Dari dulu sampai sekarang permasalahan rokok tidak pernah berhenti diperbincangkan. Berikut ini adalah sebagian dari diskusi tentang rokok, khususnya mengenai hukum rokok dalam kacamata syariah.

Tanya : Saya dengar bahwa hukum rokok sekarang ini adalah haram?

Jawab : Pada dasarnya tidak ada nash yang shorih (jelas) yang mengatakan bahwa rokok itu haram. Dan dalam kaidah ushul fiqih Syafi’I bahwa segala sesuatu pada asalnya adalah mubah (الأصل فى الأشياء الاباحة) kecuali jika ada dalil yang mengharamkannya. Nah, karena tidak ditemukan dalil baik dari al-Qur’an maupun al-Hadits yang mengharamkan rokok, maka pengambilan hukumnya dengan istish-hab (kembali ke hukum asalnya) yaitu mubah. Jadi hukum rokok pada asalnya adalah mubah.

Setelah itu para ulama membahas efek negatif dari merokok seperti menyebabkan bau mulut dan asapnya yang terkadang bisa menggangu orang lain, dan juga tidak baik untuk kesehatan, maka kemudian para ulama menetapkan bahwa rokok hukumnya makruh. Dan makruh disini adalah makruh li ghoirih (‘aridli) bukan makruh li dzatih. Jadi jika sebab-sebab kemakruhannya dapat dihilangkan, maka hukumnya menjadi tidak makruh lagi.

Tanya : Kaitannya rokok dapat merusak kesehatan sehingga sudah seharusnya para ulama zaman sekarang menghukumi rokok itu haram, juga berdasarkan hadits abu dawud ini?
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ رَسُوْلَ الله صَلَّى الله عَلَیْھِ وَسَلَّمَ نَھَى عَنْ كِّل مُسْكِرٍ وَمُفْتِرٍ [رَوَاهُ أَحْمَدُ
وَأَبُو دَاوُدَ

Artinya: Dari Ummi Salamah bahwa Rasulullah saw melarang setiap yang
memabukkan dan setiap yang melemahkan [HR Ahmad dan Abu Dawud)

Jawab: Pertama, jika kita ingin memasukkan unsur kesehatan sehingga menjadi ‘illat untuk mengharamkan rokok, maka perlu kita kaji dulu seberapa jauh rokok dalam hal merusak kesehatan. Dan seperti yang kita ketahui bahwa rokok tidak merusak kesehatan secara langsung atau berefek seketika, akan tetapi setelah melalui jangka waktu yang lama (bertahun-tahun) dan dilakukan secara terus menerus (kontinyu), maka barulah perokok menjadi sakit atau rusak kesehatannya. Karena rokok tidak “melemahkan” secara langsung, maka dalil melemahkan (َمُفْتِرٍ) ini lebih tepat digunakan untuk pil koplo, racun, obat-obatan terlarang, dan lain sebagainya, bukan dalil yang tepat untuk rokok.

Yang kedua dari sisi lafadz, hadits diatas terdapat dua kata yang seimbang yaitu memabukkan (مُسْكِر) dan melemahkan (َمُفْتِرٍ), dibuktikan dengan adanya kata sambung “dan”, yang dalam kaidah bahasa arab disebut ‘athof. Maka secara hukum, posisi kedua hal tersebut (mabuk dan lemah) adalah sama dalam sebab, akibat, dan kadarnya. Dalam hal ini dapat kita ambil contoh, bahwa tidak ada orang yang minum khomr setiap hari secara rutin, baru merasakan efek mabuk (مُسْكِر) setelah berpuluh tahun kemudian. Sedangkan efek melemahkan (َمُفْتِرٍ) dari rokok bersifat menahun (bertahun-tahun) , maka orang yang pernah mencoba menghisap rokok satu kali saja selama hidupnya maka tentunya tidak akan berakibat merugikan terhadap kesehatannya.

Tanya : Jika dikatakan bahwa rokok tidak merusak kesehatan secara langsung dan efeknya juga tidak seketika, maka bagaimana dengan orang yang baru pertama kali merokok biasanya akan batuk-batuk?

Jawab: Batuk disini bukan berarti sakit batuk, tapi hanyalah bentuk refleks setelah ada benda asing yang masuk ke tenggorokan. Dan ini terjadi karena orang tersebut baru pertama kali merokok sehingga belum tahu cara menghisap rokok yang tepat. Oleh karena itu biasanya setelah merokok untuk kedua kalinya tidak akan batuk lagi. Seperti orang yang minum air dengan cara yang tidak tepat maka akan tersedak. Juga orang yang pertama kali mencium parfum dengan bau wangi yang menyengat biasanya akan bersin-bersin. Maka tidak bisa dikatakan dalam kasus ini bahwa minum air dan mencium parfum menjadi haram hukumnya. Dan beberapa orang juga tidak mengalami batuk-batuk walaupun baru pertama kali merokok.

Tanya : Orang-orang yang mengharamkan rokok berhujjah dengan ayat 195 surat al-Baqoroh?
ولا تلقوا بأيديكم الى التهلكة ؟
(Artinya : dan janganlah kamu jatuhkan dirimu dalam kehancuran)

Jawab : Dalam kaidah ushul fiqh, ketika membaca teks dalil kita dianjurkan untuk mendahulukan dalam melihat keumuman lafadz (dzohir lafadz) dan mengakhirkan -bukan mengesampingkan- dalam melihat sebab/kejadian pada saat turunnya dalil tersebut (asbabun nuzul).
Tetapi bukan berarti lalu kita bisa “memakan” ayat ini secara mentah-mentah. Apalagi yang disebutkan itu hanyalah potongan kalimat dari ayat yang panjang. Kalimat yang sempurna dari ayat tersebut adalah;
وأنفقوا فى سبيل الله ولا تلقوا بأيديكم الى التهلكة وأحسنوا ان الله يحب المحسنين
(Artinya : Dan berinfaklah di jalan Allah dan jangan jatuhkan dirimu dalam kehancuran, dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan)

Selain itu, kata at-tahlukah ( التهلكة ) menggunakan tambahan “al” (alif dan lam), sehingga kata tersebut adalah ma’rifah bukan nakiroh. Dalam hal ini kata tersebut adalah berlaku khusus, bukan umum. Oleh karena itu kita harus melihat apa yang dituju dari “al” tersebut.

Dalam hadits riwayat at-Tirmidzi, Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Hibban, dan al-Hakim menyebutkan bahwa at-tahlukah ( التهلكة ) bermakna terlena oleh harta dan meninggalkan jihad. Dan dalam kitab al-Jami’ li ahkamil Qur’an karangan al-Qurthubi, disebutkan bahwa Ibnu Abbas r.a. dan Hudzaifah bin al-Yaman mengatakan bahwa arti at-tahlukah adalah meninggalkan infaq di jalan Allah dan khawatir terhadap nasib keluarganya. Dan dari sahabat Rasulullah Nu’man bin Basyir r.a. mengatakan bahwa at-tahlukah adalah seseorang yang berdosa kemudian mengatakan bahwa Allah tidak mengampuninya (Tafsir al-Quran al-Adzim – Ibnu Katsir). Sedangkan al-Bukhori dalam hadits sohihnya tentang ayat ini dikatakan; bahwa ayat ini turun dalam masalah nafkah.

Jadi semua riwayat dalam ayat ini menyatakan bahwa yang dimaksud at-tahlukah disini bukan merusak jasad, apalagi dikaitkan dengan merusak kesehatan karena merokok yang tentunya jauh dari keumuman lafadz dan arti yang sebenarnya, juga jauh dari asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya) ayat ini.

Tanya : Orang-orang yang mengharamkan rokok juga berhujjah dengan ayat 157 surat al-A’rof;
…و يحلّ لهم الطيبات و يحرم عليهم الخبائث…
Artinya : (…menghalalkan atas mereka apa-apa yang baik dan mengharamkan kepada mereka apa-apa yang buruk…)?

Jawab : Sekali lagi jangan suka “memakan mentah-mentah” suatu ayat, tapi cobalah untuk membuka tafsir dari ayat tersebut. Karena sekali lagi dlohir teks ayat tersebut menggunakan tambahan “al” (الطيبات ) dan (الخبائث ) adalah ma’rifah bukan nakiroh. Jadi artinya tidak semua yang buruk lalu otomatis menjadi haram.

Maksud dari menghalalkan apa-apa yang baik adalah menghalalkan segala sesuatu yang baik yang diharamkan oleh Bani Israil dan kaum jahiliyah sebelum kedatangan Islam. Dan mengharamkan apa-apa yang buruk adalah segala sesuatu yang memang diharamkan seperti darah, babi, bangkai, dan lain sebagainya (Tafsir al-Baghowiy) . Dan Allah tidak mengaharamkan sesuatu dengan nash kecuali memang sesuatu itu adalah buruk. Bukan diartikan sebaliknya bahwa segala sesuatu yang buruk adalah haram. Akan tetapi arti dari ayat tersebut adalah bahwa sesuatu yang nash memang mengharamkannya maka sesuatu itu pasti buruk.

Tanya : Dan orang-orang yang mengharamkan rokok juga berhujjah dengan hadits riwayat ad-Daruquthni dan al-Baihaqi;
لا ضرار ولا ضرار (رواه الدارقطني و البيهقي)
(Artinya : Tidak ada dloror dan dliror )

Jawab : Dalam kitab Fathul Mubin syarah kitab Arbain Nawawi karangan Ibnu Hajar al-Haitami disebutkan makna dloror adalah perbuatan yang merugikan / membahayakan orang lain yang perbuatan itu bermanfaat bagi pelakunya. Sedangkan dliror artinya perbuatan yang merugikan / membahayakan orang lain dan perbuatan itu tidak bermanfaat bagi pelakunya. Jadi jelas bahwa makna dloror dan dliror dari hadits ini adalah untuk orang lain, bukan dloror atau dliror untuk diri pelaku sendiri. Dan kemudian dibahas panjang lebar masalah perbuatan yang merugikan / membahayakan orang lain yang berujung pada hukum wajib, sunah, haram ,makruh, dan mubah. Seperti makan bawang (yang bau nya dapat mengganggu orang lain) maka hukumnya makruh, dan meletakkan kayu di dinding milik tetangganya (yang juga bepotensi menggannggu kenyamanan orang lain) hukumnya mubah, menyerang/menggangg u untuk membela diri dari serangan orang kafir (الايصاال) adalah wajib, termasuk hukumnya adzan dengan speaker yang berpotensi mengganggu penduduk sekitar masjid adalah tetap sunnah, juga sudah dibahas bagaimana hukumnya asap knalpot yang mengganggu kenyamanan dan membahayakan kesehatan pejalan kaki, dan lain sebagainya. Dan kaitannya dengan hal ini (mengganggu orang lain / perokok pasif) maka para ulama sudah menetapkan bahwa rokok hukumnya adalah makruh.

Tanya : Jika memang hukum rokok tidak ada dalam nash al-Qur’an dan al-Hadits, padahal dalam hukum Islam ada ijma’ dan qiyas. Seperti ekstasi tentunya tidak ada nashnya tapi kemudian diqiyaskan dengan khomr. Dan untuk ijma’, bukankah sudah ada pertemuan ulama sedunia yang mengharamkan rokok? Dan juga sudah ada fatwa MUI yang mengharamkan rokok?

Jawab: Yang pertama tentang qiyas. Dalam masalah ekstasi diqiyaskan dengan khomr karena memiliki ‘illat yang sama, yaitu memabukkan. Sedangkan rokok diqiyaskan dengan apa? Karena rokok tidak memabukkan. Dan jika diqiyaskan dengan racun, maka ‘illatnya menjadi tidak sama. Karena racun memiliki efek yang merusak/melemahkan secara langsung dan seketika, sedangkan rokok tidak seperti itu.

Yang kedua tentang ijma’, maka kita harus melihat syarat-syarat ijma’ sesuai dengan ilmu ushul fiqih. Dan pertemuan ulama sedunia tersebut apakah sudah bisa disebut sebagai ijma’? mungkin yang diundang dalam pertemuan tersebut adalah para ulama yang memang anti rokok. Jadi ini pertemuan kelompok yang mana? Karena kelompok ulama lainnya juga mengadakan pertemuan ulama sedunia yang menghasilkan keputusan bahwa hukum rokok adalah makruh.

Yang ketiga tentang fatwa MUI terbaru disebutkan bahwa hukum rokok adalah haram bagi anak-anak dibawah usia 17 tahun dan makruh bagi orang dewasa. Walaupun ini juga sedikit aneh, karena justru anak-anak yang belum baligh, belum tamyiz, belum mempunyai beban dosa, kok malah dihukumi haram?

Seharusnya rokok itu dilarang, dan bukan diharamkan. karena haram itu mempunyai konsekuensi yang “luar biasa” dalam agama. Solusi yang tepat adalah seperti Pemda DKI yang mengeluarkan Perda tentang larangan merokok di tempat-tempat tertentu, larangan menjual rokok kepada anak-anak, peraturan kantor yang melarang karyawannya merokok, membatasi produksi dan iklan rokok, dan lain sebagainya. Itu bagus sekali.

Tanya : Orang yang merokok telah membuang uang untuk sesuatu yang mubadzir?

Jawab : Tidak seburuk itu, karena merokok bukan membakar uang, tapi ada sesuatu yang dikonsumsi, ada kebutuhan yang terpenuhi, dan ada kepuasan yang diperoleh.

Tanya : Saya kira semua ini tergantung dari hawa nafsu, karena kebanyakan dari ulama yang mengatakan bahwa rokok itu halal atau makruh ternyata mereka sendiri adalah perokok berat?

Jawab : Anda harus bertaubat karena telah berprasangka buruk (su’udzon) terhadap para ulama tersebut. Saya yakin para ulama yang mengatakan bahwa rokok itu halal (makruh), mereka telah menetapkan hukum tidak dengan hawa nafsunya, tetapi dengan ijtihad, istikhoroh, obyektivitas, dan dengan niat yang suci. Mereka tidak ingin mengharamkan sesuatu yang halal.Para ulama tersebut tidak ingin termasuk orang-orang yang dengan mudah mengharamkan sesuatu.

Jangan dianggap bahwa ulama yang memakruhkan rokok adalah pro-rokok, sedangkan yang haram itu anti-rokok. Karena baik makruh maupun haram sama-sama mencegah orang untuk merokok. Ini hanya masalah kehati-hatian dan obyektivitas dalam menetapkan hukum. Bahkan diriwayatkan bahwa saking hati-hatinya Imam malik dalam menetapkan hukum haram, maka muncul dari beliau istilah makruh tahrim ( كراهة تحريم) dan makruh tanzih ( كراهة تنزيه).

Tanya : Bagaimanapun juga masalah kesehatan tetap harus ditambahkan sebagi “illat´ dalam membuat keputusan baru dalam hukum rokok saat ini?

Jawab : Ya betul, sekarang ini masalah kesehatan memang harus ditambahkan sebaigai ‘illat baru dalam menghukumi rokok. Akan tetapi karena efek merusak kesehatan ini tidak secara langsung dan seketika, maka belum sampai ke derajat yang bisa dihukumi haram, selain tidak ada dalil yang tepat dan jelas dari al-Quran maupun hadits yang bisa mengharamkan rokok. Jadi untuk saat ini bisa dikatakan bahwa hukum rokok BERTAMBAH KEMAKRUHANNYA (أشدّ كراهية). Dan saya anjurkan khususnya kepada orang-orang yang berpendidikan dan para tokoh masyarakat untuk menjaga kepribadiannya dengan tidak merokok. Karena sudah seharusnya mereka menjadi contoh bagi masyarakat umum dalam perilaku sehari-harinya. Yaitu tidak hanya menjalankan yang fardlu saja, tetapi juga selalu menjaga hal-hal yang sunah. Dan tidak hanya meninggalkan perkara yang haram, tetapi juga menjauhkan diri dari hal-hal yang makruh. Wallohu a’lam bis showab.

By : H. Helmi Wafa’, SE.
Ponpes Futuhiyyah Mranggen Demak, Dilarang merokok di lingkungan pondok.