KH. Hasan Musthafa, Cikajang, Garut – Jawa Barat


Haji Hasan Musthafa adalah sosok Pujangga dan Sastrawan Sunda. Ia lahir pada
tanggal 3 Juni 1852 M. bertepatan dengan 4 Sya’ban 1268 H. di Cikajang
Garut, sebuah wilayah yang terletak di Bagian Timur Kota Priangan. Dia
adalah putera ke tiga dari pasangan Nyi Mas Salpah dan Mas Sastramanggala
yang kemudian namanya berubah menjadi Utsman.‎
Hasan Musthafa lahir dalam lingkungan keluarga terpandang. Ayahnya adalah
keturunan Tumenggung Wiratanubaya, seorang Bupati di Parakanmuncang, dan
menjabat sebagai Camat di Cikajang. Leluhur ayahnya memiliki keterkaitan
erat dengan Raja terkenal dari Kerajaan Pajajaran, yaitu Prabu Kiansantang.‎
Sementara itu, ibunya berasal dari keluarga Dalem Sunan Pagerjaya Suci,
Garut. Nenek-moyang ibunya berasal dari muslim yang shaleh, yang mencurahkan
segenap tenaganya untuk menyebarkan ajaran-ajaran Islam di tengah masyarakat
Sunda yang pada saat itu masih menyembah patung-patung. Kebanyakan mereka
adalah para Kiai dan pengikut Tarekat Qadiriyah. Selain itu, mereka juga
dikenal sebagai pelopor musisi Sunda, yang menciptakan sinom pangrawit,
sebuah lagu tradisional Sunda.‎
Atas kekerasan hati ayahnya, sejak kecil Hasan Musthafa ditempat di
lingkungan pendidikan pesantren. Ia tidak pernah merasakan pendidikan lewat
bangku sekolah. Mula-mula, ia belajar Al-Qur’an kepada seorang Kiai besar di
Kiara Koneng, yaitu Kiai Hasan Basari.‎
Memasuki usia delapan, Hasan Musthafa dibawa oleh ayahnya ke Mekkah untuk
melakukan ibadah haji. Sepulang dari sana, ia melanglang-buana melanjutkan
perjalanannya untuk membekali diri dengan berbagai ilmu pengetahuan agama,
seperti fiqh, ushul fiqh, tafsir, mantiq, nahwu, sharaf, balaghah, tauhid,
tafsir dan tasawuf.‎
Pengembaraan keilmuannya ia tempuh dengan memasuki satu pesantren ke
pesantren yang lain. Ia pun berguru kepada R. H. Yahya di Garut, Kiai ‘Abd.
Al-Qahhar di Surabaya, dan kemudian Kiai Khalil di Bangkalan, salah seorang
Kiai yang sangat terkenal dan dihormati di kalangan organisasi keagamaan
terbesar Nahdlatul Ulama. K.H. Hasyim Asy’ari (pendiri organisasi ini), juga
pernah berguru kepadanya.‎
Untuk kedua kalinya, setelah menikahi seorang gadis yang bernama Nyi Mas
Liut, Hasan Musthafa pergi ke Mekkah. Kepergiannya kali ini dalam rangka
menemani sang istri melakukan ibadah haji. Usia Hasan Musthafa, pada saat
itu, sedang menginjak duapuluh tahun. Ketika pergi ke Mekkah, anak
pertamanya, Muhammad Wardi, ia titipkan pada neneknya.‎
Selesai menyempurnakan ibadah haji bersama istrinya, Hasan Musthafa tidak
langsung pulang ke kampung halamannya, tetapi menetap di sana hingga empat
tahun lamanya. Kemudian ia meninggalkan Tanah Suci. Di tengah perjalanan
menuju ke kampung halaman ini, sang istri tercinta menghembuskan nafas untuk
selamanya. Selama di Mekkah, ia dikaruniai seorang putra yang bernama
Muhammad Subki. Kedukaan hati Hasan Musthafa semakin bertambah, karena
setibanya di rumah, ia telah di tinggalkan oleh ibu kandungnya.‎
Beberapa tahun kemudian, Hasan Musthafa memutuskan untuk pergi ke Mekkah.
Kesempatan kali ini ia gunakan dengan sungguh-sungguh untuk berguru kepada
sejumlah Syekh di Mekkah. Di antaranya, Syekh Musthafa ‘Afifi, Syekh ‘Abd.
Allah Zawawi, Syekh ‘Abd. Al-Hamid Al-Daghestani, Sayyid Ahmad ibn Zaini
Dahlan dan Syekh Muhammad. Menurut keterangan H. Abu Bakar, ia juga berguru
kepada Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Hasb Allah dan Syekh Bakar Al-Satha’.
Dari sederetan guru yang disebut ini, semua adalah orang Arab, kecuali Syekh
Nawawi Al-Bantani.‎
Sebagai sosok muda yang memiliki ghirah tinggi dalam mencari ilmu, Hasan
Musthafa tidak mau kalah dengan para pelajar sezamannya yang mengenyam
bangku pendidikan formal. Ia selalu aktif dalam kegiatan pertemuan dan
ceramah Masayekh Mekkah. Tak kalah penting, ia juga berusaha keras belajar
secara mandiri, tanpa seorang guru (otodidak), dengan membaca
literatur-literatur dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang dipelajari
dalam bangku pendidikan formal. Maka tidak heran, jika ia pun enjoy dengan
berbagai bidang keilmuan yang menjadi favorit para pelajar pada saat itu,
seperti fiqh, hadits, tafsir, tauhid, ushul fiqh, tasawuf, mantiq, nahwu,
sharaf, balaghah, qira’ah dan tajwid.‎
Dalam bidang tafsir, Hasan Musthafa menghabiskan waktunya untuk belajar
kitab Tafsir Al-Jalalain dan Al-Baidhawi di bawah bimbingan Syekh Muhammad,
termasuk juga mempelajari Kitab Alfiyah ibn Malik dan Shudhur Al-Dzahab.
Sementara itu, ia juga belajar Kitab Tuhfah pada Syekh ‘Abd. Al-Hamid
Al-Daghestani.‎
Di samping belajar, Hasan Musthafa masih menyempatkan dirinya untuk
mengajarkan ilmunya kepada orang lain di apartemennya yang terletak di
Wilayah Al-Qushashiyah, dan Al-Haram. Di sana, ia menjadi guru yang dicintai
dan dihormati. Pada saat itu, ia pernah menulis sebuah karangan yang
berkaitan dengan puisi Arab yang diterbitkan di Kairo.‎
Pada tahun 1885 M., Hasan Musthafa meninggalkan Mekkah, karena dipanggil
oleh H. Muhammad Musa yang –ketika itu– menjadi Penghulu Besar di Garut.
Ketika pulang, usianya beru menginjak sekitar tigapuluhtiga tahun.‎
Sekembalinya dari Mekkah, Hasan Musthafa menjadi tokoh (guru agama) yang
sangat dihormati. Hal itu tidak lain karena pemahaman dan kedalaman
pengetahuannya tentang agama Islam. Apalagi kondisi masyarakat Sunda pada
masa itu belum begitu mendalam dalam memahami Islam. Meski pun secara formal
orang-orang Sunda memeluk Islam, namun penyebaran pendidikan dan dakwah
Islam sangat terbatas. Hanya mereka yang belajar ke pesantren saja yang
memperoleh pengetahuan mendalam tentang agama Islam.‎
Kurangnya pengetahuan masyarakat Sunda tentang agama Islam, memaksa Hasan
Musthafa untuk mempergunakan lambang-lambang yang terdapat dalam tradisi
Sunda itu sendiri. Oleh karena itu, ia seringkali menerjemahkan kata-kata
bahasa Arab ke dalam bahasa Sunda, dengan cara menggunakan lambang dan
metafor yang akrab dengan lingkungan kebudayaan setempat. Setidaknya, ini
pernah ia nyatakan dalam Petikan Qur’an Katut Adab Padikana: “Baheula ku
basa Sunda ahir ku basa Arab jadi kaula nyundakeun Arab nguyang ka Arab,
ngarabkeun Sunda tina basa Arab” (Dahulu dengan bahasa Sunda, belakangan
dengan bahasa Arab, jadi aku menerjemahkan Arab ke dalam bahasa Sunda
meminta bantuan kepada Arab, menerjemahkan Sunda ke dalam bahasa Arab dari
bahasa Arab).‎
Di tengah masyarakat yang pengetahuan agamanya minim itu, Hasan Musthafa
harus menyampaikan dan menyebarkan ajaran Islam dalam bentuk lain yang tidak
biasa digunakan oleh para tokoh agama di pesantren-pesantren. Ia memilih
bentuk tembang, yang dianggapnya sudah menjadi milik masyarakat Sunda, untuk
menyampaikan ajaran Islam sebagaimana yang dipahaminya. Pendalamannya secara
intensif terhadap Islam, semakin memperlihatkan orientasi yang berbeda dari
umumnya puisi tembang yang banyak di tulis dalam bahasa Sunda. Ia tidak saja
mumpuni dalam hal keagamaan Islam, tetapi ternyata mampu merespon kondisi
yang berkembang di sekitarnya, yaitu menjadikan tradisi setempat sebagai
media untuk menyebarkan ajaran Islam. Hal yang sangat jarang dimiliki oleh
tokoh agama pada saat itu.‎
Luasnya pengetahuan Hasan Musthafa tentang wawasan keagamaan dan masalah
keduniawian inilah yang membuat Snouck Hurgronje mengusulkannya untuk
menduduki jabatan Penghulu Kepala (Hoofd Penghulu) di Kutaraja Aceh. Ini
bisa dilihat dari pernyatakan Snouck Hurgronje dalam Surat Rahasia-nya yang
ditulis pada tanggal 26 Oktober 1892 M., dikirim kepada Kepala Gubernur
Sipil dan Militer Aceh dan daerah taklukkannya di Kutaraja.‎
Berkali-kali tawaran Snouck Hurgronje untuk mengisi lowongan jabatan
Penghulu di Kutaraja, ditolak Hasan Musthafa. Namun, berkat desakan yang
lihai dari Snouck Hurgronje, disertai dengan penegasan bahwa di Aceh, ia
akan menemukan lingkungan kerja yang pantas disyukuri dan juga penghargaan
dari pihak para pegawai Bangsa Eropa, Hasan pun mengesampingkan
keberatan-keberatan itu. Akhirnya, ia menerima pengangkatan sebagai Penghulu
Kepala, meski pun gajinya kecil, tidak melebihi gaji seorang juru tulis
pribumi.‎
Kemudian Hasan Musthafa di angkat secara resmi sebagai Penghulu Kepala
‎(Hoofd Penghulu) Kutaraja Aceh melalui Besluit (Surat Keputusan
Pengangkatan) No. 23, tanggal 13 Januari 1893 M. Namun ia baru tiba di Aceh
dan memulai pekerjaannya pada tanggal 22 Februari 1893 M.‎
Jabatan sebagai Penghulu Kepala (Hoofd Penghulu) di Kutaraja ini pun tidak
berlangsung begitu lama, hanya dua tahun. Keputusan untuk mengundurkan diri
dari jabatan yang cukup bergengsi –menurut ukuran saat itu, diambil Hasan
Musthafa karena munculnya kecurigaan terhadap dirinya dari sebagian kalangan
Pejabat Pemerintahan di sana. Bahwa setiap apa yang dinyatakan Hasan
Musthafa, dianggap “berat sebelah” dan “tidak selalu dipercaya.” Hal ini
disebabkan karena ia –dalam pandangan mereka– sangat dekat dengan orang Arab
dan orang Keling. Kecurigaan tersebut, semakin membuat diri Hasan Musthafa
putus asa dan tertekan, hingga pada suatu saat, ia meminta cuti pulang ke
Jawa untuk beberapa waktu karena sakit demam yang dideritanya. Namun,
permintaan cutinya tidak dikabulkan. Karena menurut ketentuan yang belaku,
tidak membolehkan cuti seperti itu bagi seorang Penghulu.‎
Akhirnya, sesuai dengan besluit tertanggal 9 September 1895 M., Hasan
Musthafa di pindah-tugaskan menjadi Penghulu Kepala (Hoofd Penghulu) di
Bandung, menggantikan jabatan Penghulu yang di duduki oleh K.H. ‘Abd. Allah
Siradj. Pengangkatannya di Bandung tidak terlepas dari usaha Snouck
Hurgronje untuk meyakinkan Pemerintah Belanda akan kelayakannya menempati
posisi ini: bahwa Hasan Musthafa akan lebih efektif jika di pindah ke
Bandung.‎
Jabatan lain yang dipercayakan oleh pihak Pemerintahan Hindia Belanda kepada
Hasan Musthafa setelah kembali dari Kutaraja, bahwa ia pada tahun 1915 M. di
angkat menjadi anggota sebuah komite yang bernama “Menolong Hadji-hadji
Bermoekim di Mekkah.” Komite ini beranggotakan lima orang, di antaranya
R.A.A. Achmad Djajadiningrat (Regent di Serang), R. Pengoeloe Tafsir Anom
‎(Kepala Penghulu di Surakarta), H.O.S. Tjokroaminoto (Presiden Sarekat
Islam), D.A. Rinkes (Penasehat Urusan-urusan Pribumi), dan H. Hasan Musthafa
‎(Penghulu Kepala di Bandung). Tujuan utama di bentuknya Komite tersebut
adalah untuk mengevakuasi kawula-kawula muslim Hindia Belanda (Indonesia)
yang bermukim di Hijaz, karena mereka menghadapi problem ekonomi, yaitu
kehabisan bekal. Realitas ini diakibatkan, berkecamuknya perang di Timur
Tengah sehingga biaya keseharian di sana melonjak. Tujuan yang kedua adalah
menjadi perantara antara orang-orang yang tinggal di Hijaz dengan keluarga
mereka di Hindia Belanda; dan tujuannya yang ketiga, menyampaikan bantuan
keuangan ke tempat yang dikehendaki.‎
Di tengah-tengah kesibukannya menjalankan tugas kepemerintahan, Hasan
Musthafa telah aktif berkarya. Ketika masih menjabat Penghulu Kepala di
Kutaraja misalnya, ia sempat menulis sebuah buku yang bertajuk “Kash
Al-Sara’ir fi Haqiqat Atjih wa Al-Fis.,” Buku ini, berisi sekitar 150
tanya-jawab seputar kondisi sosial, budaya dan politik di Aceh waktu itu.‎
Pada fase pasca menjadi penghulu Kepala di Kutaraja, merupakan fase
aktif-aktifnya Hasan Musthafa dalam berkarya. Beberapa hasil karya tulisnya
dalam bentuk guguritan, pernah dimuat di dalam Majalah Warga dan Surat Kabar
Sipatahoenan. Di antara tulisannya yang cukup berpengaruh dalam membentuk
citra tentang dirinya dalam masyarakat Sunda adalah Buku Carita Jeung
Sajarah Juragan Haji Hasan Mustapa (t.t.) dan Buku Singa Bandung (t.t.). Ke
dua buku ini sebagian menceritakan tentang sosok Hasan Musthafa disertai
dengan data biografi, dan sebagian lagi berisi tentang cerita-cerita
anekdot.‎
Dalam beberapa karangan lainnya, Hasan Musthafa tampak lebih cenderung pada
dunia mistik daripada syari’ah. Ia telah menyebut dirinya sebagai pengikut
Tarekat Shattariyah. Sebagaimana kaum sufi yang lain, ia mempunyai teori
mistik yang cukup terkenal, yaitu tentang teori “Tujuh Tingkatan” (Martabat
Tujuh). Teorinya ini, terdapat dalam Buku Aji Wiwitan yang telah di bagi
menjadi tujuhbelas bab; di antaranya (1) Aji Wiwitan Istilah, (2) Aji
Wiwitan Petikan Ayat Kur’an Suci, (3) Aji Wiwitan Gelarasan, (4) Aji Wiwitan
Martabat Tujuh, (5) Aji Wiwitan Bale Bandung, (6) Aji Wiwitan Patakonan, (7)
Aji Wiwitan Basa Kolot, (8) Aji Wiwitan Carita Rajaban Nepi ka Puasa, (9)
Aji Wiwitan Basa Lancaran, (10) Aji Wiwitan Mi’raj 1343, (11) Aji Wiwitan
Verslag (I), (12) Aji Wiwitan Verslag (II), (13) Aji Wiwitan Verslag (III),
‎(14) Aji Wiwitan Aji Saka, (15) Aji Wiwitan Gendingan Dangding Sunda (I),
‎(16) Aji Wiwitan Gendingan Dangding Sunda (II), (17) Aji Wiwitan Gendingan
Dangding Sunda (III).‎
Meskipun Hasan Musthafa telah menyatakan dirinya sebagai pengikut Tarekat
Shattariyah, namun paham mistik yang di kembangkan sangat bersifat unik,
bahkan kontroversial. Karena, ia telah menggabungkan doktrin sufinya dengan
muatan kultur lokal (Sunda). Tidak hanya itu, dalam ajaran-ajaran
keagamaannya yang lain, yang ia sampaikan memiliki muatan kultur lokal yang
sangat kental. Maka tidak mustahil, kalau sosok kepandaiannya, digambarkan
dengan “ulama mahiwal,” yaitu lain daripada yang lain.‎
Sosok kekontroversialannya ini, kemudian mendapat tanggapan keras dari
Sayyid ‘Abd. Allah ‘Utsman ibn ‘Abd. Allah, seorang mufti dan ulama
terkemuka di Batavia. Pada November 1902 M., ia menulis dua artikel yang
dimuat dalam media massa berbahasa Arab di Mesir, Misbah Al-Sharq, dengan
judul Shakwa Al-Muslimin dan Al-Radd ala Shaitani Bandunj fi Ithbat Al-Hayy
Al-Qayyum. Yang menjadi keberatan dan fokus kritikan Sayyid ‘Utsman adalah
pertama; pandangan keagamaan Hasan Musthafa yang –menurutnya– telah
menyimpang dari implementasi syari’ah, dan kedua; kedekatan Hasan Musthafa
dengan Snouck Hurgronje.‎
Karangan-karangan Hasan Musthafa, sebenarnya, tidak semuanya ditulis dengan
tangannya sendiri. Namun sebagian di diktekan dan kadang disalin oleh M.
Wangsadiredja, seorang Sekretaris Pribadi Hasan Musthafa. Orang lain yang
juga turut berjasa dalam memperkenalkan karya Musthafa adalah M.
Wangsaatmadja, karena ditangannyalah sebagian tulisan Musthafa di
publikasikan.
Ada pun beberapa karya Hasan Musthafa yang sudah pernah diterbitkan maupun
yang masih berbentuk naskah, baik yang ditulis oleh dirinya sendiri maupun
yang didiktekan kepada Wangsaatmadja, adalah sebagai berikut:‎
Berbentuk Prosa
‎1. Bab Adat-adat Urang Priangan jeung Sunda Lianna ti Eta, 1913 M.,
Kantor Citak Kanjeng Gubernemen, Betawi. Sudah diterjemahkan ke dalam bahasa
Belanda oleh R.A. Kern (1964), dan ke dalam bahasa Indonesia oleh Maryati S.
‎(1977).
‎2. Buku Leutik Pertelaan Adatna Jalma-jalma di Pasundan, 1916 M., Lembaga ‎Wignyadisastra, Adm. Tjahaja Pasoendan, Bandung.‎
‎3. Tanya Jawab tentang Aceh, 1894 M., naskahnya ditulis dalam bahasa
Melayu dengan huruf Latin, di simpan di UB Leiden, Cod. Or. 7636.
‎4. Babaran Ngeunaan Basa Sunda, 1893 M., naskah dengan huruf Arab di
simpan di UB Leiden, Cod. Or. 7890.‎
‎5. Injaz al-Wa’d fi Ifta’ ar-Ra’d, 1902, berisi tuduhan-tuduhan dan
bantahan terhadap Haji Hasan Musthafa tentang pandangan keagamaannya,
ditulis dalam bahasa Arab, di simpan di UB Leiden. Cod. Or. 7205.‎
‎6. Gurinda Alam, t.t., transkrip dari naskah tulisan pegon yang
sebelumnya dimiliki oleh M. Natasasmita.‎
‎7. Bale Bandung, Perkumpulan atawa Susuratanana antara Juragan Haji
Hasan Mustapa sareng Kyai Kurdi, 1925, M.I. Prawirawinata, Bandung.‎
‎8. Buku Pangapungan (Hadits Mi’raj), t.t. (1927?), di kaluarkeun ku nu
Kagungan Hak.‎
‎9. Buku Pangapungan (Hadits Mi’raj), t.t. (1928?), di kaluarkeun ku nu
kagungan hak.‎
‎10. Buku Pusaka Kanaga Warna, dijrutulisan ku Idi jeung Wangsaatmadja, t.t.
dikaluarkeun ku nu kegungan hak.‎
‎11. Buku Kasauran Panungtungan, t.t. (1927?), di kaluarkeun ku nu kegungan
hak.‎
‎12. Pamalaten, t.t. pada saya ada salinan (diketik) dari koleksi Suhamir.‎
‎13. Wawarian, t.t., hanya melihat judulnya saja.‎
‎14. Syeh Nur Jaman, 144 Patakonan jeung Jawabna, t.t., cetakan ke dua pada
masa sesudah perang (1956).‎
‎15. Petikan Qur’an Katut Adab Padikana, t.t., Comite Mendak Haji Hasan
Musthafa. Kata pengantar oleh Bupati Bandung, R.A.A. Wiranatakusumah, 1937.
Naskah dengan huruf pegon di simpan oleh Abah Anom di Pesantren Suralaya.‎
‎16. Gelaran Sasaka di Kaislaman, t.t., Comite Mendak Haji Hasan Musthafa.
Kata pengantar oleh Bupati Bandung, R.A.A. Wiranatakusumah, 1937.‎
‎17. Istilah, t.t. Comite Mendak Haji Hasan Musthafa. Diketik kembali oleh
Jawatan Kebudayaan.‎
‎18. Martabat Tujuh, t.t.. diketik kembali oleh Jawatan Kebudayaan. Melihat
gayanya, ada kemungkinan naskah ini bukan karya Haji Hasan Musthafa,
melainkan mungkin salinan dari naskah lain yang tidak diketahui
pengarangnya.‎
‎19. Basa Kolot, t.t. Diketik kembali oleh Jawatan Kebudayaan.‎
‎20. Carita Rajaban Nepi ka Puasa, t.t. Diketik kembali oleh Jawatan
Kebudayaan.‎
‎21. Basa Lancaran, t.t. Diketik kembali oleh Jawatan Kebudayaan.‎
‎22. Aji Saka I-II, 1929 (?) dan 1931 (?), disusun oleh Wangsaatmadja dari
ucapan-ucapan dan tulisan-tulisan Haji Hasan Musthafa.‎
‎23. Verslag I-III, t.t. Diketik oleh Jawatan Kebudayaan. Catatan
Wangsaatmadja tentang Haji Hasan Musthafa, yang bercampur aduk dengan
ucapan-ucapannya.‎
Berbentuk Puisi (Tembang)‎
‎1. Asmarandana nu Kami (Asmarandana), Cod. Or. 7882 (252 pada).
Gendingan Dangding IV (260 pada).‎
‎2. Sinom Babaraning Purwa (Sinom), Cod. Or. 7881 (221 pada). Gendingan
Dangding IV (221 pada).‎
‎3. Gaduh Panglipuran Galuh (Kinanti), Cod. Or. 7881 (201 pada), jilid IV
‎(201 pada).‎
‎4. Hariring nu Hudang Gering (Asmarandana), Cod. Or. 7883 (191 pada),
jilid III (232 pada). Wangsaatmadja salah memberi nomor, sehingga meloncat
‎40 angka.‎
‎5. Koleang Kalakay Kondang (Sinom), Cod. Or. 7883 (25 pada, tidak
lengkap), jilid IV (150 pada).‎
‎6. Nu Pengkuh di Alam Tuhu (Kinanti), Cod. Or. 7873 (153 pada), jilid
III (149 pada).‎
‎7. Alam Cai Alam Sangu (Kinanti), Cod. Or. 7873 (222 pada).‎
‎8. Tutur Heula Catur Batur (Kinanti), Cod. Or. 7875 (tidak lengkap,
hanya ada 92 pada).‎
‎9. Sirna Rasa Rasaning Pasti (Dandanggula), Cod. Or. 7875 (103 pada),
jilid IV (104 pada).‎
‎10. Sinom Lekasan jeung Wawarian (Sinom), Cod. Or. 7875 (101 pada).‎
‎11. Kulu-Kulu di Lalayu (Kinanti), Cod. Or. 7875 (103 pada), jilid IV (220
pada), SD-210 pada 102 s/d 201 (100 pada).‎
‎12. Allahu Dapuring Catur (Kinanti), Cod. Or. 7874 (472 pada)
ber-titimangsa 13 Rayagung 1318 atau 2 April 1901, bergambar-gambar.‎
‎13. Jung Indit Deui ti Bandung (Kinanti), Cod. Or. 7877 (144 pada), jilid
III (141 pada).‎
‎14. Ayat Faina Tataja’tum (Kinanti), Cod. Or. 7877 (446 pada), jilid III
‎(281 pada); perbedaan jumlah pada timbul karena dalam Cod. Or. 7877 nomornya
dilanjutkan dari nomor 14.‎
‎15. Kidung Pucuk Mega Mendung (Kinanti), Cod. Or. 7878 (387 pada), jilid II
‎(99 pada), ber-titimangsa 17 April 1901 di dalamnya ada keterangan dalam
prosa.‎
‎16. Elmu Suluh Isuk-Isuk (Kinanti), Cod. Or. 7878 (253 pada), jilid III
‎(255 pada), ber-titimangsa 21 Mei 1901.‎
‎17. Nu Mituhu Aya Tilu (Kinanti), Cod. Or. 7879 (kurang lebih 300 pada).
Jilid III (99 pada), bergambar, ber-titimangsa 22 Mei 1901.‎
‎18. Amit Nganggit Bismillahi (Asmarandana), Cod. Or. 7876 (100 pada). Jilid
IV (99 pada), Sd. 210 pada 202 s/d 302 (101 pada).‎
‎19. Cat Mancat ka Bale Pulang (Sinom), Cod. Or. 7876 (101 pada). Jilid IV
‎(101 pada); ber-titimangsa 7 Februari 1901.‎
‎20. Milaningsun Mider Deropati (Dandanggula), Cod. Or. 7876 (52 pada),
dalam bahasa Jawa. Ngagurit Kaburu Burit (Asmarandana), Cod. Or. 7876 (123
pada).
‎21. Tungtungna Ngahurun Balung (Kinanti), jilid I (109 pada).
‎22. Tadina Aing Pidoher (Asmarandana), jilid I (101 pada).
‎23. Manis-Manis Panudingan Sari (Dandanggula), jilid I (108 pada).
‎24. Sinom Pamulang Tarima (Sinom), jilid I (113 pada). Titimangsa terdapat
dalam pada terakhir: Walilat Rayagung 1317 (1900).
‎25. Pangkurangna Nya Hidayat (Pangkur), jilid I (103 pada).
‎26. Kuhung-Kuwung Melengkung di Langit (Mijil), jilid 1 (100 pada).
‎27. Jung Indung Turun Ngalayung (Kinanti), jilid I (147 pada).
‎28. Pupuh Pucung Paranti Panglipur Bingung (Pucung), jilid I (135 pada).
‎29. Sari Amis Mun Terusing Sari (Dandanggula), jilid I (110 pada).
‎30. Gilisir Jadi Kinanti (Kinanti), jilid I (130 pada).
‎31. Wirahma Kumaha Rasa (Sinom), jilid I (131 pada).
‎32. Batur-Batur nu Suluk Pamuluk-Muluk (Magatruh), jilid I (103 pada).
‎33. Nu Clik Putih Clak Herang ku Ati Suci (Maskumambang), jilid I (170
pada).
‎34. Puyuh Ngungkung Dina Kurung (Kinanti), jilid I (181 pada). Terdapat
pada yang sama, karena diulang (no. 36). Kemungkinan kekeliruan pada waktu
menyalin.
‎35. Kasmaran Dening Hakeki (Asmarandana), jilid I (190 pada).
‎36. Pangkurang-Kurangna Rasa (Pangkur), jilid I (183 pada).
‎37. Lutung Buntung Naek Kana Pager Gintung (Pucung), jilid I dan II (233
pada). Dalam jilid I dimuat sampai dengan no. 156, dalam jilid II mulai no.
‎157 s/d 233.‎
‎38. Pupuh Mijil Nya Samijil-Mijil (Mijil), jilid II (191 pada).
‎39. Sinom Pamake Nonoman (Sinom), jilid II (165 pada).
‎40. Kukupu Tilu Sagunduk (Kinanti), jilid II (131 pada).
‎41. Taya Tutur Taya Catur (Kinanti), jilid II (65 pada).
‎42. Dumuk Suluk Tilas Tepus (Kinanti), jilid II (100 pada).
‎43. Ngandika Gusti Yang Kawung (Kinanti), jilid II dan III (230 pada).
Dalam jilid I dari no. 1 s/d 107 padalisan ke dua, dilanjutkan dalam jilid III dengan ‎padalisan ketiga no. 107.‎
‎44. Lesa Kamislihi Saeun (Kinanti), jilid III (96 pada), ada kemungkinan
bagian dari Cod. Or. 7879 yang berjudul Nu Mituhu Aya Tilu (lihat no. 17).
‎45. Teu Umum Aya Kabutuh (Kinanti), jilid III (123 pada), ber-titimangsa 15
Juni 1901.‎
‎46. Dandanggula nu Jadi Mamanis (Dandanggula), jilid III (100 pada),
ber-titimangsa 3 Juli 1901, bergambar dan berdiagram.
‎47. Suluk Merul Isuk-Isuk (Kinanti), jilid III (439 pada), ber-titimangsa
‎12 Agustus 1912.‎
‎48. Sinom Barantaning rasa (Sinom), jilid III dan IV (202 pada). Dalam
jilid III dari no. 1 s/d no. 142, dilanjutkan dalam jilid IV dari no. 143
sampai selesai. Dalam Cod. Or. 7875 terdapat 101 pada, tetapi ber-titimangsa
‎6 Ramadhan 1319 (16 Desember 1901).‎
‎49. Kami Boga Kitab Leutik (Asmarandana), jilid IV (199 pada).
‎50. Dandanggula-Dandanggula Deui (Dandanggula), jilid IV (92 pada).
‎51. Piwulang Si Runcang Kundang (Sinom), jilid IV (131 pada).
‎52. Amis Tiis Pentil Majapait (Dandanggula), jilid IV (100 pada); Sd. 210
Wawacan Majapait (101 pada) agaknya ditambah satu pada (yang pertama) oleh
penyalin.
‎53. Kapalang Tembang Teu Hayang (Sinom), jilid IV (100 pada).
‎54. Dandanggula nu Jadi mamanis (Dandanggula), jilid IV (135 pada).
‎55. Neda Agung Nya Ma’lum (Kinanti), koleksi Herman Mustapa (162 pada),
berjudul Tembang Kinanti Perjalanan Angkatna Jurgan Haji Hasan Mustapa ti
Bandung ka Garut Dina Sasih Siam 136 …pada yang pertama ada kemungkinan
tambahan dari penyalin.‎
‎56. Lebaran Jatnika Rasa (Sinom), dari Prawirasoetignja (73 pada), tak ada
keterangan dari mana asalnya, tapi niscaya dari Wangatmadja.
‎57. Pambrihna Mu’min (Dandanggula), jilid II (176 pada).
‎58. Sampurna Suluk (Kinanti), jilid II (200 pada).
‎59. Jati (Asmarandana), jilid II (162 pada).
‎60. Wahdat Al-Wujud (Magatruh), jilid II (206 pada).
‎61. Jung Tangtung Miluruh Suluk (Kinanti), jilid II (23 pada).
‎62. Unggal Suluk Nutur Manuk (Kinanti), jilid II (130 pada).
‎63. Tunggul Wujud (Kinanti), jilid II (102 pada).
‎64. Boga Umur Tujuh Windu (Kinanti), jilid II (344 pada).
‎65. Biantara Kasinoman (Kinanti I pada; Dandanggula 10 pada; Sinom 10 pada;
Kinanti 51 pada; Asmarandana 18 pada; Mijil 3 pada).‎
Haji Hasan Musthafa meninggal dunia pada hari Senin, 13 Januari 1930 M.
Usianya genap mencapai 78 tahun. Jenazahnya dikebumikan di Karang Anyar, di
sebuah pemakaman Kaum Ningrat di Bandung.‎
Kini, sosok seperti Haji Hasan Musthafa telah semakin mendapatkan tempat di
hati masyarakat Sunda khususnya, dan masyarakat Indonesia umumnya.
Lebih-lebih, pada tahun 1977 M. ia mendapat hadiah seni dari Presiden
Republik Indonesia sebagai Sastrawan Daerah Sunda.[]‎
Dari berbagai sumber‎