A. Pendahuluan
Sebelum lebih jauh berbicara tentang pluralisme di satu sisi dan filsafat Islam di sisi yang lain, kedua konsep tersebut perlu didudukkan dalam suatu pemaknaan yang jelas sehingga tidak menimbulkan salah pengertian. Filsafat Islam sudah mulai berkembang pada abad ke sembilan masehi sementara konsep pluralisme mulai digunakan pada akhir abad ke sembilan belas. Oleh karena itu, mendeskripsikan konsep pluralisme dalam filsafat Islam klasik sangat sulit. Selama ini tema pluralisme lebih banyak dikaji dari perspektif Islam secara umum. Kemungkinan yang dapat direalisasikan adalah melakukan kerja filsafat atau refleksi-refleksi kritis dari sudut pandang Islam tentang konsep pluralisme. Artinya, pluralisme dijadikan sebagai objek materiil sementara filsafat Islam dijadikan sebagai objek formilnya. Permasalahannya, mampukah filsafat Islam membedah dan sekaligus merumuskan pluralisme sebagai suatu konsep yang utuh? Pertanyaan itu-pun masih sulit untuk dijawab dan tulisan ini juga tidak bermaksud untuk menjawab persoalan tersebut. Hal itu perlu dijelaskan oleh karena, sejauh yang penulis ketahui, dalam konteks kekinian, telaah-telaah filsafat atas pluralisme masih langka. Dengan demikian, tulisan ini lebih tepat diposisikan sebagai suatu kerangka awal yang proses sistematikanya dibiarkan mengalir apa adanya. Dengan mengambil bagian-bagain kecil saja dari berbagai diskrusus kislamlan, pluralisme diharapkan memiliki ‘wajah’nya tersendiri yang khas dalam konteks keislaman secara umum dan filsafat Islam pada khususnya.
Istilah pluralisme tidak bersemai dan bermakna dalam suatu diskursus keilmuan tertentu. Konsep pluralisme dapat dikaji dalam wilayah politik, sosial humaniora, teologi, hubungan antar agama dan ruang diskursus keilmuan lainnya. Pluralisme merupakan tema yang luas, pluralisme juga merupakan tema yang dapat dihubungkan dengan berbagai doktrin yang meyakini adanya kebinekaan (al-ta’adudiyyah/manyness). Itulah yang kemudian oleh Aristoteles dikatakan bahwa pluralisme merupakan sifat manusiawi yang paling autentik. Pluralisme merupakan keniscayaan bagi terwujudnya fakta-fakta sosial yang dinamis karena sesungguhnya fakta-fakta sosial terpola dalam bentuk upaya saling mengetahui dan memahami karakter yang lain. Untuk itu, istlah pluralisme pada umumnya dimaksudkan sebagai suatu sudut pandang tentang adanya berbagai hal dalam sebuah konsep, perspektif keilmuan, atau wacana. Isu-isu pluralisme berkembang dari berbagai subjek dengan jangkauan yang cukup luas dan mendalam. Menurut Wolff, Pluralisme adalah humane, benevolent, accommodating. Dengan demikian, pluralisme merupakan istilah yang baru memiliki makna khusus ketika istilah tersebut ditempatkan dalam diskursus tertentu. Oleh karena itu, pada awalnya, pluralisme terlepas dari muatan-muatan konsep tertentu. Hal itu perlu ditegaskan untuk menghindari jebakan dan perdebatan yang mengesankan pemaksaan penggunaan konsep pluralisme dalam Filsafat Islam atau bagaimana filsafat Islam memahami pluralisme.
Lepas dari kesulitan batasan konsep yang ada, mengkaji filsafat Islam dan pluralisme sangat menarik dan menantang. Pemahaman-pemahaman negatif terhadap terminologi pluralisme di sebagian masyarakat Muslim di Indonesia merupakan salah satu alasan pentingnya kajian pluralisme. Sementara itu, ruang lingkup serta longgarnya batas-batas kedua konsep di atas (filsafat Islam dan plularisme) merupakan tantangan tersendiri bagi siapapun yang membahasnya. Tantangan lainnya, selama ini di sebagian kalangan umat Islam di Indonesia, persoalan pluralisme hanya dilihat dari perspektif hukum Islam (fiqh) semata. Dengan perspektif fiqh, pluralisme semata persoalan yang keberadaannya di masyarakat harus ditetapkan dan diputuskan status hukum berikut konseskwensi-konsewensinya. Itulah yang dilakukan oleh MUI, misalnya.
Telaah tentang pluralisme sesungguhnya bukan tema baru, khususnya jika pluralisme dikaitkan dengan persoalan keagamaan yang kemudian sering disebut sebagai pluralisme agama. Dalam sebuah pengantar dari buku yang ditulisnya, Plantinga menjelaskan bahwa pluralisme keagamaan (religious pluralism) bukanlah hal yang baru karena tema tersebut telah lama menjadi objectively speaking. Hal yang baru dari tema plurlasme, menurut Plantinga, terdapat pada area dimana dan sejauh mana seseorang (subjectively speaking) yang beriman memiliki kesadaran tentang fakta-fakta pluralitas di masyarakat. Dengan demikian hal penting yang perlu ditumbuh-kembangkan adalah bagaimana konsep-konsep pluralisme tersebut menjadi bagaian dari kesadaran manusia. Mengambil wilayah kesadaran manusia sebagai objek garapan bagi persoalan pluralisme, sebagaimana disarankan oleh Plantinga, adalah suatu sikap atau pilihan yang menunjukkan bagaimana pluralisme masuk ke dalam wilayah kefilsafatan. Tentu bukan hanya persoalan kesadaran semata yang menjadi pertimbangan apa, bagaimana, dan mengapa pluralisme masuk dalam telaah kefilsafatan. Banyak dimensi lain yang menjadikan pluralisme berada dalam telaah kefilsafatan. Misalnya, bagaimana pluralisme dijadikan sebagai lawan dari pemikiran monisme ataupun dualisme, bagaimana pluralisme memiliki keterkaitan dengan relativisme, dan yang paling penting justru makna harfiah dari pluralisme itu sendiri, yaitu kebinekaan pikiran dalam labirin ide-ide, sebagaiama digagas oleh Rudi Visker.
Oleh karena itu, sebagai suatu batasan dalam tulisan ini, pluralisme yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah; (1) pluralisme dalam arti harfiahnya sebagai suatu kebinekaan (manyness). Pluralisme dalam bagian yang pertama ini bukan pluralisme agama, budaya atau pluralisme yang lain. Pluralisme pada bagian yang pertama ini adalah sesuatu (fakta) yang plural atau sering diistilahkan sebagai pluralitas (pluralitiy) tentang suatu diskursus, sebagaimana dilakukan oleh Visker di atas dan Henry Laoust. Nama yang terakhir tersebut menggunakan konsep pluralisme sebagai suatu kebinekaan semata dalam suatu diskurus. (2) Pluralisme sebagai konsep atau objek pemikiran. Dalam konteks ini harus diakui bahwa meskipun sebagai konsep tersendiri, namun istilah tersebut eksis oleh karena sering berkait dengan konsep lain seperti keagamaan yang kemduian menjadi pluralisme kegamaan, begitu juga dengan konsep-konsep lain seperti sosial politik, demokrasi, dan kebangsaaan. Dalam arti yang kedua ini penulis berusaha mengeksplorasi secara lebih hati-hati. Kehati-hatian itu perlu ditekankan di awal tulisan ini dengan tujuan agar jangan sampai ada kesan yang mengada-ada atau memaksakan suatu tesis bahwa para pemikir Islam klasik dan para filosof muslim pada khususnya juga berbicara tentang pluralisme, sebagai konsep independen, atau pluralisme politik dan/atau pluralisme agama, sebagai konsep dependen.

B. Pluralisme dalam Filsafat Islam
Filsafat Islam tumbuh dan berkembang dari proses diealektik dengan semangat keilmuan, semangat keagamaan, dan semangat kemanusiaan. Semangat-semangat tersebut tercermin dari usaha intelektual Muslim dalam menyebarkan tradisi berfikir logis, kritis, dan reflektif untuk menopang tegaknya nalar-nalar agama dan untuk menguatkan eksistensi kemanusiaan secara umum sebagai kekuatan sosial. Semangat dan dinamika internal dalam filsafat Islam itulah yang akhirnya memperjelas corak dan karakter mainstream filsafat Islam sebagai suatu aliran atau fase kefilsafatan yang kental dengan semangat pluralisme. Hal itu diperkuat oleh pendapat George Anaswati tentang rumusan filsafat Islam. Menurut Anaswati, filsafat Islam adalah; (1) suatu filsafat yang secara esensial berinspirasi Platonis-Aristotelis, (2) diungkapkan dalam bahasa Arab, dan (3) dipengaruhi oleh Islam. Dari rumusan di atas jelas bahwa filsafat Islam tidak tumbuh dan berkembang dalam satu paradigma penalaran tetapi, minimal, dari tiga pola epistéme, yaitu; nalar Yunani, nalar Arab, dan nalar Islam. Ketiganya saling merajut membentuk rumusan nalar-nalar reflektif filosofis tentang berbagai tema yang berkembang mulai ke-8 M. sampai abad ke-12 M. Nalar Yunani mewariskan pola pemikiran sintesis, kontinu, dan analogis. Nalar Arab (pra Islam) mewariskan pola pemikiran yang cenderung jadali-dialektis, dualistis, dan paralelisme antitesis. Sedangkan nalar Arab-Islam mewariskan pola nalar bayani, burhani, dan irafani, sebagaimana disistematisasikan oleh al-Jabiri.
Tema-tema yang diusung dalam filsafat Islam semenjak kemunculannya pada abad ke-8 M. sampai kemundurannya pada abad ke-12 M. tidak berkembang dari satu tema kemudian menjalar dalam pola snowball ke dalam beberapa tema lain sesuai dengan tuntutan dan semangat zamannya. Filsafat Islam muncul dan berkembang dalam waktu yang relatif singkat dengan mengusung berbagai tema kajian secara bersamaan. Hal itu ditandai dengan kemiripan tema-tema yang dikaji dalam setiap buku filsafat yang ditulis oleh para filosof Muslim meskipun mereka hidup dalam masa yang berbeda antara satu dengan lainnya. Begitu pula kelanjutannya, filsafat Islam kemudian meredup seiring dengan meredupnya gerakan keagamaan pada umumnya. Redupanya filsafat Islam bukan tema-tema tertentu saja melainkan hampir seluruh tema-tema kefilsafatan
Tema-tema kajian dalam filsafat Islam secara umum meliputi bidang (1) metafisika (ketuhanan) dan kosmos (God and the world), (2) kausalitas (causality and determinism), (3) jiwa (human soul), (4) kebahagiaan (the way to happiness), dan (5) keyakinan dan rasionalitas (faith and reason). Kebanyakan intelektual yang dikenal sebagai filosof Muslim membicarakan tema-tema di atas. Filsafat Islam lahir tidak melalui proses pertumbuhan, filsafat Islam muncul langsung merambah berbagai tema dan konsep-konsep kefilsafatan. Hal itu berbeda dengan pola pertumbuhan dan perkembangan filsafat di Yunani maupun di dataran Eropa pada abad ke-16 M. sampai sekarang. Tumbuh kembangnya filsafat Yunani betul-betul merupakan hasil pemikiran reflektif manusia terhadap objek-objek simbolik maupun riil. Pemikiran mereka berkembang bukan dari proses dialogis dengan konsep-konsep yang sudah matang, pemikiran mereka berkembang dari proses dialog dengan “bahan-bahan mentah” yang sama sekali belum diolah menjadi konsep-konsep. Modal mereka hanya spirit untuk maju dan topangan sosial yang relatif lebih terbuka. Sementara itu, filsafat Barat mengambil inspirasi dari Yunani di satu sisi dan mengkreasikan lebih lanjut konsep-konsep awal yang telah diwariskan dari Yunani dan Islam. Filsafat Islam lahir melalui proses pertumbuhan yang sangat cepat, filsafat Islam muncul kemudian langsung merambah berbagai tema dan melahirkan berbagai gagasan. Maka dari itu, sangatlah wajar jika kemudian terdapat asumsi-asumsi negatif, seperti pandangan yang menyebutkan bahwa filsafat Islam hanya terjemahan dari filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab. Yang jelas, hipotesis dasar bahwa tumbuh kembangnya filsafat Islam yang plural baik dari segi faktor-faktor penopang maupun dari segi tema-tema kajiannya menunjukkan bahwa ada faktor penggerak utama yang secara keseluruhan mendasari bagi terjadinya proses dinamika di atas.
Penggerak utama berkembangnya filsafat Islam adalah Islam, sebagai agama dan peradaban. menjadikan Islam sebagai penggerak utama filsafat Islam dibuktikan oleh posisi Islam sebagai labirin pemikiran yang terbuka untuk dikaji lebih lanjut. Di samping itu, terdapat catatan-catatan sejarah yang menunjukkan bahwa para khalifah memerintahkan dimulainya proses penerjemahaman manuskrip-manusikrip Yunani ke dalam bahasa Arab. Munculnya berbagai pertanyaan-pertanyaan tentang konsep-konsep kegamaan dalam Islam yang dilontarkan oleh intelektual Yahudi maupun Nasrani juga menjadi faktor lain yang melahirkan tradisi kefilsafatan dalam Islam. Yang jelas, filsafat Islam lahir dan berfkembang sepenuhnya dalam dinamika dan pergulatan pluralitas manusia dan sepenuhanya dalam konteks pluralistik atau anthropomorphism.
Pada saat yang sama, hadirnya karya-karya terjemahaman filsafat tidak secara otomatis menghadirkan berbagai pemikiran baru yang menjadi sinteisis dari buku-buku terjemahaman tersebut. Belum lagi jika ditelusuri lebih jauh bahwa gerak- tumbuh filsafat Islam tidak didukung oleh kekuatan masyarakat Muslim secara keseluruhan. Kelompok-kelompok tradisionalis hadir untuk selalu berhadap-hadapan dengan para filosof. Oleh karena itu, dengan menggunakan kerangka pemikiran William James, ada benang merah yang dapat ditemukan; bahwa prinsip pluralitas tematik mencerminkan terwadahinya prinsip-prinsip pemikiran yang memang pluralistik di kalangan filosof Muslim. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kesadaran atas prinsip pluralisme dalam filsafat Islam menempatkan filsafat Islam tidak semata sebagai perwujudan dari nalar religius semata, ataupun nalar monistik apapun namanya melainkan suatu konstruk nalar yang terdiri dari berbagai lapisan penopang yang semuanya menyimpulkan bahwa filsafat Islam dibangun di atas fondasi nalar yang tidak tunggal.

C. Filsafat Islam tentang Pluralisme
Telaah di atas mendorong kita untuk menuju ke dalam suatu pemahaman mendasar bahwa filsafat Islam berkembang dari latar dan dalam prinsip pluralistik. Permasalahanya kemudian bagaimana pandangan filsafat Islam itu sendiri tentang pluralisme. Untuk sampai pada jawaban dari pertanyaan tersebut, konsep pluralisme dalam filsafat secara umum perlu dijabarkan lebih dahulu. Konsep pluralisme dalam filsafat menunjukkan adanya keyakinan bahwa realitas berdiri kokoh dalam banyak substansi yang berbeda. Pandangan ini tentunya sangat berbeda dengan konsep monistik dan dualisme dalam metafisika yang kemudian banyak diadopsi oleh filsafat Islam. Dengan kalimat lain, dalam filsafat, konsep pluralisme masuk dalam diskursus metafisika.
Selain metafisaka, telaah pluralisme juga masuk dalam diskursus epistemologi. Pluralisme dalam epistemologi berpegang pada suatu prinsip pemahaman bahwa dasar-dasar tentang konsep kebenaran tidaklah tunggal. Artinya, kebenaran diusung oleh suatu perangkat dan rumusan pemahaman yang menjadikan kebenaran itu sendiri sebagai suatu entitas yang multi-konsep. Epistemologi pluralistik tidak menjustifikasi suatu konsep kebenaran secara tunggal. Epistemologi pluralistik juga tidak menafikan konsistensi rumusan suatu kebenaran yang hendak diusung. Epistemologi pluralistik sekedar memberi kesadaran dan sikap kritis kepada semua bahwa kebenaran yang diusung tidak dapat mengklaim dirinya sebagai sesuatu yang paling benar dan bersifat universal.
Pentingnya memperhatikan dimensi epistemologi sebagai patokan kebenaran yang dianut telah disinggung oleh Nasr. Nasr menekankan tentang pentingnya rumusan-rumusan epistemologis yang memadai untuk mengantisipasi problematika keyakinan dalam suatu agama yang menjadikan seorang pengikut agama dapat bersikap pluralis atau sebaliknya. Nasr lebih lanjut menjelaskan bahwa epistemologi modern yang lebih menekankan pada empirisme dan korespondensi tunggal antara subjek dan objek pengetahuan tidak akan mampu mengusung persoalan ketuhanan dalam agama-agama yang dapat didialogkan. Padahal, penulis meyakini bahwa dialog-dialog tersebut merupakan langkah awal bagi tercapainya kesadaran bersama atas realitas plural dimensi keyakinan manusia.
Selain kedua makna di atas, fisafat Islam tentang pluralisme dapat juga diartikan sebagai suatu penulusuran tentang pemahaman-pemahaman reflektif dari intelektual Muslim tentang realitas perbedaan baik perbedaan keyakinan, budaya, dan pemahaman, worldview, dan lainnya. Makna yang terakhir ini mensyaratkan adanya keleluasaan bagi semua pihak bahwa munculnya pemahaman-pemahaman reflektif di atas tidak dibatasi pada periode klasik semata namun juga, dan ini justru yang lebih penting, periode-periode sesudahnya dan bahkan sampai pada atau dalam konteks kekinian. Hal di atas menjadi titik tekan oleh karena, sebagaimana telah disinggung di awal, konsep pluralisme baru mulai berkembang pada awal abad ke-20. dalam konteks pemaknaan yang terakhir ini pula yang menginspirasi banyak penulis prihal filsafat Islam tentang pluralisme. Di antara penulis tersebut, di antaranya, adalah Gregory B. Stone dan Adnan Aslan. Sedangkan dari kalangan Intelektual Muslim terdapat Asghar Ali Engineer, Yazbeck Haddad, dan lainnya yang menulis tentang pluralisme. Kedua penulis tersebut (Stone dan Aslan) jelas mengusung suatu kepentingan dan orientasi yang berbeda satu dengan yang lainnya. Namun, kedunya berbicara dalam konteks yang sama bahwa konsep pluralisme juga menjadi bagian dari objek materiil dari filsafat Islam. Sedangkan karya-karya intelektual Muslim di atas pada umumnya tidak memfokuskan pada tema filsafat Islam secara khusus tetapi pada tema Islam dalam konteks yang luas.
Kembali ke persoalan konsep pluralisme dalam metafisika, metafisika tidak semata persoalan ketuhanan, metafisika juga menyangkut persoalan yang memiliki karakteristik multi perspektif. Pemahaman tersebut menyingkap suatu pemahaman lain yaitu bahwa telaah tentang pluralisme agama berarti telaah atas isu-isu metafisis di dalam suatu agama atau di antara agama-agama. Untuk itu pula, dengan jelas Nasr menekankan pentingnya memahami isu-isu metafisis yang mendasari berbagai persoalan yang terkait dengan pandangan pluralistik terhadap agama-agama. Dengan demikian, ada kaitan antara metafisika dan kajian tentang agama. Artinya, ketika diskursus modern tentang pluralisme diperbincangkan dalam wilayah kajian tentang agama maka dimensi filosofis dari perbincangan tersebut terdapat alam wilayah metafisis dimana wilayah ini menjadi bagain dari kajian tentang agama tersebut.
Memang diakui bahwa telaah tentang ketuhahan selalu berkait dengan wilayah metafisika. Namun, kedua bidang tersebut tidak harus menggantungkan satu dengan lainnya. Kaitan persoalan konsep Tuhan dengan metafisika adalah permasalahan tentang yang satu (the One) dan tentang yang banyak (the Many). Terkait dengan persoalan ini, di antara contoh kasus yang selalu didiskusikan adalah konsep the Ultimate Reality (sat dalam bahasa Sansakerta atau al-haqq dalam terminologi Islam) yang substansinya adalah satu, namun pada saat yang sama the Ultimate Reality selalu dipahami dalam konteks realitas yang plural. Dalam bahasa yang sederhana, persoalan tentang hubungan antara Tuhan dengan alam adalah hubungan yang satu (the One) dengan yang plural (the Many). Akhirnya, konsepsi tentang Tuhan yang selalu diposisikan sebagai the True One (al-wahīd al-haqq) selalu disandarkan pada dalil-dalil atau pembuktian yang justru didasarkan atas realitas dunia dengan eksistensinya yang plural. Maka dari itu, cukup wajar jika kemudian sosok seperti Aristoteles memiliki pandangan bahwa alam itu abadi. Kabadian alam itu penting bagi Aristoteles karena diguanakan untuk kepentingan pembuktian tentang keabadian Tuhan itu sendiri. Pandangan tersebut disanggah oleh al-Kindī. Bagi al-Kindī konsep wujud Tuhan dan kesaannya yang abadi dirajut, sebagai jalan tengah, di antara dalil emanasi Neoplatonis dan dalil asal ada dari ex nihilo dijadikan sebagai bukti atas pandangan kebaruan alam yang beraneka dan kebadian yang satu.
Selain al-Kindī, al-Farābī juga memperbincangkan konsep relasi tentang yang plural dengan yang tunggal. Oleh al-Farābī, perbincangan ini ditujukan dalam konteks emanasi. Konsep emanasi al-Farābī, secara sekilas, berangkat dari rumusan bahwa aneka wujud alam ini merupakan konsekwensi dari luapan (sinaran atau fayd) yang tunggal sebagai nan awal dan Ada pertama. Dalam al-Madīnah al-Fādilah, al-Farābī menjelaskan prihal konsep emanasi tersebut sebagai berikut. “Keberadaan sesuatu sebagai yang ada sesungguhnya berasal dari atau melalui proses emanasi. Artinya keberadaannya untuk keberadaan sesuatu yang lain, dan sesungguhnya keberadaan sesuatu yang lain tersebut merupakan luapan dari keberadaan yang tunggal tersebut.” Jelasnya, bagi al-Farābī kebinekaan realitas merupakan luapan dari yang wujud pertama (the First Existent/al-maujūd al-awwal).
Selain al-Kindī dan al-Farābī, penulis belum menemukan gagasan-gagasan dari filosof Muslim lain yang memperbincangkan persoalan pluralitas metafisik (metaphysic plurality). Itu terjadi oleh karena, menurut hemat penulis, filosof Muslim lainnya kebanyakaan mengikuti pola pemikiran yang dikembangkan oleh al-Kindī dan, khususnya, al-Farābī. Ibn Sīnā, sebagai contoh, dalam konsepsinya tentang emanasi, mengikuti pemikiran al-Farābī. Di luar ketiga tokoh di atas, tanggapan terhadap pemikiran atas dari tradisi tradisi peripatetisme (masyā’iyah) muncul dari tradisi pemikiran iluminasionisme (isyrāqī). Inti gagasan iluminasionisme, sebagaimana diwakili oleh Mula Shadra, bahwa multi wujud (baik yang eka maupun yang aneka) tidak melalui proses emanasi melainkan melalui proses gradasi (al-tasykīk). Lepas dari perbedaan pandangan di atas, hal yang perlu dijadikan sebagai bahan kajian lebih lanjut adalah bahwa apa yang kita alami di dunia ini adalah kebinekaan realitas, namun pada saat yang sama, kebinekaan itu menuju kepada keteraturan dalam kesatuan yang abadi sebagai Yang Tunggal dan Abadi, maka persoalannya bagaimana memahami hubungan antara yang relatif dan yang Mutlak? Ada tiga jawaban yang selalu muncul dari pertanyaan tersebut; (1) keniscayaan, (2) emanasi atau gradasi, dan (3) penciptaan.
Selain pluralisme metafisika, perbincangan yang sering muncul dalam filsafat Islam adalah pluralisme epistemologi. Pluralisme pistemologi mengusung agenda sumber atau prinsip tentang topangan konstruk pengetahuan yang tidak tunggal. Dengan mengikuti pemikiran al-Jabiri, topangan pengetahuan yang berkembang dalam tradisi pemikiran Islam adalah pola nalar bayānī, burhānī, dan ‘irfānī. Filsafat Islam, pada umumnya, memiliki tradisi pengetahuan yang dibangun atas dasar pola nalar burhānī. Pluralisme epistemologi sering diasosiasikan sebagai bagian dari telaah postmodernisme tentang pengetahuan. Perspektif ini tentu berbeda dengan substansi persoalan yang diusung oleh filsafat Islam. Epistemologi dalam tradisi penalaran Islam, sebagaimana digagas oleh al-Jabiri, tidak monistik atau dualistik melainkan pluralistik. Dikatakan sebagai pluralistik oleh karena pola-pola penalaran yang berkembang tidak tunggal.
Baik pluralisme metafisika maupun pluralisme epistemologi merupakan bagian dari dasar-dasar pemikiran tentang fakta bagi pluralisme keagamaan. Dengan kalimat lain, pluralisme keagamaan tidak semata persoalan kebinekaan agama. Pluralisme keagamaan juga menyangkut dimensi-dimensi pluralisme metafisis dan epistemologis dalam memaknai eksistensi keagamaan yang diyakinannya. Untuk itu, pluralisme keagamaan tanpa memahami dimensi-dimensi metafisika dan epistemologinya hanya akan menjebak agama dalam ruang relativisme yang menjadi asumsi-asumsi atas munculnya sanggahan dan penolakan terhadap pluralisme agama.
Dalam konteks Islam, pluralitas umat manusia adalah suatu kenyataan yang telah menjadi kehendak Tuhan. Menurut Nurcholish Madjid, jika dalam Al-Qur’ān disebutkan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar mereka saling mengenal dan menghargai (QS.5: 13), maka pluralitas itu meningkat menjadi pluralisme, yaitu suatu sistem nilai yang memandang secara positif-optimis terhadap kemajemukan itu sendiri, dengan menerimanya sebagai kenyataan dan berusaha untuk berbuat sebaik mungkin. Pluralisme sesungguhnya adalah sebuah aturan Tuhan (Sunnatullah) yang tidak akan berubah sehingga tidak akan mungkin bisa dilawan atau diingkari. Islam adalah agama yang dengan tegas mengakui hak agama-agama lain, kecuali yang berdasarkan paganisme atau syirq, untuk hidup dan menjalankan ajaran agama masing-masing. Pengakuan atas hak agama lain itulah dengan sendirinya merupakan dasar paham kemajemukan sosial-budaya dan agama, sebagai ketetapan agama yang tidak berubah-ubah (QS.5: 44-50).
Dengan demikian, sebelum masuk lebih dala ke dalam dimensi-dimensi filosofis, Islam sebagai suatu agama dengan ajaran-ajaran yang ada di dalamnya telah mengakui realitas yang plural dalam hal sosial-budaya dan agama. Pada saat yang sama, seperti halnya terma pluralisme, Islam tidak pernah dipahami dan dinterpretasikan secara monolitik. Oleh karena itu tidaklah heran jika dalam Islam sendiri terdapat berbagai madzhab pemikiran dan gerakan. Di dalam proses penafsiran atas teks-teks yang menjadi sumber ajaran dalam Islam, prinsip-prinsip pluralitas pemakanaan dan penginterpretasian merupakan hal yang biasa dilakukan. Intinya, ada tradisi yang disebut sebagai the ploy-interpretation activity.
Aktivitas yang selalu mengedapankan watak-watak pluralitas dalam penafsiran teks-teks suci, realitas adanya pluralisme dalam pemikiran, madzhab, maupun sikap-sikap sosial yang lain dan fakta bahwa Islam lahir dan berkembang dalam watak pluralisme semestinya menghadirkan sikap pluralisme sebagai public philosophy atau refleksi publik. Pluralisme sebagai refleksi atau filosofi publik artinya bahwa sikap pluralisme, sebagai suatu keyakinan, dijadikan sebagai fondasi atas struktur bangunan pemikiran (philosophical foundations) yang diimplementasikan dalam seluruh tindakan keseharian umat dan dalam kebijakan yang berkait dengan persoalan sosial lainnya. Namun demikian, sangat disayangkan bahwa modal ajaran, pemahaman, dan sejarah belum dapat dijadikan sebagai fondasi atau sumber nilai yang dijadikan sebagai rujukan atas sikap maupun prilaku umat baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat.
Dengan gagasan di atas, pluralisme adalah kemampuan reflektif seseorang terhadap realitas kebinekaan dalam berbagai bidang baik yang terkait dengan keagamaan ataupun non-keagamaan. Sebagai contoh, pluralisme politik mengandaikan keyakinan bahwa Islam menganut prinsip-prinsip politik yang pluralistik, pluralisme keagamaan mengandaikan keyakinan bahwa realitas menunjukkan adanya kebinekaan agama, pluralisme gender mengandaikan adanya keyakinan atas peran-peran yang tidak tunggal dalam persoalan gender, dan pluralisme lainnya. Yang jelas, esensi pluralisme merupakan sikap afirmatif atas ke-liyan-an, kebebasan, perbedaan, dan perdamaian. Sikap ini dibangun sebagai suatu pemahaman yang diambil dari sumber-sumber ajaran, baik yang normatif maupun sumber ajaran sebagai suatu pengetahuan yang berkembang dalam masyarakat. Dengan meminjam gagasan John Hick tentang pluralisme agama, ajaran-ajaran keagamaan dalam Islam berikut nilai-nilai pluralistik yang diusung bersandar pada dalil-dalil ontologis/metafisis dan asumsi-asumsi filosofis tertentu. Dalam konteks Islam, dalil-dalil ontologis ajaran pluralistik terletak pada kenyataan multi tafsir atas konsep-konsep dasar yang menyangkut wilayah ketuhanan yang diangap suci atau sakral, namun wilayah sakralitas tersebut bereksistensi dalam fenomena-fenomena keagamaan yang profan. Dengan mengikuti pandangan al-Kindī dan al-Farābī, problem dasarnya masih sama yaitu terdapat dalam hubungan eka yang transenden dan bineka yang profan. Sementara asumsi-asumsi filosofis lain yang dijadikan sebagai dasar bagi pengakuan atas fakta pluralitas dalam prinsip-prinsip keagamaan terletak pada kenyaataan bahwa agama selalu dibangun dalam suatu sistem bahasa dan kultur yang memungkinkan terbentuknya korespondensi dalam pola kehidupan, ekspresi, dan pengalaman. Sistem tersebut terstruktur dan termaktub dalam tujuan praksis sebagai bentuk transformasi yang terus menerus berdialektik dalam tradisi keagamaan di masyarakat.
Namun demikian, pada saat sekarang ini, fakta yang ada justru menunjukkan bahwa Islam sebagai kekuatan wacana yang perlu didiskusikan lebih lanjut ternyata masih mendapat tantangan dari dalam Islam. Tantangan tersebut terutama datang dari kuatnya pemahaman bahwa Islam harus diposisikan sebagai kekuatan ideologis yang mesti dijaga dan dibela keberadaannya. Pemahaman tersebut pada akhirnya menempatkan Islam sebagai suatu konsep yang anti pluralisme. Kecenderungan yang muncul akhir-akhir ini seharusnya keprihatinan kita semua. Keprihatian itu wajar oleh karena gagasan-gagasan tentang Islam yang demikian itu berangkat dari carut-marutnya Islam dan berbagai kepentingan yang ada. Bagi mereka, jika dilihat dari sudut pandang konstruksi ideologis dan pengorganisasian suatu masyarakat, pluralisme bukan konsep yang tepat untuk dikedepankan.
Untuk itu, yang perlu dilakukan sekarang adalah bagaimana membangun pemahaman di kalangan umat Islam untuk selalu belajar dari sejarah Islam, dari perubahan yang akan selalu terjadi, dan dari kesenjangan antara normativitas Islam dan hostorisitas Islam. Oleh karena itu, sasaran yang paling sederhana dari bidikan filsafat Islam tentang pluralisme adalah membangun kesadaran pluralistik bagi umat Islam. Kesadaran pluralistik ini tidak sekedar way of life namun diharapkan dapat menjadi public philosophy atau filosofi publik bagi masyarakat umum. Filosofi publik dapat dijadikan sebagai konsensus filosofis yang menjadi dasar bagi kesadaran bersama atas kebinekaan realitas.
Masyarakat yang memiliki kesadaran pluralistik ini sesungguhnya telah menjadi bagian dari ide-ide lebih luas yang dikembangkan oleh al-Farābī dalam teorinya tentang al-madinah al-fadilah. Sebagai salah satu pemikir Muslim paling awal yang membicarakan tentang pluralisme, menurut al-Farābī, al-madinah al-fadilah bukanlah sebuah kota dengan penduduk yang homogen tetapi hetrogen. Artinya, masyarakat dalam al-madinah al-fadilah adalah masyarakat plural baik dari segi agama maupun kulturnya. Bagi al-Farābī, satu hal yang penting bagi al-madinah al-fadilah adalah bahwa mereka mampu secara bersama-sama membentuk dan mempertahankan suatu tujuan dan kehendak yang sama.
Selain al-Farābī ada tokoh-tokoh lain yang sesungguhnya lebih konsen terhadap persoalan sejarah perdebatan atas realitas kebinekaan agama. Di antara tokoh-tokoh tersebut adalah al-Syahrastāniī dan Ibn Hazm. Dua tokoh tersebut dan pemikir lain seperti al-Jāhid, ‘Abd al-Jabbār membicarakan kebinekaan agama dalam konteks perdebetan tentang dasar-dasar teologis yang mendasari agama-agama tersebut. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa fondasi wacana pluralisme (dalam arti modern sebagai pluralisme keagamaan) pertama kali dalam Islam sesungguhnya berawal dari tradisi perdebatan teologis di kalangan teolog dan filosof Muslim yang acapkali dalam pola apologis namun tetap dinamis. Dengan pemaknaan yang demikian itu dapat disimpulkan bahwa warisan dan wacana pluralisme dalam Islam tidak saja berasal dari sumber-sumber teks suci keagamaan namun justru dari realitas pewacanaan yang lebih luas dan dalam yaitu sejarah wacana keanekaan agama.
Kalau demikian halnya maka tugas utama dari pemikir Muslim sekarang bukannya merumuskan tentang hukum pluralisme, sebagaimana dilakukan oleh MUI, tetapi justru merumuskan konsep-konsep pluralisme secara filosofis dengan menggali sejarah bagaimana nalar-nalar pluralistik mendapat tempat untuk difikirkan dan didiskusikan dengan nyaman di kalangan intelektual Muslim pada waktu itu. Alasannhya, kemampuan merumuskan tafsir-tafsir sejarah atas tradisi pluralistik dalam Islam lebih tepat untuk segera dilakukan dan dijadikan sebagai pilihan daripada merumuskan konsep pluralisme dari teks-teks keagamaan.

D. Penutup
Filsafat Islam dan pluralisme adalah dua diskursus yang memiliki perbedaan baik dalam konteks waktu pewacanaan maupun orientasi pewacanaan. Untuk itu membahas keduanya harus berangkat dari satu konsep yang utuh. Dalam konteks tulisan ini filsafat Islam bukan merupakan sudut pandang atau perspektif untuk membedah persoalan pluralisme. Tulisan ini pada awalnya lebih menekankan pada kekuatan eksistensi masing-masing konsep tersebut. Kemudian, keduanya ternyata saling menyapa dalam pergulatan dan dinamika perkembangan internal kedua wacana tersebut. Dan pada akhirnya, pluralisme sebagai suatu diskursus modern ternyata memiliki akar historis yang cukup panjang dalam sejarah perkembangan pemikiran Islam, terutama dalam bidang teologi.
Bidang teologi atau tepatnya perdebatan teologis yang mulai berkembang pada abad kedelapan masehi berpangkal pada persoalan apa yang oleh teolog maupun filosof sebut sebagai absolute claim yang selalu menjadi mainstream dan terus dipertahankan oleh masing-masing ajaran atau tradisi keagamaan. Meski demikian, perdebatan ini tidak saja menghasilkan bangunan teologis yang kokoh di dalam internal agama, di satu sisi, namun juga menghasilkan bibit-bibit kesadaran tentang realitas kebinakaan tradisi keagamaan, di sisi lain.
Untuk itu, satu hal yang perlu dipertimbangkan untuk ke depan adalah bahwa filsafat Islam tidak menggagas atau mengusung persoalan pluralisme sebagai objek kajian. Akan tetapi, filsafat Islam lahir dan berkembang dari unsur-unsur pluralistik, terutama dari sejarah dan perkembangan filsfat Islam itu sendiri. Oleh karena itu, realitas pluralistik tradisi keagamaan yang sering menjadi problem kegamaan maupun kebangsaan akhir-akhir ini hendaknya tidak disikapi dengan solusi-solusi yang menekankan dimensi normatif, namun yang lebih penting justru membangun kesadaran publik tentang kepastian pluralistik di tengah keharusan monistik.

DAFTAR PUSTAKA

Anawati, George . “Falasafah”, dalam H.L. Beck dan N.J.G. Kaptein (ed.), Pandangan Barat terhadap Literatur, Hukum, Filosofi, Teologi, dan Mistik Tradisi Islam, pent. Sukarsi, Jakarta: INIS, 1988.

Ayer A.J. A Dictionary of Philosophical Quotations, Massachusetts: Blackwell, 1992.

Craig, Edward. “Pluralism” dalam Concise Routledge Encyclopedia of Philosophy, London: Routledge, 2000.

Douglass, R. Bruce . “Public Philosophy and Contemporary Pluralism” dalam Thought vol. LXIV, no. 255, tahun 1989.

Esack, Farid. Qur’an, Liberation and Pluralism, Oxford: Oneword, 1997.

al-Farābī, Abu Nashr. Arā’ Ahl al-Madīnah al-Fādilah, Cairo: al-Maktabah al-Azhariyyah li al-Turāts, t.t.

Haddad, Yvonne Yazbeck. Islamists and the Challenge of Pluralism, Washington: Center for Contemporary Arab Studies, 1995.

Harold Titus, Harold . Persoalan-Persoalan Filsafat, terj. H.M. Rasjidi, Jakarta: Bulan Bintang, 1984.

Hick, John . “Religious Pluralism” dalam Mircea Eliade (ed.), The Encyclopedia of Religion, vol. 9, New York: Mcmillan, 1993

al-Jābirī, Ābid . Bunyah al-‘Aql al-‘Arabī. Bairut: Dar al-Tsaqi, 1993.

Kariel, Henry S. “Pluralism” dalam Devid L. Sills (ed.) International Encylopaedia of Social Science, vol. 12, London: Macmillan, 1986.

Laoust, Henri. Pluralismes dans Islam, Paris: HORS Serie, 1978.

Madjid, Nurcholish Islam Doktrin dan Peradaban, Jakarta: Paramadina, 1992.

Mayer, Frederick . A History of Ancient and Medieval Philosophy, California: American Book Company, t.t..

Nasr, Seyyed Hossein. “Comments on a Few Theological Issues in the Islamic-Christian Dialogue” dalam Yvonne Yazbeck Haddad (ed.), Christian-Muslim Encounters, Gainesville: University Press of Florida, 1995.

Nucho, Fuad. “The One and the Many in Al-Kindi’s Metaphysic”, dalam The Muslim World, vol. 61, 1970.

Plantinga, Richard J. Christianity and Plurality: Classic and Contemporary Reading, Oxford, UK: Blackwell, 1999.

Rahman, Fazlur. Filsafat Shadra, penerjemah Munir A. Muin Bandung: Pustaka, 2001.

Sharif, M.M. (ed.) A History of Muslim Philosophy I, Pakistan: Royal Book Company, 1983.

Turabisyi, George. Wihdat al-‘Aql al-‘Arabi, London: Dar al-Saqi, 2002.

Visker, Rudi. “Philosophy and Pluralism”, dalam Philosophy Today, Summer 2004.

Wyld, Hery Cecil . The Universal English Dictionary, London: Routledge, t.t..