal ini adalah kemampuan untuk memahami segala yang dihadapi dan dilakukannya sebelum ia mengambil kesimpulan atau keputusan tertentu.
Dalam keseharian ternyata kita lebih banyak menerima begitu saja segala sesuatu yang ‘berkeliaran’ dihadapan kita dan menyikapinya seperti orang lain, tanpa berusaha mencari kejelasan apa sebenarnya yang berkeliaran tersebut. Pernahkah anda mencoba untuk serius berpikir apa yang dimaksud presiden itu? Apa yang dikehendaki dengan dewan perwakilan rakyat itu? Apa yang dimaksud dengan gotong-royong itu? Apakah yang dipahami setiap orang dengan kasih-sayang? Apa beda antara makna menyayangi atau mengasihani? Kalau anda sering mengkhotbahkan kemakmuran, apakah kemakmuran itu? Bagaimana ukuran makmur dan tidak itu? Dan lain sebagainya.
Ketidak-jelasan konsep akan berakibat segala upaya refleksi anda menjadi sia-sia, karena antara yang anda pikirkan dengan kondisi yang sebenarnya, tidaklah sama. Pemahaman yang berbeda jelas akan mengimplikasikan penyikapan yang berbeda. Anda yang memahami DPR sebagai wakil rakyat pasti berbeda penyikapannya dengan anda yang melihat DPR sebagai pemimpin rakyat. Anda yang memahami kasih-sayang sebagai perhatian yang intensif pasti berbeda ekspresi dengan anda yang memahami kasih sayang sebagai pemenuhan kebutuhan. Anda yang memahami kemakmuran dengan terpenuhinya kebutuhan lahir, pasti sangat berbeda sikapnya dengan anda yang memahami kemakmuran sebagai terpuaskannya masyarakat dengan kondisi yang saat ini sedang berjalan. Kalau konsep yang anda miliki tidak jelas, maka segala refleksi anda tidak akan sampai kepada kebenaran, karena dengan konsep yang salah berarti anda sedang menempuh jalur yang berbeda, keluar dari fokus permasalahan yang sebenarnya.

2. Constructing Arguments (menyusun argumen-argumen)
Ketrampilan kedua yang harus dimiliki oleh seorang filsuf adalah kemampuan menyusun argumen. Kemampuan ini diperlukan karena disamping memahami atau menjelaskan sesuatu secara tepat dan proporsional, seorang filsuf juga dituntut untuk tidak memutuskan atau melakukan sesuatu tanpa dasar. Di sisi lain, kepemilikan argumen juga sangat berguna ketika keputusan sudah diambil dan sang filsuf harus berani mempertanggung-jawabkan apa yang diputuskan dan dilakukannya tersebut. Dalam dua hal inilah diperlukan yang namanya argumen.
Kemampuan menyusun argumen inilah yang bisa dipakai oleh filsuf untuk membebaskan dirinya dari sikap ikut-ikutan atau melakukan sesuatu tanpa dasar sebagaimana terjadi pada banyak orang. Dengan memiliki argumen yang kuat dan tepat, seorang filsuf dapat dikatakan memiliki kesadaran dan pengetahuan yang lebih dibandingkan mereka yang sekedar ikut-ikutan saja, meskipun seandainya bentuk keputusan dan tindakan yang diambil adalah sama dengan orang yang sekedar ikut-ikutan itu.
Yang perlu dicatat disini adalah: ketrampilan menyusun argumen ini harus tetap berada dalam kerangka bersikap kefilsafatan yang bercirikan for truth only, hanya demi kebenaran. Jadi argumen disusun sebagai pembuktian atau pendukung terhadap kebenaran sesuatu, kebenaran yang ditemukan dalam refleksi kefilsafatan. Jangan sampai kemampuan untuk menyusun argumen ini kemudian disalahgunakan sebagai sarana untuk justifikasi atau pembenaran terhadap apapun yang anda putuskan, baik keputusan itu benar atau salah. Hal ini perlu diperhatikan karena ternyata banyak orang yang berada di jalur filsafat ini dengan kemampuan menyusun argumen kemudian bersikap menang-menangan, tidak mau kalah. Apapun yang dikatakannya pasti benar dan harus diikuti. Seandainya kemudian ada orang menunjukkan kesalahan pikirannya, maka ia akan sekuat daya menyusun argumen untuk menunjukkan bahwa dirinyalah yang benar, tidak peduli apakah pandangannya itu memang benar ataukah jelas salah. Dengan bersikap seperti ini sebenarnya dia telah keluar dari misi utama filsafat untuk menggapai kebenaran, sehingga sikap ngeyel seperti ini tidaklah filosofis, dan jelas pemiliknya tidak dapat dikatakan sebagai penduduk dunia filsafat.

3. Analyzing (Menganalisis)
Disamping kemampuan untuk menyusun argumen, seorang filsuf juga harus mahir membaca, memahami dan menempatkan obyek permasalahan yang sedang dikajinya dalam porsi dan proporsi yang tepat, dan untuk ini diperlukan kemampuan analisis.
Ketepatan dalam memahami dan membaca persoalan, lalu meletakkannya dalam porsi dan proporsinya yang sesuai akan membawa kepada kejelasan konsep, kebenaran penyimpulan dan tentunya memudahkan dalam penyusunan argumen. Itulah mengapa dapat dikatakan bahwasanya kemampuan melakukan analisis ini merupakan modal paling besar yang harus dimiliki oleh seorang filsuf.
Banyak orang yang belajar filsafat dan ingin menjadi filsuf berpandangan bahwa berfilsafat itu cukup dengan mengasah akal budi-intelejensinya untuk memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi. Dengan pandangan ini kemudian disimpulkan bahwa cukuplah bagi seseorang itu dengan memahami metodologi bernalar atau berefleksi yang benar untuk sampai kepada kebenaran. Pandangan ini tidaklah salah, tetapi kurang lengkap. Disamping kemahiran untuk berpikir, bernalar atau berefleksi, seorang filsuf juga dituntut untuk pandai dan mampu membaca persoalan dan menempatkannya dalam proporsi yang tepat, dan untuk hal inilah diperlukan kemahiran analisis permasalahan. Jadi dalam menghadapi persoalan tidak boleh tiba-tiba kita mencari jalan keluarnya dengan mengandalkan nalar rasional saja, tetapi sebelum itu kita harus mampu memahami dan memetakan persoalan yang dimaksud dalam proporsinya yang sesuai.

******

Filsafat—jika dilihat dari karakter kajiannya—dapat dikatakan merupakan sebuah tantangan; tantangan kepada setiap orang untuk tidak hidup secara mekanis, ikut-ikutan, taklid dan ‘mengalir’ tanpa tahu kemana, untuk apa, dan mengapa. Seorang empu filsafat yang bernama Socrates pernah mengatakan satu jargon yang sangat dikenal di dunia filsafat, yaitu “the unexamined life is not worth living” (Hidup yang tidak diuji adalah kehidupan yang tidak berharga). Hidup tidak boleh dibiarkan mengalir begitu saja, tidak boleh dibiarkan berjalan apa-adanya tanpa tahu harus kemana, atau untuk apa, atau mengapa harus demikian. Hidup harus diuji, harus diketahui, direncanakan dan dipahami, kemudian dijalankan dalam alternatif terbaiknya. Nah, cara paling jitu untuk menguji hidup itulah yang menjadi bidikan utama filsafat. Louis O. Kattsoff dalam Pengantar filsafat-nya berkata, “filsafat membawa kita kepada pemahaman. Dan pemahaman membawa kita kepada tindakan yang lebih layak”.
Ada sebuah gambaran menarik yang diberikan oleh Jostein Gaarder dalam bukunya yang berjudul Sophie’s World, tentang perbedaan seorang filsuf dan bukan filsuf. Kata Gaarder, seandainya misteri-misteri dunia ini digambarkan sebagai hasil dari pekerjaan seorang tukang sulap (si tukang sulap ini bisa saja disebut sebagai Tuhan), dan dunia ini digambarkan seperti seekor kelinci yang keluar dari topi sang pesulap itu, maka manusia bisa dikatakan sebagai serangga-serangga kecil yang hidup di sela-sela bulu kelinci yang berusaha untuk memanjat helai-helai bulu kelinci untuk dapat mengetahui kelinci, topi dan tentunya jika mampu mengetahui juga si pesulap itu sendiri.
Tantangan untuk menguji hidup ini tampaknya semakin menemukan relevansinya di saat ini, jaman dimana kemajuan teknologi dan globalisasi informasi tidak hanya telah menjadi santapan sehari-hari manusia, tetapi juga telah ‘menyetir’ hampir semua aspek kehidupan manusia. Hampir semua orang di masa kini setiap hari ‘disetir’ kemauan, keinginan, sampai kebutuhannya, oleh media-media informasi, baik yang berskala lokal, regional, nasional maupun global. Mulai model rambut, merek mobil, lagu favorit, tokoh idola, jenis telepon seluler sampai aturan ketatanegaraan mengalami gejala ini. Budaya manusia menjelma menjadi ‘budaya populer’; apapun dan siapapun yang populer, itulah yang akan menjadi kiblat semua orang.
Termasuk diantara budaya populer yang mengglobal itu misalnya pandangan-pandangan yang sengaja disusun untuk tujuan tertentu dan mempengaruhi banyak orang; misalnya: ikutlah Partai A kalau anda ingin hidup sejahtera; kuliahlah di universitas B agar bisa dapat pekerjaan segera; pakailah parfum C agar dapat pacar ganteng; pakailah baju merk D dan anda akan berselera muda; makanlah di restoran E maka anda akan terlihat romantis; dengan menonton film F berarti anda tidak ketinggalan jaman; dan lain sebagainya, termasuk yang paling membingungkan saya adalah: pakailah dasi agar anda tergolong kalangan eksekutif! Budaya yang populer mengindikasikan gaya hidup yang ikut-ikutan dan kehilangan daya kritis untuk berpikir secara mandiri.
Di sisi lain, mekanisasi hidup juga semakin terlihat dalam keseharian setiap orang. Pagi bangun, sarapan, berangkat kerja, pulang sore, nonton TV, tidur, bangun, sarapan, berangkat kerja…dan seterusnya, tidak ada bedanya dengan robot atau program komputer. Apel ke tempat pacar malam Minggu, senam kesehatan jasmani setiap Jum’at, main tenis setiap selasa, cukur rambut sebulan sekali setiap tanggal 15, dan lain sebagainya. Bahkan sampai urusan makan pun menjadi mekanis; orang harus makan tiga kali sehari, baik dia dalam kondisi lapar atau kenyang, yaitu jam 7 pagi, jam 1 siang dan jam 7 malam. Kalau sudah jam 1 siang harus makan siang, meskipun antara jam 7 sampai jam 1 itu terus menerus nyemil dan masih kenyang. Jadi kalau ada pertanyaan mengapa anda makan? Jawabannya pasti: “karena sudah jam makan”; bukan karena sudah lapar.
Secara umum harus dikatakan bahwa sebagian besar manusia hidup dalam ‘kemapanan’, status quo, sungai kehidupan yang airnya tidak mengalir, tidak berkembang secara kualitatif, tidak mampu memberlakukan semboyan ‘hari ini harus lebih baik dari kemarin, hari esok harus lebih baik dari hari ini’. Banyak orang seakan mandeg, menjadi robot. Kalau melihat hal ini, mungkin sang empu filsafat yang bernama Socrates tadi akan menangis—atau jangan-jangan malah tertawa. Apalagi jika melihat betapa banyak orang yang merasa ‘serba tahu’ akan kehidupannya tanpa dia sadari bahwa sebenarnya dirinya tidak tahu apa-apa, hanya sekedar ikut-ikutan dan membuntuti orang-orang di sekitarnya saja. Kata Socrates dalam Apology yang ditulis oleh muridnya, Plato:
Banyak diantara kita yang tidak tahu apa itu keindahan atau kebajikan, tetapi mereka menganggap telah tahu, padahal sebenarnya tidak tahu apa-apa; sementara saya, kalau tidak tahu apa-apa tidak akan pernah merasa sudah tahu. Maka kelihatannya saya sedikit lebih bijaksana dibandingkan mereka, sejauh saya tidak pernah membayangkan bahwa saya sudah tahu tentang sesuatu yang saya sama sekali tidak tahu.
Siapakah saya? Mengapa saya ada? Apa bedanya saya dengan yang lain? Untuk apa saya hidup? Bagaimana saya harus hidup? Dari mana asalku? Kemana nantinya tujuanku? Apa yang harus saya lakukan dan apa yang jangan saya lakukan? Sudah tepatkah yang saya lakukan selama ini? Benarkah pengetahuan saya tentang hidup yang saya punyai selama ini?; secara umum pertanyaan-pertanyaan inilah yang biasanya dilacak jawabannya secara serius oleh para filsuf untuk ‘menguji hidup’ mereka.
Berbagai jawaban telah diberikan terhadap pertanyaan ini, dan sekarang giliran anda untuk menjawab pertanyaan ini. Jangan takut atau merasa tidak mampu, karena sebenarnya setiap orang mampu melakukannya. Jangan takut atau minder membaca atau melihat berbagai pandangan yang ‘serba tinggi’, ‘serba ruwet’ atau ‘serba njlimet’ yang diberikan oleh para filsuf terhadap kehidupan mereka sendiri-sendiri. Andalah yang paling tahu kehidupan anda sendiri, bukan mereka. Jalanilah ujian ini untuk kehidupan anda sendiri, karena dengan berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, berarti anda sudah memulai untuk membuat hidup anda sendiri berharga, lebih bermakna. Jadilah filsuf, setidaknya filsuf tentang diri anda sendiri. Kenalilah Dirimu, itulah jargon lain dari Socrates.
Maka sebenarnya, kehadiran filsafat adalah untuk menantang kita, beranikah kita mempertanyakan dan menguji kembali segala yang selama ini kita anggap ‘sudah semestinya demikian’? Mengapa harus makan sehari tiga kali? Mengapa tidur harus sekitar delapan jam sehari? Mengapa di pagi hari harus mandi? Mengapa jam kantor harus dimulai pukul delapan? Mengapa anak kecil tidak boleh berbicara sambil menatap mata orang dewasa? Mengapa wanita harus ‘diakhirkan’ atau ‘didahulukan’ dalam berbagai urusan? Mengapa harus lelaki yang berkewajiban mencari nafkah? Mengapa harus wanita yang mengurusi urusan rumah tangga? Mengapa harus ada negara? Mengapa orang harus beragama? Mengapa orang butuh ikatan perkawinan?, dan seterusnya.
Beranikah kita menjawab tantangan filsafat ini? Mungkin tidak semuanya berani, karena harus diakui bahwa hampir semua manusia dalam kehidupannya hanyalah sekedar ‘membebek’ saja terhadap berbagai tradisi yang selama ini sudah berjalan ‘mapan’. Menguji kembali berbagai hal yang selama ini berjalan mapan seringkali akan menempatkan anda berseberangan dengan mayoritas orang, dan resiko untuk ini tidak kecil. Socrates sendiri yang menganjurkan dan mempopulerkan tantangan ini harus menemui ajalnya setelah dipaksa minum racun oleh pengadilan Athena karena tuduhan merusak akidah anak-anak muda saat itu. Dan banyak contoh tentang mereka yang mencoba mencari alternatif baru dari cara pandang yang ‘mapan’ semacam ini harus menelan berbagai resiko pahit; mulai dicemooh, dicap menyeleweng, kafir, pemberontak sampai yang harus menjalani hukuman mati, dengan tuduhan utama: mendobrak kemapanan.
Meskipun kelihatannya sederhana, apabila ditelaah dengan lebih mendalam, orang akan menjadari bahwa sekedar semboyan ‘ujilah hidupmu’ tersebut tidak sesederhana pada mulanya. Nantinya dalam sejarah anda akan melihat bahwa slogan sederhana ini bisa menjungkurbalikkan tatanan kehidupan manusia yang telah mapan meskipun sebenarnya tujuan akhir dari penjungkirbalikan ini –seperti yang dimaui oleh Socrates sendiri– adalah untuk membawa dunia ke arah ketertiban yang tingkatnya lebih tinggi; yaitu ketertiban yang diiringi dengan kesadaran serta kepedulian dan pemahaman manusia terhadap kehidupan mereka sendiri. Manusia tidak boleh hidup hanya dengan mengandalkan rutinitas, ikut apa kata orang, merasa tahu padahal tidak tahu, dan merasa bisa padahal belum tentu. Manusia harus disadarkan dan dibangunkan dari keseharian yang membuat mereka terlena dan tidak suka ambil pusing terlalu dalam dengan segala yang mereka lakukan dan mereka pikirkan. Manusia harus digugah dari ketenggelaman mereka dalam kesibukan duniawi yang membuat mereka tidak lagi peka terhadap baik-buruknya, benar-salahnya, dan layak-tidak layaknya apa yang mereka pikirkan, mereka lakukan dan mereka angankan. Dengan melakukan re-evaluasi terhadap hidup inilah manusia akan menemukan kebermaknaan kehidupannya, bukan sekedar menjadi komponen dalam sebuah mesin besar yang tidak punya nilai tawar dan nilai pilih selain hanya ikut berjalan sesuai program tertentu yang telah dipatenkan.
Bermaknanya hidup dan berharganya hidup, itulah kiranya tawaran paling menarik dari makhluk yang namanya filsafat ini. Dan jangan dianggap remeh, karena kebermaknaan hidup inilah yang esensial bagi manusia. Bisa disebut manusia atau tidak terletak dalam bagaimana seseorang bisa memberi makna kepada hidupnya sendiri dan hidup dalam kebermaknaan itu; dan kebermaknaan inilah hal paling asasi yang membedakan manusia dengan binatang.
Dalam berbagai kesempatan diskusi tentang perbedaan manusia dengan binatang ini orang biasanya akan menjawab bahwa perbedaan manusia dan binatang itu terletak pada rasionya, kemampuan berpikirnya. Rasio dalam hal ini sering didefinisikan sebagai kemampuan berpikir yang khas manusia untuk memilih dan menentukan sendiri, atau untuk menyadari keberadaan dirinya, atau menyadari adanya tanggung jawab terhadap tindakan yang dilakukannya. Sebenarnya apabila dicermati, dalam kualitas tertentu binatang pun memiliki hal yang disebut itu. Anjing penjaga yang patuh dapat dikatakan memiliki tanggung jawab, induk ayam yang melindungi anak-anaknya dapat dikatakan memiliki tanggung jawab sekaligus kesadaran sebagai seorang ibu, monyet yang dididik main sirkus, tikus eksperimental yang bisa melewati jebakan-jebakan, dapat dikatakan memiliki kemampuan untuk ‘memilih’ dan memutuskan jalan yang aman dan harus ditempuhnya, dan banyak contoh yang lain menunjukkan bahwa dalam aspek ini manusia pada dataran ekspresifnya tidak sangat jauh berbeda dengan binatang, meskipun tentunya dalam kualitas yang sangat rendah, karena binatang lebih mengandalkan instink bertahan hidupnya, sementara manusia memiliki potensi perkembangan. Bahkan ada kalanya—dalam hal ini– manusia jatuh ke dataran lebih rendah dari kualitas kelas rendah yang dimiliki binatang tadi; misalnya bagaimana pertanggungjwaaban seorang satpam yang maling di kantornya sendiri, pejabat pemerintah yang korupsi, ibu yang membuang anaknya, pemimpin yang mengkhianati orang yang memilihnya, dan lain sebagainya.
Maka sebenarnya perbedaan paling esensial antara manusia dan binatang terletak pada kemampuannya memaknai hidup, mengatur hidupnya agar tidak terjebak dalam kesia-siaan. Untuk bisa membuat hidupnya bermakna pertama-patama orang harus menyadari dulu apa yang harus dan seharusnya ia lakukan, sekaligus mampu memahami benar-salah, baik-buruk atau layak-tidak layaknya yang ia lakukan itu. Dengan kesadaran dan pemahaman ini maka hidup yang dijalaninya akan memiliki ‘harga’, bernilai untuk dibela dan dipertanggung-jawabkan.
Melalui kemampuan memaknai hidup inilah manusia diharapkan mampu melepaskan dirinya dari jeratan mekanisasi hidup dan cara pandang dan perilaku yang stereotipe tentang hidup. Kemiskinan, kekayaan, ketertindasan, kemerdekaan, kebahagiaan dan juga kesedihan dalam kehidupan pada dasarnya adalah persoalan pemaknaan hidup, bagaimana manusia memaknai hidupnya sendiri. Dan untuk bisa melakukan itu, filsafat menawarkan dirinya sebagai kendaraan. Kenalilah Dirimu.
Mungkin membaca misi filsafat yang mendorong setiap orang untuk menguji hidupnya sendiri membuat anda takut kepada filsafat, atau memiliki ketidak-setujuan tertentu kepada filsafat. Boleh saja jika kemudian karena ketidak-setujuan itu anda bertekad untuk tidak melibatkan sama sekali filsafat dalam hidup anda, tetapi anda perlu mencatat bahwa setiap orang, termasuk anda, sebenarnya berhak dan layak untuk masuk dan bergelut dalam dunia filsafat. Setidaknya, setiap orang memiliki filosofi hidup sendiri-sendiri; misalnya ada orang yang memiliki prinsip hidup ‘kuliah dulu-baru menikah’, ‘pacaran boleh asal tidak kebablasan’, ‘jangan sampai saya tidak jujur kepada orang tua’, ‘berbohong asal membawa keuntungan itu tidak apa-apa’, ‘setiap tindakan harus menghasilkan uang’, ‘mangan ora mangan sing penting kumpul’, atau ‘kumpul ora kumpul sing penting mangan’, atau ‘lebih baik mati dari pada malu’, dan mungkin ada pula yang memiliki filosofi ‘lebih baik malu dari pada tidak punya duit’. Itulah filosofi hidup.
Filosofi tersebut tentunya sangat mempengaruhi gaya hidup setiap orang, meskipun sayangnya banyak orang tidak menyadari hal ini sehingga tidak mampu untuk berintrospeksi diri dan melakukan re-evaluasi terhadap segala filosofi hidup yang dimilikinya. Kalau anda memutuskan untuk sama sekali tidak melibatkan diri dengan filsafat berarti anda membiarkan segala filosofi hidup anda itu mempengaruhi anda, menyetir hidup anda, tanpa anda benar-benar memahaminya mengapa harus demikian? Sudah tepatkah sikap dan filosofi anda tersebut? Apakah filosofi hidup semacam itu masih relevan dengan kehidupan anda? Tidak adakah filosofi hidup lain yang lebih benar, baik dan tepat?
Seorang tokoh filsafat, Karl Popper, pernah berkata:
Saya rasa, kita semuanya mempunyai filsafat dan bahwa kebanyakan dari filsafat kita itu tidak bernilai terlalu banyak. Dan saya kira bahwa tugas utama dari filsafat adalah untuk menyelidiki berbagai filsafat itu secara kritis, filsafat mana yang dianut oleh berbagai orang secara tidak kritis.

Dengan melihat bahwa semua orang memiliki filosofi hidup dapat dikatakan bahwa sebenarnya setiap orang sudah berada diambang pintu dunia filsafat, termasuk anda. Hanya kurang dua langkah lagi anda akan masuk ke dalam dunia filsafat; langkah pertama, sadarilah segala filosofi hidup dan realitas hidup anda, dan langkah kedua bernalar atau berpikirlah secara serius, teratur, terfokus dan mendalam tentang segala filosofi anda tadi, baik latar belakangnya, tujuannya, yang harus atau tidak boleh dilakukan berdasarkan filosofi hidup tadi, dan seterusnya. Akan lebih baik lagi apabila anda juga meluangkan sedikit waktu untuk membaca beberapa tulisan para tokoh filsafat yang pernah ada, yang pada dasarnya juga adalah evaluasi dan refleksi mereka terhadap hidup mereka masing-masing. Bandingkan hasil pikiran mereka dengan refleksi anda sendiri, lalu putuskan dan pilihlah pandangan mana menurut anda lebih tepat untuk diikuti, atau lebih baik lagi kalau anda bisa menemukan benang merah kesamaan pandangan diantara para tokoh tadi dan pandangan anda. Dan setelah melakukan semua itu.…kini anda telah berada di dunia filsafat! Berani menerima tantangan? Lanjutkan refleksi anda, karena masih ada banyak hal yang harus diuji kembali.
Know your selves! Man ‘arafa Nafsahu-‘arafa rabbahu.