Yesterday at 10:51am
Cerita ini sudah lama saya peroleh dari teman…
namun cukup menginspirasi….
sehingga ada keinginan untuk berbagi dengan semua..
mudah2an bermanfaat…

******************************************************
Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah
saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen
sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang
memilikinya.

Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama “Smiling”..
Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya
kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi
mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan
kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu
tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah mudah.
Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak
bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi ke
restoran McDonald’s yang berada di sekitar kampus… Pagi itu udaranya
sangat dingin dan kering…! Sewaktu suami saya akan masuk dalam
antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si Bungsu
sambil mencari tempat duduk yang masih kosong.

Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak
setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang
semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.
Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat
mengapa mereka semua pada menyingkir ? Saat berbalik itulah saya membaui
suatu “bau badan kotor” yang cukup menyengat, dan… tepat di belakang
saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil…! Saya
bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali…..

Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang
lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang
“tersenyum” kearah saya….
Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam… tapi juga memancarkan
kasih sayang…!
Ia menatap kearah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima
‘kehadirannya’ ditempat itu… Ia menyapa “Good day..!” sambil tetap
tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk
membayar makanan yang akan dipesan. Secara spontan saya membalas
senyumnya, dan seketika teringat oleh saya ‘tugas’ yang diberikan oleh
dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh
berdiri di belakang temannya. Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua
itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah
“penolong”nya. Saya merasa sangat prihatin.. setelah mengetahui bahwa
ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya bersama mereka…,dan
kami bertiga tiba-2 saja sudah sampai didepan counter.

Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya
pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan… Lelaki
bermata biru segera memesan “Kopi saja, satu cangkir… Nona !”
Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh
mereka (sudah menjadi aturan direstoran disini, jika ingin duduk di
dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli
sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.
Tiba-2 saja saya diserang oleh rasa iba… membuat saya sempat terpaku
beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat
duduk yang jauh terpisah dari tamu-2 lainnya, yang hampir
semuanya…sedang mengamati mereka. Pada saat yang bersamaan, saya baru
menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju
ke diri saya…, dan pasti juga melihat semua ‘tindakan’ saya…

Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk
ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum…
dan minta diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam
nampan terpisah.

Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada
di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat
duduk suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya
berjalan melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih kedua lelaki
itu untuk beristirahat. .. saya letakkan nampan berisi makanan itu di
atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan
dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap.. “makanan ini telah
saya pesan untuk kalian berdua….”
Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai
basah ber-kaca2… dan dia hanya mampu berkata “Terima kasih banyak,
nyonya….”

Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya
berkata… “Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian,
Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu
ketelinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian….”
Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk
lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh
kedua lelaki itu….

Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan
mereka… dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari
tempat duduk mereka. Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan
tangis saya sambil tersenyum dan berkata… “Sekarang saya tahu, kenapa
Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku…, yang pasti, untuk
memberikan ‘keteduhan’ bagi diriku dan anak-2ku…! ” Kami saling
berpegangan tangan beberapa saat…… dan saat itu kami benar-2
bersyukur dan menyadari,bahwa hanya karena ‘bisikanNYA’ lah kami telah
mampu memanfaatkan ‘kesempatan’ .. untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang
lain yang sedang sangat membutuhkan.

Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan
meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya… mereka
satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin ‘berjabat
tangan’ dengan kami… Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi
tangan saya, dan berucap.. “tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang
mahal bagi kami semua yang berada disini…, jika suatu saat saya diberi
kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan
tadi kepada kami…” Saya hanya bisa berucap “terimakasih” sambil
tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk
melihat kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada ‘magnit’ yang
menghubungkan bathin kami, mereka langsung menoleh kearah kami sambil
tersenyum, lalu melambai-2kan tangannya kearah kami…! Dalam perjalanan
pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap
kedua orang tunawisma tadi, itu benar2 ‘tindakan’ yang tidak pernah
terpikir oleh saya dan sekaligus merupakan ‘hidayah’ bagi saya…,
maupun bagi orang-2 yang ada disekitar saya saat itu. Pengalaman hari
itu menunjukkan kepada saya betapa ‘kasih sayang’ Tuhan itu sangat
HANGAT dan INDAH sekali…!

Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan ‘cerita’ ini
ditangan saya. Saya menyerahkan ‘paper’ saya kepada dosen saya. Dan
keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke
depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata, “Bolehkah saya
membagikan ceritamu ini kepada yang lain?” dengan senang hati saya
mengiyakan. Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari
kelas untuk membacakan paper saya. Ia mulai membaca…. para siswapun
mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah
menjadi sunyi… Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam
membawakan ceritanya… membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah
itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung,
sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang didekat saya
diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.

Diakhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya
dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis diakhir paper saya
.. “Tersenyumlah dengan ‘HATImu’, dan kau akan mengetahui betapa
‘dahsyat’ dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu…”
Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah ‘menggunakan’ diri saya untuk
menyentuh orang-orang yang ada di McDonald’s, suamiku, anakku, guruku,
dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai
mahasiswi. Saya lulus… dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah
saya dapatkan di bangku kuliah manapun, yaitu : “PENERIMAAN TANPA
SYARAT”.

Banyak cerita tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh
para pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai
cerita ini diharapkan dapat mengambil pelajaran bagaimana cara….
MENCINTAI SESAMA, DENGAN MEMANFAATKAN SEDIKIT HARTA-BENDA YANG KITA
MILIKI…, bukannya… MENCINTAI HARTA-BENDA YANG BUKAN MILIK KITA,…
DENGAN MEMANFAATKAN SESAMA…!

Jika anda berpikir bahwa cerita ini telah menyentuh hati anda, teruskan
cerita ini kepada orang2 terdekat anda. Disini ada ‘malaikat’ yang akan
menyertai anda, agar setidaknya orang yang membaca cerita ini akan
tergerak hatinya untuk bisa berbuat sesuatu (sekecil apapun) bagi
sesama… yang sedang membutuhkan uluran tangannya… !
Orang bijak mengatakan :
Banyak orang yang datang dan pergi dari kehidupanmu. .., tetapi hanya
‘sahabat yang bijak’ yang akan meninggalkan JEJAK di dalam hatimu.
Untuk berinteraksi dengan dirimu, gunakan nalarmu… Tetapi untuk
berinteraksi dengan orang lain, gunakan HATImu…!
Orang yang kehilangan uang, akan kehilangan banyak; Orang yang
kehilangan teman, akan kehilangan lebih banyak…! Tapi orang yang
kehilangan keyakinan, akan kehilangan semuanya..!

Tuhan menjamin akan memberikan kepada setiap hewan makanan bagi mereka,
tetapi DIA tidak melemparkan makanan itu ke dalam sarang mereka,…
hewan itu tetap harus BERIKHTIAR untuk bisa mendapatkannya.
Orang-orang muda yang ‘cantik’ adalah hasil kerja alam, tetapi
orang-orang tua yang ‘cantik’ adalah hasil karya seni…. Belajarlah
dari PENGALAMAN MEREKA, karena engkau tidak dapat hidup cukup lama untuk
bisa mendapatkan semua itu dari pengalaman dirimu sendiri.
Cherio…

Agama sebagai pengalaman menjadi katagori yg lebih penting
daripada agama sebagai rumusan atau pemahaman,
pemahaman tanpa amalan hanya akan menjadi filsafat kosong,
sebab ujung dari suatu keyakinan adalah tindakan .
Tidak bertindak berarti tidak yakin .