Perhelatan muktamar NU ke 32 memang sudah usai tanggal 28 Maret yang lalu di ‎Asrama Haji Makasar, Sulawesi Selatan, dengan terpilihnya duet Dr. (Hc). KH. MA. Sahal ‎Mahfudh sebagai Rais Am dan Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj, MA selaku Ketua Umum Tanfidziyah ‎Pengurus Besar Nahdlatul Ulama masa bakti 2010-2015.‎

Pelaksanaan muktamar NU ke 32 itu konon dianggap sebagai muktamar terbesar dan ‎terpanas. Terbesar dalam arti selain diikuti 5 orang delegasi resmi dari sekitar 469 PCNU plus 7 ‎orang dari 33 PWNU dan 3 orang dari 17 PCINU, belum termasuk peninjau yang resmi dan ‎setengah resmi plus penggembira dan para undangan yang betul-betul diundang dan yang tidak ‎‎(: memaksa) diundang. Semua tumplek blek ikut ngayubagyo atas terselenggaranya muktamar ‎NU. Diperkirakan tidak kurang dari sepuluh ribu orang hadir sewaktu pembukaan muktamar ‎oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di gedung CCC Makasar yang megah di pantai Losari ‎dekat Trans Studio JK yang kesohor sebagai disneyland-nya Asean itu.‎

Dianggap sebagai muktamar terpanas karena gaung pelaksanaan muktamar yang ‎sempat diundur dua kali ini betul-betul menyedot perhatian publik nasional dari berbagai ‎kalangan. Aroma persaingan antar kandidat begitu menyengat terasa sejak 6-7 bulan sebelum ‎pelaksanaan. Selain aktif mengadakan road show dan anjangsana ke tiap PWNU dan PCNU di ‎seluruh pelosok tanah air, para kandidat juga aktif menghiasi media massa dengan bermacam ‎kemasannya. Pemanfaatan jaringan berbagai mesin (partai) politik yang dimiliki oleh masing-‎masing kandidat demikian terasa dan sangat kasat mata untuk tidak dibilang vulgar. Demikian ‎juga dengan kemampuan pendanaan dan penguasaan fundraising menjadi yang tidak ‎terhindari. Tidak heran bila Gus Mus (KH. Mustofa Bishri) menyatakan bhw muktamar kali ini ‎tidak ada bedanya dengan pilkada. ‎

Ironisnya, di arena muktamar, gaung pemilihan Ketua Umum Tanfidzyah ternyata masih ‎kalah kuat dengan perdebatan siapa Rais Amnya. Hal ini betul-betul diluar tradisi NU yang ‎terjadi sejak berdirinya hingga saat ini. Semenjak organisasi ini didirikan oleh Hadratus Syaikh ‎Hasyim Asy’ari pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926) hingga muktamar ke 31 di Asrama Haji ‎Donohudan, Solo pada 2004 kemarin, posisi Rais Akbar yang kemudian diganti Rais ‘Am itu tabu ‎untuk dibicarakan apalagi diperdebatkan. Namun yang terjadi di muktamar kemarin, justru ‎posisi Rais ‘Am yang menjadi polemik paling hangat di arena karena konon masing-masing ‎kandidat juga membentuk tim sukses.‎
Pesantren: Pemegang Saham Mayoritas

Jam’iyah Nahdlatul Ulama seperti yang ada saat ini sebenarnya berawal dari kegigihan ‎kalangan pesantren melawan kolonialisme. Munculnya gerakan Kebangkitan Nasional pada ‎‎1908 mereka respon dengan membentuk organisasi pergerakan yang bernama Nahdlatut ‎Wathan (Kebangkitan Tanah Air) 1916. Kemudian tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar yang ‎dikenal juga dengan Nahdlatul Fikri (Kebangkitan Pemikiran), sebagai wahana pendidikan sosial ‎politik dan keagamaan kaum santri. Dari sana kemudian didirikan Nahdlatut Tujjar, ‎‎(Pergerakan Kaum Sudagar). Serikat itu dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian ‎rakyat. Dengan adanya Nahdlatul Tujjar itu, maka Taswirul Afkar, selain tampil sebagi ‎kelompok studi juga menjadi lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki ‎cabang di beberapa kota.‎

Pada saat Raja Ibnu Saud hendak menerapkan mazhab wahabi di Mekah, dan akan ‎menghancurkan semua peninggalan sejarah Islam maupun pra-Islam, yang selama ini banyak ‎diziarahi umat Islam karena dianggap bi’dah, mendapat sambutan hangat dari kaum modernis ‎di Indonesia, baik kalangan Muhammadiyah di bawah pimpinan Ahmad Dahlan, maupun PSII di ‎bahwah pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto. Sebaliknya, kalangan pesantren yang selama ini ‎membela keberagaman, menolak pembatasan bermadzhab dan penghancuran warisan ‎peradaban tersebut.‎

Sikapnya yang berbeda, membuat pesantren dikeluarkan dari anggota Kongres Al Islam ‎di Yogyakarta 1925, akibatnya kalangan pesantren juga tidak dilibatkan sebagai delegasi dalam ‎Mu’tamar ‘Alam Islami (Kongres Islam Internasional) di Mekah yang akan mengesahkan ‎keputusan tersebut. Didorong oleh minatnya yang gigih untuk menciptakan kebebsan ‎bermadzhab serta peduli terhadap pelestarian warisan peradaban, kalangan pesantren ‎terpaksa membuat delegasi sendiri yang dinamai dengan Komite Hejaz, yang diketuai oleh KH. ‎Wahab Hasbullah. ‎

Atas desakan kalangan pesantren yang terhimpun dalam Komite Hejaz, dan tantangan ‎dari segala penjuru umat Islam di dunia, Raja Ibnu Saud mengurungkan niatnya. Hasilnya ‎hingga saat ini di Mekah bebas dilaksanakan ibadah sesuai dengan madzhab mereka masing-‎masing. Itulah peran internasional kalangan pesantren pertama, yang berhasil ‎memperjuangkan kebebasan bermadzhab dan berhasil menyelamatkan peninggalan sejarah ‎serta peradaban yang sangat berharga.‎

Dari rekaman perjalanan sejarah itu nyata bahwa pesantren merupakan pemegang ‎saham mayoritas dalam jam’iyah Nahdlatul Ulama. Pesantren seharusnya menjadi penentu ‎arah kebijakan dan gerak perjuangan jam’iyah ini. Pembelaan dan perhatian utama dari ‎jam’iyah ini pada pesantren menjadi yang niscaya dan sewajarnya. Tugas utama pesantren ‎untuk membentengi moral dan menjunjung tinggi al-akhlaq al-karimah masyarakat adalah juga ‎menjadi tugas utama dari jam’iyah Nahdlatul Ulama. Selain sebagai agent of change dan ‎cultural broker, pesantren memiliki fungsi sosial yang tinggi, yaitu peningkatkan kemampuan ‎ekonomi masyarakat. Karena dengan memiliki tingkat ekonomi yang tinggi menyebabkan ‎masyarakat mempunyai ketangguhan dan kegigihan dalam memperjuangkan serta ‎mempertahankan nilai-nilai kebenaran ajaran Islam yang rahmatan lil a-lamiin. ‎

Dengan demikian, kita masih berharap terhadap kepengurusan baru PBNU masa bhakti ‎‎2010-2015, yang baru terpilih di Makasar kemarin untuk tidak melupakan sejarah dan banyak ‎belajar dari sejarah demi dan untuk kemajuan dan kebesaran jam’iyah Nahdlatul Ulama yang ‎kita cintai ini, waltandzur nafsun ma qaddamat lighad. Kalau ternyata pesantren pada ‎kepengurusan yang baru ini tetap diposisikan sebagai pelengkap penderita, yang hanya ‎berfungsi dan dicari untuk mendulang suara, tidak berlebihan kiranya bila ancaman Nabi SAW ‎akan terwujud, fantadzir as-sa’at. Jangan sampai NU berproses minat tujjar ilal fujjar, ‎naudzubillah min dzalik.‎

Demikian, mohon maaf dan semoga bermanfaat.‎

Grya Gaten, 12 April 2010‎
Khuwaidim al-Ma’ahid