KH. Mahfudz Anwar, Kwaron, Jombang – Jawa Timur
Mengembangkan Ilmu Falak di Lingkungan NU

* *

Setiap menjelang Hari Raya Idul Adha atau Idul Fitri, umat Muslim akan
melakukan rukyah guna menentukan waktu tepat pelaksanaan hari raya tersebut.
Para pakar astronomi Islam akan melihat posisi bulan apakah sudah masuk pada
hilal. Dibutuhkan seorang ahli di bidang ilmu falak (astronomi) untuk itu.
Salah satu di antara ahli falak yang dimiliki umat Muslim Tanah Air adalah
KH Mahfudz Anwar. Dia adalah pakar ilmu falak sekaligus tokoh ulama
kharismatik dari Nahdlatul Ulama (NU).

Pada bidang ilmu falak tersebut, KH Mahfudz diakui memiliki kualifikasi
keilmuan yang mumpuni. Tidak hanya ilmu falak, dia pun menguasai dengan
sangat mendalam ilmu fikih serta tafsir. KH Mahfudz Anwar juga dikenal
sebagai muhaddits (ahli hadis), sufi (ahli tasawuf), dan ahlul lughah (ahli
bahasa/etimolog).
Kemampuan yang dimiliki tidak lepas dari latar belakang keluarga yang
membimbingnya serta pendidikan yang ditekuninya. Kiai ini dilahirkan di
Paculgowang, Jombang, 12 April 1912. Ayahnya bernama KH Anwar Alwi —
pengasuh Ponpes Pacul Gowang — dan ibunya Nyai Khadijah. Dia anak keenam
dari 12 bersaudara.

Ditilik dari latar belakang keluarga yang berbasis pesantren itu sangat
wajar apabila KH Mahfudz Anwar tumbuh dalam suasana religius dan keilmuan
agama yang tinggi. Saat yang bersamaan, Pesantren Tebuireng mulai menanjak
popularitasnya karena kualitas keilmuannya; maka, Kiai Anwar Ali pun
memondokkan anaknya di sana. Di Pesantren Tebuireng, Mahfudz menjadi murid
yang cerdas. Bahkan, saat ia duduk di kelas IV, ia sudah ditugasi untuk
mengajar adik kelasnya. Setelah lulus kelas VI, ia diangkat menjadi guru
resmi di Pesantren Tebuireng.

Selain kepada Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari, Mahfudz juga belajar kepada
KH Mashum Ali, seorang ulama besar, ahli falak, dan pencetus nazam ilmu
sharaf dan pengasuh Ponpes Seblak. KH Mashum Ali adalah juga Direktur
Madrasah Tebuireng. Pada kiai muda itu Mahfudz khusus mempelajari ilmu
falak, dan ia menunjukkan bakat yang luar biasa dalam disiplin itu. Inilah
yang membuatnya disegani para santri di Tebuireng, kendati usianya saat itu
baru 20 tahun. Ketika Kiai Maksum meninggal pada usia sangat muda, 33 tahun,
kepemimpinan pesantren Seblak diserahkan kepada Ustadz Mahfudz.

Meski sudah menjadi pengasuh pondok pesantren dan menguasai sederet ilmu,
namun semangat belajarnya tidak padam. Di antara sekian ilmu yang giat
dipelajari adalah ilmu falak. Karena KH Mashum Ali keburu meninggal dunia,
dia belajar falak lagi kepada Mas Dain, seorang santri seniornya yang
menjadi kepala pondok Seblak. Setelah menguasai falak, maka diskusi dan
perdebatan dengan mitra belajarnya menjadi semakin seru. Mereka terus
mengasah ketajaman analisis masing-masing melalui forum musyawarah.

Maka tidak heran, KH Mahfudz dan Mas Dain dalam tempo yang singkat mampu
menjadi pakar falak yang betul-betul mumpuni. Momentum paling tepat untuk
menguji kepakaran mereka adalah saat rukyatul hilal (penentuan) awal
Ramadlan dan Syawal, sebuah momen yang akurasinya sangat ditunggu oleh
masyarakat.

Setiap menjelang Rhamadan dan Syawal, Kiai Mahfudz dan Mas Dain pergi ke
gunung Tunggorono, sebelah barat kota Jombang, untuk melakukan rukyah
(pemantauan), melihat bulan setelah diperhitungkan sesuai dengan hasil hisab
(perhitungan) masing-masing. Setelah rukyah selesai, mereka kembali ke
pondok mendiskusikan hasil rukyah masing-masing. Perdebatan, untuk adu
argumentasi dan ketajaman menganalisa serta kecermatan dalam mengamati hilal
(tanggal) menjadi kunci kemenangan. Siapa yang paling benar dan kuat
dalilnya yang keluar sebagai pemenang. Kiai Mahfudz sering menang dalam
perdebatan ini.

Dengan kecemelangan dalam ilmu falak semakin mengukuhkan kualitas keulamaan
dan kelebihannya di atas ulama lain. Kebanyakan ulama, khususnya ulama NU
hanya menguasai ilmu fikih. Jarang dari mereka yang memiliki kepakaran
langsung bidang fikih, tafsir dan sekaligus falak.

Di organisasi NU, dia menempuh jalur dari yang paling bawah sebagai pengurus
ranting (desa) Seblak dan akhirnya masuk ke jajaran PCNU (pengurus Cabang
Nahdlatul Ulama). Ia pernah menjadi rais syuriah dua periode berturut-turut.
Dari NU Cabang Jombang kemudian dipromosikan sebagai pengurus NU Wilayah
Jawa Timur. Namun, karena kepakarannya yang sulit tertandingi pada ilmu
falaq, maka dia diserahi tugas memegang posisi Ketua Lajnah Falakiyah PBNU
sampai tahun 1993.

Sebagai Ketua Lajnah Falakiyah PBNU, KH Mahfudz sering mendapat tantangan
berat khususnya dari pihak pemerintah orde baru. Pernah hasil rukyah untuk
menentukan hari raya berbeda dengan pemerintah selama tiga kali
berturut-turut. Seluruh kyai dan warga NU berada penuh di belakang Kiai
Mahfudz, benturan antara NU dan pemerintah tidak terelakkan.

Walaupun pikirannya tidak diterima pemerintah, sebaliknya masyarakat sangat
menghormatinya. Terbukti setiap menjelang 1 Syawal mulai bada Maghrib sampai
larut malam, halaman rumahnya penuh dengan masyarakat yang ingin mendapatkan
kepastian tanggal jatuhnya bulan Syawal. Kehandalannya dalam ilmu fikih dan
falak membuat pemerintah pada tahun 1951 mengangkatnya sebagai Hakim Agama
Kabupaten Jombang. Jabatan itu diduduki selama 4 tahun. Melihat prestasi
Kiai Mahfudz yang sangat baik di Pengadilan Agama Jombang, akhirnya tahun
1955, beliau dipromosikan menjadi Wakil Direktur Peradilan Agama Depag
Jakarta.

Ia hanya kuat bertahan 3 bulan di Jakarta. Beruntung, permintaan kembali ke
kampung halaman dikabulkan. Namun tidak di Jombang, tapi di Mojokerto. Di
kota ini ia menjabat sebagai Ketua Pengadilan Agama. Setelah beberapa tahun
di Mojokerto, pangkatnya naik menjadi Hakim Pengadilan Agama di Surabaya.

Dunia kampus pun ‘dicicipi’ KH Mahfudz. Ceritanya, pada saat menjabat
sebagai hakim di PA Surabaya, ia diminta menjadi dosen fikih dan tafsir di
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surabaya. Beberapa tahun kemudian, ia
dipilih menjadi dekan pertama di Fakultas Ushuluddin IAIN Surabaya. Selain
itu juga ngajar di Universitas NU Surabaya.

Seluruh waktunya untuk mengabdi di NU dan masyarakat terutama dalam
pengembangan dan pengajaran lmu falak yang semakin tidak diminati. Sampai
akhir hayatnya, ia masih berusaha melakukan hitungan falak sampai tahun
2003. Dalam sebuah pertemuan KH Mahfudz berkata, “Kita harus memperhatikan
pengetahuan umum dan ketrampilan agar anak-anak kita siap pakai nantinya,
seperti KH A Wahid Hasyim yang mampu menjadi menteri agama.”

Ketika usianya semakin senja, tokoh itu sangat prihatin, sebab semakin
sedikit santri yang berminat dalam bidang falak. Di pesantren sendiri ilmu
itu hanya diajarkan sambil lalu, sebagai pengenalan, tidak dikaji secara
mendalam. Dia pun lantas mengambil langkah dengan membuka pengajian khusus
ilmu falak di rumahnya. Pengajian khusus itu banyak diminati masyarakat,
tidak hanya santri, tetapi banyak warga NU. Forum pengajian selalu ramai
karena dihadiri oleh para ulama dari kabupaten Jombang, Kediri, dan
sekitarnya. Kiai Mahfudz wafat pada malam Jumat, 20 Mei 1999.

Piawai Menulis

Walaupun sehari-hari disibukkan dengan kegiatan mengajar dan mengurus
birokrasi dan juga di pengurusan NU, namun tidak menghalangi kiai ini untuk
berkarya secara kualitatif. Di antara karya tulisnya yang bisa
diidentifikasi adalah:

1. Fadlail al-Syuhur, sebuah kitab yang tidak ada namanya, namun berisi
keutamaan semua bulan, mulai Syawal sampai Ramadlan.

2. Risalah Asyura min Ahlis Sunnah Wal Jamaah, menerangkan tentang
keistimewaan bulan Asyura, Muharram. Kandungan buku ini beliau sebar ke
masyarakat sekitar dan mengajak mereka bersama-sama mengamalkannya.

3. Penulis pertama Nadhoman Tahsrif Lughowiyah dan Ishtilahiyah dalam
kitab Amtsilah Al-Tashrifiyah. Kitab itu kemudian diserahkan di ke penerbit
di Timur Tengah untuk dicetak. Para ulama Timur Tengah kagum pada kecerdasan
dan kreatifitas ulama ini, sehingga kitab tersebut menjadi kurikulum wajib
di sekolah-sekolah di Timur Tengah.

Dari berbagai sumber