GambarPada suatu masa di lokasi yang tidak terlalu berjauhan hidup dua orang tokoh agama yang alim dan sangat disegani di masyarakat. Kedua tokoh itu adalah Kyai Hasyim Asy’ari (1875-1947), pendiri organisasi Nahdhatul Ulama dan pengasuh PP. Tebuireng tinggal di dusun Tebuireng desa/kec Diwek kab Jombang Jawa Timur yang masyhur dengan sebutan gelar Hadratusy Syaikh. Sementara satunya adalah Kyai Mohammad Faqih (w 1937/1353) yang berkedudukan di desa Maskumambang Kecamatan Dukun Kabupaten Gresik Jawa Timur yang terkenal dengan sebutan Kyai Faqih Maskumambang. Kedua tokoh tersebut dikenal memiliki penguasaan dan pengetahuan agama yang luas dan mendalam (mutabahhar). Selain dikenal sebagai faqih, mufassir, muaddib (ahli sastra) dan zahid kyai Hasyim Asy’ari dikenal luas sebagai ulama ahli hadits sedang kyai Faqih dikenal sebagai ulama ahli ilmu falak (astronomi) disamping juga beliau sangat menguasai ilmu fiqih (faqih), tafsir (mufassir), balaghah dan lainnya. Kedua tokoh tersebut juga dikenal produktif melahirkan karya-karya tulis terutama berkaitan bidang keahlian masing-masing, hadits dan ilmu falak.

Suatu hari kyai Faqih berkunjung ke kyai Hasyim di pesantren Tebuireng. Mendengar kabar kalau kyai Faqih hendak silaturrahim ke Tebuireng, Kyai Hasyim memerintahkan pada santri dan seluruh penduduk Tebuireng untuk menyimpan beduk dan kentongan yang ada di masjid dan mushola-mushola. Hal itu dilakukan karena Kyai Hasyim ingin menghormati tamunya, kyai Faqih, yang berpendapat bahwa beduk dan kentongan di masjid dan musholla itu tidak boleh (haram) meski Kyai Hasyim sendiri berpendapat sebaliknya. Demikian pula pada saat Kyai Hasyim hendak membalas kunjungan tersebut ke Gresik, hal yang sama juga dilakukan oleh Kyai Faqih. Kyai Faqih memerintahkan pada santri dan orang kampung untuk meminjam beduk dan kentongan agar diletakkan di masjid dan mushola selama tamunya, Kyai Hasyim, berkunjung ke pesantren Maskumambang. Sungguh suatu contoh yang sangat indah dan menyejukkan.

Suatu tauladan dari tokoh panutan yang saat ini betul-betul dibutuhkan dan dirindukan. Di tengah situasi masyarakat yang semakin tinggi tingkat egoisme ke-aku-annya. Masyarakat yang semakin temperamental. Masyarakat yang pemarah dan mudah terprovokasi. Masyarakat yang hanya melihat kebenaran sebagai hitam putih. Masyarakat yang kebenaran hanya miliknya, keluarganya, golongannya, agamanya, etnisnya dan partainya. Masyarakat yang bertuhan tapi tidak percaya dengan firman Tuhan bahwa keragaman itu juga ciptaan Tuhan.

Akhir-akhir ini perbedaan seolah-olah telah menjadi common enemy, musuh bersama yang harus diberangus dan disingkirkan jauh-jauh dari kehidupan. Perbedaan seolah menjadi momok yang menakutkan. Perbedaan selalu diidentikkan dengan perpecahan. Perbedaan adalah permusuhan. Masih banyak anggota masyarakat yang belum siap menerima perbedaan. Padahal perbedaan sejatinya adalah bunga-bunga indah penghias kehidupan. Hidup menjadi indah berwarna-warni berkat adanya perbedaan. Perbedaan harusnya tumbuh sebagai spirit penyemangat dalam hidup. Dengan perbedaan itulah hidup menjadi dinamis dan bergairah. Akselerasi peningkatan peradaban kemanusiaan ditata dari tumpukan anak tangga perbedaan pemikiran yang lahir dari aneka produk budaya.

Tuhan Yang Maha Rahman dan Rahim telah menunjukkan pada hambaNya bagaimana indah dan nikmatnya sebuah perbedaan itu. Lihatlah kelima jemari tangan dan kaki. Bisa dibayangkan, andaikan Tuhan menciptakan kelima jari pada tangan dan kaki itu sama tidak berbeda, jempol semua atau kelingking semua, apa yang dirasakan? Bukan saja tidak indah dan tidak enak dipandang, fungsi dan kekuatannya juga pasti berbeda dan berkurang.

Momentum Perubahan

Bulan suci Ramadhan ini seharusnya dijadikan sebagai momentum untuk melakukan perubahan. Karena inti dari ajaran agama ini adalah perubahan.  Dari yang tidak baik menjadi baik, dari yang salah menjadi benar, dari marah menjadi sabar, dari dusta menjadi jujur, dari dengki menjadi sayang, dari malas menjadi rajin, dari keras dan kekanak-kanakan menjadi lembut bijak dan dewasa. Semua perubahan itu akan terjadi bila ada kesadaran untuk itu. Kesadaran untuk melakukan perubahan. Kesadaran yang lahir dari hasil introspeksi diri (muhasabah).

Perubahan itu niscaya untuk dilakukan kalau menginginkan hidup yang lebih baik dan berkualitas karena Tuhan tidak akan melakukan perubahan selama hambaNya tidak menunjukkan upaya yang sungguh-sungguh untuk itu, inna Allah la yughayyiru maa bi qaumin hatta yughayyiru maa bi anfusihim.

Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat dan berkah. Segala amal ibadah yang dilakukan di bulan suci ini bernilai dua kali lipat bahkan lebih dibanding selain Ramadhan. Sepuluh hari pertama Allah menyebarkan rahmatNya pada semua hambaNya yang bergembira dengan datangnya bulan suci ini. Pada sepuluh hari kedua Allah memberikan maghfirahNya pada siapapun yang memohon dan memintaNya. Dan pada sepuluh hari terakhir seperti saat ini, Allah menjanjikan free pass berupa terlepas dan terbebas dari siksa api neraka (‘itqun minan naar) bagi hambaNya yang telah menunjukkan kesungguhan hati dan perbuatan dalam menjalankan ibadah di bulan suci ini (man qama ramadhana imanan wah tisaban ghufira lahu ma taqaddama). Sungguh suatu momentum yang betul-betul sangat rugi bila dilewatkan begitu saja. Karena, tidak ada satupun yang tahu apakah Tuhan masih akan memberikan kesempatan untuk bisa bertemu dengan bulan Ramadhan di tahun-tahun yang akan datang. Bahkan, tidak seorangpun yang bisa menduga apakah besok atau lusa masih bisa menyaksikan matahari terbit dari ufuk timur, wa Allahu a’lam. Semoga penulis dan pembaca yang budiman termasuk dalam golongan hambaNya yang bertakwa yang kelak akan kembali menghadap kehadiratNya dalam keadaan husnul khatimah, amin allahumma amin. Demikian semoga ada manfaatnya.

 

 

PPM. Al-Ashfa Gaten, 19 Ramadhan 1434H