A.‎ Diskripsi Masalah

Khitan perempuan banyak dipraktekkan di wilayah Indonesia.. Sebagian besar ‎masyarakat Indonesia yang melakukan khitan perempuan meyakini bahwa khitan ‎perempuan adalah perintah agama dan sebagian menganggap sebagai tradisi. Dari ‎hasil penelitian Population Council bekerja sama dengan Kemeterian Pemberdayaan ‎perempuan di Enam Propinsi (Pulau Madura, Banten, Padang, Padang Pariaman, ‎Serang, Kutai Kertanegara, Makassar, Bone, Gorontalo dan Bandung) pada tahun ‎‎2001-2003, 65 % mereka percaya khitan perempuan bermanfaat bagi kesehatan dan ‎merupakan perintah agama. Di daerah tertentu, khitan perempuan dianggap sebagai ‎suatu kewajiban sosial, karena dikategorikan sebagai tindakan pencegahan bagi ‎perempuan untuk tidak berperilaku binal. Hal ini karena ada anggapan bahwa ‎perempuan dinilai tabu jika mengekspresikan hasrat seksualnya walaupun pada ‎suaminya. Sehingga kontrol terhadap libido perempuan harus dilakukan sejak dini. ‎

Dari sisi agama, terdapat perbedaan pendapat ulama tentang hukum khitan ‎perempuan. Tidak ditemukan ayat al-Qur’an yang secara tegas menyebut khitan baik ‎untuk laki-laki maupun perempuan. Ayat yang sering dijadikan dasar hukum khitan ‎adalah QS. an-Nahl[16] : 123, QS. An-Nisaa[4] : 125 dan QS. Ali Imran[3]: 95. ‎Selain ayat-ayat tersebut juga terdapat beberapa hadits yang menyebut khitan ‎perempuan. ‎
Dari sisi sosial, anak perempuan yang belum dikhitan sering menjadi bahan ejekan dan ‎dijauhi teman-temannya. Bahkan masyarakat dan orang tua sering mengindektikkan ‎perilaku anak perempuan yang binal dengan praktek khitan. ‎
Dari sisi kesehatan, praktek khitan perempuan banyak yang tidak memenuhi standar ‎medis. Khitan perempuan yang dilakukan dukun di daerah tertentu di Indonesia ‎merupakan tindakan yang membahayakan karena mengandung resiko terjadinya ‎infeksi, pendarahan dan iritasi di sekitar vagina. Karena mereka melakukan praktek ‎khitan perempuan harus sampai berdarah dan apabila belum berdarah maka dilakukan ‎penambahan pemotongan.‎
Dari sisi praktek pelaksanaan, terjadi ketidaksamaan teknis khitan, organ tubuh yang ‎dikhitan, alat yang dipergunakan dan orang yang mengkhitan.‎
Teknis Pelaksanaan Khitan
Tehknis khitan ada yang hanya simbolik, yaitu dengan memotong jengger ayam ‎sebagai perumpamaan. Sebagian yang lain dengan meneteskan obat merah pada ‎klitoris untuk menenangkan hati orang tua anak. Ada yang memang benar-benar ‎dipotong dan harus sampai keluar darah. Kalau belum keluar darah maka ukuran ‎potongannya ditambah. Sebagian lagi dengan cara mengerik daerah klitoris tanpa ‎ukuran yang jelas.‎
Organ Yang Dikhitan
Kebanyakan praktek khitan dilakukan di daerah klitoris, baik dengan cara mengerik, ‎melukai sedikit, menusuknya dengan jarum atau memotongnya. Sebagian melakukan ‎di labio mayora dan bahkan ada yang melakukan di vulva.‎
Alat untuk Mengkhitan ‎
Penyunat biasanya menggunakan pisau dan gunting sebagai alat penyunat. Pisau ‎merupakan alat yang paling banyak digunakan (55%), selain itu gunting (24%), ‎sembilu (bambu) atau silet (5%) dan jarum (1%). Sisanya sekitar 15% menyebutkan ‎lainnya seperti koin, kunyit, atau jari tangan dan kuku jari penyunat.‎
Walaupun mereka menggunakan alat pemotong, namun mereka tidak selalu ‎melakukan pemotongan jaringan. Dari yang menggunakan pisau, hanya 66% yang ‎melakukan insisi (perlukaan tanpa ada jaringan yang lepas) dan eksisi (72%) pada ‎sunat yang menggunakan alat gunting. Sembilu atau silet digunakan untuk mengerik ‎dan menggores pada 46% kasus, dan untuk insisi 54%. Jarum biasanya digunakan ‎untuk tipe sunat mencungkil dan menindik.‎
Orang yang Mengkhitan
Berdasarkan hasil penelitian, kebanyakan masyarakat menggunakan tenaga bidan ‎untuk melngkhitan anak perempuannya. Alasan yang mereka kemukakan adalah: ‎Praktis – prasyarat sedikit, tenaga klinis terlatih; Punya peralatan steril; Tarif tidak ‎berbeda dengan dukun bayi; Mudah diakses dan khitan merupakan bagian dari paket ‎persalinan. Sebagian masih ada yang menggunakan tenaga dukun bayi.‎
Karena kebanyakan masyarakat berkeyakinan bahwa khitan adalah perintah agama, ‎dan tenaga yang mereka gunakan adalah bidan, maka terjadi keresahan yang cukup ‎hebat di masyarakat ketika Departemen Kesehatan Republik Indonesia Cq. Dirjen ‎Bina Kesehatan Masyarakat mengeluarkan Surat Edaran tentang Larangan ‎Medikalisasi Sunat Perempuan bagi Petugas Kesehatan. ‎
Dari deskripsi masalah di atas dan untuk menghilangkan keresahan masyarakat serta ‎menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar Khitan Perempuan, maka perlu ‎dikeluarkannya fatwa ulama NU tentang hukum Khitan Peremuan. ‎
B. Rumusan Masalah
‎“Apa hukum khitan perempuan?” ‎
C.‎ Jawaban
‎1.‎ Apabila dilakukan dengan cara yang aman hukumnya mubah
‎2.‎ Apabila dilakukan dengan cara yang tidak aman dan membahayakan maka ‎hukumnya haram.‎

D.‎ Nash Al-Qur’an dan Hadist tentang Khitan Perempuan
‎1.‎ Tidak ada ayat al-Qur’an yang secara tegas menyebut khitan apalagi ‎memerintahkan, baik kepada laki-laki maupun perempuan.‎
‎2.‎ Firman Allah SWT yang sering dijadikan dasar hukum khitan laki-laki maupun ‎perempuan : ‎
‎1. ‎ثُمَّ‎ ‎أَوْحَيْنَا‎ ‎إِلَيْكَ‎ ‎أَنِ‎ ‎اتَّبِعْ‎ ‎مِلَّةَ‎ ‎إِبْرَاهِيمَ‎ ‎حَنِيفاً‎ ‎وَمَا‎ ‎كَانَ‎ ‎مِنَ‎ ‎الْمُشْرِكِينَ‎ ‎
‎“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama ‎Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang ‎mempersekutukan Tuhan”. (QS. an-Nahl[16] : 123) ‎
‎ ‎
‎3.‎ وَمَنْ‎ ‎أَحْسَنُ‎ ‎دِيناً‎ ‎مِّمَّنْ‎ ‎أَسْلَمَ‎ ‎وَجْهَهُ‎ ‎لله‎ ‎وَهُوَ‎ ‎مُحْسِنٌ‎ ‎واتَّبَعَ‎ ‎مِلَّةَ‎ ‎إِبْرَاهِيمَ‎ ‎حَنِيفاً‎ ‎وَاتَّخَذَ‎ ‎اللّهُ‎ ‎إِبْرَاهِيمَ‎ ‎خَلِيلاً‎ ‎

‎“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas ‎menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, ‎dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus ? Dan Allah mengambil Ibrahim ‎menjadi kesayanganNya”. (QS. an-Nisaa[4] : 125) ‎
‎3. ‎قُلْ‎ ‎صَدَقَ‎ ‎اللّهُ‎ ‎فَاتَّبِعُواْ‎ ‎مِلَّةَ‎ ‎إِبْرَاهِيمَ‎ ‎حَنِيفاً‎ ‎وَمَا‎ ‎كَانَ‎ ‎مِنَ‎ ‎الْمُشْرِكِينَ‎ ‎
‎“Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. Maka ikutilah ‎agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang ‎musyrik”. (QS. Ali Imran[3]: 95) ‎
‎4. ‎قُلْ‎ ‎إِن‎ ‎كُنتُمْ‎ ‎تُحِبُّونَ‎ ‎اللّهَ‎ ‎فَاتَّبِعُونِي‎ ‎يُحْبِبْكُمُ‎ ‎اللّهُ‎ ‎وَيَغْفِرْ‎ ‎لَكُمْ‎ ‎ذُنُوبَكُمْ‎ ‎وَاللّهُ‎ ‎غَفُورٌ‎ ‎رَّحِيمٌ‎ ‎
‎“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, ‎niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha ‎Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran[3]: 31) ‎
‎5. ‎قُلْ‎ ‎أَطِيعُواْ‎ ‎اللّهَ‎ ‎وَالرَّسُولَ‎ ‎فإِن‎ ‎تَوَلَّوْاْ‎ ‎فَإِنَّ‎ ‎اللّهَ‎ ‎لاَ‎ ‎يُحِبُّ‎ ‎الْكَافِرِينَ‎ ‎
‎“Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka ‎sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. (QS. Ali Imran[3]: ‎‎32) ‎
‎3. Hadis-hadis Nabi SAW yang sering dijadikan dalil tentang Khitan:‎
a. Dalil umum

حَدَّثَنَا‎ ‎عَلِيٌّ‎ ‎حَدَّثَنَا‎ ‎سُفْيَانُ‎ ‎قَالَ‎ ‎الزُّهْرِيُّ‎ ‎حَدَّثَنَا‎ ‎عَنْ‎ ‎سَعِيدِ‎ ‎بْنِ‎ ‎الْمُسَيَّبِ‎ ‎عَنْ‎ ‎أَبِي‎ ‎هُرَيْرَةَ‎ ‎رِوَايَةً‎ ‎الْفِطْرَةُ‎ ‎خَمْسٌ‎ ‎أَوْ‎ ‎خَمْسٌ‎ ‎مِنْ‎ ‎الْفِطْرَةِ‎ ‎الْخِتَانُ‎ ‎وَالِاسْتِحْدَادُ‎ ‎وَنَتْفُ‎ ‎الْإِبْطِ‎ ‎وَتَقْلِيمُ‎ ‎الْأَظْفَارِ‎ ‎وَقَصُّ‎ ‎الشَّارِب
‎)‎البخاري‎: ‎كتاب‎ ‎اللباس‎. ‎باب‎ ‎قصّ‎ ‎الشارب‎. 5439)‎
Hadis riwayat Imam Bukhari di atas mauqûf, hanya sampai perawi Abû Hurairah. ‎Akan tetapi ke-mauqûf-an riwayat imam Bukhârî tertutupi dengan riwayat imam Muslim ‎di bawah ini yang menunjukkan bahwa hadis tersebut marfû’. ‎

حَدَّثَنَا‎ ‎أَبُو‎ ‎بَكْرِ‎ ‎بْنُ‎ ‎أَبِي‎ ‎شَيْبَةَ‎ ‎وَعَمْرٌو‎ ‎النَّاقِدُ‎ ‎وَزُهَيْرُ‎ ‎بْنُ‎ ‎حَرْبٍ‎ ‎جَمِيعًا‎ ‎عَنْ‎ ‎سُفْيَانَ‎ ‎قَالَ‎ ‎أَبُو‎ ‎بَكْرٍ‎ ‎حَدَّثَنَا‎ ‎ابْنُ‎ ‎عُيَيْنَةَ‎ ‎عَنْ‎ ‎الزُّهْرِيِّ‎ ‎عَنْ‎ ‎سَعِيدِ‎ ‎بْنِ‎ ‎الْمُسَيَّبِ‎ ‎عَنْ‎ ‎أَبِي‎ ‎هُرَيْرَةَ‎ ‎عَنْ‎ ‎النَّبِيِّ‎ ‎صَلَّى‎ ‎اللَّهُ‎ ‎عَلَيْهِ‎ ‎وَسَلَّمَ‎ ‎قَالَ‎ ‎الْفِطْرَةُ‎ ‎خَمْسٌ‎ ‎أَوْ‎ ‎خَمْسٌ‎ ‎مِنْ‎ ‎الْفِطْرَةِ‎ ‎الْخِتَانُ‎ ‎وَالِاسْتِحْدَادُ‎ ‎وَتَقْلِيمُ‎ ‎الْأَظْفَارِ‎ ‎وَنَتْفُ‎ ‎الْإِبِطِ‎ ‎وَقَصُّ‎ ‎الشَّارِبِ
‎ (‎مسلم‎: ‎كتاب‎ ‎الطهاره‎. ‎باب‎ ‎خصال‎ ‎الفطرة‎. 377)‎
Riwayat dari Abû Huraurah: Ada lima hal yang temasuk fitrah, yaitu: Khitan, ‎mencukur bulu yang ada di sekitar kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong ‎kuku, menggunting kumis.‎

Dua hadis di atas tidak memerlukan pembahasan dari status hadis dan hukum ‎pengamalannya, karena sudah dipastikan marfû’ ( disandarkan kepada Rasulullah saw.), ‎muttasil (sanadnya bersambung sampai ke Rasulullah saw.) dan sahîh (kwalitas seluruh ‎periwayat tidak bermasalah), berarti hadis tersebut maqbûl (dapat diterima). Permasalahan ‎yang ditimbulkan apad dua hadis di atas adalah pemahaman tentang ‎الْفِطْرَةُ‎.‎
Ibn Hajar al-‘Asqallânî dalam kitab Syarh al-Bukhârî, menjelaskan perbedaan para ‎ulama dalam memahami tentang al-Fithrah (‎الْفِطْرَةُ‎). Menurut al-Khattâbî yang dimaksud ‎dengan fitrah adalah al-Sunnah (‎السنة‎)‎ ‎. Ulama lainnnya mengatakan yang dimaksud fitrah ‎dengan sunnah adalah sunan al-Anbiyâ’ (‎سنن الأنبياء‎) tradisi para Nabi. Abû Nu’aim, imam ‎al-Nawâwî, al-Mawardî dan Abû Ishâq berpendapat yang dimaksud dengan fithrah ‎adalah (‎الدين‎) agama. ‎
Ibn Salah merasa sulit memahami pendapat al-Khattâbî yang menyatakan bahwa ‎fithrah berarti sunnah, mungkin yang dimaksud adalah (‎سنة الفطرة‎) artinya ‎tradisi/kebiasaan bersih/suci. Akan tetapi imam al-Nawâwî lebih cenderung kepada ‎pendapat al-Khattâbî karena lebih relevan dengan hadis yang diriwayatkan oleh imam al-‎Bukhârî melalui sahabat ‘Abdullâh ibn ‘Umar: ‎
من السنة قص الشارب ونتف الإبط وتقليم الأظفار
Redaksi riwayat ini dibantah oleh Ibn Hajar al-‘Asqallânî bahwa tidak ada redaksi ‎seperti di atas dalam periwayatn imam al-Bukhârî, bahkan yang ada riwayat dengan ‎menggunakan redaksi ‎من الفطرة‎ bukan dengan redaksi ‎من‎ ‎السنة‎. Hadis dengan ‎menggunakan kata ‎من‎ ‎السنة‎ adalah riwayat Abû ‘Awânah dari jalur ‘Âisyah., akan tetapi ‎pada periwayatan imam Muslim, al-Nasâ’i dan lainnya dengan menggunakan redaksi ‎من ‏الفطرة‎. ‎ ‎ ‎
Menurut Al-Râghib al-Asfahânî, arti asal dari ‎الفطرة‎ adalah ‎الإيجاد من غير مثال‎ ‎‎”membuat sesuatu yang belum pernah ada contoh. Menurut Abû Syâmah: ‎الخلقة‎ ‎المبتدأة‎ ‎‎“yang pertama kali menciptakan”. Sedangkan sabda Rasulullah saw.‎
كل مولود‎ ‎يولدعلى الفطرة‎ ‎
Setiap manusia diciptakan sesuai dengan awal mula Allah ciptakan, artinya apabila ‎seseorang ketika lahir dibiarkan, tidak diajarkan agama apapun, maka dia akan tetap ‎mengikuti awal penciptaannya yaitu mengikuti agama yang haq, agama tauhid. ‎Sedangkan maksud ‎الفطرة‎ pada hadis tersebut adalah apabila seseorang telah melakukan ‎lima hal yang disebutkan pada hadis di atas (khitan, mencukur bulu yang tumbuh di ‎sekitar kemaluan laki-laki ataupun perempuan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku dan ‎menggunting kumis), maka dia telah melakukan ketentuan yang telah Allah tetapkan, ‎sehingga seseorag ingin dan suka melakukan fitrah tersebut supaya mempunyai sifat-sifat ‎yang sempurna dan bentuk yang ideal. ‎
Al-Baidawî membantah pemaknaan ‎الفطرة‎ dengan kata ‎الإختراع ‏‎ (menciptakan)‎‏ ‏الجبلّة ‏‎(karakter) ‎الدين ‏‎ (agama) ‎‏ السنة‎(tradisi). Menurutnya ‎الفطرة‎ adalah:‎
السنة القديمة التى إختارها الأنبياء واتفقت عليها الشرائع
‎“Fitrah adalah tradisi masa lalu yang dipilih para Nabi dan sesuai dengan ‎Syari’at”.‎
Fitrah seakan-akan karakter yang sudah tertanam dalam diri manusia.‎
Hubungan kata fithrah dengan kasus khitan pada pembahasan ini adalah apakah ‎ada indikasi hukum pada khitan laki-laki ataupun perempuan dengan menggunakan dalil ‎hadis di atas. ‎
Menurut Ibn Hajar al-‘Asqallânî dalam Fath al-Bârî Syarh Sahîh al-Bukhârî, ada ‎beberapa riwayat hadis kata ‎الفطرة‎ digantikan dengan kata ‎السنة‎, bukan berarti bahwa ‎hadis ini menghukumkan sunnah, sejalan dengan hukum wajib, akan tetapi kata ‎السنة‎ ‎berarti ‎الطريقة‎ (cara atau jalan), seperti dalam riwayat lain:‎
عليكم بسنتي وسنتة الخلفاءالراشدين
‎ Pendapat ini dibantah oleh Al-Qâdî Abû Bakr ibn al-‘Arabî, bahwa hukum lima hal ‎‎(khitan, membersihkan bulu di sekitar kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku ‎dan mengunting kumis) yang disebutkan pada hadis di atas adalah wajib. Lima hal ini ‎adalah gambaran karakter kemanusian yang harus dilakukan. Apabila lima hal ini tidak ‎dilakukan, maka tidak ada lagi karakter sebagai manusia, apalagi sebagai seorang muslim. ‎
Sedangkan menurut Abû Syâmah, hukum lima hal di atas tidak mengarah kepada ‎wajib syar’i, tetapi hanya untuk membentuk karakter manusia yang mempunyai akhlak ‎dan penampilan yang baik, yaitu menjaga kebersihan diri, maka lima hal (khitan, ‎membersihkan bulu di sekitar kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku dan ‎mengunting kumis) yang disebutkan pada hadis di atas cukup dikatakan sebagai anjuran ‎saja (‎الندب‎). ‎
Ibn Daqîq al-‘Îd, berargumentasi dengan pendapat para ulama bahwa arti ‎الفطرة‎ ‎adalah ‎الدين‎ (agama) menunjukkan kepada hukum ajaran pokok (‎أركان‎ )‎‏ ‏bukan kepada ‎hukum tambahan (‎زوائد‎), kecuali ada dalil yang menyalahi aturan pokok tersebut. Ada ‎perintah untuk mengikuti ajaran Nabi Ibrâhîm dan lima hal yang disebutkan di atas adalah ‎perintah Nabi Ibrâhîm, maka setiap yang diperintahkan Allah untuk mengikutinya ‎hukumya wajib. Akan tetapi pendapat ini meninggalkan masalah baru, karena wajib ‎mengikuti sesuatu tidak berarti wajib mengikuti seluruhnya. Melaksanakan satu contoh ‎kewajiban sudah berarti mengikuti. Terlebih lagi hukum wajib ini berlaku bagi Nabi ‎Ibrâhîm, berarti tidak berlaku untuk ummat Nabi Muhammad saw. ‎
Hadis di atas tidak dapat dijadikan dalil yang kuat untuk menunjukkan hukum ‎khitan secara syari’ baik untuk laki-laki, terlebih untuk perempuan. ‎

b. Dalil Khusus
حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدِّمَشْقِيُّ وَعَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ عَبْدِ الرَّحِيمِ الْأَشْجَعِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا مَرْوَانُ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ ‏حَسَّانَ قَالَ عَبْدُ الْوَهَّابِ الْكُوفِيُّ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ الْأَنْصَارِيَّةِ أَنَّ امْرَأَةً كَانَتْ تَخْتِنُ بِالْمَدِينَةِ فَقَالَ ‏لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُنْهِكِي فَإِنَّ ذَلِكَ أَحْظَى لِلْمَرْأَةِ وَأَحَبُّ إِلَى الْبَعْلِ ‏ ‏

‎…Umm ‘Atiyyah berkata: Sesungguhnya kaum perempuan di kota Madinah ‎dikhitan. Rasulullah saw. bersabda kepadanya: “Jangan engkau habiskan ketika ‎mengkhitan perempuan, karena itu akan lebih baik bagi kaum perempuan dan lebih ‎disenangi suaminya.‎

Analisa Sanad Hadis

Tinjauan sanad hadis riwayat Abû Dâwûd, ada dua jalur periwayatan dan ‎seluruhnya melalui jalur periwayatan seorang tabi’in yang bernama Muhammad bin ‎Hassân, menurut Abû Dâwûd orang ini majhûl (tidak diketahui, baik identitas maupun ‎karakternya) dan hadis yang diriwayatkannya da’îf (lemah). Menurut al-Dzahabî, ‎Muhammad bin Hassân  La Yu’raf (tidak dikenal). Oleh karena itu hadis riwayat ‎Abû Dâwûd ini dari sisi sanad tidak dapat dipertanggungjwabkan dan periwayatnnya ‎tidak dapat diterima (ghair maqbûl). Hadis ini hanya diriwayatkan oleh imam Abû ‎Dâwûd, jadi tidak ada riwayat lain yang mendukungnya.‎
Skema periwayatan Imam Abû Dâwûd:‎

Komentar Imam Abû Dâwûd tentang hadis di atas:‎

قَالَ أَبُو دَاوُد رُوِيَ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بِمَعْنَاهُ وَإِسْنَادِهِ قَالَ أَبُو دَاوُد لَيْسَ هُوَ ‏بِالْقَوِيِّ وَقَدْ رُوِيَ مُرْسَلًا قَالَ أَبُو دَاوُد وَمُحَمَّدُ بْنُ حَسَّانَ مَجْهُولٌ وَهَذَا الْحَدِيثُ ضَعِيفٌ

‎ ‎
Apabila dari sisi matan sudah tidak dimungkinkan untuk diterima, sebenarnya ‎tidak ada gunanya lagi untuk membahas dari sisi matan, akan tetapi Muhammad Syams ‎al-Haq al-‘Azîm memberikan penjelasan hadis ini dalam kitab ‘Aun al-Ma’bûd Syarh ‎Sunan Abî Dâwûd ‎, menurutnya sekalipun riwayat Abû Dâwûd ini dinilai tidak kuat, ‎akan tetapi riwayat ini mempunayi pendukung periwayatan dari jalur Anas ibn Mâlik dan ‎Umm Aimân. Tetapi dalam syarh kitab Abû Dâwûd tidak dicantumkan jalur periwayatan ‎Anas ibn Mâlik dan Umm Aimân, apakah melalui jalur Muhammad ibn Hassân atau tidak, ‎jadi sulit untuk menilai periwaytan tersebut.‎
Muhammad Syams al-Haq al-‘Azîm dalam kitab ‘Aun al-Ma’bûd Syarh Sunan Abî ‎Dâwûd menjelaskan beberapa pendapat ulama khitan bagi perempuan dengan berdasarkan ‎hadis ini: ‎
‎-‎ Ada perbedaan antara kaum permpuan al-Masyrîq (wilayah Timur) dan kaum ‎perempuan al-Maghrîb(wilayah Barat). Perempuan wilayah Barat tidak perlu ‎dikhitan karena pada kemaluannya tidak terdapat kelebihan yang dapat dipotong ‎sebagaimana yang disyari’atkan. Sedangkan perempuan wilayah Timur dapat ‎dikhitan sebagaimana yang disyari’atkan ‎. Dalam hal ini tidak ada penjelsan ‎tentang hukum khitan perempuan ‎
‎-‎ Ada pendapat dari sebagian mazhab al-Syâfi’iyah dan mayoritas ulama tidak ‎mewajibakan khitan untuk kaum perempuan ‎. ‎
Kesimpulan dari hadis di atas tidak ada indikasi hukum tentang khitan bagi kaum ‎perempuan, karena hadis tersebut bersifat informative. Rasulullah saw. memerintahkan ‎kepada Umm ‘Atiyah untuk hati-hati dalam melakukan khitan kepada kaum perempuan ‎karena ada resiko yang akan ditanggung oleh kaum perempuan apabila terjadi kesalahan ‎pada khitan. ‎
Penjelasan Umm ‘Atiyah menunjukkan bahwa khitan perempuan merupakan ‎tradisi yang dilakukan masyarakat Madinah, bukan perintah dari Rasulullah saw. tidak ‎ada penjelasan bagaimana dengan mayarakat Mekkah, ketika Rasulullah saw. masih ‎berada di Mekkah?. ‎
Badr al-Dîn al-‘Ainî dalam ‘Umdah al-Qârî Syarh Sahîh al-Bukhârî, ketika ‎menjelaskan tentang hadis (‎إذا التقى الختانان‎), bahwa penyebutan khitan untuk perempuan ‎dan laki-laki adalah karena adat kebiasaan orang-orang Arab yang mengkhitan anak ‎perempuan ‎. Redaksi komentar Badr al-Dîn al-‘Ainî dalam ‘Umdah al-Qârî Syarh Sahîh ‎al-Bukhârî sebagai berikut:‎

أي هذا باب في بيان حكم ما إذا التقى الختانان يعني ختان الرجل وختان المرأة وقال بعضهم المراد ‏بهذه التثنية ختان الرجل وخفاض المرأة وإنما ثنيا بلفظ واحد تغليبا له قلت ذكروا هذا ولكن ذكر ‏هذا بناء على عادة العرب فإنهم يختنون‎ ‎‏ النساء وقال الختان للرجال سنة وللنساء مكرمة رواه ‏الجصاص في كتاب‎ ‎‏( أدب القضاء ) عن شداد بن أوس رضي الله تعالى عنه ثم الختان قطع جليدة ‏الكمرة وكذلك الختن والخفاض قطع جلدة من أعلى فرجها تشبه عرف الديك بينها وبين مدخل ‏الذكر جلدة رقيقة وكذلك الخفض

Hadis khusus lain yang biasa dijadikan dalil untuk khitan perempuan antara lain:‎
الْخِتَانُ سُنَّةٌ لِلرِّجَالِ ، مَكْرُمَةٌ لِلنِّسَاءِ
Beberapa jalur periwayatan yang menjelaskan matan hadis di atas antara lain:‎

‎1.‎ Imâm Al-Baihaqî dalam Al-Sunan al-Kubrâ, Kitâb al-Asyribah, Bâb Al-Sultân ‎Yukrihu ‘alâ al-Ikhtitân, jilid VIII, h. 324, nomor hadis 18020. Redaksi hadis:‎
‎ ‎
‏18020- أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ الْحَارِثِ الْفَقِيهُ أَخْبَرَنَا أَبُو مُحَمَّدِ بْنُ حَيَّانَ حَدَّثَنَا عَبْدَانُ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ ‏الْوَزَّانُ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ الْوَلِيدِ حَدَّثَنَا ابْنُ ثَوْبَانَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَجْلاَنَ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِىِّ ‏‏-صلى الله عليه وسلم- قَالَ :« الْخِتَانُ سُنَّةٌ لِلرِّجَالِ مَكْرُمَةٌ لِلنِّسَاءِ ». هَذَا إِسْنَادٌ ضَعِيفٌ.‏

‎2.‎ Al-Tabrânî, dalam al-Mu’jam al-Kabîr, (Al-Mûsil: Maktabah ‘Ulûm wa al-Hikam, ‎‎1983) , Jilid VII, h. 273‎

‏7112 – حدثنا الحسين بن إسحاق التستري ثنا واصل بن عبد الأعلى ثنا محمد بن فضيل عن حجاج ‏عن أبي مليح عن أبيه عن شداد بن أوس قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ‏‎ ‎‏ الختان سنة للرجال ‏و مكرمة للنساء ‏

‎3.‎ Al-Tabrânî, dalam al-Mu’jam al-Kabîr, (Al-Mûsil: Maktabah ‘Ulûm wa al-Hikam, ‎‎1983) , Jilid XI, h. 233‎
‏11590 – حدثنا عبدان بن أحمد ثنا أيوب بن محمد الوزان ثنا الوليد بن الوليد ثنا ابن ثوبان عن محمد ‏بن عجلان عن عكرمة عن ابن عباس : عن النبي صلى الله عليه و سلم قال : الختان سنة للرجال مكرمة ‏للنساء ‏

‎4.‎ Al-Tabrânî, dalam al-Mu’jam al-Kabîr, (Al-Mûsil: Maktabah ‘Ulûm wa al-Hikam, ‎‎1983), Jilid XII, h. 182‎

‏12828 – حدثنا أحمد بن زهير التستري ثنا عمرو بن عبد الله الأودي ثنا وكيع عن سعيد بن بشير ‏عن قتادة عن جابر بن زيد عن ابن عباس : قال : ( الختان سنة للرجال مكرمة للنساء ) ‏

‎5.‎ Al-Haitsamî, dalam Ghâyah al-Muqassad fî Zawâ’id al-Musnad, Bâb al-‎Khitânâni, Jilid II, h. 2213‎
‎ ‎
حَدَّثَنَا سُرَيْجٌ، حَدَّثَنَا عَبَّادٌ، يَعْنِى ابْنَ الْعَوَّامِ، عَنِ الْحَجَّاجِ، عَنْ أَبِى الْمَلِيحِ ابْنِ أُسَامَةَ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ النَّبِىَّ ‏صلى الله عليه وسلم قَالَ: الْخِتَانُ سُنَّةٌ لِلرِّجَالِ، مَكْرُمَةٌ لِلنِّسَاءِ.‏

‎6.‎ Ahmad ibn Hanbal, Musnad Ahmad ibn Hanbal, Hadis Usâmah al-Hazalî, nomor ‎hadis 19794‎
‎ ‎
‏19794 – حَدَّثَنَا سُرَيْجٌ حَدَّثَنَا عَبَّادٌ يَعْنِي ابْنَ الْعَوَّامِ عَنِ الْحَجَّاجِ عَنْ أَبِي الْمَلِيحِ بْنِ أُسَامَةَ عَنْ أَبِيهِ‎ ‎أَنَّ ‏النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْخِتَانُ سُنَّةٌ لِلرِّجَالِ مَكْرُمَةٌ لِلنِّسَاءِ

‎7.‎ Al- Tabrânî, Musnad al-Syâmiyîn, Jilid I, h. 98‎

‏146 – حدثنا عبدان بن أحمد ثنا أيوب بن محمد الوزان ثنا الوليد بن الوليد ثنا بن ثوبان عن محمد بن ‏عجلان عن عكرمة عن بن عباس أن النبي صلى الله عليه و سلم قال : الختان للرجال سنة وللنساء مكرمة ‏

‎8.‎ Al- Tabrânî, Musnad al-Syâmiyîn, Jilid I, h. 98‎

‏2697 – حدثنا محمد بن عبد الله الحضرمي ثنا عمرو بن عبد الله الأودي ثنا وكيع ثنا سعيد بن بشير ‏عن قتادة عن جابر بن زيد عن ابن عباس قال ( الختان سنة للرجال مكرمة للنساء )‏
‏ ‏
‎9. Ibn Syaibah, Musannaf Ibn Syaibah, jilid IX, h. 58‎

‏26998- حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ الْعَوَّامِ ، عَن حَجَّاجٍ ، عَن رَجُلٍ ، عَنْ أَبِي الْمَلِيحِ ، عَن شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ : ‏قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : الْخِتَانُ سُنَّةٌ لِلرِّجَالِ مَكْرُمَةٌ لِلنِّسَاءِ.‏

Analisa sanad
Jalur redaksi hadis di atas hampir seluruhnya tidak dapt dipertanggung jawabkan ‎dan tidak dapat dijadikan hujjah.‎ ‎ Seluruh jalur yang ada pada periwayatan, ada perawi ‎yang dinilai negative (jarh) oleh ulama jarh wa tadîl. Perawi yang dinilai negative (jarh) ‎dan ada pada seluruh jalur sanad yang disebutkan dia atas adalah :‎
حجاج بن أرطاة بن ثور بن هبيرة بن شراحيل بن كعب بن سلامان ( بخ د ت س ق ) ‏
و قال المزى : ‏
و قال أبو بكر بن أبى خيثمة ، عن يحيى بن معين : صدوق ، ليس بالقوى ، يدلس عن محمد بن عبيد الله ‏العرزمى، عن عمرو بن شعيب . ‏
و قال على ابن المدينى ، عن يحيى بن سعيد : الحجاج بن أرطاة و محمد بن إسحاق عندى سواء ، و ‏تركت الحجاج عمدا و لم أكتب عنه حديثا قط . ‏
و قال أبو زرعة : صدوق ، مدلس . ‏
و قال أبو حاتم : صدوق ، يدلس عن الضعفاء يكتب حديثه ، فإذا قال : حدثنا ، فهو صالح لا يرتاب فى ‏صدقه وحفظه إذا بين السماع ، لا يحتج بحديثه ، لم يسمع من الزهرى ، و لا من هشام بن عروة ، و لا من ‏عكرمة . ‏
و قال عبد الله بن المبارك : كان الحجاج يدلس ، و كان يحدثنا الحديث عن عمرو بن شعيب مما يحدثه العرزمى ، ‏و العرزمى متروك لا نقر به . ‏
و قال النسائى : ليس بالقوى . ‏
و قال عبد الرحمن بن يوسف بن خراش : كان مدلسا ، و كان حافظا للحديث . ‏
و قال أبو أحمد بن عدى : إنما عاب الناس عليه تدليسه عن الزهرى و غيره ، و ربما أخطأ فى بعض الروايات ‏،فأما أن يتعمد الكذب فلا ، و هو ممن يكتب حديثه . ‏
و قال يعقوب بن شيبة : واهى الحديث ، فى حديثه اضطراب كثير ، و هو صدوق ، و كان ‏‎ ‎أحد ‏الفقهاء . ‏
و قال أبو بكر الخطيب : الحجاج أحد العلماء بالحديث و الحفاظ له . ‏
قال الهيثم بن عدى : مات بخرسان مع المهدى . ‏
و ذكر خليفة بن خياط أنه مات بالرى . ‏
روى له البخارى فى ” الأدب ” ، و مسلم مقرونا بغيره ، و الباقون . اهـ . ‏
قال الحافظ في تهذيب التهذيب 2 / 198 : ‏
و قال الساجى : كان مدلسا صدوقا سىء الحفظ ، ليس بحجة فى الفروع و الأحكام . ‏
و قال ابن خزيمة : لا أحتج به إلا فيما قال : أخبرنا و سمعت . ‏
و قال ابن سعد : كان شريفا ، و كان ضعيفا فى الحديث . ‏
و قال أبو أحمد الحاكم : ليس بالقوى عندهم . ‏
و قال البزار : كان حافظا مدلسا ، و كان معجبا بنفسه ، و كان شعبة يثنى عليه ‏
و قال مسعود السجزى ، عن الحاكم : لا يحتج به . و كذا قال الدارقطنى . ‏
و قال ابن عيينة : كنا عند منصور بن المعتمر ، فذكروا حديثا ، فقال : من حدثكم ؟ قالوا : الحجاج بن أرطاة . ‏قال : و الحجاج يكتب عنه ! قال : نعم . قال : لو سكتم لكان خيرا لكم . ‏
و قال ابن حبان : تركه ابن المبارك ، و ابن مهدى ، و يحيى القطان ، و يحيى بن معين ، و أحمد بن حنبل . ‏
قرأت بخط الذهبى : هذا القول فيه مجازفة ، و أكثر ما نقم عليه التدليس ، و كان فيه تيه لا يليق بأهل ‏العلم .‏‎ ‎و قال إسماعيل القاضى : مضطرب الحديث لكثرة تدليسه . ‏
و قال محمد بن نصر : الغالب على حديثه الإرسال ، و التدليس ، و تغيير الألفاظ . اهـ . ‏

‎ ‎ابن ثوبان‎ ‎و قيل‎ ‎على بن سالم بن شوال ‏
الطبقة : 7 : من كبار أتباع التابعين ‏
روى له : ق ( ابن ماجه )‏
رتبته عند ابن حجر : ضعيف ‏
رتبته عند الذهبي : قال البخارى : لا يتابع على حديثه ‏

محمد بن عجلان القرشى ، أبو عبد الله المدنى ، مولى فاطمة بنت الوليد بن عتبة بن ربيعة
الطبقة : 5 : من صغار التابعين ‏
الوفاة : 148 هـ بـ المدينة ‏
روى له : خت م د ت س ق ( البخاري تعليقا – مسلم – أبو داود – الترمذي – النسائي – ابن ماجه )‏
رتبته عند ابن حجر : صدوق إلا أنه اختلطت عليه أحاديث أبى هريرة ‏
رتبته عند الذهبي : وثقه أحمد و ابن معين ، و قال غيرهما : سيىء الحفظ ، قال الحاكم : خرج له مسلم ثلاثة ‏عشر حديثا كلها فى الشواهد ‏

سعيد بن بشير الأزدى و يقال النصرى ‏
الطبقة : 8 : من الوسطى من أتباع التابعين ‏
الوفاة : 168 أو 169 هـ ‏
روى له : د ت س ق ( أبو داود – الترمذي – النسائي – ابن ماجه )‏
رتبته عند ابن حجر : ضعيف ‏
رتبته عند الذهبي : الحافظ ، قال البخارى : يتكلمون فى حفظه و هو محتمل . و قال دحيم : ثقة ، كان مشيختنا ‏يوثقونه ‏
قال أبو زرعة : و رأيته موضعا عند أبى مسهر للحديث
و قال يعقوب بن سفيان : سألت أبا مسهر عن سعيد بن بشير فقال : لم يكن فى جندنا أحفظ منه ، و هو ‏ضعيف ، منكر الحديث . ‏
و قال عمرو بن على : كان عبد الرحمن بن مهدى يحدثنا عن سعيد بن بشير ، ثم تركه . ‏
و قال محمد بن المثنى : ما سمعت عبد الرحمن بن مهدى حدث عن سعيد بن بشير الدمشقى ، و قد كان حدث ‏عنه ثم تركه بأخرة فيما بلغنى . ‏
و قال أبو داود : سألت أحمد بن حنبل ، عن سعيد بن بشير ، فقال : كان عبد الرحمن يحدث عنه ثم تركه . ‏
و قال أبو الحسن الميمونى : رأيت أبا عبد الله يضعف أمره . ‏
و قال عباس الدورى ، و أبو بكر بن أبى خيثمة ، عن يحيى بن معين : ليس بشىء . ‏
و قال أبو داود ، و عثمان بن سعيد الدارمى ، و محمد بن عثمان بن أبى شيبة ، و المفضل بن غسان الغلابى ، عن ‏يحيى بن معين : ضعيف . ‏
و قال على ابن المدينى : كان ضعيفا . ‏
و قال محمد بن عبد الله بن نمير : منكر الحديث ، ليس بشىء ، ليس بقوى الحديث ، يروى عن قتادة ‏المنكرات ‏
ذكره أبو زرعة فى كتاب ” الضعفاء ، و من تكلم فيهم من المحدثين ” . ‏
و قال البخارى : يتكلمون فى حفظه ، و هو يحتمل . ‏
و قال النسائى : ضعيف . ‏
و قال الحاكم أبو أحمد : ليس بالقوى عندهم .‏
Analisa matan
Sedangkan dari analisa matan hadis tidak ada indikasi hukum, baik untuk khitan ‎perempuan ataupun laki-laki, para periwayatan hadis di atas. Kata “al-sunnah” untuk ‎khitan laki-laki juga bukan berarti sunnah berinplikasi hukum seperi wâjib, makrûh dan ‎lainnya, kata tersebut lebih mengarah kepada arti tradisi atau adat kebiasaan. Sedangkam ‎kata “Makrumah” untuk khitan perempuan tidak mempunyai implikasi hukum apapun, ‎perintah ataupun larangan. ‎
Kesimpulan
Khitan hanyalah tradisi yang dilegalkan, apabila mempunyai manfaat dapat ‎dilanjutkan apabila tidak ada manfaatnya dapat dihentikan tanpa adanya ancaman syar’i ‎bagi yang meninggalkannya ataupun pujian syar’i bagi yang melakukannya. Akan tetapi ‎apabila hal tersebut berkaitan dengan hukum yang lain maka berlaku kaedah: “Sesuatu ‎yang tidak dapat sempurna kecuali dengan sesuatu yang lain, maka sesuatu yang lain ‎tersebut menjadi wajib” atau kaedah “Perintah pada sesuatu, juga perintah pada pasilitas ‎yang menyampaikan kepada perintah”. Seandainya laki-laki tidak dikhitan menyebabkan ‎tidak sah shalatnya dikarenakan ada indikasi tersimpannya najis yang berada di ‎kemaluannya yang belum dipotong, maka khitan menjadi wajib bagi laki-laki. Walaupun ‎najis yang berada di kemaluan laki-laki masih diperdebatkan, apakah termasuk bagian ‎dalam, seperti kotoran yang masih berada di dalam perut atau bagian luar?. Sedangkan ‎bagi perempuan tidak ada pengaruh apapun, bahkan Rasulullah saw. sangat ‎mengkhawatirkan rusaknya organ kemaluan perempuan apabila khitan dilakukan tidak ‎hati-hati, maka beliau menasehati Umm ‘Atiyyah untuk tidak ceroboh dalam mengkhitan ‎perempuan.Atau mungkin saja Rasulullah lebih menghendaki tidak dikhitan untuk ‎perempuan, karena akan lebih aman dari kerusakan yang dikhawatirkan, tapi Rasulullah ‎menasehati Umm ‘Atiyyah untuk hati-hati dalam mengkhitan perempuan, karena khitan ‎perempuan merupakan tradisi yang sudah membudaya dan sulit untuk dihilangkan, bukan ‎perintah agama.‎
[Draft Bahtsul Masail Diniyah Waqi’iyah PBNU 2010]