Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang – Jawa Timur

* *

Sebagai salah satu dari empat pondok pesantren besar di empat penjuru kota
Jombang, Pondok Pesantren (Ponpes) Bahrul ‘Ulum (secara harfiah artinya
Lautan Ilmu) lebih dikenal dengan nama ponpes Tambakberas. Letaknya cukup
strategis yakni di belahan utara kota Jombang, masuk dalam wilayah
administratif Desa Tambakrejo, Kecamatan Jombang Kota. Sebagai pintu masuk
Jombang dari arah utara (Ploso, Babat, Lamongan, Bojonegoro, Gresik dan
Tuban), ponpes Tambakberas berlokasi di tepi jalan raya Jombang – Tuban

*Sejarah***

Lokasi awal yang menjadi cikal bakal Ponpes Tambakberas disebut Pondok
Selawe (selawe artinya duapuluh lima). Kebetulan awalnya ponpes ini memang
hanya menerima santri sejumlah 25 orang dan didirikan pada tahun 1825 seusai
Perang Diponegoro. Pendiri ponpes adalah KH Abdus Salam yang juga dikenal
dengan nama Mbah Shoichah (artinya bentakan yang membuat orang gentar). Ada
pula yang menyebut ponpes Tiga, karena jumlah kamar yang ada hanya 3 buah.
Disamping mendakwahkan syariat Islam, Mbah Shoichah juga mengajarkan
pengobatan dan kanuragan (ilmu bela diri) pada santri-santrinya. Mbah
Shoichah mengasuh ponpes Selawe dalam kurun waktu tahun 1825 – 1860.

Lokasi ponpes Selawe saat ini menjadi makam keluarga bani Chasbullah.
Diantaranya makam KH Abdul Wahab Chasbullah, pendiri dan penggerak Nahdhatul
Ulama (NU). Salah satu pendiri NU ini dikenal pula dengan sebutan Mbah Wahab
yang merupakan generasi ke-4 dari pendiri ponpes Tambakberas. Di kompleks
makam ini terdapat pula makam KH Abdul Wahib Wahab (dari generasi ke-5)
mantan Menteri Agama Republik Indonesia.

Sepeninggal beliau, ponpes diasuh oleh KH Ustman (Mbah Ustman) yang
merupakan menantu pertama Mbah Syaichah. Oleh KH Ustman lokasi ponpes
dipndah sekitar 100 meter ke arah selatan dari ponpes Selawe, tepatnya di
dusun Gedang desa Tambakrejo. Karena itu ponpes ini juga disebut ponpes
Gedang. Mbah Ustman dikenal sebagai kiai tasawuf dan menjadi salah satu
mursid Thoriqoh Naqsabandiyah pada zamannya. Ponpes Gedang diasuh oleh Mbah
Ustman dalam kurun tahun 1860 – 1910. Menantu pertama Mbah Ustman adalah KH
Hasyim Asy’ari, yang juga dikenal sebagai salah satu pendiri NU.
Selanjutnya, KH Hasyim Asy’ari mengajak santri-santri thoriqoh membuka
ponpes baru di desa Keras kecamatan Diwek. Lokasi ini berjarak sekitar 18 km
arah keselatan dari Tambakberas. Ponpes inilah yang menjadi awal berdirinya
ponpes Tebuireng yang legendaris itu.

Kalau Mbah Ustman dikenal mengembangkan ilmu tasawuf, maka adik ipar beliau
yaitu KH Said mengajarkan ilmu syariat. KH Said mengajar di ponpes yang ada
di dusun Tambakberas desa Tambakrejo. Lokasi cukup dekat dengan ponpes
Gedang, kira-kira hanya berjarak 100 meter. Setelah Mbah Ustman wafat,
sebagian santri yang tidak ikut membantu KH Hasyim Asy’ari, akhirnya
dipindah ke ponpes Tmbakberas asuhan KH Said ini. Sepeninggal KH Said,
ponpes diasuh oleh putra beliau yaitu KH Chasbullah. Dari KH Chasbullah
inilah ponpes terus dikembangkan oleh putra putrinya. Yaitu KH Abdul Wahab,
KH Abdul Hamid, Nyai Fatimah dan KH Abdurrohim. Pada tahun 1967, KH Abdul
Wahab Chasbullah memberi nama ponpes Bahrul Ulum. Namun orang juga tetap
mengenal ponpes ini sebagai ponpes Tambakberas seperti dua ponpes besar
lainnya. yaitu ponpes Denanyar (Mambaul Maarif) dan ponpes Rejoso (Darul
Ulum). Berbeda dengan ponpes Tebuireng yang memang hanya disebut dengan satu
nama saja, yaitu ponpes Tebuireng.

Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) didirikan sekitar pada tahun 1825 di
dusun Gedang kelurahan Tambakberas. Oleh KH. Abdus Salam, Bersama
pengikutnya ia kemudian membangun perkampungan santri dengan mendirikan
sebuah langgar (mushalla) dan tempat pondokan sementara, buat 25 orang
pengikutnya. KH. Abdus Salam adalah seorang keturunan raja Brawijaya dari
Majapahit sebagaimana silsilah berikut ini Abdussalam putra Abdul Jabbar
putra Ahmad putra Pangeran Sumbu putra Pangeran Benowo putra jaka Tingkir
(maskarebet) putra Lembu peteng Aqilah Brawijaya.

Nama KH. Abdus Salam kemudian lebih dikenal dengan nama Shoichah atau Kyai
Shoichah kemudian beliau memperistri seorang putri dari kota Demak yaitu
Muslimah. Dari pernikahanya beliau dikaruniai beberapa putra dan putri yaitu
diantaranya yaitu Laiyyinah, Fatimah, Abu bakar, Murfu’ah, Jama’ah,
Mustaharoh, Aly ma’un, Fatawi dan Abu Sakur. KH. Abdus Salam mempunyai
beberapa santri. Dari santri-santri tersebut ada dua santri yang dijodohkan
dengan putrinya yaitu Laiyyinah di jodohka dengan Ustman. Dari hasil
pernikahanya beliau dikaruniai seorang putri bernama Winih (nama asalinya
Halimah) dan Halimah dijodohkan dengan seorang santri yaitu As’ary dari
Demak cikal bakal pendiri Pondok Pesantren Tebuireng. Sedangkan Fathimah
dijodohka dengan Sa’id dari pernikahannya beliau di karuniai seorang putra
yaitu Kasminah Chasbullah sebelum haji bernama Kasbi, Syafi’i sebelum haji
bernama Kasdu, dan Asim sebelum haji bernama Kasmo.Setelah itu pondok
nyelawe diteruskan oleh Kyai. Ustman. Dan Kyai. Sa’id mengembangkan sayap
pendidikan pondok pesantren dengan mendirikan pondok pesantren disebelah
barat dusun Gedang seelah mendapat izin dari ayah maratuanya, yang kini
menjadi Pondok Pesantren Bahrul Ulum.

Setelah Kyai Ustman dan Kyai Sa’id, yang meneruskan kepemimpinan pondok
pesantren adalah Chasbulloh putra Kyai Sa’id sedangkan Pondok Kyai Ustman
dikarenakan beliau tidak mempunya putra sebagai penerus. Oleh sebab itu
seluruh santri diboyong ke pondok barat dibawah asuhan Kyai. Chabulloh.
Dalam mengembangkan Pondok Pesantren Kyai. Chabulloh ditemani seorang istri
yang begitu sangat setia yaitu Nyai Latifah (asalnya A’isah) yang berasal
dari desa Tawangsaari Sepanjang Sidoarjo. Pernikahan antara Kyai. Chabulloh
dan Nyai Latifah dikaruniai putra-putri antara lain:

1. Kyai Abdul Wahab yang berputra K.Wahib, Khodijah, K. Najib Adib,
Jammiyyah, mu’tamaroh, Muniroh, Mahfudloh, Hisbiyah, Munjidah, Hasib dan
Rokib.
2. Kyai Abdul Hamid yang berputra K. Abdullah, K. Moh. Sholeh, K.
Abdul malik, K. M. Yahya dan Hamidah.
3. Nyai Khodijah, (nyai Bisry) berputra Achmad, Sholikhah,
Musyarofah, Abdul Aziz, M. Shokhib.
4. Kyai Abdurrahim berputra K. Ach. Al Fatich, Bariroh, K. Ach.
Nasrullah, K. Amanullah, K. Khusnullah.
5. Nyai Fatimah berputra Abdul Fattah, Mufattimah, Abdul Majid
6. Sholihah tidak berputra
7. Zuhriyah tidak berputra
8. Aminaturrokhiyah tidak berputra

Tahun 1920 adalah dimana kyai Chasbulloh dipanggil ke hadapan sang kholiq
(wafat) kemudian pimpinan pondok pesantren diteruskan oleh putra-putranya
yaitu Kyai Abdul Wahab, Kyai Abdul Hamid, dan Kyai Abdurrohim.

Nama Bahrul Ulum itu tidak muncul saat KH. Abdus Salam mengasuh pesantren
tersebut. Nama itu justru berasal dari KH. Abdul Wahab Hasbullah. Ia
memberikan nama resmi pesantren pada tahun 1967. Beberapa tahun kemudian
pendiri N.U ini pulang ke rahmatullah pada tanggal 29 Desember 1971. Mulai
tahun 1987 kepemimpinan pondok pesantren dipegang secara kolektif oleh Dewan
Pengasuh yang diketuai oleh KH. M. Sholeh Abdul Hamid. Mereka juga
mendirikan Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum yang diketuai oleh KH. Ahmad
Fatih Abd. Rohim.Para kiai yang mengasuh PP Bahrul Ulum itu diantaranya, KH.
M. Sholeh Abdul Hamid, KH. Amanullah, KH. Hasib Abd. Wahab, Dibawah
kepemimpinan KH. M. Sholeh, PPBU mengalami perkembangan sangat pesat hingga
muncul berbagai macam ribat atau komplek diataranya yaitu Induk Al-Muhajirin
I, II, III dan IV, Al-Muhajin putri I, II, III dan IV, As-Sa’idiyah putra I,
II dan III, As-Sa’idiyah putri, Al-Muhibbin, Ar-Roudloh, Al-Ghozali putra
dan putri, Al-Hikmah, Al-wahabiyah I dan II, Al-Fathimiyah, Al-Lathifiyah I,
II dan III, An-Najiyah putra dan putrid, Assalma, Al Fattah, Al
Asyari,Komplek Chasbullah, Al Maliki, Al Hamidiyah.

Setelah wafatnya KH. M. Sholeh Abdul Hamid pada tahun 2006 majlis pengasuh
diteruskan oleh KH. Amanullah Abdurrahim yang wafat pada tahun 2007 hinga
pada saat ini yaitu tahun 2010 majelis pengasuh PPBU adalah KH. Hasib Abd.
Wahab

Banyak cerita yang mengisahkan kenapa KH. Abdus Salam seorang keturunan
ningrat, bisa sampai ke desa kecil yang kala itu masih berupa hutan
belantara penuh dengan binatang buas dan dikenal sebagai daerah angker.

KH. Abdus Salam meninggalkan kampung halamannya menuju Tambakberas untuk
bersembunyi menghindari kejaran tentara Belanda. Bersama pengikutnya ia
kemudian membangun perkampungan santri dengan mendirikan sebuah langgar
(mushalla) dan tempat pondokan sementara buat 25 orang pengikutnya. Karena
itu, pondok pesantren itu juga dikenal pondok selawe (dua puluh lima).
Perkembangan pondok pesantren ini mulai menonjol saat kepemimpinan pesantren
dipegang oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah, cicit KH. Abdus Salam. Setelah
kembali dari belajar di Mekkah, ia segera melakukan revitalisasi piondok
pesantren. Ia yang pertama kali mendirikan madrasah yang diberi nama
Madrasah Mubdil Fan. Ia juga membentuk kelompok diskusi Taswirul Afkar dan
mendirikan organisasi Nahdlatul Wathon yang kemudian dideklarasikan sebagai
organisasi keagamaan dengan nama Nahdlatul Ulama (NU). Deklarasi itu ia
lakukan bersama dengan KH. Hasyim Asy’ari dan ulama lainnya pada tahun 1926.

Nama Bahrul Ulum itu tidak muncul saat KH. Abdus Salam mengasuh pesantren
tersebut. Nama itu justru berasal dari KH. Abdul Wahab Hasbullah. Ia
memberikan nama resmi pesantren pada tahun 1967. Beberapa tahun kemudian
pendiri NU ini pulang ke rahmatullah pada tanggal 29 Desember 1971.
Mulai tahun 1987 kepemimpinan pondok pesantren dipegang secara kolektif oleh
Dewan Pengasuh yang diketuai oleh KH. M. Sholeh Abdul Hamid. Mereka juga
mendirikan Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum yang diketuai oleh KH. Ahmad
Fatih Abd. Rohim. Para kiai yang mengasuh PP Bahrul Ulum itu diantaranya,
KH. M. sholeh Abdul Hamid, KH. Amanullah, KH. Hasib Abd. Wahab,

Dibawah kepemimpinan KH. M. Sholeh, PPBU mengalami perkembangan sangat
pesat. Hal ini dapat dilihat dengan semakin membludaknya santri yang belajar
di pondok pesantren yang telah banyak menghasilkan ulama dan politisi.KH.
Abdurrahman Wahid mantan presiden ke 4 RI juga alumni pesantren yang sering
kedatangan tamu dari pemerintah pusat ini. Santri yang belajar di PPBU tidak
hanya datang dari daerah Jombang saja tapi juga dari seluruh wilayah
Indonesia, bahkan juga dari Brunei Darussalam dan Malaysia.

Seiring dengan perkembangan pesantren yang semakin pesat, pengelolaan
pesantren dilakukan secara profesional. Kegiatan pesantren sehari-hari tidak
langsung ditangani oelh pengasuh. Tetapi diserahkan kepada pengurus Bahrul
Ulum yang terdiri dari para Gus dan Ning (putra kiai), ustadz, ustadzah dan
santri senior. Untuk operasionalnya dibentuk bidang-bidang dengan distribusi
tugas secara teratur.
Selain itu, santri juga bisa mengikuti berbagai organisasi penunjuang dalam
lingkungan pesantren seperti, Jam’iyyah Qurro’ wa; Huffadh (JQH), Forum
Kajian Islam (FKI), Corp Dakwah Santri Bahrul Ulum (CDS BU), Koppontren
Bahrul Ulum, OSIS ada disetiap sekolah dan madrasah., Keluarga Pelajar
Madrasah Bahrul Ulum, Organisasi Daerah (ORDA) organisasi ini merupakan
wadah santri menurut asal daerah santri, Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu
Tarbiyah (SM STT).

Kegiatan belajar santri PPBU dalam kesehariannya sangat variatif dan
diklasifikasikan menurut jenjang pendidikannya masing-masing. Namun secara
umum pengajian kitab salaf (literatur klasik) sangat menonjol. Disamping
itu, santri juga diwajibkan mengikuti Madrasah Al-qur’an dan Madrasah
Diniyah. Prgram takrorud durus (jam wajib belajar) waktunya ditetapkan oleh
pengurus harian Bahrul Ulum.
PPBU juga menyelenggarakan kegiatan sosial seperti, sunatan massal, bakti
sosial, penyuluhan masyarakat, pengiriman dai ke daerah-daerah tertinggal,
panti anak yatim dan lain sebagainya.
Sebagai kaderisasi pesantren, agar kelangsungan pendidikan agama tetap
berjalan dan tidak mengalami kemunduiran apalagi sampai pesantren mengalami
bubar, para pengasuh mengirimkan putra-putri belajar ke pesantren lain juga
menimba ilmu di perguruan tinggi, seperti putra KH. M. Sholeh ada yang
dikirim belajar ke pesantren Lirboyo Kediri.

Penyelenggaraan Pendidikan

Pondok Pesantren Bahrul Ulum secara umum menyelenggarakan pendidikan formal
dan non formal. Untuk pendidikan formal mengacu pada kuriklum DEPAG dan
DIKNAS. Adapun yang mengikuti kurikulum DEPAG, meliputi MI (Madrasah
Ibtidaiyah) Bahrul Ulum, MTsN (Madrasah Tsanawiyah Negeri) Bahrul Ulum, MTs
(Madrasah Tsanawiyah) Bahrul Ulum, MAN (Madrasah Aliyah Negeri) Bahrul Ulum
dan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Bahrul Ulum. Sedangkan pendidikan
fromal yang mengikuti kurikulum DIKNAS meliputi, Sekolah Menengah Pertama
(SMP) Bahrul Ulum, Sekolah Menengah Umum (SMU) Bahrul Ulum dan Sekolah
Menengah Kejuruan (SMK) Tehnik Bahrul Ulum.

Walaupun kegiatan pendidikan formal sangat padat, namun pengajian dan
pendidikan kitab salaf tetap sangat dipentingkan. Dan sistem tradisional
seperti sorogan, bandongan , wkton, takhassus, takror, tahfidh dan tadarrus
tetap dipertahankan. Adapun jenjang pendidikan salaf meliputi TK, Madrasah
Ibtidaiyah, Madrasah Ibtidaiyah Program Khusus, Madrasah Diniyah, Madrasah
Al-Qur’an, Madrasah Mu’allimin / Mu’allimat Atas dan Madrasah I’dadiyah Lil
Jami’ah.

Selain itu PPBU dalam ikut mengembangkan minat dan bakat para santri juga
memberikan kegiatan ekstra kurikuler, seperti majalah pesantren Menara,
Marching Band, komputer, menjahit, elektronika, seni hadrah, seni qasidah,
tata busana, tata boga, bela diri, pramuka, palang merah remaja (PMR), unit
kesehatan sekolah (UKS) dan karya ilmiyah remaja. Disamping itu, pesantren
juga menyelenggarakan pelatihan dan kegiatan ekstra keagamaan seperti
pelatihan jurnalistik, bahasa asing, penelitian, kepemimpinan, kepustakaan,
keorganisasian, advokasi masyarakat, kewirausahaan, manasik haji, seni baca
Al-Qur’an , khutbah, pidato, bahtsul masail, diba’iyyah dan lain sebagainya.

Sumber: http://www.tambakberas.com