Berita yang beredar akhir-akhir tentang makelar kasus dan lain sejenisnya, sungguh membuat dada ini sesak.Bagaimana mungkin, negeri yang mayoritas penduduknya memeluk ajaran ini seolah kehilangan kejujuran.

Penipuan dan pengambilan harta dengan cara haram seolah terjadi di semua lini. Tak ada lagi amanah yang dijunjung tinggi.Padahal, dalam Islam, jelas sekali doktrinnya, Laa diina liman laa amaanata lahu.Artinya,tidak beragama orang yang tidak amanah. Kejujuran dan amanah terasa begitu mahal di negeri ini. Yang menjadi pertanyaan sesungguhnya sejak kapan DNA ketidakjujuran itu bersemayam dalam otak banyak kalangan penduduk negeri ini? Apakah sejak cerita kancil mencuri timun didendangkan para ibu kepada putranya menjelang tidur.Ataukah sejak adanya cerita Roro Jonggrang menipu Prabu Bondowoso dengan membuat ayam berkokok saat hari belum pagi? Jawabnya,Allahu a`lam.

Yang jelas kita malu menjadi bagian bangsa dengan karakter tidak terpuji ini. Untuk menghibur diri, saya mengingat sebuah kisah keteladanan yang nyata terjadi beberapa abad yang lalu.Cerita tentang kejujuran yang sangat indah. Di masa tabiìn,ada seorang pebisnis bernama Yunus bin Ubaid.Ia memiliki toko perhiasan yang besar. Suatu ketika ia menyuruh saudaranya untuk menjaga tokonya karena akan keluar untuk salat.Lalu,datanglah seorang Badui yang hendak membeli perhiasan. Maka, terjadilah jual beli antara si Badui itu dengan penjaga toko tersebut. Si Badui mencari satu permata yang hendak dibelinya dengan harga empat ratus dirham. Saudara Yunus menunjukkan suatu barang yang sebenarnya berharga dua ratus dirham. Barang tersebut dibeli si Badui tersebut tanpa melakukan penawaran.

Di tengah perjalanan, si Badui ini berpapasan dengan Yunus bin Ubaid.Yunus yang mengenal barangnya, lalu bertanya kepada si Badui, ”Berapakah harga barang ini kamu beli?” Badui itu menjawab, ”Empat ratus dirham.” ”Maaf, harga sebenarnya hanya dua ratus dirham. Mari ke kedai saya supaya saya dapat mengembalikan uang kelebihan kepada saudara,” kata Yunus dengan jujur. ”Biarlah, ia tidak perlu.Aku telah merasa senang dan beruntung dengan harga yang empat ratus dirham itu sebab di kampungku harga barang ini paling murah lima ratus dirham.” Tetapi, Yunus bin Ubaid itu tidak mau melepaskan Badui itu pergi.Badui tersebut akhirnya dipaksa kembali lagi ke toko untuk menerima kembali uang senilai dua ratus dirham.

Setelah Badui itu berlalu dengan membawa uang kembalian, berkatalah saudagar Yunus kepada saudaranya, ”Apakah kamu tidak merasa malu dan takut kepada Allah atas perbuatanmu menjual barang tadi dengan harga dua kali lipatnya?” ”Tetapi, dia sendiri yang mau membelinya dengan harga empat ratus dirham,”kata penjaga toko.Yunus berkata, ”Benar, meskipun demikian kita memikul satu amanah untuk memperlakukan saudara kita seperti memperlakukan diri kita sendiri.” Kisah Yunus bin Ubaid di atas dapat menjadi pelajaran bagi kita semua, untuk jujur kepada diri sendiri dan jujur kepada orang kain.

Orang yang beriman akan mencari rezeki dengan jalan sebersih-bersihnya, tidak ada penipuan.Orang yang beriman sangat berhatihati memasukkan sesuatu ke dalam perutnya. Sebab, jika ada yang haram masuk ke dalam perutnya, ia sangat tahu bahwa itu kelak akan jadi api neraka. Yunus bin Ubaid adalah sedikit dari manusia yang sangat memahami etika bisnis. Munculnya kasus Gayus dan terbaru kasus penggelapan pajak di Surabaya sungguh membuat kita miris. Sebelumnya kita sudah miris bahwa banyak uang negara yang sebagian besar ditarik dari pajak dihambur-hamburkan para pejabat yang tidak bertanggung jawab.

Rakyatlah yang selalu jadi tertindas. Rakyatlah yang terzalimi. Membayar pajak adalah kewajiban warga negara yang baik untuk membangun. Rakyat diminta untuk taat dan patuh.Pada saat yang sama,negara semestinya juga memperhatikan nasib rakyat, dan melindungi rakyat.Pengambilan pajak harus juga adil dan tidak menzalimi rakyat.Sebab,jika ada kezaliman,uang yang diambil itu sama sekali tidak ada barakahnya. Maka, dalam mengambil pajak, negara harus jujur.

Tentang penetapan harga,Rasulullah SAW bersabda,”Sesungguhnya Allah itu penetap harga, yang menahan, yang melepas dan memberi rezeki, dan sesungguhnya aku mengharap bertemu Allah di dalam keadaan tidak seorang pun dari kamu menuntut aku lantaran menzalimi dalam hal jiwa atau dalam harga.” Marilah kita membudayakan sifat jujur karena Tuhan mencintai orang-orang yang jujur.

Dalam Islam, orang-orang jujur itu disebut shiddiqin.Tempatnya adalah bersama para nabi dan rasul, serta orang-orang saleh yang dimuliakan Allah SWT.
Kedoya,20 April 2010

Habiburrahman El Shirazy
Budayawan Muda, Penulis Novel Ketika Cinta Bertasbih