A.‎ Pendahuluan
Pertama kali dalam menulis artikel ini adalah kesadaran ‎bahwa suatu tulisan dengan menggariskan beberapa pokok dalam filsafat ‎maupun tasauf secara historis maupun fenomenologis tidak akan ‎menghasilkan suatu yang memuaskan setiap orang; hal tersebut ‎disebabkan mudah sekali melewatkan beberapa segi dan terlalu ‎mementingkan segi-segi lain. Sementara jumlah pustaka yang tercetak dan ‎masih berupa naskah tak terhitung lagi, sehingga suatu pembicaraan ‎lengkap tak akan bisa dicapai.‎
Namun demikian itu tidak mengendurkan semangat suatu kajian ‎yang bagaimanapun kecilnya tentu mempunyai arti tersendiri untuk ‎melangkah ke pengkajian yang lebih mendalam. Demikian juga dalam ‎makalah ini akan menemui hal-hal tersebut di atas, tidak akan memuaskan ‎setiap orang, sebab dalam makalah ini hanya akan mengangkat suatu ‎pandangan global tentang doktrin logos dari seorang tokoh filsafat mistik ‎yaitu Ibnu Arabi. ‎
Jikalau warisan rohani Suhrawardi Al-Maktul1) sebagian besar tetap ‎tinggal dan terbatas di dunia Persia, maka pengarus Ibnu Arabi tidak dapat ‎disangkal lagi pada perkembangan tasauf pada umumnya tak dapat dinilai ‎dan terlalu tinggi serta sangat luas, bahkan di Nusantara sekalipun. Bagi ‎sebagian besar tasauf sesudah abad ketiga belas (13) tulisan-tulisannya ‎merupakan puncak mistik, dan kaum ortodok tidak pernah berhenti ‎menyerang terhadap Ibnu Arabi dengan segala versi mereka.2)‎
Penafsiran yang tepat terhadap pemikiran Ibnu Arabi memang tidak ‎mudah seketika dimengerti secara jelas dan gamblang serta memuaskan. ‎Hal ini dapat dimengerti, sebab dalam pemikiran dan bahasa yang ‎dipergunakan tokoh satu ini, sering menampakkan ambiguitasnya serta ‎logika paradoknya. Dia mencoba menerangkan dengan pengertian yang ‎relatif dua aspek realitas, paradok, akan tetapi tidak sepenuhnya paradok.‎
Pandangan Barat dan di dunia Islam pada umumnya mengatakan, ‎bahwa dia mewakili faham “Wahdatul Wujud (Unity of being)”3) Islam, ‎atau “monisme”4) dan karena teori-teorinya seperti itu, dia dituduh ‎merusak citra Islam tentang Tuhan sebagai daya kekuatan yang hidup dan ‎aktif. Dan dia dituduh juga bertanggung jawab atas rusaknya kehidupan ‎religius Islam yang sejati. Namun tidak semua demikian, pada pengkajian-‎pengkajian abad sekarang ini nampaknya muncul “rehabilitasi” atas Ibnu ‎Arabi, seperti S.H. Nashr dan Hanry Corbin.5) Ibnu Arabi tidak dapat ‎dipisahkan dengan perkembangan dunia tasauf atas filsafat mistik serta ‎sejarah perkembangan pemikiran dalam Islam. Sebab disinilah bahwa ‎upaya mengenal tokoh-tokoh pemikir Islam, sebenarnya adalah upaya ‎menganal Islam dalam segala dimensinya.‎

B.‎ Doktrin Logos Ibnu Arabi.‎
Ontologi merupakan salah satu diantara lapangan-lapangan ‎penyelidikan dalam filsafat maupun tasauf (mistik). Awal mula pikiran ‎Barat maupun Islam sudah menunjukkan munculnya perenungan di bidang ‎ontologi. Ontologi adalah usaha mengungkap ciri-ciri segala yang ada, ‎baik ciri yang universal maupun yang khas. Dalam hubungan tertentu ‎segenap masalah di bidang ontologi dapat dikembalikan pada yang ‎bersifat umum; yaitu bagaimanaseorang hendak membicarakan kenyataan ‎atau realitas itu.‎
Ibnu Arabi sebagai seorang tokoh dalam bidang filsafat mistik ‎mempunyai ajaran bidang ontologi, yaitu bagaimana Ibnu Arabi ‎membicarakan tentang kenyataan atau realitas. Salah satu aspek ajaran ‎ontologinya adalah doktrin tentang logos.‎
Istilah logos itu sendiri berasal dari bahasa Junani yang merupakan ‎bentuk kata benda (noun) dari kata kerja “logo” yang artinya “I say” (saya ‎berkata). Kemudian istilah logos artinya menjadi luas, yaitu argumentasi, ‎eksplanasi, prinsip, akal budi, rasio, dan termasuk di dalamnya arti firman, ‎sabda atau firman.6)‎
Pada awalnya istilah logos diartikan untuk mencari hubungan ‎antara kenyataan (Ada) dan makna kenyataan yang dapat diketahui, ‎dimengerti dan diungkapkan dalam kata-kata. Di kemudian istilah logos ‎dibatasi pada lingkungan alam pikiran spekulatif filosofis.‎
Sebagaimana pandangan alam pikiran Junani tentang logos adalah ‎sesuatu yang bukan Illahiyah dan bukan pula dari dunia, melainkan ‎sesuatu jembatan antara roh dan alam materiil. Kecuali pada aliran stoisme ‎yang jelas-jelas menyamakan logos dengan Tuhan sebagai prinsip-prinsip ‎rasional di semesta alam dan prinsip-prinsip aktif (logos spematikos).7)‎
Adanya prinsip-prinsip rasional dan prinsip-prinsip aktif dalam ‎Stoisme tersebut sebenarnya suatu perbedaan logio potensial (logos ‎edhikatos) dan logio aktual (logos prophirikos).‎
Dalam ilmu kalam (Asy’ari) misalnya waktu mendiskusikan tentang ‎keabadian Qur’an dan sabda Tuhan, dibedakan dua macam kalam yaitu ‎yang lahir dan yang batin. Yang lahir terdiri dari kata-kata atau huruf-‎huruf dan bunyi yang dapat dituliskan, oleh karena itu baru dan ‎diciptakan, sedangkan kalam batin, yang dinyatakan oleh kata-kata dan ‎bunyi itu, identik dengan kesadaran Tuhan dan karenanya kodim.‎
Perbedaan Asy’ari seperti tersebut di atas, penulis mempunyai ‎dugaan kuat kemungkinan pengaruh dari Stoisme yang membedakan logos ‎edhikatos dan logos prophirikos. Namun dalam hal ini Asy’ari tidak ‎menjelaskan dengan secara jelas dan tidak memperhatikan akibat-akibat ‎lebih lanjut. Sejalan dengan teori logos tersebut, dikalangan teologi ‎Nasrani dibedakan kata dari keabadian dengan Tuhan dan adalah Tuhan ‎dari kata yang muncul dalam penjelmaan sementara dalam bentuk Kristus.‎
Heraklitos filosof pertama yang menggunakan istilah logos untuk ‎menunjukkan prinsip-prinsip rasional yang mengatur semesta alam. ‎Sedangkan kaum sophis menggunakan istilah tersebut untuk menerangkan ‎dasar-dasar argument yang mengarah ke penalaran yang benar (orthos ‎logos).8)‎
Lain halnya dengan Plato yang menyebut adanya prinsip-prinsip ‎rasional yang mengatur semesta alam dengan istilah nous bukan logos. ‎Aristoteles menggunakan istilah nous untuk menunjukkan sebab yang ‎tidak bergerak (first cause).9) Sedangkan Plotinius secara jelas ‎menyamakan logos dengan nous. Dalam eksistensialisme Marcel ‎umpamanya, logos diartikan lagi sebagai pengumpulan segala sesuatu ‎yang ada atas dasar Ada, dan partisipasi manusia dalam kenyataan dengan ‎mengendalikan pengambilan sikap.‎
Suatu hal yang cukup unik tentang doktrin logos dalam filsafat ‎mistik Ibnu Arabi, ia menggunakan istilah logos tidak hanya satu artinya ‎saja seperti, logos identik dengan “Nur Muhammad” misalnya, akan tetapi ‎lebih dari sepuluh10) seperti:‎
‎1.‎ The Reality of Mohammed (al-Haqiqatul al-Muhammadiyah)‎
‎2.‎ The Reality of Realities (Haqiqatul al-Haqaiqi)‎
‎3.‎ The Spirit of Muhammad (Ruh Muhammad)‎
‎4.‎ The First Intelect (al-Akul al-Awal-naus)‎
‎5.‎ The Throne (al-Arsb)‎
‎6.‎ The Most Mighty Spirit (al-Ruh al-Azam)‎
‎7.‎ The Most Exalted Pen (al-Kolamu al-Ala)‎
‎8.‎ The vicegernt (al-Khalifah)‎
‎9.‎ The Perfect Man (al-Insan al-Kamil)‎
‎10.‎ The Origin of the Universe (Aslu al-Alam)‎
‎11.‎ The Real Adam (Adam al-Haqiqi)‎
‎12.‎ The Intermediary (al-Barzah)‎
‎13.‎ The Sphere of Life (Falaku al-Hayah)‎
‎14.‎ The Hayula The Prima Matter (al-Hayula)‎
‎15.‎ The Spirit (al-Ruh)‎
‎16.‎ The Pole (al-Kutub)‎
‎17.‎ The Servent of the All-embracing One (Abdul Jammi).‎
Suatu pertanyaan timbul, mengapa Ibnu Arabi memakai istilah logos ‎begitu banyaknya? Hal tersebut kemungkinan ada dua sebab; pertama ‎bahwa Ibnu Arabi menyerap dari berbagai sumber, sumber-sumber ‎tersebut misalnya, dari Al-Halaj, Ismailiyah, Al-Ghazali (dari kalangan ‎pemikir Islam). Sedangkan dari sumber-sumber yang lain seperti: ‎Helenisme, Stoisme, Phil dan Neoplitinius. Dari berbagai sumber tersebut ‎dibawa oleh Ibnu Arabi ke dalam satu kesatuan. Kedua, untuk ‎‎“pantheisme” yang dimiliki Ibnu Arabi memungkinkan dia menggunakan ‎nama-nama istilah tersebut untuk satu Realitas sebagai prinsip dasar ‎sesuatu. Karena itu dapat disebut bahwa doktrin logos Ibnu Arabi adalah ‎paling sistematis diantara pemikir muslim. Namun kita perlu berhati-hati ‎di dalam memahami doktrin tersebut, adalah sangat riskan jika kita lupa ‎bahwa dia adalah seorang “pantheis” yang memandang nama istilah-‎istilah yang begitu banyak untuk menunjukkan perbedaan aspek-aspek ‎dari Realitas Tunggal yang dipandang sekarang sebagai logos.‎
Logos atau logio atau “yerba dei” oleh Ibnu Arabi disatukan dalam ‎prinsip yang tunggal melalui wujud-wujud rasional, dan Ibnu Arabi ‎menyamakan logos tersebut dengan Spirit atau Realitas Muhammad atau ‎Logos Muhammad. Logos Muhammad itu difahami dan dipandang dari ‎berbagai sudut pandang.‎
Logos sebagai aspek metafisika murni disebut oleh Ibnu Arabi ‎dengan Intelek Pertama sebagaimana nous dalam Plotonius, atau Akal ‎Universal dalam faham Stoisme.11) Dan Logos tersebut bukan aspek ‎transendent dari Illahiyah, akan tetapi lebih merupakan prinsip-prinsip ‎rasional. Logos yang disamakan oleh Ibnu Arabi dengan Realitas ‎Muhammad, juga disamakan dengan al-Kutub, dan Insan Kamil sejauh ia ‎sebagai prinsip aktif dalam semua Illahiyah dan pengetahuan yang ‎esetoris.‎
Logos dalam hubungannya dengan manusia, maka Ibnu Arabi ‎menyamakannya dengan Adam atau Realitas Manusia, sedangkan jika ‎logos tersebut dihubungkan dengan semesta alam secara keseluruhan ‎maka Ibnu Arabi menyamakan dengan Realitas di atas segala Realitas ‎‎(Reality of Realities), logos sebagai pencatat segala sesuatu disebut Al-‎Kitab atau al-Kalamu a’la. Sebagai esensi sesuatu disebut Hayule atau ‎Substansi Pertama.12)‎
Sebagaimana telah disinggung di atas, bahwa logos sebagai aspek ‎metafisika murni disamakan dengan Intelek Pertama atau Nous atau Akal ‎Universal atau Realitas di atas Realitas, selain aspek tersebut, Logos juga ‎dipandang oleh Ibnu Arabi sebagai aspek mistik. Aspek mistik dari doktrin ‎logos itu dalam alam pikiran Ibnu Arabi berhubungan dengan diri ‎Muhammad sebagai puncak hirarki sufi dan “gudang” pengetahuan ‎‎“esotorik”. Akan tetapi dalam hal ini kiranya perlu hati-hati bahwa yang ‎dimaksud dengan Muhammad disini bukan sebagai Nabi, bukan ‎Muhammad sebagai individu, Muihammad disini adalah logos, ia adalah ‎Realitas dari Muhammad sebagai Prinsip-prinsip aktif dalam semua ‎Illahiyah serta pengetahuan esotorik. Muhammad yang artinya juga sama ‎dengan Intelek Pertama atau Prinsip-prinsip yang rasional ditemukan pada ‎konsepnya tentang “kutub”.‎
Hubungan antara Realitas Muhammad dengan Kutub tercermin ‎secara jelas dalam karya Ibnu Arabi yang berjudul “Fusus Al-Hikam” (The ‎Bezels of Wisdom) serta bentuk tema-tema dalam karya tersebut. Seperti ‎yang dikatakan oleh Ibnu Arabi sendiri bahwa setiap Nabi disebut “Logos” ‎akan tetapi “logos”, istilah terakhir ini yang dimaksud adalah suatu ‎puncak hirarkis spiritual seperti Muhammad itu sendiri. Maksud Ibnu ‎Arabi menamakan bahwa segala sesuatu itu logos sejauh sebagai ‎partisipasi dalam prinsip-prinsip rasional yang universal dan kehidupan, ‎seperti segala sesuatu itu adalah “sabda” (kalam) Tuhan.‎
Namun dalam masalah tersebut di atas, menurut Ibnu Arabi bahwa ‎Nabi-nabi, sufi dan wali mempunyai kekhususan bahwa mereka ‎menampakkan aktifitas-aktifitas serta kesempurnaan dari logos ‎Muhammad yang universal dalam suatu martabat kesempurnaan. Dan ‎perbedaan antara Muhammad atas Realitas Muhammad dengan para Nabi ‎dan wali adalah antara keseluruhan dan bagian-bagiannya.‎
Dia menyatakan di dalam dirinya wujud apa yang dalam diri mereka ‎terpisah, tetapi perbedaan antara Realitas Muhammad dan Adam adalah ‎perbedaan antara aspek luar dan aspek dalam dari satu wujud. Di dunia ‎Muhammad adalah aspek dalam diri Adam (umat manusia), sedangkan di ‎alam ghaib Adam menjadi aspek dalam dan Muhammad menjadi aspek ‎luar (bentuk Muhammad = Adam = Manusia = Nasut, Realitas Muhammad ‎‎= Realitas Adam = Lahut).‎
Suatu pertanyaan timbul, mengapa para Nabi itu disebut “logoi”? ‎Jawaban-jawaban tersebut kemungkinan adalah: salah satunya penulis ‎muslim meminjam terminologi tersebut dari Neoplotonius aliran ‎Iskandariyah dan filosof-filosof Yahudi. Mungkin ada juga kenyataan ‎bahwa penulis-penulis muslim menggunakan kata sebab (causative word) ‎yaitu “Be” (Kun) “sebab” (terciptanya wujud).‎
Kemungkinan yang lain, seperti apa yang dikatakan oleh Qashani ‎dalam komentarnya terhadap buku “Fususul Hikam” yaitu bahwa wujud-‎wujud yang diciptakan berhadapan dengan Esensi Universal dalam ‎hubungannya yang sama sebagai kalimat yang diucapkan berhadapan ‎dengan nafas manusia. Sekedar “kalimat-kalimat” yang diucapkan ‎menunjuk sesuatu di atas dan mengatasi bentuk-bentuknya yaitu makna-‎makna mereka. Sebegitu jauh logoi atau logos menunjukkan sesuatu atas ‎serta mengatasi bentuk-bentuk realitas mereka yang tersembunyi. Tetapi ‎menurut penulis, dari tiga kemungkinan tersebut. Kemungkinan yang ‎pertama itu saling mendekati kebenaran.‎
Sampai disini kita telah menyinggung doktrin logos Ibnu Arabi dari ‎sudut aspek metafisika dan mistik, untuk melengkapi kedua aspek tersebut ‎perlu kiranya menyebut aspek satu lagi dari doktrin logos Ibnu Arabi yaitu ‎aspek antropologi. Aspek antropologi ini berhubungan dengan apa yang ‎disebut insan kamil atau manusia sempurna, dengan kata lain logos ‎sebagai manusia sempurna.13)‎
Ibnu Arabi dalam hal ini menggunakan istilah “sempurna” dalam ‎pengertian yang unik dan bermakna ganda. Yaitu pengertian sempurna ‎mengandung arti positif termasuk didalamnya etika yang lainnya dan yang ‎tidak sempurna (negatif). Sesuatu dikatakan sempurna dalam proporsi ‎terhadap tingkatan wujud positifnya berproses terhadap sifat-sifat Tuhan ‎yang menampakkannya. Sedangkan wujud yang paling sempurna dalam ‎arti sebenarnya adalah Tuhan sendiri, dan manifestasiNya yang paling ‎sempurna adalah manusia-manusia sempurna (insan kamil), dengan itu ‎pula ia berhak disebut “mikrokosmos” (al-Kawn al-Jam’I) atau “Image of ‎God” (as-surah) atau “miniatur Realitas”.‎
Timbul suatu persoalan, bagaimana sifak firasat insan kamil itu? ‎Apakah dia sempurna wujud atau ilmunya atau kedua-duanya? Apakah ‎dia sempurna lantaran dia menjadi “miniatur Realitas” atau oleh sebab ‎pengalaman mistiknya? Menurut Ibnu Arabi bahwa insan kamil itu ‎sempurna dalam segala itu. Tetapi sayang Ibnu Arabi tidak membuat ‎perbedaan yang jelas. Insan kamil atau manusia sempurna tidak sempurna ‎dalam teorinya, kecuali dia manunggal dengan Tuhan, dan ini tampaknya ‎yang membedakan manusia klas biasa dan manusia klas sempurna atau ‎insan kamil versi Ibnu Arabi. Menurut Ibnu Arabi bahwa setiap manusia ‎itu adalah mikrokosmos dalam pengertian secara potensi. Sedangkan insan ‎kamil adalah mikrokosmos yang aktual, sebab dia secara jelas ‎menampakkan semua sifat dan kesempurnaan Tuhan. Oleh karena itu Ibnu ‎Arabi mengambil kesimpulan bahwa setiap indsan kamil itu seorang ‎mistikus karena dia manunggal dengan Tuhan, dan mistik itu sendiri dapat ‎direalisasikan serta dapat diusahakan.‎

C.‎ Kesimpulan dan Penutup
Doktrin logos Ibnu Arabi yang sangat luas lagi pelik itu sebenarnya ‎melingkupi tiga aspek pokok, yaitu logos sebagai Realitas dari segala ‎Realitas dan ini merupakan aspek metafisiknya, logos sebagai Realitas ‎Muhammad yang merupakan aspek mistiknya, dan yang terakhir logos ‎sebagai aspek insan kamil atau manusia sempurna dan ini sebagai aspek ‎antropologisnya.‎

Dalam mengembangkan doktrin logos Ibnu Arabi menampakkan ‎bakatnya yang luar biasa yang akhirnya pada titik “ekstrim”, bahkan ‎merupakan apa yang disebut “ekses” yang tadinya pada permulaan tidak ‎ada, yang menimbulkan pro dan kontra, penulis berpendapat, bahwa ‎dengan sufisme, kita melihat suatu kehidupan beragama yang unik. Tidak ‎hanya kaum filosof atau teolog dan fukaha saja yang telah memperkaya ‎peradaban Islam. Namun perlu juga kita melihat salah satu usaha mereka ‎kaum sufi, maka Islam dalam cara mereka mengartikan dapat ‎dibandingkan dengan agama-agama lainnya di dunia.‎

Tidakkah di zaman ini diperlukan dialektika antara kecenderungan ‎‎“gerakan masa” dengan kecenderungan yang sehat dari sufisme yakni ‎menekankan makna “pribadi” dalam berhubungan kita dengan Tuhan? ‎Setidak-tidaknya karena di depannya kita tidak mempertanggungjawabkan ‎dosa secara masal.‎
[Arsip 2002]