Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyah, Kebon Jeruk – Jakarta Barat
Mempertahankan Tradisi Di Jantung Kota

Pesantren di jantung kota akan memiliki cobaan yang kuat. Namun, dari sini
akan tumbuh semangat dan jiwa yang kokoh mempertahankan tradisi dan
keyakinan.

Sebagai lembaga pendidikan yang mempunyai watak sendiri, pesantren memiliki
tradisi keilmuannya yang berbeda dari tradisi keilmuan lembaga-lembaga lain.
Pesantren pada dasarnya adalah sebuah lembaga pendidikan Islam, walaupun ia
mempunyai fungsi tambahan yang tidak kalah pentingnya dengan fungsi
pendidikan tersebut. Ia merupakan sarana informasi, saran komunikasi timbal
balik secara kultural dengan masyarakat dan juga merupakan tempat pemupukan
solidaritas dan moralitas masyarakat.

Pesantren dalam wujudnya yang sekarang memiliki sistem pengajaran yang
dikenal dengan nama pengajian kitab kuning. Selain itu, dia juga mampu
menyerap sejumlah inovasi secara berangsur-angsur selama beberapa abad.
Pesantren di Indonesia juga mengalami penyesuaian diri dengan perkembangan
zaman dan teknologi. Untuk menyerap informasi sesuai kehendak masyarakat,
pesantren selalu dituntut untuk responsif.

Begitu juga dengan pesantren As-Shiddiqiyah, pesantren yang telah menyiapkan
beberapa lembaga-lembaga pendidikan umum sesuai dengan kehendak zaman dengan
tetap mengacu kepada kaidah fikih: al-mukhafadhatu ‘alal qadimi al-shalih wa
al-akhdu bil-jadidl ashlah, melestarikan nilai-nilai baik yang lampau dan
mengakomodasi nilai-nilai moderen yang lebih baik.

Pesantren setelah diperkenalkan K.H. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur ke
dunia internasional, terdapat respon pihak pesantren yang kemudian membuka
diri, serta menyesaikannya dengan kehendak zaman. Bahkan Gus Dur dengan
beraninya menganggap pesantren sebagai sub kultur pendidikan Indonesia yang
ikut serta membentuk karakter masyarakat yang positif. Sehingga
pesantren-pesantren NU berlomba-lomba membuka jalur umum (sekolah umum) dan
juga menyediakan sebuah lembaga seperti lembaga bahasa Inggris, bahasa Arab,
bahkan kemudian tak ketinggalan bahasa Mandarin. “Jadi santri As-Shiddiqiyah
harus mampu berbahasa internasional (Inggris dan Arab) sebagai bahasa dakwah
untuk komunikasi dengan dunia,” kata pendiri dan pengasuh pesantren, Dr.
K.H. Noor Muhammad Iskadar, kepada Risalah NU.

Menurut Kiai Noor yang juga dikenal sebagai penceramah kondang dari Sabang
sampai Meraoke ini, Pondok Pesantren As-Shiddiqiyyah didirikan pada bulan
Rabiul Awal tahun 1406 H atau 1 Juli 1985 M. Tujuannya, ikut serta
mencerdaskan dan memerdekakan anak bangsa yang dibangun dengan moralitas.
Sebagaimana pesantren pada umunya lembaga pendidikan keagamaan dan sosial
kemasyarakatan, As-Shiddiqiyah senantiasa eksis dan tetap pada komitmennya
sebagai benteng perjuangan syi’ar Islam yang berada di jantung kota
metropolitan. Pesantren ini terletak di Jalan Panjang, Kedoya, Kebun Jeruk,
Jakarta Barat.

Dengan perkembangan zaman dan teknologi yang semakin cepat yang membuat
respon masyarakat terhadap pesantren semakin kecil, maka pesantren dituntut
harus mampu membuka diri, merespon problema ke umat untuk melahirkan out-put
yang benar-benar berguna bagi bangsa dan negara, maka pesantren
As-Shiddiqiyah telah membuka delapan sekolah umum dan kampus yang tersebar
di beberapa daerah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang bertempat di
Kedoya Jakarta, Cimalaya Kerawang, Batuceper Tangerang, Serpong Tangerang,
Cijeruk Bogor, Musi Banyuasin Palembang Sumsel, Way Kanan, Lampung, dan
Sukabumi Jawa Barat.

Untuk memantapkan nilai-nilai pesantren di tengah masyarakat plural dengan
mengacu kepada kaidah fikih tadi, pesantren memadukan klasik dan moderen.
Maka pesantren As-Shiddiqiyah mengakomodasi kepentingan pesantren sebagai
basis utama santri dengan berbentuk kurikulum dari pesantren dan pendidikan
formal. Pesantren As-Shiddiqiyah memiliki tiga tujuan dasar yang sering
dibahasakan sebagai trilogi pendidikannya: pertama, membentuk pribadi muslim
yang berakhlak mulia karena diharapkan santri As-Shiddiqiyah mampu menjadi
pewaris para nabi yang di sesuaikan dengan hadis nabi yang berbunyi; “Ulama
adalah pewaris para nabi.” (al-ulamau warastatul al-anbiya’)

Kedua, membangun kemampuan santri dalam berkomunikasi melalui bahasa Arab
dalam rangka penguasaan bahasa literatur agama Islam, sehingga para santri
mampu mendalami ajaran Islam dari sumbernya yang asli, serta bahasa Inggris
sebagai bahasa dakwah dan komunikasi. Karena, santri As-Shiddiqiyah
diharapkan mempunyai kemampuan berdakwah di dunia internasional, sebagaimana
firman Allah dalam Al-Quran, “Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan
diantara mereka beberapa orang untuk memeprdalam pengetahuan mereka tentang
agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah
kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya,” (QS. At-Taubah
22).

Ketiga, membangun kemampuan santri dalam menguasai ilmu pengetahuan umum dan
agama sekaligus, agar mereka mampu menjadikan khalifah di muka bumi,
sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Quran, “Dan dialah menjadikan kamu
khalifah di bumi dan dia meninggalkan sebagian kamu atas sebagian yang lain
beberapa derajat,” (QS. Al-An’am 165)

Formal & Non-Formal

Pesantren pada umumnya membangun pendidikan formal yang dimulai dari
madrasah ibtidaiyah atau sekolah dasar. Pesantren As-Shiddiqiyah berbeda
dengan pesantren lain dalam membangun pendidikan formal yang langsung
membangun Madrasah Tsanawiyah (MTs), Sekolah Menengah Pertama (SMP),
Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan
(SMK) dengan program otomotif, SMK program adminitrasi perkantoran dan
akuntansi (As-Shiddiqiyah batuceper), SMK program bisnis & manajemen
(Karawang) dan Ma’had ‘Aly Sa’idussiddiqiyah, pendalaman dan penguasaan
bahasa internasional (Inggris dan Arab), ulumus syari’ah dan Al-Quran.

Harapan ke depan cita-cita pesantren ini adalah mampu melahirkan santri
cerdas, bijak yang mampu mengatasi problem global. “Sehingga santri tidak
lagi kaku dan panik melihat kenyataan sosial yang serba unik dan moderen,”
ungkap kiai iskandar dengan penuh semangat kepada Risalah NU.

Pesantren As-Shiddiqiyah juga menyediakan pendidikan non formal seperti
training bahasa Inggris, kursus dan training bahasa Arab, jam’iyatul tahfidz
al-qur’an, kursus dan training manajemen dan metodologi pengajaran,
pengajian kutubus salafiyah, training retorika dan praktek dakwah, lembaga
bahstul masail, serta lembaga yang membantu mengembangkan bakat dan minat
santri untuk lebih percaya diri.

Karena pesantren tidak bisa dilepaskan dari masyarakat sekitar, maka
pesantren As-Shiddiqiyah mengupayakan dan menyediakan sebuah lembaga yang
bermanfaat yang diperuntukkan masyarakat seperti, Drugs Information Centre
of As-Shiddiqiyah (DICA), badan amil zakat, infaq dan shadaqah (BAZIS),
pusat penanggulangan bencana alam, pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM),
forum komunikasi umat beragama (FKUB) DKI Jakarta, Balai Kesehatan
Masyarakat, dan santri siaga bencana.

Dengan berbekal pendidikan yang berbasis agama dan umum, As-Shiddiqiyah yang
kini memiliki jumlah santri sekitar 7.000 orang itu sangat optimis akan
out-put santri yang keluar atau jadi alumni dari pesantren ini bisa memberi
manfaat bagi nusa, bangsa dan negara yang ditopang dengan moralitas sesuai
dengan visinya, “membentuk dan menyiapkan ulama ahlussunnah wal jamaah
berwawasan global dan mampu mentransformasikan ilmunya ke dalam bahasa
masyarakat dengan perilaku akhlak mulia”.

Motto yang dibangun oleh pesantren As-Shiddiqiyah adalah berakhlakul
karimah, berbahasa internasional dan menguasai iilmi pengetahuan dan
teknologi (IPTEK) dan iman dan taqwa (IMTAQ). Sehingga mampu menerjemahkan
dan mengkontekstualisasikan realitas sosial sesuai dengan kebutuhan zaman
dengan misinya: “menyelenggarakan pendidikan berbasis agama, tekhnologi dan
pengembangan ekonomi kerakyatan mulai dari TK hingga perguruan tinggi”.

Ditulis oleh Mashudi Umar

Dimuat di majalah Risalah NU, No 11 / Th 11 / 1430 H