Rimba raya gaduh, hewan-hewan berteriak. Buaya merasa tersudut, tiada yang membela tapi mereka juga tidak ingin kehilangan muka. Buaya-buaya nakal tidak mungkin bisa dikeluarkan dari koloni, sebab sudah jadi kesepakatan bahwa kehormatan korps jauh lebih penting dibandingkan kepentingan seisi rimba raya. Kehormatan, ucap raja buaya, sesuatu yang telah diwariskan oleh senior kami. Kehormatan korps buaya adalah mandat yang jauh lebih penting dibandingkan konstitusi rimba raya. Ketimbang terus menerus menerima teriakan dari rimba raya, buaya memutuskan pergi ke tepian rimba. Tidak banyak hewan yang berkeliaran disana, untuk sementara tidak akan ada teriakan dan tuntutan. Pada batas ladang dan rimba, mengalir jernih hulu sungai. Kecipak-kecibung bertalu-talu diiringi suara tawa riuh rendah. Pada batu besar di pinggir sungai, tergeletak seragam-seragam mungil. Murid-murid TK sedang mandi di tepian sungai. Perlahan buaya-buaya turun ke tepian, ingin sejak merasakan segarnya air yang menjadi langka dalam riuh rendah rimba raya. Murid-murid TK yang lugu, mungil dan lucu sontak ketakutan dan bergidik ngeri. Buru-buru mereka berlari menuju batu, tidak ingin menjadi makan siang buaya. Tetapi raja buaya, berteriak menyeru mereka,

d TK ragu-ragu, sebagian tidak percaya dan langsung cepat-cepat mengenakan baju. Sebagian lainnya menatap dari balik batu. Buaya tidak kehilangan akal, “Tidak banggakah kalian berteman dengan buaya? Ayo coba pikirkan, bukankah berteman dengan buaya akan menjadi cerita menarik di sekolah nantinya? Demi Pencipta Rimba Raya, kami tidak akan memakan kalian”

Akhir-akhir ini Buaya memang gemar bersumpah sambil mengeluarkan air mata. Itu cukup untuk membujuk murid TK untuk kembali ke tepian sungai. Mereka yang baru menginjak bangku NOL BESAR itu merasa bangga bila berteman dengan buaya. Merasa akan aman bila esok ada yang mengganggu mereka kala berenang di tepian sungai.

“Jadi apa yang harus kami dengarkan, ceritakanlah”, ucap seorang murid TK memberanikan diri. Dia merasa gagah diantara teman-temannya.

“Tidakkah kegaduhan rimba raya juga terdengar hingga tepian ini?”, timpal buaya, “coba kalian ingat-ingat…”

“Ah, terlalu banyak masalah di rimba raya. Karena dalam hukum rimba, yang kuat seperti kalian bebas memangsa..”, balas murid TK berkacamata.

“Tidak…tidak..bukan begitu ceritanya. Hukum rimba telah dilanggar, yang kuat tidak selamanya lagi bebas memangsa. Kami yang telah ditakdirkan menjadi yang terkuat, tidak lagi mendapat hormat. Mereka memberikan penghormatan pada saudara kecil kami, sang cicak. Rimba raya lebih percaya pada mereka dibanding kami. Mereka dielu-elukan. Dan pada saat kami menangkap salah satu dari mereka, rimba raya langsung memberikan pembelaan. Bisakah kalian bayangkan, betapa rusaknya hukum rimba sekarang; kami yang kuat kalah kepada makhluk lemah yang bahkan dengan satu taring pun bisa kami musnahkah?”

“Wah kalau begitu, rimba raya nggak seru lagi dong? Masa cicak ditakuti….”, teriak seorang murid TK yang rambutnya bergaya modis dengan sedikit kuncir

“Betul, enggak banget deh, kayaknya cicak telah diperalat oleh kepentingan rimba asing. Kita harus mendukung buaya”, timpal murid TK lainnya, “ah, tetapi aku masih bingung. Kenapa sih kalian buaya-buaya benar-benar tidak berdaya?”

Raja Buaya menghela nafas dalam-dalam. Suasana hatinya dibikin galau, mimik mukanya semakin sedih mengkerut. Murid-murid TK tanpa perlu menyelidiki lebih jauh terbawa suasana. Mereka ikut terharu melihat buaya.

“Kami tidak berdaya karena cicak-cicak berkomplot dengan burung-burung yang menyampaikan kabar. Opini massa rimba raya terbentuk dengan cepat. Apalagi yang bisa kami lakukan, kami tersudutkan. Dua ekor cicak terpaksa kami lepaskan. Tetapi mereka menuntut lebih. Mahapatih bangsa buaya diminta lengser, lantas kami diminta menangkap seekor tikus. Kami tidak tahan lagi, hanya ke tepian ini kami bisa mengadu”

“Oh, menyedihkan sekali”, timpal murid TK yang gemar akan lambang Mercy, “tetapi apakah kalian berhasil membuktikan kedua cicak itu bersalah?”

“Tentu”, jawab raja buaya yakin, “pertama kami menjeratnya dengan pasal penyuapan. Memang belum ada bukti, tetapi perasaan kami begitu. Lalu kami bilang mereka menyalahkan wewenang. Memang tugas kami bukan mengevaluasi tugas punggawa lainnya, tetapi yang penting kami punya alasan hukum lah memenjarakan. Lagipula, selama ini tidak pernah ada yang keberatan bila kami menghukum hewan mana pun”

“Nah, sekarang kenapa bermasalah. Jangan-jangan Patih buaya memang bersalah?”, murid TK dengan topi kepala Garuda bertanya.

“Tidak mungkin”, raja buaya menjawab yakin, “kami ini tidak pernah salah. Kalau ada yang salah, berarti bukan kami, tetapi hukumlah yang harus diperbaiki. Kami ini bangsa terhormat, sepenuh hati mengabdi demi ketentraman rimba raya. Tanpa pamrih”

“Ah kamu bisa aja deh”, goda murid TK tadi, “masa sih tanpa pamrih, bukankah kalian bangsa yang terkenal makmur, perut selalu terisi penuh. Mungkin hewan-hewan menuntut kalian, tidak saja karena kasus cicak, tetapi karena mereka sudah muak. Hukum rimba yang berjalan membuat kalian bebas mengambil apa saja, selama kalian bisa teriak pidana. Contohnya di jalan rimba…..”

“Tunggu…”, potong raja buaya, “tentang pungutan di jalan rimba kepada pelanggar, itu pelayanan kami dalam memudahkan masyarakat rimba dan meringankan tugas pengadilan. Daripada mereka capek-capek ke pengadilan dan para kadal juga malas menuntut perkara jalan ini, kami fasilitasi dengan sedikit imbalan”

“Oh bener….bener juga…”, seloroh murid-murid TK, tetapi murid yang tadi masih belum puas bertanya, “bagaimana dengan kasus-kasus lebih besar lainnya, mungkinkah kabar burung itu benar kalau kalian banyak dapat bagian?”

“Begini ya, gaji yang diberikan kerajaan kepada kami teramat kecil. Apakah kalian tega melihat tubuh-tubuh gagah bertabur bintang ini hidup prihatin? Apakah kami masih terlihat gagah bila untuk makan saja susah. Nah, itulah sebabnya sebagian bangsa buaya mengembangkan jiwa wirausaha mereka. karena kami tidak punya modal, maka kami menyediakan jasa untuk kasus pidana. Sedikit imbalan untuk memperlancar, tentu hal yang wajar. Sejak dulu, semua hewan sudah tahu bisnis sampingan ini, mereka juga tahu siapa yang harus dihubungi dan tentu saja secara kekeluargaan dengan menjunjung semangat wirausaha, mereka juga tahu berapa biaya untuk menyelesaikannya”, raja buaya menarik nafas bangga, “nah kalian bisa bayangkan kan, kami tidak pernah membebani kerajaan, malah kami kembangkan jiwa wirausaha. Dimana letak salahnya kami, tolong tunjukkan.

Murid-murid TK saling berpandangan. Mereka memahami kata-kata raja buaya ini. Mereka tentu saja setuju, bahkan dalam dunia NOL BESAR ini pun untuk sampai dipanggung juga butuh biaya. Dalam suasana penuh keakraban mereka semakin berenang dekat dengan buaya. Seorang murid TK yang gemar akan kubus hitam , ikut bicara.

“Wahai bangsa buaya, kalian itu bukan hewan biasa. Kalian adalah hewan super. Punya taring dengan rahang kuat sebagai senjata. Terhormat gagah perwira. Kami juga tidak rela bila hewan legendaris seperti kalian teraniaya. Kami mendukung kalian menghadapi rimba raya yang telah ditipu oleh cicak lewat kabar yang dibawa oleh burung-burung”, si kubus hitam ini berhenti sejenak, “tetapi bisakah kalian meyakinkan kami, kalau patih kalian ini memang tidak terlibat dalam persekongkolan kejahatan terhadap cicak?”

Raja Buaya tersenyum, memberi isyarat pada sang Patih untuk menjawab langsung. Patih yang tambun itu tanpa basa basi bersuara, perlahan menitikkan air mata,

“Pertama mereka menugaskan tungau mendengarkan diam-diam pembicaraan saya. Sehingga mereka menuduh saya kenal dengan tikus yang mengatur kasus. Mereka menuduh saya menerima jatah. Tungau yang menempel tidak bisa dijadikan alat bukti. Lagipula, Demi Sang Pencipta saya tidak pernah menerima suap 10 potong daging segar (kecuali jumlahnya lebih atau kurang itu tidak termasuk dalam bagian sumpah). Oh mereka menghancurkan hidup saya, saya malu, keluarga malu, bahkan anak-anak saya tidak mau keluar dari cangkang telurnya, mereka malu menatap dunia. Tolong, kasihanilah saya ini. Saya mundur jadi Patih, tapi sementara waktu saja ya sebab saya tidak bisa hidup tanpa jabatan”

Murid-murid TK saling berpelukan, mereka terharu mendengarkan penjelasan sang Patih. Salah seorang dari mereka yang gemar meneriakkan nama Tuhan (walaupun istilah Tuhan ternyata bisa diganti dengan “empat kursi menteri” dalam pentas NOL BESAR) berteriak dengan garang.

“Bagi saya sudah jelas sekarang. Buaya-buaya jujur penuh dedikasi ini jadi korban dari permainan kabar burung. Oh, saya sangat yakin, ini semua hanyalah skenario untuk menghancurkan buaya. Sistem hukum rimba ini perlu dikembalikan pada bentuk semula. Yang kuat tetaplah harus berkuasa, cicak-cicak haruslah kembali merayap di dinding dan tidak berkeliaran kemana-mana. Insyaallah dengan mendukung buaya, sebagian dari jihad hati kita”

“Terima kasih”, balas sang raja buaya dengan mimik masih mengharu biru sambil dalam hati berbisik, “besok-besok kalian menggugat penjajahan nun jauh di gurun pasir sana akan kami jaga sepenuh hati selama kalian berhenti bicara tentang korupsi”

“Lagipula, kami yang hidup di tepian rimba ini juga mulai resah dengan cicak-cicak. Diam-diam merayap menguntit tingkah kami di luar rumah. Bila kami memberi makan hewan-hewan dan mendapatkan balasan sewajarnya, mereka juga bersendawa. Coba bayangkan, kami murid TK di kelas NOL BESAR yang terhormat ini juga dikerjai oleh cicak-cicak sialan itu. Mereka jadi jagoan bebas berkeliaran, kita makhluk-makhluk yang istimewa ini hidup tidak tenang, teman berkurang, dan uang jajan menurun drastis. Jujur, tidak hanya kalian para buaya yang terganggu, kami juga. Beberapa kawan kami bahkan sudah dijewer kupingnya, karena cicak bersendawa saat mereka jajan melebihi uang yang diberikan”, seorang murid TK yang tampaknya lebih senior dibandingkan kawan-kawannya ikut mencurahkan perasaan hatinya.

“Betul”, tukas murid TK lainnya, “Hukum rimba mesti dikembalikan. Kekuasaan untuk yang kuat, kebebasan untuk mereka yang terhormat”

Raja buaya menarik nafas lega, dia puas mendengarkan dukungan dari murid-murid TK ini. Tetapi dalam suasana diskusi yang penuh keakraban itu, terdengar suara monyet yang mengganggu. Sebenarnya sudah lama suara itu terdengar, tetapi makin lama makin kencang. Murid-murid TK yang merasa tepian sungai itu sebagai panggung mereka jelas merasa terganggu. Salah seorang di antara mereka yang gemar mendengus layaknya banteng bertanya,

“Hei, kenapa monyet-monyet itu teriak-teriak?”

“Itulah faktanya”, ungkap raja buaya kembali menekuk muka, “kami ini tidak lagi dipercaya. Raja rimba memerintahkan mereka untuk menengahi kami dengan cicak. Nah kalian tahu sendiri, betapa genitnya monyet-monyet itu menarik perhatian burung-burung. Sejak ditugaskan, mereka tidak henti menyerang kami. Ah memang sudah suratan takdir kami ini hidup sendiri, tanpa cinta, tanpa belaian dan tentu tanpa kata sayang”

“Oh buaya, janganlah bersedih hati. Karena sesungguhnya, bila engkau tahu, kami pun terganggu dengan monyet-monyet itu. Mereka telah merebut panggung kami di pinggiran sungai ini. Seharusnya Cuma suara kami yang terdengar disini, tetapi mereka telah merusaknya. Buaya, kami ada di belakangmu. Kau lah idola kami, tidak terhitung prestasimu. Tidak layak rimba raya memperlakukan kalian seperti ini”, murid TK bermata biru dengan pijar putih matahari ikut bersuara.

“Baiklah kawan-kawan kecil, kami kembali bersemangat untuk memenjarakan cicak-cicak itu. Dukungan ini sangat berarti bagi kami. Ingat, ini bukan lagi masalah kebenaran tetapi kehormatan! Dan bila sudah bicara masalah kehormatan tidak akan ada yang bisa menghalangi kami, bahkan kebenaran itu sendiri!”

Riuh rendah terdengar suara murid-murid TK menelan suara monyet. Bertepuk tangan mereka menyambut semangat buaya. Berteman dengan buaya tentu jauh keren dibanding berteman dengan cicak. Ini bukan lagi masalah pemihakan, tetapi keren-kerenan. Dibalik semak, para orang tua kuatir melihat anak-anak mereka berpelukan dengan buaya sembari bertanya-tanya, “apakah mereka telah salah mendidik anak-anak yang tidak pernah beranjak dari kelas NOL BESAR itu?”
by e.s. ito ~ November 7th, 2009.